Mengikuti Jalan Tuhan

Tuesday, 04 Apr 2017

First Reading : Nm 21:4-9
Responsorial Psalm : Ps 102:2-3, 16-18, 19-21
Gospel Reading : Jn 8:21-30

Jesus said to the Pharisees: “I am going away and you will look for me, but you will die in your sin. Where I am going you cannot come.” So the Jews said, “He is not going to kill himself, is he, because he said, ‘Where I am going you cannot come’?” He said to them, “You belong to what is below, I belong to what is above. You belong to this world, but I do not belong to this world. That is why I told you that you will die in your sins. For if you do not believe that I AM, you will die in your sins.” So they said to him, “Who are you?” Jesus said to them, “What I told you from the beginning. I have much to say about you in condemnation. But the one who sent me is true, and what I heard from him I tell the world.” They did not realize that he was speaking to them of the Father. So Jesus said to them, “When you lift up the Son of Man, then you will realize that I AM, and that I do nothing on my own, but I say only what the Father taught me. The one who sent me is with me. He has not left me alone, because I always do what is pleasing to him.” Because he spoke this way, many came to believe in him.

Shallom, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus!

Ada sepasang kakek nenek yang tengah berjalan bersama-sama dengan bergandengan tangan. Ketika mereka sampai pada suatu persimpangan, sepertinya mereka tengah bingung, jalan mana yang harus mereka ambil untuk mencapai tujuan mereka. Lalu, sang kakek pun mulai mencari tahu dengan bertanya kepada orang-orang di sekitar. Tiba-tiba, ada seseorang wanita yang menyapa mereka dengan ramah dan penuh senyum. Kemudian, berkata bahwa ia pun tengah menuju ke arah yang sama, sehingga pasangan ini dapat berjalan-jalan bersama dengannya. Seketika itu terlihat kelegaan di muka pasangan kakek nenek tersebut, dan mereka pun berjalan bersama-sama dengan wanita tersebut. Pasangan kakek nenek ini yang awalnya terlihat serius karena harus mencari jalan, sekarang terlihat menjadi lebih santai dan sikapnya menjadi lebih terbuka. Sang kakek pun mulai bercakap-cakap banyak hal dengan wanita tersebut di dalam perjalanan mereka tersebut.

Pada hari ini, diceritakan bagaimana Yesus tengah bercakap-cakap dengan orang-orang Farisi dan berkata bahwa Ia akan pergi ke tempat dimana orang lain tidak akan bisa mengikutiNya. Orang-orang tersebut tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus. Bahkan, mereka mulai mengira yang tidak-tidak, seperti apakah Yesus akan bunuh diri. Akan tetapi, Yesus mengetahui kebingungan mereka, sebab pemikiran mereka masih berdasarkan atas kemampuan sendiri dan bersandarkan kepada hukum dunia. Berbeda dengan Yesus yang adalah Anak Allah, Ia sungguh-sungguh mengerti kemana Ia akan menuju, yakni kepada pengorbanan diriNya untuk penebusan dosa bagi semua umat manusia, agar kita semua dapat berjalan ke tempat yang sama, yakni kembali kepada Bapa di Surga. Karena Yesus yang bersaksi atas hal yang sungguh-sungguh telah diketahuiNya secara mendalam, maka orang-orang pun menjadi tertarik kepadaNya, mau percaya dan mengikutiNya.

Bagaimana dengan kehidupan kita pada saat ini? Di dalam keseharian kita, apakah kita sungguh-sungguh sudah mengetahui apa tujuan dari hidup kita ini? Apakah kita sudah benar-benar hidup mencerminkan iman kita kepada Yesus, sehingga orang-orang pun menjadi tertarik terhadap Yesus, dan bersama-sama dengan kita, menuju kepada kehidupan yang kekal? Mari kita renungkan perjalanan hidup kita akhir-akhir ini, apakah kita sudah menyapa orang-orang di sekitar kita dengan penuh kasih, sehingga di dalam setiap perjumpaan dengan kita, mereka akan merasa lega, lebih santai dan menjadi lebih terbuka? Ataukah keberadaan kita justru malah menjadi sumber ketegangan bagi sesama kita, dimana mereka berusaha menghindari dan menjauhi kita?

