 | Oleh: Sr. Maria Yoanita P.Karm
Cuaca di suatu pertapaan beberapa hari terasa dingin, berkabut tebal, dan matahari enggan menyinarkan terangnya. Di hari yang sendu itu, seorang rubiah menikmati hari-harinya bersama Sang Kekasih jiwanya yang sudah lama seolah tak dirasakan kehadiran-Nya, persis seperti cuaca yang begitu solider terhadap suasana batinnya. Hanya iman, harapan, dan cintanya yang menemani hari-hari hidupnya bersama dengan Kekasih jiwanya yang seolah-olah sedang bersembunyi.
Rubiah ini mencoba menuangkan apa yang dialaminya dengan perbuatan kecil, yakni bercocok tanam. Ia menuangkan seluruh harapannya kepada Allah saja. Suatu penantian panjang akan kehidupan abadi, berjumpa dengan Allah dari muka ke muka di kota abadi, Yerusalem surgawi.
Sejenak ia mengingat sabda yang pernah didengarnya dalam Injil, "Biji gandum harus mati, supaya tumbuh kehidupan baru dan menghasilkan buah banyak" (bdk. Yoh. 12:24). Demikianlah si rubiah dalam keheningan batinnya merenungkan kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Setelah Ia bangkit dari antara orang mati, kemudian Ia naik ke surga, duduk di sisi kanan Allah Bapa dalam kemuliaan yang abadi.
Sejenak rubiah itu tersadar bahwa sekarang ini dia sedang menaruh harapannya kepada Allah, lewat "menanam biji tomat, biji terong, dan biji cabe". Dia berharap benih itu akan mati, lalu muncul kehidupan baru, semakin tumbuh, berkembang, dan akhirnya menjadi pohon tomat, pohon terong, dan pohon cabe yang menghasilkan buah yang lebat. Terbayang di hadapannya bahwa apa yang diperbuatnya ini merupakan cerminan hidup Kristus, hidupnya sendiri, dan hidup semua orang Kristen.
Apa hubungannya pohon tomat, pohon terong, dan pohon cabe dengan kebangkitan Tuhan? Demikian rubiah itu mencoba menghubung-hubungkan apa yang dilakukannya dengan ajaran iman Gereja dan pengalaman hidupnya sendiri. Rubiah mulai teringat dengan perjalanan dua orang murid ke Emaus. Bacaan dari Injil Lukas itu menyadarkannya akan pengalaman hidup dan pengalaman imannya akan Yesus Kristus yang bangkit.
Luk. 24:13-15
"Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka."
"Pelajaran apa yang dapat dipetik dari bacaan ini? Pelajaran yang penting, artinya kalau kita memahami isinya. Yesus menampakkan diri: mereka melihat-Nya dengan mata mereka sendiri, tetapi tidak mengenali-Nya. Sang Guru berjalan bersama-sama dengan mereka di jalan, padahal Ia sendirilah Jalan. Akan tetapi, mereka belum meniti Jalan itu, sebab mereka ditemukan-Nya menyimpang jauh dari Jalan. Ketika Ia sebelum penderitaan-Nya berada bersama mereka, Ia sudah meramalkan segala-galanya: bahwa Ia akan menderita, bahwa Ia akan mati, dan pada hari yang ketiga akan bangkit. Semua itu telah diramalkan-Nya. Nah, Ia mati, dan lihatlah: semua itu mereka lupakan. Begitu bingung mereka ketika melihat-Nya bergantung pada salib, sehingga mereka melupakan pelajaran-Nya, tidak mengharapkan kebangkitan-Nya, dan juga tidak ingat akan janji-janji-Nya. "Kami dahulu mengharapkan," kata mereka, "bahwa Dialah yang akan datang untuk membebaskan bangsa Israel..." Wahai murid-murid, kalian "dahulu mengharapkan"? Jadi, kalian kini tidak lagi mengharapkan? Lihatlah: Kristus hidup, lalu kini harapan dalam diri kalian sudah pupus? Kristus memang hidup. Kristus yang hidup mendapatkan hati murid-murid-Nya sudah mati. Di depan mata mereka Ia menampakkan diri dan tidak menampakkan diri. Ia kelihatan, tetapi tersembunyi. Sebab, jika Ia tidak kelihatan, bagaimana mungkin mereka mendengar-Nya mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan-Nya? Di jalan, Ia berjalan bersama-sama mereka seakan-akan Ia teman seperjalanan, sedangkan Ia sendiri pemandunya. Mereka memang melihat-Nya, tetapi tidak mengenali-Nya. Sebab "ada sesuatu yang menghalangi mata mereka", seperti tadi kita dengar, tidak menghalangi mereka melihat-Nya, tetapi menghalangi mereka mengenal-Nya" (St. Agustinus, Sermo 235, 2).
