 | PELINDUNG PARA IMAM PAROKI
(Oleh: Francisca Handoko)
RIWAYAT HIDUP
Yohanes Maria Vianney dilahirkan dalam sebuah keluarga petani di Dardilly, dekat Lyons, Perancis, pada tanggal 8 Mei 1786, tiga tahun sebelum pecahnya Revolusi Perancis. Masa ini adalah masa yang kacau-balau. Saat itu sekularisme, materialisme, dan perasaan anti agama marak di mana-mana. Yohanes lahir dalam sebuah keluarga Katolik yang saleh. Selama masa revolusi si Yohanes kecil dan kedua orang tuanya tetap rajin menghadiri Misa Kudus, meskipun harus secara sembunyi-sembunyi. Yohanes adalah seorang anak yang pendiam, berkelakuan baik, dan “religius” yang lebih suka “bermain” di gereja daripada di tempat-tempat lain. Ketika usianya menginjak delapan belas tahun, Yohanes minta ijin kepada ayahnya untuk menjadi seorang imam, akan tetapi karena tak ada biaya, Mateus Vianney, ayah yang baik itu, terpaksa tidak dapat menyetujui keinginan puteranya. Baru pada usianya yang kedua puluh Yohanes diijinkan ayahnya untuk memasuki Sekolah Pastoran, yang dibangun oleh Abbé Balley di Desa Ecully, tak jauh dari desa tempat keluarga Vianney tinggal.
Ternyata belajar merupakan kesulitan terbesar bagi Yohanes yang dikarunia otak jauh dari cemerlang. Tantangannya yang terbesar ialah menguasai bahasa Latin yang baginya terasa begitu tidak mungkin untuk diraih. Ada saat-saat dimana baik guru maupun murid menjadi begitu patah semangat dan putus asa. Demi memohon bantuan Allah bagi pemecahan masalahnya ini, Yohanes rela berjalan kaki sejauh lebih dari sembilan puluh kilometer ke tempat ziarah Santo Yohanes Frances Regis di La Louvesc. Selama dalam perjalanan Yohanes hidup dari mengemis makanan dan tumpangan tempat untuk berteduh. Akan tetapi, sekembalinya dari ziarah itu, studinya pun ternyata tidak menjadi lebih mudah baginya, hanya perasaan putus asa yang mendalam itu sudah hilang dari dirinya. Dia kemudian merasa semakin dikuatkan setelah menerima Sakramen Penguatan tak lama sesudah itu.
Penderitaan Yohanes tidak berhenti di sini. Pada tanggal 26 Oktober 1809 Yohanes mendapat panggilan untuk ikut dalam dinas wajib militer karena terjadi kesalahan sehingga namanya tidak tercantum dalam daftar dispensasi yang diberikan pada siswa-siswa seminari. Ayahnya berusaha keras untuk mencari pengganti bagi puteranya tetapi usaha itu sia-sia belaka. Karena jatuh sakit, Yohanes ditinggal oleh pasukannya. Ketika baru saja sembuh Yohanes sudah diwajibkan untuk melapor kembali guna tugas penempatan berikutnya. Sebelum berangkat Yohanes pergi ke gereja untuk berdoa dan karenanya dia terlambat datang dan sudah ditinggal oleh pasukannya. Untuk kedua kalinya dia menjadi disersi dan selama empat belas bulan kemudian Yohanes bersembunyi pada sebuah pertanian. Selain membantu di pertanian itu, Yohanes juga mengajar anak-anak pemilik pertanian dan tak lupa dengan gigih berusaha menguasai bahasa Latin yang dipelajarinya. Untunglah pada tahun 1810 Kaisar Perancis memberikan amnesti kepada para disersi sehingga Yohanes dapat pulang kembali ke rumah sebagai orang bebas.
