Keutamaan Kemurnian

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu memersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”

( Roma 12 : 1 )

 Pendahuluan

    Saudara – saudari terkasih, apa yang kita pikirkan saat mendengar kata kemurnian? Mungkin kita pernah mendengarnya sebagai kaul para religius, akan tetapi sadarkah kita bahwa sebagai orang, kita pun harus hidup dalam kemurnian ? Kemurnian ini sangat berkaitan erat dengan 10 perintah Allah ke 6 dan 9 yaitu jangan berbuat zinah dan jangan mengingini istri sesamamu. Nah pada Vacare Deo kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai Kemurnian tsb, Sehingga :

  1. Kita memahami nilai – nilai luhur dari kemurnian.
  2. Menyadari konsekuesi dari akar ketidakmurnian.
  3. Bagaimana cara bertumbuh dalam kemurnian.

Nilai – Nilai luhur dari kemurnian

Saudari saudari yang terkasih dalam Kristus dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kemurnian dapat diartikan dengan keaslian, kebersihan, ketulenan. Dengan kata lain tidak ada campuran lain yang palsu. Lalu saat ini kita akan membahas lebih dalam sebetulnya bagaimana hati itu tetap murni tanpa kepalsuan dan mengapa kemurnian sangat berkaitan dengan perintah Allah ke 6 dan 9 ?

Sebagai kaum awam kita mengenal 2 jenis panggilan hidup yaitu : berkeluarga dan hidup selibat. 1 Kor 7 : 1  – 16. Panggilan hidup berkeluarga mengarahkan kita untuk setia kepada pasangan hidup kita, baik dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat dan sakit. Yang diucapkan pada saat menerima Sakramen Pernikahan. Sedangkan hidup selibat mengarahkan kita untuk mempersembahkan hidup kita secara murni kepada Tuhan, seperti Santo Paulus.

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa sifat dari pernikahan itu tidak terceraikan, dan baik hidup berkeluarga maupun selibat Tuhan memerintahkan kita untuk menguasai tubuh kita. Jadi segala ketidak setiaan terhadap panggilan tersebut seperti berbuat zinah dan mengingini istri sesama merupakan sebuah pelanggaran yang berat.  Oleh karena itu kemurnian sebenarnya tidak hanya mengikat mereka yang telah menikah saja, bahwa mereka yang masih muda pun dipanggil untuk hidup murni. Oleh karena itu jauhilah pornografi, pembicaraan yang tidak senonoh, masturbasi yang bertentangan dengan kemurnian tersebut. Karena kita dipanggil untuk “Hidup dalam keadaan seperti waktu dipanggil Allah“ 1 Kor 7 : 17 – 40

Konsekuensi ketidakmurnian

Katekismus Gereja Katolik menggolongkan dosa ketidakmurnian, dalam hal ini percabulan, menjadi salah satu dosa-dosa pokok, yang dapat mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain timbul (KGK 1866).  Dalam kehidupan sehari-hari, dapat terjadi, orang yang sering berfikir tidak murni dapat terjerat pada dosa pornografi, kemudian disusul dengan percabulan ataupun perzinahan, sehingga ia mempunyai pasangan diluar nikah. Akibat selanjutnya dia akan menelantarkan keluarga, sehingga keluarga hancur berantakan, dan anak-anak juga menuai akibatnya. Itulah rangkaian dosa dan akibat yang mungkin timbul, yang disebabkan oleh dosa ketidakmurnian. Jadi, kita harus berhati-hati terhadap dosa ketidakmurnian ini. Kalau jenis dosa ini tidak ditangani secara serius dan sesegera mungkin, maka seseorang dapat terjebak pada dosa yang sama ini, dan melakukannya terus secara berulang-ulang, sampai ia tidak lagi mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari jerat dosa ini. Secara berangsur-angsur jiwanya menjadi terbiasa untuk melakukan dosa, dan lama-kelamaan ia menjadi terampil dalam melakukan dosa tersebut. Begitu ada kesempatan berbuat dosa datang, maka orang itu seperti mempunyai naluri untuk secara otomatis melakukan dosa tersebut dan kehilangan kekuatan untuk berkata ‘tidak’ terhadap dosa. Dengan kata lain, orang tersebut menjadi budak dosa.