Rubiah yang bersahaja ini mulai berefleksi, "Penderitaan manusia dapat sedemikian dalamnya sehingga tidak dapat melihat Allah lagi. Yesus juga mengalami derita yang amat dalam sehingga tak mampu melihat Bapa lagi. Inilah puncak penderitaan: dibuang, diasingkan, ditinggalkan sendirian, ... semua gelap, dunia gelap, ... suatu derita yang dahsyat. Kristus telah mengalami semuanya itu di atas kayu salib."
Apakah Anda pernah merasakan sendirian, kesepian, ditinggalkan semua orang, tidak dimengerti orang lain? Difitnah, dicemooh, dihina, diremehkan, dipermalukan, diperlakukan tidak adil? Apakah Anda merasa ditinggalkan Allah? Berserulah bersama Yesus, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mrk. 15:34)
Kadangkala kita merasakan beratnya kehidupan sehingga kita berseru, "Allahku, ya Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru namun engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Aku berseru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab. Aku berseru di waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. Kepada-Mu aku percaya ya Tuhan, janganlah jauh daripadaku. Engkau penolongku ya Tuhan, kepada-Mu aku percaya, dan Engkau tak akan mengecewakan aku" (bdk. Mzm. 22). Inilah derita yang dahsyat ketika orang merasa ditinggalkan oleh Allahnya.
Luk. 24:16
"Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia."
Di sini dikatakan "ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia". Dalam kehidupan manusia, seringkali kita tak mampu melihat Tuhan yang hadir dalam diri sesama, dalam diri kita, ataupun dalam peristiwa hidup sehari-hari.
Mata batin kita tertutup oleh dosa-dosa atau luka-luka batin yang berat. Maka, kita perlu bertobat dan menerima Sakramen Tobat dan juga melakukan penyembuhan batin. Mengampuni semua orang yang pernah melukai hati kita dan juga mengampuni diri sendiri. Yesuslah Sang tabib yang ajaib. Dia akan menyembuhkan kita dari kebutaan dan kegelapan rohani bila kita membuka hati dan datang kepada-Nya. Dia akan membebaskan kita dari dosa dan menyembuhkan luka-luka batin kita yang menghalangi pandangan batin kita untuk melihat dan mengenali Dia.
Seperti dikatakan Yesus dari atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu, apa yang mereka perbuat" (Luk. 23:34).
Kita harus saling mengampuni supaya sembuh. Yesus tak pernah menolak siapa pun dalam hidup-Nya. Ia selalu penuh pengampunan, bahkan kepada mereka yang menyalibkan-Nya. Maka, sudah selayaknya sebagai pengikut-Nya kita meneladan Dia.
Luk. 24:30-31
"Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka."
"... dalam hal apa Tuhan ingin dikenali? Dalam hal membagi roti. Kita tidak usah cemas: kita membagi roti dan mengenali Tuhan. Dalam hal itu saja Ia ingin dikenali, demi kita, yang tidak bakal melihat-Nya dalam daging, tetapi yang bakal makan daging-Nya.
