Rabu, 5 April 2017
Kebebasan Dalam Tuhan
Dan. 3:14-20,24-25,28; MT Dan. 3:52,53,54,55,56; Yoh. 8:31-42

Lectio:
Gospel Reading John 8:31-42

Jesus said to those Jews who believed in him,
“If you remain in my word, you will truly be my disciples,
and you will know the truth, and the truth will set you free.”
They answered him, “We are descendants of Abraham
and have never been enslaved to anyone.
How can you say, ‘You will become free’?”
Jesus answered them, “Amen, amen, I say to you,
everyone who commits sin is a slave of sin.
A slave does not remain in a household forever,
but a son always remains.
So if the Son frees you, then you will truly be free.
I know that you are descendants of Abraham.
But you are trying to kill me,
because my word has no room among you.
I tell you what I have seen in the Father’s presence;
then do what you have heard from the Father.”

They answered and said to him, “Our father is Abraham.”
Jesus said to them, “If you were Abraham’s children,
you would be doing the works of Abraham.
But now you are trying to kill me,
a man who has told you the truth that I heard from God;
Abraham did not do this.
You are doing the works of your father!”
So they said to him, “We were not born of fornication.
We have one Father, God.”
Jesus said to them, “If God were your Father, you would love me,
for I came from God and am here;
I did not come on my own, but he sent me.”

The Gospel of the Lord

Meditatio:

Banyak orang yang salah mengartikan kebebasan. Bagi banyak manusia masa kini, kebebasan identik dengan dapat sesuka hati melakukan apapun, seringkali untuk kenikmatan dan keuntungan diri sendiri. Dosa seakan dianggap sebagai “buatan” agama semata, sehingga malah tak sedikit yang menganggap agama justru sebagai kejahatan.

Sementara kenyataan sedihnya adalah banyak orang yang beragama yang juga salah mengartikan kebebasan. Kebebasan dianggap sebagai menginterprasikan semau mereka Firman Allah, sehingga menjadikan manusia-manusia beragama yang berpikiran sempit, merasa diri paling benar, sibuk untuk memperjuangkan hasil interpreatasi mereka tentang kebenaran, sementara mereka menuntut orang-orang lain, untuk mengikuti aturan “kebenaran” mereka. Mereka bersikap keras, bahkan tirani dalam menegakkan “kebenaran” mereka, padahal masih hidup sebagai budak dosa.

Sementara Yesus dalam Injil pada hari ini mengatakan bahwa kebebasan diperoleh bila seseorang hidup dalam kebenaran, yaitu kebenaran Firman Tuhan, maka barangsiapa yang hidup dalam Firman Allah (dan sungguh karena Ia adalah Sang Firman, maka artinya hidup dalam Yesus), maka orang itu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itulah yang akan memerdekakan mereka. Yesus juga menegur dengan tegas kebutaan orang Farisi terhadap kebenaran bahwa mereka bukan saja tidak percaya pada Yesus namun juga karena mereka merancangkan kejahatan yaitu untuk membunuh Yesus. Hal ini jelas menunjukkan bahwa mereka adalah budak dari dosa, bapa mereka bukanlah Allah, melainkan Iblis. Karena seseorang yang telah hidup dalam kebenaran, dapat dilihat dari buahnya, yaitu menjadi pribadi yang “merdeka” yang tidak lagi diperhamba oleh dosa.

Untuk dapat menghasilkan buah demikian, kita mesti hidup dalam Yesus, Sang Kebenaran. Dan seringkali diperlukan perjalanan yang tidak singkat untuk sampai pada kemerdekaan yang sepenuhnya itu. Waktulah yang menguji ketahanan dan kesetiaan kita untuk tinggal di dalam Dia, sehingga menghasilkan pembebasan yang sepenuhnya dari perhambaan dosa. Orang tersebut barangkali tidak lagi takut akan “apapun” selain akan Tuhan saja, karena cintanya kepada Tuhan. Ia bukan saja tidak takut pada kematian, namun lebih baik mati daripada berbuat dosa dan mengingkari Tuhan. Ia telah menjadikan dirinya sepenuhnya milik Tuhan.