Baru pada tahun 1812 Yohanes memasuki Seminari Kecil di Verrières. Walaupun mengalami kesulitan besar dan harus melangkah dengan berat dan tersendat-sendat dalam studinya, Yohanes menjalani semua itu dengan rendah hati, tekun, dan gigih. Akhirnya pada musim gugur tahun 1813 Yohanes berhasil masuk ke Seminari Tinggi di Lyons di mana seluruh mata pelajaran disampaikan dalam bahasa Latin. Karena para pembesar di seminari memahami kemampuan otak Yohanes, mereka memberinya kemudahan-kemudahan dan menyediakan fasilitas-fasilitas tambahan, akan tetapi semua ini tidak membawa kemajuan sedikit pun dalam studi Yohanes. Untuk membantunya M. Balley, pendiri Sekolah Pastoran di mana Yohanes pernah belajar sebelumnya, memberikan les privat bagi Yohanes. Tiga bulan setelah itu Yohanes pun maju ujian dan ternyata dia gagal. Oleh karena itu, para penguji memutuskan untuk tidak mengijinkan Yohanes ditahbiskan sebagai imam dan mereka pun menyarankannya untuk mencoba lagi pada keuskupan lain. Mendengar itu M. Balley segera menemui salah seorang dari para penguji yang bernama Abbé Bochard, yang kemudian bersama-sama dengan rektor seminari mewawancarai Yohanes secara pribadi. Hasil wawancara ternyata sangat memuaskan. Di hadapan Romo Vikjen yang mewakili Uskup Agung, kedua orang itu mengatakan, ”Yohanes adalah seorang seminaris yang paling tidak terpelajar, tetapi sekaligus juga yang paling saleh.” Romo Vikjen bertanya lebih lanjut, ”Apakah Vianney seorang yang baik?” Jawab mereka, “Dialah model dari kebajikan.” Romo Vikjen kemudian berkata, “Kalau begitu baiklah dia ditahbiskan, dan biarlah rahmat kasih Tuhan sendiri yang akan melengkapi segala yang kurang.” Akhirnya, berkat kejelian dan kegigihan M. Balley yang memperjuangkannya, pada tanggal 12 Agustus 1815 Yohanes Vianney ditahbiskan menjadi seorang imam. Setelah membantu M. Balley selama dua tahun, pada tahun 1817, Pastor Vianney ditugaskan sebagai pastor paroki di Ars-en-Dombes, sebuah tempat yang jauh dan terpencil serta tak terurus dengan penduduk 230 jiwa.
Pastor Vianney dikenal memiliki kemampuan untuk membaca jiwa-jiwa, mengetahui masa silam yang tersembunyi dan kejadian-kejadian yang akan datang, serta melakukan banyak mujizat. Biasanya nubuatnya tidak menyangkut masalah-masalah masyarakat pada umumnya, tetapi ditujukan untuk membantu dan menghibur pribadi-pribadi yang datang padanya, terutama yang datang untuk mengaku dosa. Karena karunia yang dimilikinya itu banyak umat datang berduyun-duyun ke Ars hanya untuk mengaku dosa pada Pastor Vianney atau meminta bantuannya. Desa Ars menjadi tempat ziarah yang selalu dipadati oleh pengunjung.
Seorang janda bernama Baroness de Lacomblé bersikukuh untuk datang menemui Pastor Vianney, walaupun ia belum pernah bertemu dengan pastor dari Ars tersebut. Janda itu datang untuk mengadukan masalah puteranya yang berumur delapan belas tahun dan yang ingin menikahi seorang gadis berusia lima belas tahun. Ketika ia tiba di pintu gereja yang penuh dipadati umat yang ingin mengaku dosa pada Pastor Vianney, ia menjadi ragu dan berkecil hati apakah dapat bertemu dengan pastor itu. Tiba-tiba pintu kamar pengakuan dosa terbuka. Pastor Vianney keluar dan berjalan menuju janda itu, lalu berkata,”Biarkan mereka menikah. Mereka akan bahagia.”
Pada suatu hari sewaktu di gereja, Pastor Vianney menyapa seorang gadis yang tak dikenalnya dan berkata pada gadis muda itu, “Apa engkau menulis surat kepadaku, anakku?” “Ya, Bapa,” jawab gadis itu. “Baik,” jawab Pastor Vianney, “Jangan kuatir, kamu akan masuk biara. Suster kepala biara akan memberitahumu beberapa hari lagi.” Dan, memang itulah yang terjadi, meskipun Pastor Vianney tidak pernah berkomunikasi dengan suster kepala biara mengenai hal itu.
