 | (1Kor. 15: 13-17)
Oleh: Sr. Maria Petra, P.Karm
"Dalam segala kenanganku, segala yang lain ada, kecuali Tuhan.
Dalam segala pengalamanku, segala yang lain ada, kecuali Tuhan.
Dalam segala impianku, segala yang lain ada, kecuali Tuhan.
Segala sesuatu dalam hidupku, sudah menjadi segalanya, kecuali Tuhan!"(Kurt Marti)
Sanjak ini menggambarkan situasi hidup manusia dewasa ini. Tuhan tidak lagi menjadi pusat kehidupan, tetapi hanya menjadi objek sampingan. Tuhan tidak lagi menentukan masa depan. Tuhan sudah mati, dalam hati dan hidup manusia. Di Kota Korintus St. Paulus menghadapi umat yang majemuk yang sudah menjauh dari Tuhan. Kepada umat ini Paulus menulis, "Tetapi jika Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah iman kamu .... Dan ... binasalah orang-orang yang mati dalam Kristus" (1Kor. 15:13-15.17). Rasul Paulus sangat yakin akan hal ini dan menghayatinya dalam kehidupan. Oleh kebangkitan Kristus semua orang dibebaskan dari kuasa kegelapan dan maut, dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan... Justru itu Paulus mengatakan bahwa jika Kristus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita.
Jika kita merayakan Paskah, kita dipersatukan dengan Kristus yang bangkit. Maka, dalam suratnya kepada umat di Kolose, Paulus mengajak, "Karena kamu dibangkitkan bersama Kristus, maka hiduplah sebagai anak-anak terang, pikirkanlah pikiran-pikiran yang di atas" (bdk. Kol. 3:1-4; Ef. 5:8).
Untuk sampai pada kebangkitan, kita harus melalui "Jumat kelabu". Kita tahu dalam kisah sengsara Yesus, Jumat Agung merupakan suatu hari duka-derita. Dalam hidup, kita mungkin mengalami "Jumat kelabu" seperti Yesus, yaitu ketika kita mengalami saat-saat gelap, hari-hari mendung. Hari-hari mendung dalam hidup kita, misalnya, adalah pengalaman-pengalaman ketika:
* cinta dan perhatian kurang terasa, tidak ada pengertian antar sesama;
* kecemasan meggerogoti hidup manusia;
* orang ditolak, disingkirkan, dipojokkan;
* ada rasa ditinggalkan, terpuruk seperti Yesus ditinggalkan oleh para rasul-Nya, dan harus menghadapi derita dengan keringat darah;
* orang menutup hatinya terhadap Tuhan.
Paskah adalah akhir yang cerah dari Minggu suci, pesta kemenangan Kristus atas maut, dan suatu terobosan menuju hidup baru yang kekal. Yang menarik dari peristiwa kebangkitan adalah: pertemuan dengan Yesus yang bangkit selalu membawa perubahan sikap hidup yang positif dan radikal. Misalnya:
* Maria Magdalena yang menangis, menjadi pewarta gembira (Yoh. 20:1-18).
Bahwa menangis merupakan satu tindakan yang termasuk bagian dari hidup dan tidak harus dimengerti secara negatif. Menangis bagian dari hidup sebagai sarana perjumpaan Paskah. Menangis tidak hanya merupakan tanda sedih, kehilangan, protes, tak sanggup, ungkapan rasa tertindas dan tertekan, tetapi juga memiliki nilai positif, yaitu sebagai ungkapan cinta dan pengorbanan. Menangis juga merupakan reaksi atas situasi batas. Disebut "batas" sebab dalam situasi tersebut manusia berada pada batas: kehidupan, kesanggupan, kesabaran, harapan, kepercayaan. Situasi batas ini merupakan krisis yang besar. Mengapa?
- Manusia tidak tahu lagi apa yang akan dibuatnya.
- Manusia merasa tidak berdaya, baik secara fisik maupun psikis.
- Manusia merasa kehilangan.
- Manusia menghadapi jalan buntu.
- Manusia merasa bahwa tidak ada orang yang sanggup menolongnya.
Jalan terakhir adalah menangis; menangis seperti itu membebaskan, melegakan, membahagiakan.
