Rabu, 21 Februari 2018

Percayalah pada tanda Yunus

Yun. 3:1-10Mzm. 51:3-4,12-13,18-19Luk. 11:29-32.

 

Lectio:

Gospel Reading Luke 11:29-32

 

While still more people gathered in the crowd, Jesus said to them,
“This generation is an evil generation;
it seeks a sign, but no sign will be given it,
except the sign of Jonah.
Just as Jonah became a sign to the Ninevites,
so will the Son of Man be to this generation.
At the judgment
the queen of the south will rise with the men of this generation
and she will condemn them,
because she came from the ends of the earth
to hear the wisdom of Solomon,
and there is something greater than Solomon here.
At the judgment the men of Nineveh will arise with this generation
and condemn it,
because at the preaching of Jonah they repented,
and there is something greater than Jonah here.”

 

The Gospel of the Lord

 

Meditatio:

 

Ketika orang-orang meminta tanda dari Yesus, Ia katakan bahwa tanda satu-satunya adalah tanda Yunus. Seperti Yunus berada di dalam perut ikan selama tiga hari dan kemudian dimuntahkan kembali, begitupun Yesus akan masuk ke perut bumi selama tiga hari dan akan bangkit kembali. Ironisnya, bahkan ketika tanda satu-satunya itu digenapi, tetap saja banyak orang-orang di zaman Yesus dan bahkan sampai zaman sekarang yang tidak mau percaya kepada-Nya.

 

Orang-orang Niniwe sungguh-sungguh bertobat setelah mendengar seruan dari Yunus untuk bertobat, atau mereka akan ditunggang-balikkan oleh Tuhan karena kejahatan mereka. Mereka percaya akan Tuhan, bahwa Tuhan dapat dan berhak untuk melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya dan mereka dengan rendahan-hati mengakui kejahatan mereka, sehingga mereka dengan sungguh-sungguh melakukan aksi pertobatan yang mendatangkan keselamatan bagi jiwa mereka. Betapa berbedanya dengan sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat, yang menanggapi seruan Yesus untuk bertobat dengan kecongkakan; mereka tidak percaya akan ketuhanan Yesus, merasa tidak senang dikritik, disamakan dengan pendosa, dan karenanya malah membawa mereka lebih terpuruk ke dalam dosa dengan membiarkan rasa iri dan benci terhadap Yesus tumbuh dan menguasai hati mereka dan berakhir dengan kesepakatan untuk membunuh Yesus. Pun jikalau apa yang mereka lakukan itu tidak dilakukan terhadap Putra Allah melainkan kepada sesama manusia, pastinya itupun adalah kejahatan di mata Tuhan.

 

Betapa sedihnya bahwa Tuhan yang datang di tengah umat-Nya ditolak mentah-mentah. Sabda Allah tidak dipedulikan, padahal Sabda Allah adalah pemberi kehidupan bagi yang mendengar dengan membuka hatinya. Bahkan Ratu Sheba begitu rindu untuk mendengar kata-kata bijaksana dari Salomo sehingga melakukan perjalanan amat jauh untuk itu. Yesus yang adalah Sang Sabda yang menjadi daging, adalah kepenuhan dari segala kebijaksanaan, dan kita hanya perlu menempuh jarak sejauh doa untuk menjumpai Dia.

 

Di masa pra-paskah ini, kita diajak untuk bersungguh-sungguh mencari Sang Sabda Hidup, sumber kebijaksanaan, dengan lebih banyak membaca, mendengar dan merenungkan Sabda Allah dan memberikan waktu untuk berjumpa dengan Dia dalam doa. Kita juga diminta untuk merendahkan diri kita, dengan rendah-hati melakukan introspeksi dan mengakui kelemahan-kelemahan kita dan sungguh-sungguh berusaha untuk menghasilkan buah-buah pertobatan yang sejati.

Song: Ancient Words

https://www.youtube.com/watch?v=3vmTkXNpwzs

God bless,

Huseng, Sandy & Justin of Sel Kel Kudus Nazareth, Singapore

admin