Melepaskan kelekatan didalam diriku

Monday 25 May 2015
First Reading; Sirach 17:20-24
Psalm Response; Ps 32:1-2, 5-7 (with 11a)
Gospel Reading; Mark 10:17-27

As Jesus was setting out on a journey, a man ran up, knelt down before Him, and asked Him,
“Good teacher, what must I do to inherit eternal life?”
Jesus answered him, “Why do you call me good? No one is good but God alone.
You know the commandments: You shall not kill; you shall not commit adultery;
you shall not steal; you shall not bear false witness; you shall not defraud;
honor your father and your mother.”

He replied and said to Him,
“Teacher, all of these I have observed from my youth.”
Jesus, looking at him, loved him and said to him,
“You are lacking in one thing. Go, sell what you have, and give to the poor
and you will have treasure in heaven; then come, follow Me.”
At that statement, his face fell,  and he went away sad, for he had many possessions.

Jesus looked around and said to His disciples,
“How hard it is for those who have wealth to enter the Kingdom of God!”
The disciples were amazed at His words.
So Jesus again said to them in reply,
“Children, how hard it is to enter the Kingdom of God! It is easier for a camel to pass through the eye of a needle than for one who is rich to enter the Kingdom of God.” They were exceedingly astonished and said among themselves,
“Then who can be saved?”
Jesus looked at them and said, “For men it is impossible, but not for God.
All things are possible for God.”

Shalom semuanya,

Untuk masuk kedalam Kerajaan Surga, itu tidak mudah. Kita harus mengikuti Yesus tanpa syarat, menyangkal diri kita, memikul salib kita dan melepaskan segala sesuatu yang masih melekat/menghambat kita masuk kedalam Kerajaan Surga.

Kelekatan bisa berupa materi (harta) dan bisa juga non materi (pangkat, kedudukan, kehormatan, nama baik, ketenaran); orang yang kita cintai (partner kita, anak kita, orang tua kita, sanak saudara kita, pacar kita, sahabat kita, siapa saja) dan diri kita sendiri.

Coba kita masuk kedalam ruang doa kita, kita renungkan apakah masih ada kelekatan didalam diriku? Maukah aku melepaskan kelekatan itu dimana menghambat hubunganku dengan Tuhan?

Cara menghayati kelepasan (ketidakterikatan) menurut St Teresa Avila dari buku Jalan Kesempurnaan

Untuk menghayati kelepasan, seperti cinta kasih dan kerendahan hati serta disiplin diri (taat, tabah, tekun, setia) melaksanakan mati raga, laku tapa:

a. Berketetapan hati dan berniat teguh untuk menyerahkan dan mengorbankan diri seutuhnya kepada kasih dan penyelenggaraan Allah karena percaya bahwa Tuhan pasti memilih yang terbaik bagi kita dan DiriNya sendiri

b. Tidak mempedulikan dan kuatir tentang diri sendiri, tantang hidup dan selera sendiri, tentang kenikmatan bagi diri sendiri untuk bermati raga sampai badan takluk sepenuhnya kepada roh. Juga tidak menghiraukan kehormatan, kehendak, martabat, gengsi sendiri berdasarkan usia, pekerjaan dan perbedaan perlakuan teristimewa dalam bekerja dan bermati raga. Bersedialah mati bagi Tuhan dan kalau perlu mati sebagai martir. Terutama matiraga batin membuat segala sesuatu yang lain lebih berguna dan menguntungkan serta sempurna

c. Demi cinta kepada Tuhan bersedialah dengan bebas dan senang hati untuk taat, berpuasa, berdiam diri, menaati peraturan serta kebaktian bersama

d.  Bekerja dengan giat dan rajin, serta memikirkan sungguh-sungguh bahwa setiap jam dapat saja merupakan jam terakhir hidup kita

Godaan yang dialami dalam menghayati kebajikan kelepasan

a. Takut kesehatan terganggu kalau melaksanakan matiraga dan laku tapa

b. Sangat rajin berusaha merawat dan menjaga kesehatan dengan alasan supaya dapat berpegang teguh pada peraturan hidup ordo. Apakah hasilnya dari usaha tersebut? Sampai mati ia tidak akan pernah mengikuti peraturan itu secara sempurna walau hanya dalam sebulan saja.c. Karena takut akan penyakit, orang menggunakan penyakit sebagai alasan untuk tidak menaati peraturan walaupun dengan minta izin.

d  Ingin melakukan matiraga dan laku tapa sebanyak-banyaknya tanpa alasan dan pertimbangan yang matang. Keinginan ini hanya berlangsung beberapa hari saja, selanjutnya setan akan memberikan bayangan kepadanya tentang kemungkinan adanya penderitaan atau kerugian karena laku tapa atau matiraga tersebut.

e  Terus mengeluh tentang sakit dan penyakit yang ringan. Setan mendorong kita mengkhayalkan tentang rasa sakit itu sehingga kita menjadi semakin takut untuk menderita walau hanya sedikit saja dan terus mengeluh tentang rasa sakit itu.

Bagaimana cara mengatasinya?Di sini kita harus jujur dan tegas terhadap diri sendiri. Kalau memang sakit harus katakan sakit, kalau sedikit sakit harus berani menderita sebagai kesempatan untuk bermatiraga.

Teresa menasihatkan sebagai berikut,”Jangan memanjakan badan kita. Semakin kita memanjakan badan kita, semakin besar dan semakin banyak kebutuhan/hasrat yang timbul. Berkaitan  dengan penyakit yang diderita kebutuhan itu muncul dalam rupa dan warna sesuatu yang baik umpamanya demi kesehatan, supaya dapat lebih baik menghayati hidup membiara atau mengikuti peraturan hidup. Hendaklah kita mengingat dan menyadari bahwa ada banyak orang sakit yang tidak punya orang, tempat ia mengeluh. Banyak pula orang lain yang menderita sakit yang serius tetapi tidak berani mengeluh karena takut membuat suami atau isteri atau saudaranya menjadi bingung atau susah atau bosan. Dengan bantuan Tuhan, hendaknya kita mempunyai ketetapan hati dan niat yang teguh serta keberanian untuk menderita agar kita menjadi tuan atas badan kita” (source; https://cosmasroga.wordpress.com/2013/06/11/buah-pena-para-kudus-ocd/)

Dengan bantuan Tuhan serta ketetapan hati dan niat yang teguh kita bisa memulai dan mempraktekkan melepasakan segala kelekatan dan keterikatan kita. “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”(Markus 10:27)

Apabila engkau sedang menderita dan merasa sedih
Cobalah renungkan Mempelaimu yang sedang dalam perjalanan ke Taman Getsemani
Aduh, betapa sedihnya jiwa-Nya pada saat itu
Atau renungkan Dia sedang memikul salib-Nya,
tak diberi kesempatan untuk menarik nafas.
Ia akan menatapmu dengan mata-Nya yang indah
Penuh belas kasihan tergenang air mata
Ia melupakan kesedihan-Nya sendiri
Untuk menghiburmu dalam kesedihanmu
Dan itu dilakukan-Nya hanya karena engkau mencari hiburan pada-Nya
Mengangkat mukamu kepada Dia
Guna menatap Dia

(St Teresa Avila source; http://v2.holytrinitycarmel.com/nuansa-karmel-kemanisan-salib/)

Song; Lord, I offer my life to You

https://www.youtube.com/watch?v=LmBcZeUPmSw

God loves us,

Suhardi, Haryati dan Samuel

sel dewasa dan sel remaja St Dominic of Holy Rosary, Sydney, Australia

admin