 | [Trinitas edisi Maret 2010]
Cikanyere, TRINITAS – Tahbisan Diakon oleh Uskup Bogor. Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM sebagai selebran utama ditampingi oleh Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm dan Rm. Tri Harsono, Pr sebagai rektor seminari Tinggi Petrus, Paulus Bogor, Rabu (24/2) di kapel Maria Bunda Karmel. Kelima calon Diakon yang ditabiskan adalah, 3 orang dari CSE dan 2 orang Projo Bogor, yaitu: Fr. Diakon Elisa Maria, CSE, Fr. Diakon Joseph Krisostomus, CSE, Fr. Diakon Patrisius De Jesu, CSE, Fr. Diakon Habel Jadera, Pr dan Fr. Diakon Ignatius Irwan Sinurat, Pr. Dihadiri 750 umat, 58 imam, orang tua dan keluarga frater Diakon serta para suster dari berbagai tarekat, para frater, bruder, serta anak-anak seminari menegah dari Bogor. Umat yang datang dari beberapa Paroki Keuskupan Bogor, Jakarta, Bandung dan dari daerah lainnya seperti, Malang Surabaya, Semarang. Sedangkan koor Paroki Cipanas
Dalam kotbahnya Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM mengatakan: Tahbisan Diakon di musim hujan, pasti banyak juga hambatan untuk sampai di Lembah Karmel. Sebagai Diakon adalah suatu jenjang kedudukan yang sangat penting di dalam Gereja, mereka bukan saja dilantik sebagai pelayan, tetapi juga ditahbiskan, ini suatu kedudukan yang khusus yang patut kita syukuri. Bagi para frater yang ditabiskan, Tuhan memberikan banyak bakat atau karunia, dan salah satunya adalah karunia melayani, dan pakailah karunia ini untuk melayani umat atau melayani Gereja. Kita tahu Kristus selama hidup-Nya di dunia juga menamai diri-Nya sebagai “pelayan”, meskipun kita tahu, Dia tidak layak dalam presfektif manusia harus memakai status itu. Dalam Injil dikatakan “Aku datang bukan untuk dilayani tetapi Aku datang melayani”. Contoh dan teladan Kristus inilah tugas melayani itu seakan diangkat dari suatu tugas pelayanan biasa menjadi pelayan yang mulia sifatnya dan luhur.
Garam dan Terang Dunia
Pentahbisan sebagai pelayan di dalam Gereja adalah mulia dan luhur, maka dengan tahbisan Diakon, para frater harus memakainya untuk melayani orang lain. Sering kali orang salah mengeti seakan-akan itu suatu jabatan, suatu tahapan biasa, sehingga apabila tahapan lain itu datang nampaknya lupa akan tugas kita sebagai pelayan. Padahal, sebagai pelayan, kita adalah orang tertahbis, sebagai pelayan yang harus dibawa apapun nanti tugas berikutnya, dan kedudukan berikutnya atau tahapan berikutnya. Karena ini bukan suatu upacara atau aturan demikian, tetapi benar-benar suatu pelantikan sebagai pelayan, dengan kewajiban dan dengan anugerah khusus, karena itu apa yang dikatakan St. Paulus, “terimalah karunia pelayanan ini dengan iklas dan rendah hati serta melakukannya dengan rajin”. Alangkah baiknya bila roh pelayanan ini, melekat pada diri kita, karena tugas itu bukan hanya para Diakon yang ditabiskan, tetapi juga untuk Uskup, untuk para imam dan untuk umat sekalian. Hanya para Uskup, para imam dan para Diakon, pelayanan itu menjadi tugas yang sangat penting dalam hiraki.
Bapak Uskup juga menambahkan, apa harapan umat baik dari keuskupan maupun dari paroki-paroki? Harapannya tidak lain seperti kata-kata Tuhan Yesus; “Kalian adalah garam dan terang dunia”. Pelayan yang menjadi garam dan terang, artinya menyiapkan diri untuk melebur sekaligus menerangi sekitar kita. Yesus sendiri yang harus di wartakan, teladan Yesus sendiri harus dipertontonkan kepada orang lain melalui teladan hidup kita sendiri. Kita bersama-sama bergembira dengan orang tua, dengan paroki-paroki, dengan seluruh umat, dengan para imam dan Gereja pada umumnya, dengan pentabisan sebagai Diakon. Demikian yang dikatakan oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur. OFM dalam kotbahnya.
Pelayan Tuhan
Dilanjutkan pentahbisan kelima frater menjadi frater Diakon, kemudian misa syukur tabisan Diakon. Pada akhir misa, kata sambutan dari frater Diakon, yang diwakili Fr. Diakon Ignasius Irwan Sinurat, Pr. Dalam sambutannya dikatakan: Kami frater Diakon sangat bersyukur kepada Tuhan, yang pada hari ini kami telah ditabiskan, bukan karena kekuatan kami sendiri, tetapi karena rahmat Tuhan dan dukungan doa-doa untuk kami. Kami mengucapkan banyak terimaksih kepada Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM yang telah mentabiskan kami sebagai Diaon, terimakasih banyak juga atas dukungan dan doa dari para imam, para suster, frater, semua umat dari keluarga, khususnya bapak, ibu kami yang tercinta dan doakan kami terus bukan hanya sebagai frater Diakon, tetapi nantinya bisa menjadi sebagai imam. Mudah-mudahan harapan dari keluarga, dan umat pada umumnya, kelima frater Diakon ini, bukan lagi disebut frater, tetapi dengan nama baru ‘Romo’.
