1. Maria Bunda Allah
Sekitar abad ke-3 tahun 431, rakyat di Efesus -tempat Bunda Maria tinggal bersama Yohanes setelah Yesus wafat- berkumpul di depan tempat konsili sedang berlangsung. Pada masa itu Nestorius menekankan bahwa Maria hanyalah wadah jasmani, bunda Yesus manusia dari Nazareth. Di sinilah iman Gereja Katolik dipertaruhkan! Umat percaya bahwa keallahan dan kemanusiaan Yesus tak dapat dipisahkan, dan seluruh pribadi itu dilahirkan oleh Maria. Maka rakyat pun berteriak, “Theotokos! Theotokos!” yang artinya Bunda Allah. Akhirnya konsili yang dihadiri oleh 200 uskup itu pun selesai, dan keluarlah gelar bagi Maria, yang sudah begitu lama bergaung di hati umat; Theotokos – Maria Bunda Allah.

Tak seorang pun yang meragukan Maria sebagai ibu Yesus, yang melahirkan Yesus dari Nazareth, yang membesarkan Yesus yang disalib pada masa Kaisar Tiberias. Maka layaklah Maria disebut sebagai Bunda Allah. Jika ada yang mengatakan Maria bukan Bunda Allah, bukankah itu berarti sama dengan menyebut Yesus bukan Allah?

Gereja Katolik berdevosi kepada Bunda Allah, dan menempatkannya di atas para malaikat, para kudus, dan segala makhluk di surga. Pada kenyataannya, penyelenggaraan ilahi yang bergantung pada kehendak bebas manusia, tidak akan mencapai puncaknya dengan terjadinya inkarnasi (penjelmaan) Putera Allah, sebelum Perawan Kudus membuat “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan” (Kol. 1:26) terwujud dalam dirinya dengan kerelaannya menjadi Bunda Allah. Itulah sebabnya St. Yohanes Damaskus mengatakan, “Nama Theotokos mengandung seluruh misteri penyelenggaraan ilahi di dunia. Dengan karya Roh Kudus, Perawan Maria melahirkan Firman Allah dari rahimnya.”

“Bersama para kudus saya memberi kesaksian bahwa Maria yang dipenuhi Allah adalah taman firdaus dari Adam yang baru. Allah telah menjadi manusia di dalam dirinya karena karya Roh Kudus, untuk melakukan mujizat-mujizat yang tidak terselami. Maria adalah alam Allah yang besar dan agung, yang mengandung keelokan dan kekayaan yang tak terungkapkan. Dalam diri Maria, Allah menyembunyikan Putera-Nya yang tunggal. Dunia tidak mengenal hal-hal yang besar ini, karena dunia tidak mampu dan juga tidak layak untuk mengenalinya.” (St. Louis Grignion Marie de Montfort)

Memang, bersama seluruh Gereja kita mengakui bahwa Maria tak lain hanya ciptaan belaka, hasil karya seni Allah Bapa. Apabila dibandingkan dengan kemuliaan Allah, tentulah Maria tidak berarti sama sekali. Tuhan tidak membutuhkan siapa pun dan tidak tergantung pada siapa pun. Akan tetapi, Tuhan berkenan memulai dan menyempurnakan karya keselamatan-Nya yang agung, lewat Bunda Maria. St. Agustinus mengatakan bahwa dunia tak layak menerima Sang Putera langsung dari tangan Bapa. Oleh karena itu, Dia menganugerahkan-Nya kepada Maria agar dunia memperoleh Dia melalui Maria.

Yesus menyemarakkan keagungan-Nya dengan bergantung pada perawan rupawan, Maria bunda-Nya. Maria menyusui Yesus, memberi-Nya makan, membesarkan-Nya; ketergantungan ini begitu mengherankan dan melampaui segala pengertian.

