(Lukas 7 : 36-52)
Oleh : Sr. Maria Rafaella, P.Karm
Petang itu suasana di dalam rumah seorang Farisi bernama Simon terlihat amat ramai. Ia mengundang Yesus datang untuk makan bersama. Saat itu semua yang hadir tampak bersukacita, mereka saling bercakap-cakap sambil menikmati hidangan yang tersedia. Namun dengan sekejap suasana sukacita itu berubah, ketika secara tiba-tiba seorang perempuan muda dengan rambut tergerai panjang masuk tergesa-gesa, ia berlari mendapati Yesus dan menangis di kaki-Nya. Ia segera membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian dengan penuh kasih ia menciumi kaki Yesus serta mengoleskan minyak wangi yang dibawanya. Semua yang hadir melihat dengan tatapan yang tajam, sebab mereka tahu bahwa perempuan itu adalah seorang pendosa, seorang pelacur di kota itu. Mereka merasa jijik melihat perempuan kotor itu ada di tengah-tengah mereka, namun tidak demikian dengan Yesus.

Saat itu Yesus melihat adanya kasih yang besar terpancar dari dalam diri perempuan pendosa itu. Yesus memahami dan mengerti siapa dia, apa yang telah dilakukannya selama ini. Memang benar bahwa perempuan itu adalah seorang pelacur yang telah hidup dalam kubangan dosa, namun ia telah memperlihatkan kasih yang besar yang tidak ditunjukkan oleh orang-orang Farisi di tempat itu.

Ketika Simon berpikir dalam hatinya bahwa Yesus seharusnya tahu siapa perempuan pendosa itu (ay. 39), maka Yesus pun segera mengatakan kepadanya sebuah perumpamaan. Dikatakan-Nya bahwa ada 2 orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang, yang satu berhutang 500 dinar dan yang satu berhutang 50 dinar. Ketika mereka berdua tidak dapat membayar hutang itu, maka hutang mereka dihapuskan. Saat itu Yesus bertanya siapakah di antara kedua orang itu yang akan lebih mengasihi dia, dan Simon menjawab orang yang berhutang lebih banyak. Yesus pun membenarkan jawaban Simon itu. (ay. 41-43)

Yesus mengatakan hal tersebut untuk menyadarkan Simon bahwa apa yang telah diperbuat oleh perempuan yang berdosa itu tak lain adalah karena kasih yang ada di dalam dirinya, karena kesadaran bahwa dia seorang pendosa dan butuh belas kasihan Tuhan. Sedangkan bagi Simon dan orang-orang Farisi yang ada di sana, mereka merasa bahwa diri mereka telah hidup sesuai dengan hukum Taurat, hidup suci sebagai orang-orang yang benar, sehingga mereka tidak lagi merasa membutuhkan belas kasihan dan pertolongan Tuhan.

Apa yang telah diperbuat oleh perempuan itu melambangkan betapa manusia yang benar-benar sadar akan kelemahannya, kerapuhannya dan kedosaannya akan senantiasa berharap akan belas kasihan Tuhan. Seorang yang menyadari bahwa dirinya berdosa akan selalu merasa bahwa dirinya tak dapat berbuat apa-apa tanpa belas kasihan Tuhan. Sedangkan orang yang merasa telah berbuat baik selama hidupnya, maka dia akan selalu mengandalkan kekuatan dan kemampuannya sendiri tanpa mempedulikan Allah. Orang-orang semacam ini tak mempunyai kasih yang besar dalam dirinya. Yang mereka perhatikan hanyalah kesuksesan dan keberhasilan diri mereka sendiri.

Yesus sangat mengasihi orang-orang berdosa, karena Dia sendiri mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini bukan untuk orang-orang benar, namun untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. (lih. Luk. 5 : 32) Yesus senang bergaul dengan orang-orang berdosa, Ia mau membawa mereka kepada pertobatan, dan tak sedikit dari mereka yang setelah mendengarkan Yesus maka berbalik dari cara hidup yang buruk dan menjadi murid Yesus yang setia. Hal ini pun yang terjadi dalam diri perempuan berdosa tadi. Ia yang begitu menyadari kelemahan dan kehinaannya, dengan berani datang kepada Yesus karena ia percaya bahwa Yesus yang begitu penuh kasih tak akan menolaknya, Yesus akan menerimanya dan mengasihaninya. Dengan iman yang hidup maka tanpa malu dan takut ia berlari mendapatkan Yesus. Perempuan ini menyadari benar bahwa ia membutuhkan pengampunan Tuhan dan bahwa yang dapat diberikannya saat itu hanyalah kasihnya yang masih tertinggal di luar dosanya. Hal ini dipahami secara jelas oleh Yesus, ia melihat kesungguhan hati perempuan itu, Yesus mengasihinya, Yesus tak menolak dia, dan dengan tegas Yesus berkata di depan semua orang yang ada di situ : “Sebab itu Aku berkata kepadamu dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih, tetapi orang yang sedikit diampuni sedikit juga ia berbuat kasih.” (ay. 47)