Rm. Yohanes Indrakusuma. O.Cram yang mewakili fater-frater Diakon CSE dalam kata sambutannya mengtakan: Kita bersyukur kepada Tuhan, yang telah menganugerahkan kepada Gerejanya pelayan-pelayan khusus, yang memanggil kelima Diakon kita ini, yang hari ini boleh ditahbiskan menjadi Diakon. Doa-doa bapak, ibu dan saudara-saudara semuanya untuk mendukung kelima Diakon ini sangat dibutuhkan. Untuk frater-frater tertahbis, sadarilah panggilan sebagai Diakon ialah untuk melayani umat Allah. Bagi orang tua frater-frater tertahbis, ini suatu kebanggaan dan rahmat besar yang bisa mempersembahkan putera-puteranya untuk pelayan Tuhan. (Fr. Angelus CSE)
SERBA-SERBI DIAKON CSE (Sharing Pengalaman)
Fr. Diakon Joseph Krismostomus, CSE (Lahir di Bandung 11 Juni 1975, anak ke-2 dari 3 bersaudara, sekarang pastoral di Seminari Stella Maris, Bogor).
Saya bersyukur kepada Tuhan, ngak terasa dengan berjalannya waktu, saya akhirnya bisa ditabiskan menjadi diakon. Minat saya untuk masuk biara sebenarnya sudah sejak saya kerja. Saya tidak tahu dorongan itu kuat sekali. Walaupun waktu sekolah di Bandung sejak kecil , aya sudah sekolah di sekolah Katolik. Sampai suatu saat saya diajak oleh seorang pemudi dari Jakarta (waktu itu saya kerja di Jakarta) untuk ikut misa ke Lembah Karmel, akhirnya dari situ jatuh cinta saya kepada panggilan itu, dan melihat frater-frater di Lembah Karmel, saya tertarik dan sampai saya masuk menjadi frater juga hehehe... Dan rahmat besar bagi saya, walaupun dalam keluarga saya lebih dahulu dibabtis, kemudian abang saya dan waktu mau tabisan diakon, papa dan mama saya akhirnya juga dibabtis. Saat ini saya tugas di Seminari menengah Bogor, banyak pengalam yang saya alami. Motto saya: Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku” (Yoh 8:29a).
Penyertaan Tuhan di dalam hidup dan panggilan saya sungguh boleh dialami secara nyata, bagaimana tidak? Tanpa penyertaan-Nya, tidak mungkin saya bisa setia sampai hari ini. Dan kini, Dia akan mengutus saya untuk menjadi mempelai-Nya, sebagaimana Bapa mengutus Putera. Dan penyertaan Tuhan adalah janji-Nya sampai akhir zaman dan tidak akan pernah saya lupakan.
Fr. Diakon Patrisius de Jesu CSE (TTL: Sambi Rampas-Pota, 11 Oktober 1975, anak 1 dari 5 bersaudara, sekarang pastoran di Paroki St. Petrus, Cianjur).
Saya selalu kagum dan heran atas rahmat Tuhan dalam perjalanan panggilan saya, ini suatu karya Allah yang tak terselami, saya sendiri tidak menyangka kalau keriduan menjadi imam sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Ini suatu rahmat bagi saya dan banyak orang benar-benar meragukan panggilan saya, bukan soal ketidakmampuan saya, tetapi pribadi saya yang tidak terlalu menyenangkan, tetapi saya salut dan bangga memiliki ayah dan ibu saya, yang tidak pernah menghakimi dan memvonis anaknya begitu. Saya rasa ini berkat dukungan dan doa mereka, saya bisa ditabiskan menjadi Diakon.
Tahbisan merupakan rahmat khusus, mengapa? Karena tidak semua orang bisa memilikinya, dan ini suatu proses yang cukup panjang dan lama bisa menjadi imam. Dan motto saya “Tuhan Yesus adalah Gembalaku” (Mzr 23). Yesus membimbing saya untuk menjadi religius sejak saya kecil hingga sekarang bahkan selama-lamanya. Karena itu, Yesus adalah Gembala yang selalu memimpin saya, disaat jauh Yesus memanggil, disaat lemah Dia menguatkan, disaat sakit Yesus sembuhkan, dan Yesus selalu menuntun saya kemanapun saya pergi, sebab Yesus adalah Gembalaku.
Fr. Diakon Elisa Maria, CSE (TTL: Tungga, 8 Agustus 1978, anak ke-5 dari 8 bersaudara, pastoral sekarang di Paroki Kristus Raja Serang).
“Saya ini buruh”, karena tugas pastoral saya ditengah-tengah kaum buruh di Paroki Kristus Raja, Serang. Banyak pengalaman yang saya temui disana. Di satu pihak kasihan, karena mereka juga perlu ada pelayanan-pelayanan dari Gereja, sedangkan tenaga pelayanan untuk mereka kurang atau jarang. Walaupun hanya beberapa persen umat Katolik di pabrik-pabrik, toh mereka sangat rindu sekali untuk dilayani, setidak-tidaknya mereka bisa diselamatkan dengan pertemuan-pertemuan rohani, bisa saling mengenal dan kenalan, berpacaran dan sampai menikah sesama Katolik. Ini suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi saya melayani mereka.
Motto saya: “Ia memanggil Aku oleh kasih Karunia-Nya”( Gal. 1: 15). Motto ini berasal dari St. Paulus. Bagi Paulus, semuanya itu adalah kasih Karunia Allah, bukan karena kekuatan menjadi rasul. Bagi saya juga apa yang saya lakukan, saya jalani dan saya perjuangankan dari awal panggilan sampai saat ini, semuanya merupakan kasih karunia Allah, saya sadar, saya adalah pendosa seperti Paulus, saya berada di CSE sebagai calon imam bukan karena kehebatan saya, tetapi semuanya adalah anugerah Allah atau karunia Allah semata-mata.
Posted: 13 July 2010 15:26 | 128 Reads -  |
|  |