Maria Magdalena dalam Injil tadi mencari jenasah Yesus sambil menangis, ini bukan pertama kalinya ia menangis. Ketika Yesus masih hidup ia menangis, ia mencuci kaki Yesus dengan airmata dan menyekanya dengan rambutnya. Maria tahu mengapa ia menangis: pertemuannya dengan Yesus membawa perubahan besar dalam hidupnya; Maria dibebaskan dari segala kesalahannya; ia menerima kembali kehormatan dan harkatnya sebagai wanita dan mendapat penghargaan yang sama seperti manusia yang lain; segala masa lampaunya dilupakan. Di hadapan Yesus sisi gelap kehidupannya diubah menjadi kekuatan untuk menata suatu hidup baru.
Akan tetapi, tangisan Maria Magdalena di makam pada hari Minggu Paskah pagi memiliki karakter lain. Maria menangis karena berada dalam suatu "situasi batas" dimana orang yang dicintainya sudah meninggal, dimakamkan, dan kini bahkan jenazahnya lenyap!
Di tengah tangisan karena situasi batas ini, Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada Maria dengan cara yang akrab. Yesus memanggil dia dengan namanya, "Maria!" Pertemuan ini membawa perubahan yang berakibat besar: Maria yang menangis menjadi gembira. Maria yang sedih menjadi pewarta kebangkitan Kristus di mana-mana!
Kita juga harus menangis seperti Maria. Karena apa? Seluruh cerita ini mau mengajarkan kepada kita bahwa:
- Justru kebangkitan Yesus pada hari Paskah adalah jawaban Tuhan atas setiap situasi batas yang dialami manusia. Tuhan akan selalu tampil menyapa dan menolong manusia dalam situasi yang tampaknya tidak/sulit teratasi. Yesus sendiri telah berpesan, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat. 28:20). Pertemuan dengan Yesus yang bangkit pada hari Paskah menghapus segala air mata. Helen Keller seorang yang buta sejak lahir mengatakan, "Bagiku, Paskah berarti harapanku akan hidup abadi sesudah kematian diperkuat, dan terutama bahwa di sana aku bisa melihat!"
- Orang harus pernah menangis dan dapat menangis supaya bisa mengerti orang lain. Menangis adalah suatu tindakan yang efektif untuk mengungkapkan relasi yang akrab dan intensif, tidak hanya terhadap manusia, tetapi juga terhadap suatu situasi dan masalah.
- Seorang bapak harus bisa menangis untuk mengerti ibu, dan sebaliknya.
- Seorang istri harus pernah menangis untuk mengerti suami, dan sebaliknya.
- Para kekasih harus pernah menangis supaya semakin saling mengerti.
- Orang tua harus bisa menangis untuk mengerti anak-anak.
- Anak-anak harus bisa menangis untuk mengerti mengapa mama dan papanya pernah atau harus meneteskan airmata.
Tangisan Maria Magdalena dalam Injil tersebut merupakan tangisan yang menghantar dan mendorong dia untuk mencari yang ilahi serta untuk mengarahkan dirinya, hidupnya, dan masalahnya kepada Tuhan.
* Petrus yang pengecut menjadi berani.
* Thomas yang bimbang, menemukan kepastian.
Perayaan Paskah kiranya mengubah sikap kita. Kurt Marti mengatakan, "saya hanya tahu, untuk apa Tuhan memanggil kita: untuk bangkit...hari ini dan sekarang". Oleh karena itu, hendaklah Paskah mendorong kita untuk mengambil langkah dan mengubah sikap kita menjadi:
- lebih bersyukur dan tidak menuntut
- lebih altruistis dan tidak egois
- lebih berani, tidak pengecut. Lebih menghayati kebangkitan yang diwarnai dengan kegembiraan untuk memikul duka-derita, ketekunan untuk mengejar mahkota kemuliaan, harapan untuk tabah menanggung beban, iman untuk mampu menerobos sisi gelap kehidupan, dan cinta untuk setia sampai mati.
Sharing:
Apa makna kebangkitan Yesus bagi diri Anda secara pribadi? Apakah kebangkitan Yesus membawa suatu perubahan dalam kehidupan Anda? Perubahan seperti apa yang Anda alami? Sharingkanlah pengalaman tersebut dengan teman dalam sel.
Diperbolehkan copy paste,
dengan syarat
tetap menyertakan info SUMBER (SOURCE)-nya.
Sumber: Majalah Vacare Deo
Komunitas Tritunggal Mahakudus,
www.holytrinitycarmel.com
Posted: 22 June 2009 00:00 | 769 Reads -  |
|  |