Seperti umat Israel yang menjadi umat pilihan, sehingga dibebaskan oleh Tuhan dari perbudakan di Mesir, demikian juga hidup kita yang telah dibebaskan dari perbudakan dosa, melalui Sakramen Baptis dan sakramen-sakramen selanjutnya yang kita terima di dalam Gereja Katolik. Akan tetapi, seperti juga umat Israel, bukannya kita bersyukur akan segala anugrah yang telah diberikan Tuhan kepada kita, seringkali kita justru malah bersungut-sungut akan kehidupan kita, berkat yang kita terima tidaklah kita hargai. Bahkan, kita merasa kondisi kita sungguh buruk dan menderita. Dengan menjalani hidup kita penuh kelesuan, tentu segala yang kita perbuat tidaklah lagi berbuah dengan baik. Bukan Tuhan yang menghukum, akan tetapi kita seringkali menyalahkan Tuhan yang menjatuhkan hukuman atas kesalahan kita. Bukankah kalau kita renungkan kembali, siapa yang hendak bekerja sama dengan seseorang yang tidak bersemangat, yang pesimis, yang mudah tersinggung, yang senantiasa memikirkan diri sendiri saja, dan sebagainya. Kita hanya memetik buah dari benih-benih dosa yang telah kita tabur.

Namun, puji Tuhan bahwa Tuhan tidak pernah lelah untuk menerima kita kembali, meskipun seringkali kita berpaling daripadaNya. Seperti Tuhan yang memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang, agar bangsa Israel dapat selamat dari musibah yang mereka alami pada saat itu, sekarang pun, Allah Bapa telah mengirim anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, Tuhan kita, untuk menyelamatkan kita dari dosa. Ia yang telah mengetahui ke arah mana kita harus menuju, Ia pun yang telah menunjukan jalan tersebut bagi kita. Marilah pada saat ini, kita meminta Roh Kudus membimbing kita untuk setia berjalan menuju ke tempat yang telah ditunjukan oleh Yesus kepada kita. Dan, terlebih lagi agar kita pun mampu untuk menjadi saksi-saksi yang hidup, untuk mengajak orang lain pun bersama-sama menuju ke dalam kehidupan yang kekal. Ingatlah akan visi misa dari komunitas kita, yakni, “Dalam kuasa Roh Kudus mengalami dan menghayati sendiri kehadiran Allah yang penuh kasih dan menyelamatkan sampai pada persatuan cinta kasih serta membawa orang lain kepada pengalaman yang sama”. Oleh karena itu, selesai misa, setiap dari kita senantiasa diberi tugas oleh Tuhan, “Pergilah, engkau diutus!”

Doa:
Allah Bapa yang maha kasih, puji syukur kami panjatkan hanya kepadaMu
Setiap dari kami telah dan senantiasa mengalami kehadiranMu di dalam hidup kami
Sehingga kami dapat mengerti jalan kehidupan yang mana yang harus kami tempuh
Seringkali kami tersasar, namun Engkau senantiasa memanggil kami untuk kembali
Curahkanlah Roh Kudus-Mu atas kami semua, agar kami dapat setia dalam jalan-Mu
Dan dengan pertolongan rahmat-Mu, mampu menjadi saksi-saksi-Mu yang hidup
Untuk membawa orang-orang di sekitar kami agar mengalami kepada pengalaman yang sama
Kami panjatkan doa ini hanya di dalam nama Yesus, Tuhan dan pengantara kami yang hidup
kini dan sepanjang segala masa, amin

Pujian: Allah yang Setia
(https://www.youtube.com/watch?v=cKfM3XHox10)

Yesus Kau telah memulai
S’gala yang baik dalamku
Engkau menjadikanku
Serupa gambaran-Mu
Dan berharga di mata-Mu

Yesus Kau telah memulai
Karya yang mulia dalamku
Kau berikan hidupku-Mu
S’bagai ganti dosaku
Kar’na kasih-Mu padaku

Reff:
S’karang ku memuji-Mu Allah yang setia
Yang tak pernah meninggalkan
Perbuatan tangan-Mu
S’karang ku menyembah-Mu Allah yang setia
Sempurnakan sg’nap hidupku
Agar indah bagi-Mu

Tuhan memberkati.

Charles, Nathalia dan Keluarga
Sel Sts Joachim & Anne, Singapura

admin