“Tuhan Yesus Kristus lebih memuliakan Bapa Surgawi-Nya dengan tunduk kepada Maria, dibandingkan andaikata Ia menobatkan seluruh dunia dengan mujizat-mujizat besar. Alangkah kita meluhurkan Tuhan jika kita mau bergantung pada Maria, untuk menyenangkan Dia. Bukankah dengan cara demikian kita mengikuti jejak Kristus contoh kita yang tunggal?” (St. Louis Grignion Marie de Montfort)

Begitu banyak orang yang mencintai Bunda Maria karena ia memang layak untuk dicintai. Dialah fajar cemerlang yang melahirkan Sang Matahari Sejati, Yesus Kristus. Itulah sebabnya ia disebut Bunda Allah. Patutlah kita mengasihinya, dan bersama Gereja Bisantin Yunani menyalami Bunda Allah kita, “Salam! Kemah Allah dan Sabda! Salam! Tabut yang terlapis dari Roh Kudus!”

2. Dasar Alkitabiah

Maria adalah Bunda Allah. Ungkapan ini sama sekali bukan ciptaan Gereja melainkan wahyu Allah sendiri.

“Dan ketika Elisabeth mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabeth pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”
(Luk. 1:41-43)

Ketika Elisabeth mendengar salam Maria, ia dipenuhi dengan Roh Kudus dan berseru, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan.” Elisabeth yang mengandung di masa tua itu bersyukur dan berbahagia, tetapi tidak bisa dikatakan yang diberkati. Marialah perempuan yang paling diberkati, dipenuhi oleh rahmat Allah. Kemudian dilanjutkannya lagi, “Siapakah aku sehingga Ibu Tuhanku mengunjungi aku?” Elisabeth yang dipenuhi Roh Kudus mengenali siapa yang datang mengunjungi dia, yaitu “Ibu Tuhanku”.

Sejarah jatuhnya manusia ke dalam dosa berawal dari Adam yang menyambut buah terlarang yang disodorkan oleh Hawa. Memang Adamlah yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi Adam jatuh karena Hawa.

Akan tetapi, kini Maria datang memperbaiki apa yang telah dilakukan oleh Hawa. Dengan Fiatnya, Maria mengawali karya keselamatan Allah bagi umat manusia. Dan keselamatan itu terjadi akhirnya setelah Yesus menderita, wafat, dan akhirnya bangkit kembali.

Jadi, ada benang merah antara Hawa dan Maria, antara Adam dan Yesus Kristus. Hanya saja, yang pertama membawa manusia kepada dosa, sedangkan yang kedua menyelamatkan manusia dari akibat dosa yang definitif.

Jika Maria tidak mengungkapkan Fiatnya, Yesus tidak akan pernah lahir di dunia. Ketika Maria berkata, “Ya”, keselamatan telah mulai, tetapi manusia belum diselamatkan. Setelah Yesus berkata, “Ya”, lewat ketaatan-Nya di kayu salib, barulah manusia diselamatkan. Demikian pula yang terungkap dalam Kitab Kejadian. Yang bertanggung jawab atas jatuhnya manusia ke dalam dosa bukan Hawa melainkan Adam. Namun, sejarah kejatuhan itu diawali dengan mulainya Hawa menyodorkan buah terlarang kepada Adam.

3. Maria Bunda Gereja dan Mempelai Roh Kudus

Di Rusia ada sebuah legenda kuno tentang St. Andreas. Setelah disalib dan lepas dari sengsara dunia ini, St. Andreas bergegas ke surga untuk mencari Bundanya tercinta. Akan tetapi, ia tidak menemukannya, sehingga ia pun bertanya kepada malaikat, “Di mana ia?” “Ia tidak ada di sini!” jawab malaikat itu. “Ia berada di dunia yang menderita untuk mengusap air mata anak-anaknya yang menangis.”

Allah Roh Kudus hendak membentuk kaum pilihan-Nya dalam dan oleh Maria. Dari dahulu hingga sekarang, di surga dan di bumi, Maria adalah Bunda Kristus. Oleh karena itu, Maria yang telah melahirkan Kepala Gereja yaitu Kristus, juga akan melahirkan Tubuh Mistik-Nya.

