Tuhanku Ya Allahku

Tuesday, 13 Feb 2018

First Reading : JAS 1:12-18

Responsorial Psalm : PS 94:12-13A, 14-15, 18-19

Gospel Reading : MK 8:14-21

The disciples had forgotten to bring bread, and they had only one loaf with them in the boat. Jesus enjoined them, “Watch out, guard against the leaven of the Pharisees and the leaven of Herod.” They concluded among themselves that it was because they had no bread. When he became aware of this he said to them, “Why do you conclude that it is because you have no bread? Do you not yet understand or comprehend? Are your hearts hardened? Do you have eyes and not see, ears and not hear? And do you not remember, when I broke the five loaves for the five thousand, how many wicker baskets full of fragments you picked up?” They answered him, “Twelve.” “When I broke the seven loaves for the four thousand, how many full baskets of fragments did you pick up?” They answered him, “Seven.” He said to them, “Do you still not understand?”

Shallom, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus!

Di dalam setiap langkah hidup kita, Tuhan selalu ada bersama kita. Di dalam setiap nafas yang kita hirup, Tuhan selalu ada bersama kita. Di dalam setiap sukacita dan dukacita yang kita alami, Tuhan selalu ada bersama dengan kita. Akan tetapi, sebaliknya, apakah kita senantiasa ada bersama dengan Tuhan? Ataukah justru kita yang seringkali pilih-pilih, kalau kita hanya ingin bersama dengan Tuhan di saat-saat tertentu saja?

Manusia itu memang bermacam-macam. Ada orang yang ketika berada di dalam kebahagiaan, maka ia akan lupa dengan Tuhan.terlalu sibuk dengan segala kesukaannya dan lupa untuk bersyukur bahwa berkat tersebut ada hanya karena kemurahan Tuhan semata-mata. Ada juga orang yang ketika di dalam kesukaran, justru dia lupa dengan Tuhan, bagimana Ia telah memberkatinya penuh kelimpahan, dan Tuhan yang sama akan bersama dengannya melalui kesusahan tersebut. Namun, kini ia malah bersungut-sungut, tidak lagi bersyukur, hanya berpusat kepada kesulitan-kesulitan yang dialaminya itu.

Hidup bersama dengan Tuhan itu bukanlah kehidupan yang monoton, melainkan kehidupan yang sungguh penuh dinamika. Ia mengijinkan segala macam peristiwa hadir di dalam kehidupan kita, semata-mata agar kita dapat beroleh pengalaman hidup untuk iman kita semakin bertumbuh. Sehingga pada saatnya, kita dapat bersaksi bagaimana Tuhan itu sungguh baik, kasih setia-Nya tiada berkesudahan, bahwa Ia sungguh adalah Tuhan Allah yang berjalan bersama-sama dengan kita, Ia adalah seorang Bapa yang dekat dengan anak-Nya.

Sebentar lagi, kita akan memasukin masa Prapaskah. Ketika awal-awal para murid mengikuti Yesus, iman dan pemikiran mereka masih sangat dangkal. Ketika Yesus berbicara akan “ragi” di dalam artian yang lebih mendalam, yakni akan bahaya yang ditebar oleh kaum Farisi dan Herodes, pemikiran mereka masih hanya kepada kekhawatiran akan bekal roti yang mereka miliki tidak cukup. Bahkan ketika mereka telah menyaksikan bagaimana Yesus dapat menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan 5 ribu orang.

Ketika Yesus mengalami menderita siksaan dan makan, hingga akhirnya wafat di atas kayu salib, para murid tersebut melarikan diri dan menyangkal Yesus. Meskipun mereka telah melihat berbagai macam keajaiban yang telah dilakukan Yesus, iman mereka tidaklah cukup untuk tetap bersama dengan-Nya, padahal Yesus tidak pernah sekalipun meninggalkan mereka. Bahkan, di atas kayu salib, Ia masih memikirkan keadaan para murid-Nya, ibu-Nya, dan semua orang hingga Ia masih berdoa kepada Bapa-Nya bagi pengampunan dosa mereka.

Hanya ketika Yesus bangkit dan Roh Kudus-Nya turun atas mereka semua, barulah mereka sungguh-sungguh dapat mengerti dan iman mereka pun semakin bertumbuh, tidak lagi mereka gentar akan bahaya yang menghadang. Dan, seperti yang ktia ketahui, jumlah mereka senantiasa bertambah banyak hingga hari ini, Gereja Katolik tetap teguh berdiri, sebab kuasa maut tidak akan mampu menghancurkan.

Oleh karena itu, jikalau pada saat ini, kita masih memiliki keragu-raguan di dalam iman kita kepada Tuhan Yesus, serahkanlah kekhawatiran tersebeut kepada-Nya. Hanya dengan perjumpaan dengan-Nya secara pribadi saja, dimana kita sungguh-sungguh mau berserah kepada-Nya, dan membiarkan Roh Kudus membimbing kehidupan kita, maka iman kita akan sungguh-sungguh ditambahkan dan hidup kita akan diubahkan.

Doa:

Allah Bapa yang maha murah dan maha baik

Puji syukur kami panjatkan hanya kepada-Mu

Atas segala berkat yang telah kami peroleh

bahkan lebih daripada apa yang kami perlukan

Ampuni kami yang seringkali kurang beriman ini

Curahkanlah Roh Kudus-Mu atas kami semua

Agar sungguh hidup kami dapat diubahkan dan

kami dapat sungguh-sungguh mengikuti Engkau

Demi Yesus, Tuhan dan pengantara kami

Amin.

Pujian: Kau Ubah Ratapku

(https://www.youtube.com/watch?v=Q3G0nUsWUs0)

Kau ubah ratapku jadi tarian

Kau bukakan kain kabungku

Kau b’rikan sukacita

Jiwaku bermazmur

Dengan seg’nap kekuatanku

MemujiMu Tuhan

Reff:

Ku tak akan berdiam

MemujiMu s’lalu

Ku bersyukur padaMu

Selama-lamanya, Amin

Tuhan memberkati.

Charles, Nathalia dan Keluarga

Sel Sts Joachim & Anne, Singapura

admin