Kemerdekaan demikian dapat kita lihat pada Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, yang dalam bacaan pertama diancam untuk dibakar hidup-hidup dalam api yang paling panas, kecuali bila mereka mau menyembah patung “dewa” Raja Nebukadnezar. Bukan saja mereka menolak untuk sujud menyembah pada patung tersebut, mereka jelas-jelas memilih mati daripada mengingkari Tuhan dan berbuat dosa dengan menyembah tuhan lain. Jawaban mereka sebelum dengan berani menghadapi api panas adalah bukti bahwa mereka telah sungguh-sungguh hidup dalam kebenaran yang memerdekakan. Mereka tidak peduli apakah Tuhan akan menyelamatkan mereka dari api, yang jelas kalaupun Tuhan tidak menyelamatkan mereka, mereka tetap tidak akan menyembah patung tersebut. Betapa mereka percaya bahwa hanya ada satu Tuhan yang hidup dan benar, dan memberikan Tuhan “kebebasan” untuk melakukan sekehendak hati-Nya, apakah itu menyelamatkan ataupun membiarkan mereka binasa dalam api. Di akhir cerita, iman mereka bukan hanya menyelamatkan mereka karena Tuhan mengirim malaikat-Nya untuk menyelamatkan mereka, namun juga membukakan mata Raja Nebukadnezar dan seluruh orang yang hadir bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang hidup, Dialah satu-satunya Tuhan yang benar.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego dengan merdeka telah menolak untuk mengikuti permintaan yang akan membuat mereka jatuh ke dalam dosa. Kebebasan mereka adalah kebebasan dari rasa takut untuk diintimidasi, sehingga dalam keadaan paling sulit pun mereka tidak gentar untuk berdiri teguh memegang keyakinan mereka akan Allah. Kebebasan mereka adalah kebebasan dari dosa yang menghantar kepada hidup.

Di dalam keseharian kita, kita barangkali sering diperhadapkan pada situasi dimana kita diintimidasi oleh keadaan, yang pilihannya adalah untuk tetap teguh berpegang pada Firman Tuhan atau membiarkan diri kita jatuh ke dalam intimidasi dosa. “Nebukadnesar” dalam hidup kita bisa ada di dalam pekerjaan, kehidupan sosial, dan bahkan dalam keluarga. “Nebukadnesar” kita bahkan mungkin adalah diri kita sendiri, yang tidak mau menundukkan diri pada kesombongan, harga diri, keegoisan, tidak mau kalah, sifat balas dendam dan lain sebagainya yang membuat kita bersujud pada kepuasan sementara yang malah menjadikan kita budak dosa.

Saat ini kita masih berada di masa pra-paskah. Marilah kita merenungkan bagaimana Yesus sendiri lebih memilih untuk menderita dan “dihancurkan” agar Ia menghancurkan dosa-dosa kita dan memberikan kemerdekaan kepada kita yang membawa kepada hidup. Namun kemerdekaan yang telah dimenangkan Yesus bagi kita itu mesti kita perjuangkan, mesti kita lakukan dan hidupi. Melalui doa, pantang dan puasa di masa pra-paskah ini, semoga kita dapat semakin mendekati Kebenaran yang sejati sehingga kita dapat dibebaskan dari belenggu dosa dan dihantar kepada Hidup.

Oratio:
Ya Yesus, Tuhan dan Penyelamat kami, hantarkanlah kami kepada pertobatan yang sejati, bawalah kami semakin dekat kepada-Mu, agar kami dapat hidup dalam Engkau dan menjadi pribadi-pribadi yang merdeka, yang dimerdekakan dari perbudakan dosa.

Song: Pemilik Hidupku by Nikita

God bless,

Huseng, Sandy & Justin of Sel Kel Kudus Nazareth, Singapore

admin