Selain itu, banyak mujizat penyembuhan yang dilakukan Pastor Vianney dari Ars ini. Menurutnya, mujizat itu terjadi karena perantaraan Santa Philomena, yang patungnya ada di Desa Ars. Hal utama yang beliau tuntut dari mereka yang datang memohon pertolongan darinya ialah iman yang kuat. Kekuatan imannya jugalah yang memampukan Pastor Vianney untuk mengadakan uang dan kebutuhan-kebutuhan lainnya bila salah satu dari badan-badan sosial yang dikelolanya sedang membutuhkan bantuan. Seorang kepala sekolah di Ars berkomentar dan mengatakan bahwa apa sebetulnya yang menjadi mujizat terbesar yang pernah dibuat Pastor Vianney ialah, “Karya yang paling sulit, luar biasa, dan menakjubkan dari Pastor Ars ialah hidupnya sendiri.”
Pastor Vianney juga gencar mendorong orang untuk berdoa rosario, doa Malaikat Tuhan, dan ungkapan-ungkapan doa lainnya, terutama sekali doa-doa dalam liturgi Gereja. Doa-doa bersama ini diandaikannya seperti tumpukan jerami yang bila dibakar akan menghasilkan nyala api yang jauh lebih besar dibandingkan dengan nyala api kecil yang dihasilkan oleh devosi-devosi pribadi yang diandaikannya seperti batang-batang jerami yang terpisah-pisah.
Meskipun Pastor Vianney membaktikan diri selama empat puluh tahun sebagai pastor paroki di Ars, sesungguhnya keinginan hatinya yang terdalam ialah menjalani hidup tapa sebagai seorang Cartusian atau Cistercian. Setiap kali Pastor Vianney harus berperang hebat melawan keinginan hatinya yang selalu mendorongnya untuk “melarikan diri” dari Desa Ars dan pergi bertapa. Sudah tiga kali beliau mencoba meninggalkan Desa Ars, tetapi selalu saja beliau diminta untuk kembali karena sangat dibutuhkan umatnya. Pada tahun 1833, Pastor Vianney mencoba lagi untuk terakhir kalinya “melarikan diri” dari Ars. Memang, kasihan sekali melihat seorang imam yang sudah tua dan dibujuk-rayu untuk mau kembali ke parokinya demi para pendosa yang sangat membutuhkan dan sedang menunggunya. Selama tahun 1858-1859 saja lebih dari 100.000 peziarah telah mengunjungi Ars. Pastor Vianney sendiri telah berusia 73 tahun ketika itu dan beban ini terasa berat sekali baginya.
Pada tanggal 18 Juli 1859, Pastor Vianney dari Ars mengetahui bahwa akhir hidupnya sudah tiba dan pada tanggal 29 Juli setelah membaringkan diri di tempat tidurnya dia berpesan untuk dipanggilkan seorang imam guna memberinya sakramen terakhir. Berita tentang keadaan Pastor Vianney ini segera tersebar dan banyak orang kemudian datang berkumpul memadati segala penjuru kota Ars. Dengan ditemani oleh sebanyak dua puluh imam, Abbé Beau kemudian datang memberikan sakramen-sakramen terakhir. Menjelang ajalnya, Pastor Ars bergumam, “Sedih rasanya menerima komuni kudus terakhir.” Akhirnya, pada tanggal 4 Agustus Pastor Ars menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan damai.
Santo Yohanes Maria Baptis Vianney digelarkan kudus oleh Paus Pius XI pada tahun 1925. Kemudian pada tahun 1929 Paus Pius juga mengangkatnya sebagai santo pelindung utama bagi para imam paroki di seluruh dunia. Sampai hari ini, Pastor Vianney merupakan satu-satunya imam projo yang telah digelarkan kudus. Pestanya diperingati oleh Gereja pada setiap tanggal 4 Agustus. Tahun 2009 merupakan peringatan 150 tahun wafatnya Santo Yohanes Vianney dan Paus Benediktus XVI telah mencanangkannya sebagai Tahun Imamat (Juni 2009 -- Juni 2010) yang didedikasikan bagi santo ini.
