Halaman Utama  |   Jadwal Camping  |    Pendaftaran    |      Kesaksian        |    Peraturan        |   Sekretariat    |    
  
 Kesaksian Mantan Panitia Camping Rohani
1991, tahun dimana aku baru lulus dari SMA.
Tahun itu merupakan tahun yang tak akan pernah terlupakan dimana aku pertama kalinya berubah dari hidup lamaku menuju ke kehidupan baru di dalam Tuhan. Saat liburan menunggu masuknya perkuliahan, salah satu temanku di SMP mengajak aku untuk datang ke salah satu persekutuan doa muda-mudi di Surabaya.

Satu-dua kali datang ke persekutuan doa membuat aku kerasan untuk tetap mengikuti kegiatan mereka. Salah satu proyek besar yang menanti saat itu adalah persekutuan doa tersebut ditunjuk sebagai panitia camping rohani di Ngadireso, Tumpang.
Aku ingin sekali mengikutinya tapi karena aku masih baru, aku bertanya pada pembimbing PD saat itu dan menjelaskan kepadanya bahwa aku ingin sekali ikut melayani di camping tapi terbatas dengan ketidaktahuanku baik mengenai tata cara karismatik maupun lagu-lagunya.
Saat itu dia hanya bilang yang terpenting adalah kemauan untuk melayani dan kerelaan hati, lainnya akan mudah untuk ditangani.
Jadilah aku saat itu untuk pertama kalinya mengikuti camping rohani sebagai panitia dan peserta.
Unik memang karena peraturan selanjutnya yang dibuat oleh suster di kemudian hari mewajibkan para panitia untuk mengikuti camping minimal dua kali sebelumnya.

Saat itulah aku pertama kalinya mengalami bagaimana kuasa Tuhan bekerja secara luar biasa dan tidak terbatas. Aku benar-benar melihat bagaimana Tuhan mengubah banyak anak muda kembali kepadaNya. Di sela-sela kesibukan sebagai panitia, aku juga tidak luput mengikuti berbagai acara yang ada karena saat itu aku juga termasuk sebagai peserta. 

Bangun pagi yang biasanya tidak pernah aku lakukan di rumah terpaksa harus dilakukan agar tidak terlambat mengikuti acara. Disana juga aku mendapat sahabat dari seluruh penjuru Nusantara. Di kemudian hari aku banyak melakukan perjalanan ke luar kota dan menumpang tinggal di rumah teman-teman yang aku kenal saat camping rohani. Ketiadaan listrik di Tumpang saat itu tidak menghalangi berjalannya acara setiap harinya karena suster masih memiliki generator pembangkit listrik yang dijalankan dari pagi sampai jam 10 malam. Beratnya penderitaan karena tidak makan daging selama seminggu di camping tidak menyurutkan semangat para peserta meskipun banyak yang mengomel mengenai hal tersebut.

Sepulang dari camping rohani, hidupku benar-benar diubahkan. Kerinduan untuk mengenal dan mencintai Tuhan serasa terus berkobar didalam hatiku. Aku mengikuti persekutuan doa secara teratur, mulai rajin berdoa dan membaca kitab suci setiap hari, selalu mengikuti pelayanan apapun yang ada di persekutuan doa tersebut.

Tak lama kemudian aku memilih untuk ikut masuk ke dalam tim persekutuan doa tersebut. Di tahun berikutnya aku bergabung dengan Badan Pelayanan Muda-Mudi di Surabaya. Sejak saat itu suster-suster Tumpang mempercayakan kepanitiaan camping kepada kami. Setiap tahun aku selalu mempersiapkan diri untuk mengikuti salah satu gelombang dari camping rohani tersebut. 

Banyak suka duka yang aku alami sebagai panitia camping rohani selama kurang lebih delapan tahun. Sukanya adalah apabila bisa melihat anak-anak muda diubahkan dari kehidupan lama mereka yang kelam ke dalam kehidupan terang di dalam Tuhan, tidak sedikit pula dari mereka yang akhirnya menyerahkan hidup mereka untuk bekerja di ladang Tuhan sebagai biarawan atau biarawati. Pengalaman seperti itu tidak akan pernah dapat dibayar oleh emas sekalipun. Pernah satu kali pada saat aku membantu suster untuk acara penyembuhan luka batin di panggung, aku melihat satu orang cewek menyembah Tuhan dengan tersenyum dan menutup mata seakan dia berhadapan langsung dengan Tuhan yang berdiri di hadapannya. Tanpa terasa air mataku meleleh keluar tak dapat dibendung lagi dimana aku dapat merasakan kebahagiaan tak terhingga yang dialaminya saat itu. 