Wahai orang-orang yang percaya, siapa pun kamu, yang dengan sewajarnya menyebut dirinya kristen, yang tidak tanpa alasan memasuki gereja dan mendengarkan Sabda Allah dengan khidmat dan penuh harapan, kamu mendapat hiburan dalam perbuatan memecah-mecahkan roti. Ketidakhadiran Tuhan bukanlah ketidakhadiran. Kamu harus beriman, maka Ia bersamamu, sekalipun tidak kamu lihat. Ketika Tuhan bercakap-cakap dengan mereka, mereka tidak beriman—karena mereka tidak percaya bahwa Ia telah bangkit dan tidak mempunyai harapan bahwa Ia dapat bangkit. Mereka telah kehilangan kepercayaan mereka, mereka telah kehilangan harapan mereka. Mereka berjalan seperti orang-orang mati bersama Yang Hidup, dengan Hidup itu sendiri mereka berjalan seperti orang-orang mati. Hidup berjalan bersama mereka, tetapi dalam hati mereka belum ada Hidup" (St. Agustinus, Sermo 235, 3)
Iman akan Yesus Kristus yang bangkit adalah sesuatu yang sangat mendasar. Oleh iman ini maka kita merayakan Ekaristi, berdoa, menghayati sakramen-sakramen, membaca dan merenungkan Kitab Suci, melakukan semua pekerjaan yang baik demi cintakasih, dll. Semua itu kita lakukan sebab kita mengimani Yesus yang bangkit. Singkat kata, semua ibadah yang kita lakukan didasari oleh iman akan Yesus yang bangkit. Sebab, St. Paulus mengatakan bahwa kalau Yesus tidak bangkit, maka sia-sialah iman kita (bdk. 1Kor. 15:14.17). Iman akan Yesus yang bangkit inilah yang memberikan harapan besar kepada kita akan kehidupan kekal bersama Dia, sudah sejak di dunia ini, dan kelak mencapai kepenuhannya di surga.
Para murid Yesus terbuka matanya ketika Ia memecah-mecahkan roti. Seolah selaput gugur dari mata mereka sehingga mereka mengenali Dia sebagai Tuhan. Demikian juga kita, melalui perjumpaan kita dengan Yesus dalam Ekaristi, Dia akan menyembuhkan tubuh, jiwa, dan roh kita, sehingga kita dapat berkata, "Ya, Tuhanku dan Allahku!" Kita mengakui Dia sebagai Tuhan dan Penyelamat. Dia membuka mata batin kita untuk melihat dan mengenal Dia. Yesus memberikan sukacita, damai, dan hati yang berkobar-kobar dalam cintakasih karena kehadiran-Nya. Dia memberi kita rahmat kehidupan baru yang tiada henti-hentinya mengalir dalam hidup kita sampai ke kehidupan kekal.
Luk. 24:29
"Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: 'Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.' Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka."
"Maka untuk mengenali Tuhan, Saudara harus berbuat seperti mereka bila ingin memiliki Hidup. Mereka menampung-Nya. Menurut pandangan mereka, Tuhan seperti seseorang yang berkelana ke tempat-tempat jauh, tetapi mereka menahan-Nya. Setelah mereka sampai di tempat tujuan, mereka berkata, "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Jika Saudara ingin mengenali Sang Penyelamat, tampunglah Dia sebagai tamu. Apa yang telah dirampas oleh ketidakpercayaan, dikembalikan oleh kesediaan menerima tamu.
Tuhan telah memperlihatkan siapa Dia waktu memecah-mecahkan roti. Belajarlah, di mana Saudara dapat mencari Tuhan, di mana Saudara dapat menemukan-Nya, dan dari hal apa Saudara dapat mengenali-Nya. Bila Saudara sedang makan. Sebab orang percaya mempunyai pengetahuan tertentu, sehingga bacaan ini mereka pahami dengan lebih baik daripada mereka yang tidak mempunyai pengetahuan itu" (St. Agustinus, Sermo 235, 3).
Kita tahu dari Kitab Suci, bagaimana tokoh-tokoh dalam Kitab Suci mengalami perubahan hidup setelah mereka berjumpa dengan Yesus Sang Juruselamat. Yesus adalah Pribadi yang sangat memesona bagi mereka. Misalnya: wanita Samaria di sumur Yakub, Maria Magdalena, Zakeus, Lewi pemungut cukai. Begitupun Petrus dan Paulus—kedua tokoh besar dalam Gereja—, St. Agustinus, dan para kudus lainnya. Mereka semua mengalami perubahan hidup yang mendalam setelah berjumpa dengan Yesus. Mereka memperoleh hidup yang baru dalam Tuhan, sehingga dengan sangat berani mereka menjadi saksi-saksi Injil-Nya di seluruh dunia.
Perjumpaan Yesus dalam iman melalui Ekaristi dan Kitab Suci pun mempunyai daya ubah karena Tuhan sendiri hadir dengan kuasa-Nya. Dengan kuasa Roh Kudus-Nya, Ia menerangkan isi Kitab Suci kepada kita.
Luk. 24:25-27
"Lalu Ia berkata kepada mereka: 'Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?' Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi."
