Pengampunan Tiada Batas
Tuesday, 6 March 2018
First Reading : DN 3:25, 34-43
Responsorial Psalm : PS 25:4-5AB, 6 AND 7BC, 8-9
Gospel Reading : PS 25:4-5AB, 6 AND 7BC, 8-9
Peter approached Jesus and asked him, “Lord, if my brother sins against me, how often must I forgive him? As many as seven times?” Jesus answered, “I say to you, not seven times but seventy-seven times.
 
That is why the Kingdom of heaven may be likened to a king who decided to settle accounts with his servants. When he began the accounting, a debtor was brought before him who owed him a huge amount. Since he had no way of paying it back, his master ordered him to be sold, along with his wife, his children, and all his property, in payment of the debt. At that, the servant fell down, did him homage, and said, ‘Be patient with me, and I will pay you back in full.’ Moved with compassion the master of that servant let him go and forgave him the loan.
 
When that servant had left, he found one of his fellow servants who owed him a much smaller amount. He seized him and started to choke him, demanding, ‘Pay back what you owe.’ Falling to his knees, his fellow servant begged him, ‘Be patient with me, and I will pay you back.’ But he refused. Instead, he had him put in prison until he paid back the debt. Now when his fellow servants saw what had happened, they were deeply disturbed, and went to their master and reported the whole affair.
 
His master summoned him and said to him, ‘You wicked servant! I forgave you your entire debt because you begged me to. Should you not have had pity on your fellow servant, as I had pity on you?’ Then in anger his master handed him over to the torturers until he should pay back the whole debt.
 
So will my heavenly Father do to you, unless each of you forgives your brother from your heart.”
Shallom, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus!
Siapa di antara kita yang hidup pada saat ini tidak pernah sekalipun melakukan kesalahan? Tentu kita semua pernah melakukan kesalahan, baik besar mau pun kecil. Akan tetapi, ketika kita terlalu sering berbuat kesalahan, apalagi yang sama, maka tendensi dari kita adalah untuk menormalisasikan kesalahan kita tersebut dan tidak lagi merasa hal tersebut sebagai sesuatu kesalahan.
Oleh karena itu, Gereja menganugrahkan kepada kita rahmat untuk menjalani masa Prapaskah, agar kita sungguh-sungguh merenungkan dan menyadari segala kesalahan kita tersebut, baik yang kita sadari maupun, dan terlebih lagi, yang tidak kita sadari. Seperti Azariah dalam bacaan pertama pada hari ini, marilah kita sungguh-sungguh meminta pengampunan dari Tuhan, atas segala dosa kita.
Akan tetapi, seringkali kita berlaku seperti Petrus. Mari kita bayangkan, mungkin pada saat itu, Petrus tengah merasa kesal dengan seseorang, sehingga ia datang kepada Yesus, bertanya bahwa berapa kali ia harus mengampuni saudaranya yang bersalah terhadapnya. Mungkin ia berharap pembenaran dari Yesus, agar ia “berhak” untuk menghukum saudaranya yang bersalah tersebut. Akan tetapi, diluar perkiraan, Yesus menjawabnya untuk mengampuni sebanyak tujuh puluh tujuh kali.
Bukan berarti bahwa Petrus harus menghitung berapa banyak kesalahan seseorang tersebut, apakah sudah sebanyak 77 kali atau belum, untuk mengampuninya. Namun angka “tujuh” di dalah bahasa Alkitab memiliki pengertian kelengkapan atau totalitas. Sehingga, ketika Yesus berkata untuk mengampuni sebanyak tujuh puluh tujuh kali, pengulangan angka tujuh menunjukkan bahwa pengampunan tidak ada batas.
Yesus tidak meninggalkan Petrus begitu saja menggantung dengan jawaban teologis. Ia memberikan juga perumpamaan mengenai hamba yang diampuni hutangnya oleh sang Raja, namun ia tidak mau mengampuni sesamanya yang berhutang kepadanya. Bagaimana dengan kita? Seringkali kita sungguh-sungguh sadar, dan minta ampun kepada Tuhan untuk segala kesalahan kita. Dan, dengan segera, Ia mengampuni segala dosa kita. Tidak ada lagi setitik noda pun diingat-Nya.
Akan tetapi, betapa banyak dari kita yang masih sering kali mengungkit-ungkit kembali segala luka yang kita terima karena kesalahan orang lain. Meski kita sudah bilang untuk memaafkannya, mungkin di dalam sebuah retret Penyembuhan Luka Batin, akan tetapi, sesungguhnya, kita hanya mengubur luka tersebut dalam-dalam. Padahal Tuhan sendiri sudah memberikan rahmat pengampunan kepada kita, gratis, tanpa batas dan tidak mengingat-ingat lagi.
Oleh karena itu, marilah pada saat ini, kita ingin menjawab panggilan Tuhan. Mintalah kuasa Roh Kudus untuk memberikan kita kekuatan menghadapi segala luka-luka yang kita miliki, dan sungguh-sungguh kita enyahkan luka tersebut. Maafkanlah mereka yang telah melukai kita, dan kasihilah mereka sebab mereka pun juga adalah anak-anak Allah yang dikasihi-Nya. Sebab, terlebih dahulu Tuhan telah mengasihi kita dan mengampuni dosa kita dengan penderitaan-Nya dan pengorbanan-Nya di atas kayu salib.
Doa:
Tuhan Yesus, sungguh besar kasih setia-Mu
sehingga kami semua beroleh keselamatan
Ampunilah kami yang justru masih seringkali
memegang segala luka-luka di dalam diri kami
Curahkanlah Roh Kudus-Mu atas kami semua
agar sungguh kami beroleh rahmat keberanian
untuk meninggalkan segala luka-luka kami itu
dan sungguh mengampuni dan mengasihi
mereka yang telah melukai diri kami ini
Agar sungguh, hidup kami dapat mengalami
damai dan sukacita yang sesungguhnya
bersama dengan Engkau, Juru Selamat kami
kini dan sepanjang masa
Amin.
Pujian: MENGAMPUNI
(https://www.youtube.com/watch?v=s-IdI40SRmI)
Ketika hatiku t’lah disakiti
Ajarku memberi hati mengampuni
Ketika hidupku t’lah dihakimi
Ajarku memberi hati mengasihi
Reff:
Ampuni bila kami tak mampu mengampuni
Yang bersalah kepada kami
Seperti hati Bapa mengampuni
Mengasihi tiada pamrih
Tuhan memberkati.
Charles, Nathalia dan Keluarga
Sel Sts Joachim & Anne, Singapura

admin