MENELADAN MARIA
Rabu, 7 Oktober 2015

Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario
Kis. 1:12-14 ; Mzm. 86:3-6, 9-10; Luk. 1:26-38.
Bacaan Injil Lukas 1:26-38

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”  Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Demikianlah Injil Kristus.
Shalom semuanya,

Bunda Maria, pada waktu dikunjungi oleh Malaikat Gabriel, adalah seorang gadis yang masih sangat belia. Namun keberaniannya untuk menerima tugas besar sebagai ibu Sang Penebus dengan berkata,”Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu,” menunjukkan imannya yang matang. Maria, seperti umat Israel lain tahu bahwa suatu hari Sang Juruselamat akan datang namun ia tidak pernah menyangka bahwa ia adalah bagian dari rencana keselamatan Allah bagi Israel dan bagi dunia. Waktulah yang nantinya akan membuktikan bahwa jawaban “ya” Maria bukanlah jawaban asal-asalan, bukanlah paksaan, dan juga bukanlah gairah sesaat setelah mengalami suatu pengalaman ilahi, dikunjungi Malaikat Agung dan dipercayakan tugas yang mulia. Maria terus konsisten dalam jawaban “ya” nya melalui kesetiaannya sampai akhir meski mesti turut menanggung kepedihan.

Banyak dari kita yang mengalami kunjungan ilahi melalui berbagai pengalaman spiritual yang membahagiakan kita. Namun apakah kita juga siap untuk seperti Maria, setia sampai akhir. Marilah kita meneladani Bunda Maria dalam keseluruhan sikap hidupnya yang dilandasi kasih, harapan dan iman akan Allah, yang selalu taat, rendah hati dan sederhana. Kita dapat meminta perantaraan Bunda kita agar diberi rahmat ketekunan, kesabaran dan kekuatan untuk terus percaya dan setia kepada Allah.

Our Lady of the Rosary
This feast was instituted by Pope St. Pius V in thanksgiving for the great naval victory over the Turks at the battle of Lepanto on this day in the year 1570, a favor due to the recitation of the Rosary. This victory saved Europe from being overrun by the forces of Islam.

Lepanto, perhaps the most complete victory ever gained over the Ottoman Empire, on October 7, 1571, is commemorated by the invocation “Help of Christians,” inserted in the Litany of Loretto. At Belgrade the Turks were defeated on the Feast of Our Lady ad Nives in 1716.   A second victory gained that year on the Octave of the Assumption determined Pope Clement XI to command the Feast of the Rosary to be celebrated by the universal Church. Leo XIII added the invocation “Queen of the most Holy Rosary, pray for us,” to the Litany of Loretto. The Feast is in reality a great festival of thanksgiving for the signal and countless benefits bestowed on Christendom through the Rosary of our blessed Queen.

In modern times successive popes have urged the faithful to pray the Rosary. It is a form of contemplative prayer, mental and vocal prayer, which brings down God’s blessing on the Church. It is a biblically inspired prayer which is centered on meditation on the salvific mysteries of Christ in union with Mary, who was so closely associated with her Son in his redeeming activity.
(https://www.catholicculture.org/culture/liturgicalyear/calendar/day.cfm?date=2015-10-07)

Salam kasih Kristus,
Huseng, Sandy & Justin of Sel Kel Kudus Nazareth, Singapore

admin