Rabu, 6 September 2017

Jangan Putuskan Rantai Kasih Kristus

Kol. 1:1-8Mzm. 52:10,11Luk. 4:38-44

 

Lectio:

Gospel Reading Luke 4:38-44

 

After Jesus left the synagogue, he entered the house of Simon.
Simon’s mother-in-law was afflicted with a severe fever,
and they interceded with him about her.
He stood over her, rebuked the fever, and it left her.
She got up immediately and waited on them.

At sunset, all who had people sick with various diseases brought them to him.
He laid his hands on each of them and cured them.
And demons also came out from many, shouting, “You are the Son of God.”
But he rebuked them and did not allow them to speak
because they knew that he was the Christ.

At daybreak, Jesus left and went to a deserted place.
The crowds went looking for him, and when they came to him,
they tried to prevent him from leaving them.
But he said to them, “To the other towns also
I must proclaim the good news of the Kingdom of God,
because for this purpose I have been sent.”
And he was preaching in the synagogues of Judea.

 

The Gospel of the Lord

 

Meditatio:

 

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Injil hari ini. Pertama, kita belajar dari sikap ibu mertua Petrus. Setelah mengalami jamahan Tuhan yang menyembuhkannya, ia tidak menunggu lama-lama, melainkan langsung melayani Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Pelayanan ini pasti dilakukan sebagai rasa terima kasihnya kepada Yesus yang telah melayaninya terlebih dahulu.

 

Kedua, Yesus membiarkan orang-orang sakit untuk datang berbondong-bondong kepada-Nya dan menyembuhkan mereka. Yesus juga mengusir setan-setan dari orang-orang yang kerasukan, dan Ia memperingati roh-roh jahat dengan keras, melarang mereka berkata apa-apa tentang Yesus, meskipun mereka tahu siapa Yesus itu. Ini bukan satu-satunya kita temui dalam Injil dimana Yesus melarang setan-setan untuk mengatakan siapa Dia itu. Apakah Yesus merahasiakan tentang Diri-Nya, padahal toh akan diketahui juga bahwa Ia adalah Anak Allah; bukankah memang tujuan kedatangan-Nya adalah mewartakan Kabar Gembira tentang Putra Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan dunia?

 

Yesus tidak memerlukan roh-roh jahat untuk memberitakan tentang Dia. Karena perkataan roh jahat tidak dapat dijadikan acuan untuk dipercayai. Setan-setan adalah pendusta, dan mereka bisa saja menyamarkan kebenaran untuk memberitakan kebohongan yang lebih besar. Yesus tidak perlu bantuan pendusta untuk mewartakan tentang Diri-Nya; roh-roh jahat itu jelas tidak berada di pihak Allah, mereka jelas bukan utusan Allah. Murid-murid-Nya lah yang merupakan utusan-Nya, yang akan mewartakan tentang Dia. Orang-orang yang telah mengikuti Dia, yang telah menjadi percaya kepada-Nya, yang telah menerima pelayanan-Nya dan mengalami kasih-Nya – merekalah yang akan mewartakan tentang Dia dengan benar, bersaksi berdasarkan pengalaman mereka akan kasih Allah. Merekalah yang akan terdorong oleh rasa syukur, akan menginginkan agar orang lain juga menerima kasih seperti yang mereka alami; mereka inilah akan menjadi para “pewarta” Kabar Gembira, para “utusan” Tuhan.

 

Ketiga, Yesus tidak lama-lama berdiam di satu tempat. Ia sibuk pergi ke tempat-tempat lain untuk mewartakan Kabar Gembira dan melakukan karya-karya kasih-Nya. Dengan terus berpindah, Yesus mewartakan kepada lebih banyak orang; disini tersirat pesan bahwa Allah mau menyelamatkan dunia. Dari setiap kota dimana Ia berkarya, orang-orang yang telah mengalami kasih Tuhan itulah yang akan meneruskan memberitakan tentang kasih Allah, berdasarkan pengalaman mereka akan kasih Allah.

 

Begitu pula yang dialami oleh orang-orang Kolose yang menerima surat kasih dari Paulus. Surat yang ditulis oleh Paulus kepada umat Kolose memperlihatkan bahwa umat Kolose telah menerima pewartaan Paulus tentang Kristus dan bertumbuh dalam Kristus meskipun Santo Paulus tidak lagi secara fisik berada di tengah-tengah mereka. Hal itu membuat Santo Paulus merasa bahagia dan mengucapkan syukur kepada Tuhan.

 

Bila kita telah mengalami jamahan kasih Tuhan, ingatlah untuk selalu bersyukur. Ingatlah selalu akan kebaikan dan kasih yang telah kita terima dari Tuhan; dan bukankah kasih-Nya tak berkesudahan? Kalau kita memang benar-benar bersyukur, dengan sendirinya akan terdorong untuk melayani Dia dan mewartakan tentang kasih-Nya. Karya Kristus tidak boleh berhenti hanya di “saya” saja, rantai itu tak boleh terputus. Kita mesti mewartakan-Nya kepada lebih banyak orang, yang akan mewartakan kepada lebih banyak orang lagi. Bila kita melayani dengan kasih Tuhan, orang tersebut akan melayani orang lain lagi dengan kasih Tuhan juga, sehingga rantai kasih Tuhan tak akan terputus. Kalau hati kita memang dipenuhi rasa syukur, kita tak akan hanya menunggu apalagi menuntut untuk dilayani, tapi kita mesti berkarya melayani, seperti yang dilakukan oleh mertua Petrus, oleh para rasul, dan oleh banyak murid Yesus sehingga sampai kepada kita.

 

Mari terus melayani dengan kasih dan kerendahan-hati. Di dalam keluarga, layanilah satu dengan lain dengan kasih. Jadilah saluran kasih Allah bagi satu dengan yang lain, sehingga terutama generasi muda (anak-anak kita) akan belajar juga untuk melayani dan melanjutkan rantai kasih Kristus, agar semakin banyak yang menerima keselamatan.

 

Oratio:

Ya Yesus, Engkau yang telah begitu baik menyelamatkanku, memberkati hidupku dan menuntunku kepada pengenalan akan Engkau. Tuntunlah aku agar aku dapat melayani Engkau dengan mewartakan Engkau dan melayani sesamaku dengan kasih dan kerendahan-hati. Bukan supaya aku dipuji, bukan supaya aku kelihatan hebat, melainkan supaya Engkau semakin banyak dikasihi, dan semakin banyak orang yang menerima keselamatan.

 

God bless,

Huseng, Sandy & Justin of Sel Kel Kudus Nazareth, Sgp

admin