Perempuan yang telah diampuni dosanya itu kemudian menjadi murid dan pengikut Yesus yang amat setia, ia dengan penuh kasih melayani Yesus dan senantiasa mendengarkan setiap ajaran Yesus. Ia sungguh-sungguh mengubah kehidupannya sehingga ia pun semakin disempurnakan oleh kasih Tuhan sendiri, kasihnya kepada Yesus dan sesama pun semakin berkembang.

Apa yang terjadi dalam diri perempuan dalam kisah yang diceritakan oleh Lukas ini juga dapat kita lihat dalam kehidupan kita saat ini. Apa yang diperbuat olehnya dapat menjadi bahan renungan dan refleksi bagi kita masing-masing. Bagaimana sikap kita selama ini, apakah kita berlaku seperti Simon dan para orang Farisi lainnya yang merasa diri benar dan suci sehingga seringkali kita lupa untuk datang kepada Tuhan, dan hanya mengandalkan diri sendiri. Ataukah kita dapat menjadi seperti perempuan pendosa yang diampuni itu, ketika kita secara sadar mengetahui bahwa diri kita ini manusia berdosa yang butuh belas kasihan dan pengampunan dari Tuhan.

Ada ungkapan bahwa dosa yang paling besar adalah saat orang tidak menyadari bahwa dirinya berdosa. Rasanya benarlah ungkapan ini, karena biasanya semakin orang merasa dirinya baik, semakin ia merasa cukup dan tidak membutuhkan apa-apa termasuk Allah sendiri. Orang-orang ini akan menutup dirinya dari segala hal lain tak terkecuali menutup diri dari Allah. Orang-orang seperti ini akan sulit sekali memberikan kasih kepada orang lain apalagi kepada Allah, sebab mereka hanya hidup bagi diri mereka sendiri. Kasih dalam diri mereka menjadi kering. Namun lain halnya dengan orang-orang yang menyadari keterbatasan dirinya, kedegilan hatinya, sehingga mereka akan menjadi orang yang akan merasa paling berdosa dibandingkan orang lain. Seperti halnya orang kudus kita St. Fransiskus Asisi yang pernah berkata “Tidak ada di dalam dunia ini yang lebih celaka dan malang selain dari aku.” Perkataan ini dilontarkannya karena ia benar-benar menyadari dirinya sebagai ciptaan yang tak sempurna, yang masih sering membuat hati Sang Pencipta bersedih akibat dosa-dosanya. Dengan kesadaran itu, maka Fransiskus senantiasa mengandalkan Tuhan, bergantung pada belas kasihan-Nya, dan dengan menyadari bahwa Tuhan yang penuh kasih itu selalu membuka tangan-Nya dan memberikan pengampunan, maka kasih yang ada di dalam diri orang kudus itu pun semakin hari semakin bertumbuh dan berkembang sehingga ia pun mencapai persatuan cinta kasih yang mesra dengan Tuhan sendiri.

Hal yang sama juga dialami oleh St. Paulus yang kita ketahui sebelumnya adalah orang yang hidupnya penuh dengan dosa, yang kemudian mendapat rahmat Tuhan yang besar sehingga ia bertobat dan menjadi seorang rasul besar. Paulus berkata bahwa “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1 Tim.1 : 15) Paulus dapat berkata seperti itu karena ia benar-benar menyadari kelemahannya sebagai seorang manusia berdosa, dan ia telah mengalami sendiri kasih dan kuasa pengampunan yang diberikan Tuhan kepadanya, sehingga di kemudian hari ia pun menjadi seorang yang penuh kasih kepada Tuhan dan sesama. Ia memancarkan kasihnya sebagai ungkapan pertobatannya dan rasa syukurnya akan belas kasihan Tuhan yang begitu besar.