Hati para murid yang sedang berjalan ke Emaus itu berkobar-kobar ketika Yesus menerangkan isi Kitab Suci. Demikian juga hati kita akan berkobar-kobar jika kita membaca dan merenungkan Kitab Suci. Ketika kita berjumpa dengan Tuhan lewat pembacaan Kitab Suci, Ia menghibur, menegur, menguatkan, dan membimbing langkah hidup kita, serta memperbarui hidup kita, sehingga mata hati kita menjadi terang dan kita semakin rindu untuk melaksanakan Sabda-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Firman-Nya mengubah hidup kita menjadi semakin serupa dengan Dia, dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Luk. 24:32
"Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
"Tuhan dikenali oleh mereka. .... Dalam tubuh Ia tidak hadir bagi mereka, tetapi dalam iman mereka menahan-Nya. Sebab dalam tubuh, Tuhan menjauhkan diri dari seluruh Gereja dan naik ke surga, untuk membangun iman. Sebab jika Saudara tahu dengan pasti hanya apa yang Saudara lihat, di mana lalu iman? Akan tetapi, jika Saudara bahkan percaya pada yang tidak Saudara lihat, maka Saudara akan bergembira bila pada akhirnya Saudara melihatnya. Hendaknya dalam dirimu iman dibangun, sebab pada suatu ketika melihat menjadi imbalannya. .... Sengsaralah mereka yang tidak percaya. Kegembiraan besar tersimpan bagi mereka yang percaya. Orang percaya akan bergembira, yang tidak percaya akan dipermalukan. Orang percaya akan berkata: "Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, benar jugalah apa yang telah kami dengar, benarlah apa yang telah kami percayai, benarlah apa yang kami harapkan, dan benarlah apa yang kami lihat." Tetapi orang tidak percaya akan berseru: "Apa sebabnya kami dahulu tidak mau percaya? Apa sebabnya kami membacanya tetapi kami anggap dusta?" Demikianlah yang akan terjadi, kebingungan dibalas dengan hukuman, kesenangan dengan imbalan. Sebagaimana dikatakan Matius: "Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal" (St. Agustinus, Sermo 235, 4).
Hari Paskah telah tiba, cuaca cerah, secerah iman dan harapan si rubiah kepada Tuhan. Matahari bersinar cerah menghalau cuaca dingin, kabut, dan hujan sehingga memberikan kehangatan dalam kalbunya. Sambil tetap berharap benih tomat, terong, dan cabenya akan tumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah, ia teringat Sabda Tuhan dalam Injil Yohanes:
Yoh. 3:16
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal".
Yesuslah benih yang telah jatuh ke tanah dan mati, kemudian bangkit kembali untuk memberikan kepada kita kehidupan baru, kehidupan kekal bersama dengan Allah. Berbahagialah orang yang percaya kepada-Nya, sebab ia akan memperoleh kehidupan kekal yang dijanjikan oleh Allah. Rubiah tersenyum gembira bahwa Allah telah mengajarkan misteri-misteri-Nya lewat pekerjaannya yang kecil dan sederhana, menanam tomat, terong, dan cabe. Semoga harapannya tidak sia-sia namun sungguh menjadi suatu kenyataan.
Selamat menyongsong Kebangkitan Tuhan pada Hari Raya Paskah! Tuhan sungguh bangkit jaya!
"KOBARKAN API KRISTUS"
Bangkitkan Roh-Mu dalamku
Dan kobarkan hatiku
Seperti murid-Mu di Emaus
Bukakan mata hati kami
'Tuk melihat Engkau di sini
Mencurahkan api surgawi
Refr:
Menghadapi tantangan, menerima cobaan
Ajarku 'tuk melekat dengan Tuhan
Kasih yang mula-mula biarlah s'lalu kupunya
'Tuk dapat menyenangkan-Mu selamanya.
(Mars IC, Lembah Karmel Cikanyere, oleh KTM)
Sharing:
Bagaimana Anda menyadari kehadiran Yesus dalam hidup Anda? Sudahkah Anda menerima Dia dalam kehidupan Anda sehingga diubah menjadi lebih baik? Bagaimana pengalaman Anda selama ini? Sharingkanlah dengan teman-teman dalam sel.
Diperbolehkan copy paste,
dengan syarat
tetap menyertakan info SUMBER (SOURCE)-nya.
Sumber: Majalah Vacare Deo
Komunitas Tritunggal Mahakudus,
www.holytrinitycarmel.com
Posted: 29 June 2009 00:00 | 1641 Reads -  |
|  |