TELADAN HIDUP
Gembala yang sangat peduli akan kawanan dombanya
Pastor Vianney dari Ars merupakan prototipe seorang imam yang sangat peduli akan domba-dombanya. Kepeduliannya tercermin dari usahanya yang gigih untuk membawa jiwa-jiwa umatnya kembali pada Tuhan dan terselamatkan.
Sebagai seorang pastor paroki di Desa Ars Pastor Vianney berusaha keras untuk meningkatkan kehidupan keagamaan umatnya. Mengawali tugasnya di Ars, Pastor Vianney pergi mengunjungi setiap rumah yang ada dalam parokinya dan memberikan pelajaran katekismus kepada anak-anak. Seperti desa-desa lainnya di Inggris dan Eropa pada waktu itu, penduduk desa ini juga terjangkit “penyakit” lunturnya kasih akan Allah, sedikitnya jumlah umat yang menjalankan kehidupan keagamaan mereka, dan maraknya tindakan amoral serta kejahatan. Banyak dari mereka menyia-nyiakan uang mereka dengan bermabuk-mabukan dan berdansa-dansi di kedai-kedai minum. Tanpa mengenal lelah Pastor Vianney selalu berusaha keras menyadarkan umatnya agar menjauhi hidup penuh dosa. Beliau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan pertobatan di Ars lewat interaksi pribadi, pengakuan dosa, dan kotbah-kotbahnya yang dengan rajin dipersiapkannya secara teliti dan kemudian dibawakannya tanpa teks. Seringkali baik suara maupun nada kotbahnya berisi teguran keras bagi umatnya yang tenggelam dalam ketakpedulian terhadap agama dan hanya memikirkan keduniawian. Dengan tegas dan tanpa segan-segan Pastor Vianney akan menyinggung masalah-masalah ini dalam khotbah-khotbahnya di mimbar gereja sehingga umat mengerti dengan jelas pesan apa yang hendak disampaikannya. Pastor Vianney juga menolak memberikan absolusi pada umat yang menolak ajakannya untuk bertobat.
Demi menjadi silih bagi dosa-dosa dan kelemahan umatnya di Ars beliau rela menjalani disiplin matiraga yang sangat ketat. Selama enam tahun pertama dari masa tugasnya di Ars, Pastor Vianney hanya makan kentang saja. Dia berpendapat bahwa roh kecemaran, kecurangan, serta ketidakpedulian hanya dapat diusir dengan doa-doa dan puasa. Dan, bila umat dari Ars sendiri tidak mau berdoa dan berpuasa maka menjadi tugas pastor paroki mereka untuk berdoa dan berpuasa. Dia berjuang tanpa kenal lelah untuk memerangi penghujatan terhadap Allah, roh keduniawian, dan percabulan. Selama delapan tahun beliau berjuang agar umat menguduskan hari Minggu dan pergi ke gereja. Selama 25 tahun beliau juga berjuang agar umatnya berpakaian dengan sopan dan akhirnya memang beliau berhasil meyakinkan umatnya.
Kesaksian hidup kudus yang memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan
Kekudusan Pastor Vianney sudah tampak sejak beliau masih sebagai seorang seminaris. Pada hari pentahbisannya Vikjen dari Lyons mengatakan, “Gereja menginginkan imam-imam yang tidak hanya terpelajar, tetapi terlebih lagi imam-imam yang kudus.” Mgr. Simon, Uskup Grenoble, melihat figur seorang “imam yang baik” dalam diri Pastor Vianney. Sebagai seorang imam, Pastor Vianney juga mengerti banyak hal yang harus diketahui seorang imam meskipun pengetahuannya itu tidak didapatkannya dari membaca buku-buku. Misalnya, tentang Teologi Moral. Abbé Bochard, salah seorang anggota dewan penguji, mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang beberapa kasus moral yang sulit, ternyata Pastor Vianney dapat menjawab semua pertanyaan itu dengan tepat dan jelas.