Cara bertumbuh dalam kemurnian

  • Menyadari kelemahan dan konsekuensi dosa, ada orang yang melakukan dosa tetapi ia menyalahkan orang lain yang ada di sekitarnya tapi tidak menyalahkan dirinya sendiri. Dengan menyadari kelemahan kita membuat kita berhati – hati di kemudian hari. Karena kita tahu bahwa hal tersebut yang membuat kita jatuh. Selain itu sadarilah bahwa jika kita meninggal dalam keadaan dosa berat kita tidak dapat diselamatkan. Dosa yang ringan jika dilakukan berulang-ulang akan menjadi dosa berat. Oleh karena itu jangan remenkan dosa ringan sekalipun. Hindarilah karena itu membahayakan keselamatan jiwa kita.
  • Dalam bukunya, Confessions, St. Agustinus mengungkapkan transformasi keinginannya untuk memperbaiki diri yang hanya mungkin direalisasikan dengan bantuan rahmat Tuhan yang dibarengi dengan kerjasama dari pihaknya sebagai manusia. Dia mengungkapkan peperangan di dalam batinnya, yang walaupun menginginkan untuk hidup murni, namun seringkali hanya berakhir pada keinginan belaka tanpa tindakan nyata. Seringkali keinginan mempunyai “keinginan tersembunyi” – yaitu tetap menginginkan ketidakmurnian – sehingga ketika keinginan untuk hidup murni datang, tidak benar-benar dilakukan dengan keinginan yang teguh dan tak tergoyahkan. St. Agustinus mengungkapkannya dengan jujur, “Tuhan, berikan aku kemurnian, namun jangan sekarang”. Bantuan rahmat Tuhan dapat kita peroleh melalui retret / rekoleksi, menerima Sakramen terutama Ekaristi dan Pengakuan dosa, Doa rutin setiap hari dan membaca firman Tuhan. “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.  Yoh 15 : 5
  • Menjauhi hal-hal yang membawa kita pada ketidakmurnian seperti acara atau tv yang membangkitkan nafsu yang liar. St. Thomas Aquinas mengatakan, “seseorang tidak akan menang dengan menempatkan penahan, sebab semakin seseorang memikirkan tentang hal tersebut, semakin ia akan terpengaruh olehnya. Ia akan menang jika ia lari daripadanya yaitu dengan menghindari pikiran-pikiran yang cemar itu sepenuhnya dan dengan menghindari semua kesempatan untuk berbuat dosa”.
  • Di dalam hidup sehari-hari lingkungan kita sangat mempengaruhi kehidupan kita. Oleh karena itu kita membutuhkan komunitas rohani supaya kita dapat bertumbuh lebih baik lagi. Komunitas ini dapat berguna untuk saling menguatkan satu sama lain. Saling berbagi bagaimana cara untuk bertumbuh dalam kemurnian dan dapat membantu mengingatkan kita saat lengah.

Dalam berusaha untuk menerapkan nilai-nilai tersebut kita mengalami banyak jatuh bangun. Akan tetapi sadarilah akan tujuan akhir yang hendak kita capai yaitu kemurnian. Jadikanlah tujuan tersebut sebagai yang utama. Jika jatuh bangkit kembali, ingatlah bahwa Allah begitu mengasihi kita dan akan membantu kita. Pelajarilah bagaimana kita jatuh dan hindarilah kesempatan tersebut di kemudian hari. Dengan ketekunan kita dan pertolongan Tuhan kemurnian tersebut akan kita hayati dalam hidup kita.

Bahan  untuk sharing

  • Sharingkanlah nilai-nilai apa yang dapat engkau teladani dari kemurnian hidup di atas?
  • Bagaimana cara mengatasi godaan ketidakmurnian dalam hidupmu?
  • Berdoalah bersama teman-teman selmu mohon rahmat penguasaan diri sehingga dapat terhindar dari dosa ketidakmurnian.

Sharingkanlah pengalamanmu

Referensi

  • Katekismus Gereja Katolik ( KGK )
  • http://www.katolisitas.org/bagaimana-melepaskan-diri-dari-dosa-ketidakmurnian-yang-telah-menjadi-kebiasaan

admin