Monday 4th September 2017

First Reading: 1 Thessalonians 4:13-18
Psalm Response; Ps 96:1, 3-5, 11-13
Gospel Reading: Luke 4:16-30

Feast Day: St Rosa dari Viterbo

 
Jesus came to Nazareth, where he had grown up,
and went according to his custom
into the synagogue on the sabbath day.
He stood up to read and was handed a scroll of the prophet Isaiah.
He unrolled the scroll and found the passage where it was written:

The Spirit of the Lord is upon me,
because he has anointed me
to bring glad tidings to the poor.
He has sent me to proclaim liberty to captives
and recovery of sight to the blind,
to let the oppressed go free,
and to proclaim a year acceptable to the Lord.

Rolling up the scroll,
he handed it back to the attendant and sat down,
and the eyes of all in the synagogue looked intently at him.
He said to them,
“Today this Scripture passage is fulfilled in your hearing.”
And all spoke highly of him
and were amazed at the gracious words that came from his mouth.
They also asked, “Is this not the son of Joseph?”
He said to them, “Surely you will quote me this proverb,
‘Physician, cure yourself,’ and say, ‘Do here in your native place
the things that we heard were done in Capernaum.'”
And he said,
“Amen, I say to you, no prophet is accepted in his own native place.
Indeed, I tell you,
there were many widows in Israel in the days of Elijah
when the sky was closed for three and a half years
and a severe famine spread over the entire land.
It was to none of these that Elijah was sent,
but only to a widow in Zarephath in the land of Sidon.
Again, there were many lepers in Israel
during the time of Elisha the prophet;
yet not one of them was cleansed, but only Naaman the Syrian.”
When the people in the synagogue heard this,
they were all filled with fury.
They rose up, drove him out of the town,
and led him to the brow of the hill
on which their town had been built, to hurl him down headlong.
But he passed through the midst of them and went away.

 
Shalom semuanya,
 
“Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” (Luk 4:24)
 
Pernah tidak kita ditolak, tidak dihargai? Jika pernah, janganlah kita sedih atau kecewa sebab Tuhan Yesus juga pernah mengalami hal yang kita alami. Yesus ditolak di kampung halamanNya sendiri di kota Nazaret.
 
Apa yang diperbuat oleh Yesus? He walked away from it. He never tried to force the Nazarenes to accept Him as the Messiah. Certainly He was saddened by their rejection, but He moved on. He pray for them. He went to places where doors of opportunity opened for Him, where He was free to share what He could give, where His gifts and talents could shine — in other words, where He could make a difference because hearts were responsive to Him (source; https://gnm.org).
 
St Paulus dalam bacaan pertama hari ini menasihiti kita janganlah berduka cita dan arahkan selalu pandangan kita kepada Tuhan dengan hidup kudus, benar dan berkenan dihadapanNya sampai Tuhan Yesus datang kembali menjemput kita. Pada waktu Tuhan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu kita yang hidup yang masih tinggal akan diangkat bersama-sama dengan mereka meyonsong Tuhan diangkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. (1 Tes 4:16-17)
 
We need to think ‘outside the box’ follow Holy Spirit to guide us. Jika kita ditolak, move on and pray for them. Roh Kudus sendiri akan membimbing dan mengajar kita. Kita bisa belajar mencontoh St Rosa dari Viterbo yang kita peringati hari ini
 
St Rosa dari Viterbo
 

Rosa dilahirkan pada tahun 1235 di Viterbo, Italia. Ia adalah seorang kudus yang dikaruniai anugerah penglihatan dan penyembuhan serta dikenal sebagai pembuat mujizat. Rosa hidup pada masa Kaisar Frederick yang dengan kekuasaannya menjarah Gereja dan merebut banyak tanah milik Gereja. Rosa merasa mendapat misi dari Tuhan untuk mengingatkan penduduk kotanya serta penduduk kota-kota sekitarnya untuk tetap setia kepada Gereja dan Tahta Suci.

Pada usia tiga tahun Rosa telah membuat mukjizat dengan menyembuhkan seorang yang sudah sekarat dan hampir mati. Pada usia delapan tahun Santa Perawan Maria menampakkan diri kepadanya saat ia sedang sakit, dan memintanya untuk mengenakan jubah St.Fansiskus. Bunda Maria juga mengatakan kepada Rosa untuk memberikan teladan yang baik kepada sesama dengan kata-kata maupun dengan perbuatan. Perlahan-lahan kesehatan Roda pulih kembali. Ia mulai merenungkan dan semakin merenungkan betapa Yesus telah menderita bagi kita dan betapa para pendosa telah menyakiti-Nya. Ia berdoa serta melakukan silih untuk menyatakan kepada Yesus betapa ia mengasihi-Nya.

Kemudian, gadis kecil yang pemberani ini mulai berkhotbah di jalan-jalan kota. Ia mengatakan kepada orang banyak untuk bangkit melawan kaisar yang telah menjarah gereja. Banyak orang mendengarkan khotbahnya sehingga ayah Rosa menjadi ketakutan. Ia mengancam Rosa bahwa ia akan mencambukinya jika Rosa tidak berhenti berkhotbah. Rosa, yang saat itu berusia tigabelas tahun, menjawab dengan lembut, “Jika Yesus rela dicambuki demi aku, aku juga rela dicambuki demi Dia. Aku melakukan apa yang Yesus perintahkan kepadaku dan aku tidak mau tidak taat kepada-Nya.”
Dua tahun lamanya Rosa kecil berkhotbah dengan berhasil sehingga para pendukung Raja menghendaki agar anak kecil itu dibunuh saja. Pada akhirnya, penguasa mengusir Rosa beserta orangtuanya ke luar kota. Tetapi Rosa mendapat penglihatan dan ia mengatakan bahwa kaisar akan segera mangkat, dan memang terjadi demikian.

Setelah kembali ke Viterbo, sesuai pesan Bunda Maria padanya Rosa kemudian ingin masuk biara Fransiskan. Tapi karena usianya yang masih amat muda ia tidak diijinkan untuk menjadi biarawati. Jadi ia pulang ke rumahnya. Di sana ia wafat pada tahun 1252 ketika usianya baru tujuh belas tahun. Dikemudian hari Paus Alexander IV  memerintahkan agar jasadnya disemayamkan di sebuah biara di Viterbo yang dulu pernah menolak dirinya untuk menjadi biarawati.  Jenasah St.Rosa dari Viterbo hingga kini masih utuh. St Rosa dari Viterbo doakanlah kami…

Song: How Great is Our God by Don Moen

https://www.youtube.com/watch?v=coPD8amHKO4

God loves us,
 
Suhardi, Haryati dan Samuel
sel dewasa dan sel remaja St Dominic of Holy Rosary, Sydney 
 
 

admin