Selain itu, kekudusan Pastor Vianney tercermin dari mujizat yang dilakukannya, yang antara lain banyak terjadi di La Providence. Tahun 1824 Pastor Vianney membuka sekolah gratis bagi gadis-gadis di Ars. Sekolah ini dijalankan oleh dua orang wanita desa Ars yang telah dikirimnya ke biara untuk mendapatkan pelatihan. Sekolah inilah yang merupakan cikal-bakal dari institusi La Providence yang lahir tiga tahun kemudian. La Providence dikenal sebagai rumah bagi anak-anak yatim-piatu, anak-anak jalanan, dan anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya. Institusi ini tidak pernah menolak untuk menerima siapa pun yang datang atau dikirim ke sana, baik itu bayi maupun gadis remaja. Mereka dapat tinggal di sana tanpa harus membayar satu sen pun bahkan para gadis yang mampu pun tidak harus membayar. Para pekerja di sana juga bekerja tanpa bayaran. Mereka hidup dari amal dan penyelenggaraan ilahi dan semua ini dilakukan dengan tujuan untuk keselamatan jiwa anak-anak tersebut. Pastor Vianney menanggung mereka semua seperti menghidupi sebuah keluarga besar. Telah banyak mujizat terjadi di situ. Misalnya, sesuai pengakuan seorang tukang masak, ia membuat roti hanya dari beberapa pon tepung, tetapi bisa menghasilkan dua puluh pon roti yang cukup bagi enam puluh orang. Juga, lumbung tiba-tiba menjadi penuh berisi gandum yang cukup untuk semua yang ada. Mujizat-mujizat ini semua terjadi karena doa-doa Pastor Vianney.
Lambat laun semua yang terjadi ini diketahui banyak umat. Umat juga takjub melihat penampilan anak-anak yang bersih dan berkelakuan baik. Kesaksian hidup Pastor Vianney pun membawa perubahan pada banyak orang di sekelingnya. Beberapa dari mereka berkomentar,”Pastor kita adalah orang kudus, jadi kita harus mentaatinya,” atau “Memang, kita tidak lebih baik dari orang lain, akan tetapi kita hidup dekat dengan seorang kudus.” Mereka semua betul-betul berusaha keras untuk mematuhi Pastor Vianney karena dia seorang yang baik dan kudus. Melalui teladan hidup, kasih, dan pengorbanannya, orang-orang di kota Ars mulai mendengarkan Pastor Vianney. Mereka mulai berubah dan berdoa. Desa Ars kemudian menjadi tempat ziarah beribu-ribu umat yang ingin melihat, bertemu atau mengaku dosa pada Pastor Vianney.
Karena kekudusan dan perjuangannya yang gigih untuk memenangkan jiwa-jiwa, Pastor Vianney berhasil membawa kembali banyak jiwa pada Tuhan. Oleh karena itu, tidak heran bila si jahat sangat membencinya. Selama lebih dari tiga puluh tahun sejak tahun 1824, siang malam Pastor Vianney selalu diganggu oleh si jahat dalam bermacam-macam bentuk manifestasinya, mulai dari bunyi-bunyian, suara-suara manusia, serangan fisik, sampai terbakarnya tempat tidur Pastor Vianney tanpa sebab yang jelas. Kadang-kadang ada orang lain yang juga menyaksikan kejadian-kejadian ini. Karena seringnya menerima gangguan ini, Pastor Vianney menjadi terbiasa. Sewaktu seorang imam menanyakan apakah dia takut, jawabnya, “Saya sudah terbiasa” dan “Para pengganggu itu sudah seperti teman saja.”
Bapa Pengakuan yang penuh kasih dan berdedikasi tinggi
Tuhan memberikan banyak karunia dan kelebihan pada Pastor Vianney. Salah satunya yang sangat menonjol dan membuat dirinya didatangi banyak umat Allah ialah karunia sebagai bapa pengakuan yang sangat peduli dan mengasihi para penitennya.