“Semua orang terpilih di dunia ini, tersembunyi dalam rahim rohani Perawan Maria, untuk dijadikan sesuai dengan citra Allah Putera. Bunda Maria mendampingi anak-anaknya, dijadikannya mereka bertumbuh hingga saatnya tiba untuk melahirkan mereka bagi kemuliaan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika orang-orang kudus di sepanjang sejarah Gereja, mencintai Bunda Maria. Ini adalah rahasia rahmat yang amat besar bagi orang-orang pilihan.” (St. Agustinus)

Bagaimanakah Bunda Maria bisa melakukan hal ini? Maria bersama dengan Roh Kudus telah melahirkan kemuliaan yang terbesar sepanjang zaman, yakni Yesus Kristus. Maria adalah mempelai Roh Kudus yang subur, sehingga kini bersama dengan Roh Kudus, Maria masih mengerjakan keajaiban-keajaiban mulia, yaitu melahirkan orang-orang kudus bagi Allah. Apabila Maria telah berakar di dalam suatu jiwa maka Roh Kudus, Sang Mempelai pun akan datang dan memberikan diri-Nya tanpa segan-segan kepada jiwa tersebut, dan mencurahkan rahmat-Nya yang berlimpah-limpah di dalam jiwa tersebut. Sungguh, Maria adalah pengantin yang tidak terpisahkan dari Roh Kudus, dan berbahagialah jiwa yang mencintai Maria karena ia pun akan menjadi mempelai Roh Kudus.

Orang-orang yang kurang mengerti seringkali kuatir berdoa kepada Maria, karena takut menghina Allah Putera. Padahal, Bunda Maria adalah Bunda Gereja, sudah selayaknyalah kita sebagai anggota Gereja datang kepadanya. Justru semakin kita dekat dengan Maria, semakin kita dibawa lebih akrab dengan Yesus, karena Maria tidak pernah mau mencuri kemuliaan bagi dirinya sendiri walau barang secuil pun. Dalam hal ini Gereja Kristus mengikuti teladan Roh Kudus, yaitu menyalami Maria lebih dahulu, baru Yesus. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” (Luk. 1:42) Ini bukan berarti Maria lebih tinggi daripada Yesus melainkan justru kita ingin lebih memuliakan Yesus dengan lebih dahulu memuliakan ibunya.

Segenap kesempurnaan kita terdapat dalam keserupaan kita dengan Yesus Kristus. Nah, di dunia ini, tidak ada satu mahkluk pun yang lebih menyerupai Yesus daripada Maria. Maka tidaklah mengherankan apabila “semakin suatu jiwa dibaktikan kepada Maria, semakin mesra ia menjadi milik Yesus Kristus.” (St. Montfort) St. Bernardus juga mengatakan, “Sungguh, Tuhan amat berkenan jika kita menyampaikan syukur, hormat, dan kasih atas segala kebaikan-Nya lewat tangan Bunda Maria.” Ini adalah suatu ungkapan kerendahan hati yang merasa diri tidak pantas untuk mendekati-Nya, sehingga kita memohon pertolongan Bunda kita tercinta. Dengan demikian kita tidak mengandalkan kemampuan diri sendiri, tetapi bersandar pada kebaikan hati ibunda.

Maria menjadi Bunda Gereja karena persatuannya dengan Kristus yang tak terpisahkan hingga saat ini. Demikian pula saat ini Maria bersatu pula dalam karya keselamatan Kristus.