Di saat lain pada acara pencurahan Roh, kita sesama panitia bisa merasakan kuasa jahat melingkupi aula untuk menggagalkan acara itu, tapi kuasa Tuhan tidak pernah kalah. Kita berdoa dan memohon dengan sungguh-sungguh dan kami merasakan bersama-sama dimana Roh Kudus dengan kuasa dan damaiNya turun saat itu atas para peserta dan terjadilah berbagai macam manifestasi Roh yang luar biasa. Di kesempatan lain salah satu teman panitia memimpin pujian dan penyembahan serta mengajak semua peserta untuk berdoa dan mengusir datangnya hujan yang ingin menghalangi acara di Gua Maria. Saat itu juga dengan mendadak langit yang tadinya hitam kelam dengan gerimis yang mulai turun menjadi terang benderang. Semua peserta dan panitia bersorak-sorai memuji kebaikan dan keajaiban Tuhan.

Di samping suka yang dialami sebagai panitia camping, banyak juga pengalaman duka yang harus dihadapi. Seperti kalau kita dibangunkan jam 2 malam untuk menggotong peserta yang mengalami manifestasi dari rumah besi ke tempat P3K. Boleh dibilang setiap hari kita mengalami kekurangan jam tidur karena para panitia harus bangun jam 4.30 pagi untuk membangunkan para peserta untuk persiapan acara doa Yesus. Pada saat siang hari dimana para peserta beristirahat, kita masih juga disibukkan dengan persiapan acara-acara di sore hari. Setelah malam hari, semua dipersilakan kembali ke tempat istirahat, para panitia masih harus mengadakan evaluasi semua acara hari itu dan juga persiapan untuk acara keesokan harinya. Umumnya acara evaluasi diakhiri jam 12 malam. Praktis kita hanya tidur 4 jam atau kurang setiap harinya, dan pada saat acara sedang berlangsung para panitia diwajibkan bergiliran berdoa di hadapan sakramen Maha Kudus minimal satu jam sehari. Di lain kesempatan kadangkala kita harus berhadapan dengan para peserta yang mengalami luka batin dan meminta perhatian khusus dari para panitia. Belum lagi kalau harus membantu suster dan frater mendoakan doa pelepasan dari kuasa roh jahat. Ini adalah kegiatan yang paling melelahkan karena kita harus berperang secara rohani dan biasanya setelah selesai akan merasakan kelemahan mental dan fisik lebih berat dari olah raga 5 jam non stop.

Hari-hari terakhir biasanya adalah hari-hari mudah bagi para panitia karena umumnya para peserta sudah mengalami jamahan Tuhan dan menjadi lebih mudah diatur dibandingkan pada saat pertama kali datang ke camping. Hari Minggu terakhir adalah saat yang tidak mudah untuk dilupakan dimana setelah seminggu berkumpul bersama membuat ikatan persahabatan menjadi erat dan tak mudah diputuskan. Banyak dari para peserta yang tidak ingin pulang ke rumah mereka masing-masing serta meminta perpanjangan untuk bisa tinggal di Tumpang lebih lama lagi. Agaknya hal ini terus terjadi setiap tahun di setiap gelombang camping rohani yang ada. 
Namun semua kelelahan selama satu minggu sungguh-sungguh terhapuskan melihat wajah-wajah cerah dari anak-anak Allah yang siap untuk menghadapi masa depan mereka bersama dengan Tuhan.

Itulah sedikit pengalaman yang bisa aku bagikan sebagai panitia dan peserta camping rohani di Tumpang. Saat ini aku tinggal di New York, dimana kami juga berusaha untuk hidup dan berjalan dalam Tuhan didalam wadah KTM (Komunitas Tritunggal Mahakudus). Bersama-sama kami ingin tetap merasakan keindahan jamahan Tuhan dimanapun kami ditempatkan olehNya.

Salam damai dalam Kristus,
New York, 5 April 2003

Andreas M. Soedarsono
 
 

 
 
  


© 2010 Sekretariat Camping Rohani. Hosted by Komunitas Tritunggal Mahakudus.