Setelah pentahbisannya, peniten pertama yang datang padanya ialah Romo Rektornya sendiri. Tak lama setelah itu mulailah antrian umat yang panjang sekali di depan kamar pengakuannya. Tiga perempat dari waktunya habis untuk mendengarkan pengakuan umat saja. Banyak umat datang dari tempat yang sangat jauh dan harus menunggu dua belas jam hanya untuk mengaku dosa pada Pastor Vianney. Mereka kadang-kadang harus berada dalam gereja dari hari ke hari untuk menunggu giliran mereka. Proses menunggu ini saja sudah banyak menyebabkan pertobatan. Mereka yang datang ialah umat dari segala lapisan masyarakat (kaya-miskin, terpelajar-sederhana, baik-jahat, awam maupun kaum klerik, uskup, imam, biarawan/i, dll). Dari tahun 1830-1945 setiap hari lebih dari sekitar tiga ratus orang datang untuk mengaku dosa. Pada musim dingin Pastor Vianney duduk dalam ruang pengakuan selama paling tidak sebelas sampai dua belas jam, sedangkan pada musim panas bisa mencapai enam belas jam.
Tak banyak nasihat atau instruksi yang diucapkan Pastor Vianney kepada para penitennya, tetapi kata-katanya selalu penuh dengan kuasa kekudusan. Misalnya, dia hanya mengatakan, “Kasihilah imam-imam mu,” begitu cerita Uskup Agung dari Auch yang mengaku dosa pada Pastor Vianney. Atau, “Cintailah Allah yang baik dengan sepenuh hati,” nasihatnya pada seorang superior jendral sebuah institut keguruan. Pastor Vianney akan menangis bila mendengarkan cerita tentang dosa para penitennya. Tak jarang beliau tahu dengan tepat kapan terakhir kali peniten itu mengaku dosa atau mengingatkan mereka akan dosa-dosa lama yang sudah terlupakan, tetapi belum diakukan.
Rasa pedulinya yang amat besar terhadap jiwa-jiwa yang membutuhkan pertolongan itu tidak mengenal waktu. Bahkan, sampai pada saat beliau sudah mendekati ajal, Pastor Vianney masih meminta beberapa peniten untuk datang kepadanya guna menyelesaikan pengakuan dosa mereka yang masih tertunda.
Kerendahan hati yang mendalam
Kekudusan Pastor Vianney juga terpancar dari kerendahan hatinya yang mendalam dalam menyikapi segala ungkapan “pen-dewa-an” terhadap dirinya dari para umat/orang sekelilingnya dan dalam menghadapi segala kritikan pedas, cercaan, dan gosip dari para konfraternya.
Setiap siang setelah doa Angelus, Pastor Vianney selalu berjalan kaki meninggalkan gereja menuju ke pastoran untuk makan siang yang telah dikirim dari La Providence. Jarak antara gereja dan pastoran yang hanya sekitar dua belas meter seringkali harus ditempuh Pastor Vianney dalam waktu lebih dari dua puluh menit. Ini disebabkan di sepanjang jalan banyak umat, yang sakit badan dan jiwanya, berlutut memohon doa dan berkat darinya. Mereka berebut memegang tangannya atau merobek sedikit kain dari jubahnya. Semua perlakuan ini menjadi bentuk matiraga yang terhebat bagi Pastor Vianney dan beliau berseru, “Wah, ini suatu devosi yang benar-benar salah arah.” Dengan berjalannya waktu “devosi” umat terhadap dirinya ini menjadi salah satu sebab Pastor Vianney rinduk ‘melarikan diri’ dari Ars untuk pergi bertapa jauh dari keramaian.