Dari semua pengalaman orang-orang kudus dan dari kisah Injil Lukas di atas kita dapat melihat bahwa kasih itu begitu kuat kuasanya, begitu besar pengaruhnya sehingga dapat membawa orang kepada kebahagiaan hidup. Kasih menutupi banyak dosa, jika seorang memberikan kasih, Tuhan akan melebur dosa dan kelemahannya, Tuhan akan mengubahnya dan memperbaharui dirinya. Orang yang dapat mengasihi maka ia akan membuka diri pula untuk menerima kasih Tuhan, kasih yang penuh pengampunan, dan semakin ia menyadari besarnya pengampunan yang diterimanya, maka akan semakin besar pula kasih yang akan keluar dari dalam dirinya. Semakin besar dosa seseorang, semakin ia membutuhkan pengampunan Tuhan dan akan semakin besar pula kasihnya kepada Tuhan.

Maka dengan merenungkan dan merefleksikan kisah perempuan berdosa yang telah mendapatkan pengampunan karena perbuatan kasihnya itu, kita dapat semakin menyadari siapa diri kita sebagai manusia yang lemah ini. Kita harus senantiasa ingat bahwa kita ada di dunia ini bukan karena kemauan kita sendiri, namun kita ada di dunia ini tak lain adalah karena kasih Allah yang menginginkan kita ada. Jika kita sebagai manusia yang telah diciptakan-Nya dengan begitu sempurna dan diciptakan atas dasar kasih, malahan melupakan Dia dan sibuk dengan diri kita sendiri, maka kita akan menyedihkan hati-Nya. Kita harus selalu sadar bahwa tanpa Allah kita tak akan mampu melakukan segala sesuatu yang baik sekalipun. Jika kita hidup baik, itu semata-mata adalah karena rahmat-Nya yang memampukan kita berbuat baik. Maka janganlah kita mengira bahwa jika kita berbuat baik itu adalah karena diri kita yang sempurna, karena diri kita yang mempunyai kelebihan-kelebihan. Perasaan seperti itu akan mengikis kasih yang ada dalam diri kita, dan membuat kita menjadi orang-orang yang sombong dan kering tanpa kasih. Alangkah ironisnya jika kita sebagai ciptaan yang dibentuk oleh kasih Allah malahan hidup tanpa kasih itu sendiri, hidup terpisah dan jauh dari kasih.

Ingatlah bahwa Allah itu adalah kasih, dan kita pun harus memancarkan kasih-Nya. Maka baiklah kita selalu mengadakan refleksi dan menyadari kelemahan dan dosa kita, dan dengan rendah hati mau selalu datang kepada-Nya untuk dibersihkan dari dosa itu. Allah tak akan menolak kita walaupun kita seringkali berbuat dosa. Janganlah pernah lupa bahwa pengampunan-Nya tidak terbatas, dan seperti juga dikatakan bahwa di mana dosa merajalela, di situ kasih karunia Allah justru berlimpah. Maka marilah kita mau mengikuti tindakan yang telah dilakukan oleh perempuan dalam Injil Lukas tadi, yang dengan berani mau mengakui dosa-dosanya, menyadarinya dan bertobat sungguh-sungguh. Pengampunan yang diberikan oleh Tuhan akan membawa kita kepada kehidupan yang penuh kebahagiaan dan kasih. Kasih seorang yang berdosa akan meluluhkan hati Tuhan dan akan mendatangkan belas kasihan-Nya.

Janganlah takut karena kita berdosa, datanglah kepada Tuhan dan terimalah rahmat pengampunan-Nya dengan hati terbuka dan berikanlah kasih yang besar kepada-Nya. >

Sharing :
* Pernahkah Anda bersikap seperti orang Farisi yang selalu merasa benar dan selalu melihat dosa-dosa orang lain? Bagaimanakah Anda menyadarinya, dan apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya? Sharingkanlah pengalaman Anda
* Yesus tidak pernah menutup hati untuk orang-orang berdosa. Jika Anda berada dalam posisi si perempuan pendosa dalam Injil Lukas ini, apa kira-kira yang akan Anda perbuat di hadapan Yesus? Sharingkanlah hal itu dengan teman-teman Anda


Bagi yang ingin mengutip/menyebarkan artikel ini, harap tetap mencantumkan sumbernya. Terima kasih.
Sumber: Majalah Rohani Vacare Deo (Media Pengajaran Komunitas Tritunggal Mahakudus)
www.holytrinitycarmel.com

admin