[Trinitas edisi Desember 2009]
If a picture paints a thousand words
Then why can't I paint you
The words will never show
The you I've come to know
Bagus ya..lirik dari lagu If di atas. Ketika kata-kata memiliki keterbatasan dalam mengambarkan suatu lukisan. Keindahan lukisan tidak akan mungkin dijelaskan dalam kata-kata
Juga keindahan akan alam Tidak akan mungkin bisa digambarkan hanya melalui kata-kata.
Karena kata memiliki keterbatasannya sendiri dalam menggambarkan keindahan alam. Dengan kata malah membatasi dari arti sesungguhnya keindahan alam tersebut.
Itu baru dengan alam, dimana adalah ciptaan. Bagaimana kita bisa menggambarkan Sang Pencipta (Allah) dengan kata-kata? Tidak akan pernah cukup dan tidak akan ada kata-kata yang dapat mewakili keindahan Sang Pencipta.
Kita mungkin bisa mencerna kebesaran Sang Pencipta, dari hasil ciptaan-Nya, sama seperti ketika kita menikmati keindahan pencipta tari dari hasil tariannya. Tapi perbandingan hubungan sang pencipta tari, penari dan tariannya masih jauh dari bagaimana menggambarkan hubungan Allah, manusia dan hasil karyanya.
Karena Allah begitu besar, sehingga kita tidak bisa pun hanya berkata-bekata dengan konsep-konsep dan teori-teori yang begitu rumit. Mungkin, hanya kesederhanaan dan kerendahhatian yang bisa menangkap Allah yang begitu hidup. Hidup melalui kita manusia dan hasil karyanya; hidup melalui alam dan hidup melalui orang-orang di sekitar kita.
Siapalah kita yang begitu hina, kotor dan begitu dekilnya. Ketika membaca bahwa manusia adalah Citra Allah…, sungguh tak pantaslah. Karena citra adalah ‘cermin’ Allah.
Lebih enak..ketika menggambarkan bahwa kita adalah jejak. Yah…jejak itu letaknya di bawah, dan jejak (yang merupakan jejak kaki), bentuknya ya kaki. Kita merupakan jejak dari kaki Allah sendiri di dunia. Dengan melihat jejak yang bentuknya masih tidak bagus
Maukah kau menjadi jejak Kristus (walau jejak itu belum sempurna dan belum menggambarkan Citra Allah)? Hingga suatu saat nanti, diri kita sendiri bisa ‘menggambarkan’ Allah sendiri yang hidup dalam diri kita.
St Agustinus: "Ya Allah, agunglah Engkau dan patut dipuji: kekuatan-Mu besar dan kebijaksanaan-Mu tanpa batas. Manusia yang sendiri satu bagian dari ciptaanMu, ingin meluhurkan Dikau. Betapapun ia berdosa dan dapat mati, namun ia ingin memuji Dikau karena ia adalah satu bagian dari ciptaanMu. Untuk itu, Engkau menanamkan hasrat di dalam kami karena Engkau telah menciptakan kami menurut citraMu sendiri. Hati kami tetap tidak tenang sampai ia menemukan ketenteraman di dalam Engkau" (conf 1,1,1).
(ab)
Posted: 13 July 2010 14:13 | 79 Reads -  |
|