Demikianlah Santa Perawan juga melangkah maju dalam penziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga disalib, ketika ia -sesuai dengan rencana Allah- berdiri di dekat-Nya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan Puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan kurban-Nya, dan penuh kasih menyetujui persembahan kurban yang dilahirkannya. Dan akhirnya oleh Yesus Kristus itu juga, menjelang wafat-Nya di kayu salib, ia dikaruniakan kepada murid menjadi Bundanya dengan kata-kata ini, “Perempuan, inilah anakmu.” (LG 58)

Penyerahan diri Bunda Maria yang utuh terhadap kehendak Tuhan telah membuat persatuannya dengan Putera-Nya tak terpisahkan. Di mana saja Kristus ada sebagai penebus dan Kepala Mistik, di situ pula Maria berada sebagai Bunda. Dan setelah diangkat jiwa dan badannya dalam kemuliaan surgawi, Bunda Maria yang telah mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Puteranya, mengantisipasi kebangkitan semua anggota Tubuh-Nya. Bunda Maria yang tersuci, Bunda Gereja, melanjutkan di surga keibuannya terhadap anggota-anggota Kristus.

4. Teladan Maria sebagai Bunda Allah

Selama mengandung Yesus sembilan bulan lebih, Maria sangat merindukan dan menanti-nantikan kelahiran-Nya. Padahal Yesus sudah ada dalam kandungannya, tetapi Maria tetap merindukan-Nya. Demikian pula, Yesus sudah ada di dalam hati kita, bersemayam di hati kita selalu. Namun, rindukanlah Ia selalu. Kerinduan menggali hati kita sehingga lebih luas dan lebih dalam lagi untuk menerima Dia yang kita rindukan. Rindukanlah dia dalam Sakramen Mahakudus, dalam Kitab Suci, dalam peristiwa hidup sehari-hari, hingga kedatangan-Nya yang kedua kali yang membuat kita dapat bertemu muka dengan muka dengan-Nya.

Sepulangnya dari Bait Allah ketika Yesus baru berusia 12 tahun, Maria menyadari bahwa Yesus tidak bersamanya. Selama tiga hari Maria kembali berjalan menuju Bait Allah sambil terus mencari Yesus, menyerukan nama-Nya. Demikianlah kita dalam perjalanan menuju Rumah Bapa di kehidupan ini, hendaknya senantiasa mencari Dia. Hati dan pikiran kita hanya terarah kepada-Nya, dan terus menyerukan nama-Nya.

Maria tidak pernah menjadikan Yesus sebagai miliknya sendiri. Sejak Yesus baru lahir, ia telah membagikan Yesus kepada para gembala dan orang majus. Sesudah Yesus dewasa, Maria tidak pernah menahan Yesus untuk tetap tinggal di rumah bagi dirinya saja. Bahkan ketika Yesus di atas kayu salib, Maria telah memberikan Yesus anak satu-satunya bagi manusia di seluruh dunia sepanjang segala abad. Demikianlah Maria mengajarkan kita untuk membawa Yesus kepada semua orang, dan membiarkan Yesus dicintai dan dirindukan oleh segala suku bangsa.

Natal adalah sesuatu yang indah, yang terjadi karena adanya kata “YA” dari Maria. Demikianlah setiap “YA” kita kepada kehendak Allah, akan melahirkan damai dan sukacita di hati kita. Kristus lahir di hati kita, setiap kali kita berseru “YA” pada kehendak-Nya. Oleh karena itu, Natal bukan lagi peristiwa setahun sekali, tetapi peristiwa sepanjang tahun, yang membuat kita akhirnya dapat berseru bersama St. Paulus, “… aku hidup, namun bukan lagi aku yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” >

Sharing:
* Mengatakan “YA” terhadap kehendak Allah tidaklah selalu mudah. Pernahkah engkau berjuang untuk mengatakan “YA” pada kehendak Allah, walau itu menuntut pengurbanan dan penyangkalan diri yang besar darimu? Sharingkanlah pengalamanmu itu.


Bagi yang ingin mengutip/menyebarkan artikel ini, harap tetap mencantumkan sumbernya. Terima kasih.
Sumber:
Majalah Rohani Vacare Deo (Media Pengajaran Komunitas Tritunggal Mahakudus)
www.holytrinitycarmel.com

admin