Pada tahun 1852 Uskup Belley memilihnya sebagai anggota kehormatan dari ahli hukum Gereja dalam satu sinode. Dengan setengah dipaksa, Pastor Vianney dilantik. Setelah itu Pastor Vianney tidak pernah lagi mengenakan mozzetta-nya yang telah dijualnya seharga lima puluh franc untuk amal. Ada juga seorang pejabat istana yang bermaksud baik mengusahakan sebuah medali penghargaan dari kaisar bagi Pastor Vianney dan mengangkatnya sebagai seorang ksatria dalam Orde Kekaisaran dari Legion Kehormatan. Pastor Vianney menolak mentah-mentah penghargaan itu, apalagi untuk disematkan pada jubahnya. Beliau mengatakan,“Bagaimana jika kematian datang dan aku harus menghadap Tuhan dengan mainan-mainan ini. Lalu, Tuhan berkata, ‘Enyahlah! Engkau sudah mendapatkan upahmu.’”
Banyak dari konfrater Pastor Vianney yang karena kepicikan mereka tidak dapat melihat dengan mata hati mereka serta menilai dengan benar semua yang dilakukan oleh Pastor Vianney. Mereka hanya mengingat-ingat kekurangan Pastor Vianney saja, yaitu kurangnya pendidikan formal sebagai seorang imam, atau hal lain menyangkut pelayanannya pada umat. Dalam khotbah mereka, para pastor itu tidak berbicara tentang Injil, tetapi melancarkan banyak kritikan pedas pada Pastor Vianney. Mereka melarang umatnya untuk datang ke Pastor Vianney. Mereka juga menyebarkan banyak gosip, bahkan mengadukan Pastor Vianney kepada Uskup Belley. Mereka tidak mampu mengenali kekudusan Pastor Vianney melalui semua yang terjadi. Dan, lebih parah lagi, mereka mengatakan bahwa Pastor Vianney gila. Menghadapi semua tuduhan dan kritikan mereka Pastor Vianney memilih untuk tinggal diam. Sebaliknya, Monsinyur Devie di hadapan para imam yang menghadiri retret tahunan para imam, membela Pastor Vianney dan berkata, “Para pastor yang terhormat, saya harap para imam saya memiliki sedikit kegilaan seperti itu.”
Semangat yang gigih dan pantang menyerah
Kegigihan semangatnya terlihat antara lain dalam perjuangannya untuk mewujudkan keinginannya menjadi imam. Misalnya, usahanya untuk menguasai bahasa Latin. Otak yang kurang cemerlang tidak menjadi halangan baginya. Tanpa mengenal lelah beliau juga gigih berjuang untuk mewujudkan pertobatan bagi umat di parokinya dan mendengarkan pengakuan dosa selama berjam-jam.
Sharing
* Sebagai seorang gembala, Pastor Vianney tidak akan segan-segan menegur dombanya yang hidup tidak sesuai dengan ajaran Gereja dan perintah Allah. Dewasa ini segala bentuk kejahatan dan kebejatan moral sudah mewabah, bahkan tampaknya lebih parah daripada jaman Pastor Vianney. Apakah yang harus dilakukan oleh para pemimpin dan pembina umat dalam hal ini? Bila yang terlibat adalah orang-orang terdekat Anda, apa yang akan Anda lakukan? Menegur atau membiarkan saja? Sharingkan pendapat Anda.
* Dewasa ini orang selalu ingin menjadi yang terbaik, terhebat, terkaya, terpandai, dsb. Bercermin dari sejarah hidup Santo Yohanes Vianney, beliau jauh dari semua itu, tetapi ternyata banyak hal luar biasa yang terjadi pada hidupnya dan yang juga telah dilakukannya bagi sesama. Apa sebenarnya yang memungkinkan hal itu terjadi? Bagaimana pendapat Anda?
* Apakah Anda pernah mengalami dikritik, dicerca, dan digosipkan oleh teman-teman Anda sendiri karena apa yang Anda lakukan bagi Tuhan? Bagaimana reaksi Anda? Apakah salah bersikap diam? Sharingkan pendapat Anda dalam sel.
Diperbolehkan copy paste, dengan syarat
tetap menyertakan info SUMBER (SOURCE)-nya.
Sumber: Majalah Vacare Deo edisi Juli 2009, Komunitas Tritunggal Mahakudus, www.holytrinitycarmel.com
Posted: 18 July 2010 16:02 | 163 Reads -  |
|  |