VACARE DEO – Agustus 2016, Minggu 3

Maria Diangkat ke Surga

Pada 1 November 1950 Paus Pius XII mengumumkan sebagai Dogma bahwa Perawan Maria, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya kepada kemuliaan Surga. Sebenarnya kebenaran iman ini telah dikenal dalam Tradisi, dan ditegaskan oleh para bapa Gereja, dan menjadi unsur penting dalam penghormatan terhadap Bunda Kristus.

Alkitab memang tidak mencatat tentang Maria diangkat ke Surga. Namun peran Maria dalam misteri penyelamatan umat manusia merupakan dasar dari kepercayaan bahwa Maria diangkat ke Surga, tubuh dan jiwanya. Kita percaya bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa, termasuk dosa asal (salah satu efek dari dosa asal adalah kerusakan tubuh saat kematian), oleh karena Maria dipersiapkan untuk mengandung dan melahirkan Putra Allah.

Malaikat Gabriel menyapanya “yang dikaruniai” (Luk 1:28); Elizabeth yang dipenuhi Roh Kudus, menyebut Maria “diberkati diantara para wanita” (Luk 1:42). Maria adalah wanita yang dipilih untuk menjadi Bunda Kristus, melalui Maria-lah Yesus menerima bagian kemanusian-Nya. Bahkan di dalam karya mujizat pertama yang dibuat Yesus dalam pernikahan di Kana, ada peran Maria.

Maria adalah hamba Tuhan yang setia dan taat. Ia mengikuti perjalanan hidup Kristus sejak dalam kandungan. Ia yang melahirkan  Sang Putra Allah ke dunia, dan ia hadir dalam sebagian besar perjalanan hidup Putranya. Pada waktu sengsara-Nya sampai wafat-Nya, Maria mendampingi Putra-Nya, dengan setia menjalani penderitaan bersama dengan Sang Putra, jiwanya bagaikan dihunus oleh pedang (bdk Luk 2:35). Maria juga bersama para rasul dalam peristiwa Pantekosta, saat Roh Kudus turun dan Gereja lahir. Itulah sebabnya kita percaya bahwa Maria menerima bagian kebangkitan badan dan dimuliakan oleh Tuhan pada akhir perjalanan hidupnya.

Uskup Theoteknos dari Livias (th 550-650) mengatakan dalam kotbahnya tentang Maria diangkat ke Surga: “Oleh karena Kristus menerima kedagingan-Nya yang suci dari kedagingan Maria yang suci, dan jika Ia telah menyediakan tempat di Surga bagi para rasul, betapa lebihnya bagi ibu-Nya; jika Enoh dan Elia diangkat ke Surga, apalagi Maria, yang bagaikan bulan diantara bintang-bintang, yang bersinar paling terang, diantara para nabi dan para rasul? Sebab meskipun badannya yang mengandung Tuhan merasakan kematian, badan itu tidak mengalami kerusakan, melainkan diangkat ke Surga bersama dengan jiwanya yang murni dan tak bercela.”

Pesta “Maria Diangkat Ke Surga” merupakan pesta tertua yang berkenaan dengan Bunda Maria, meski tidak diketahui kapan pertama kali dirayakan. Pada masa Yerusalem dikembalikan sebagai Kota Suci, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Roma Constantine (th 285-337), asal-muasal tentang perayaan ini telah hilang. Sebelumnya, Yerusalem telah jatuh menjadi kota penyembahan berhala selama dua abad, sejak Kaisar Hadrian (th 76-138) meratakannya dengan tanah sekitar tahun 135 dan mendirikan di atasnya “Aelia Capitolina”, kota baru yang didedikasikan sebagai penghormatan terhadap Dewa Yupiter.

Itulah 200 tahun dimana semua kenangan yang berhubungan dengan Yesus dimusnahkan dari kota Yerusalem dan segala tempat yang disucikan oleh hidup, mati dan kebangkitan Yesus dijadikan kuil-kuil berhala.

Pada tahun 336, setelah pendirian Gereja Holy Sepulchre, tempat-tempat suci mulai dibangun kembali dan kenangan tentang hidup Tuhan kita mulai dirayakan oleh penduduk Yerusalem. Salah satunya adalah kenangan tentang Bunda Kristus yang fokusnya adalah “Kubur Maria”, dekat Gunung Zion, tempat hidupnya komunitas awal kristiani. Pada bukit tersebut terdapat “Place of Dormiton” (Dormiton dalam bahasa Latin berarti “tidur”), tempat dimana Maria “tertidur”, yang merupakan tempat wafatnya Maria. “Kubur Maria” adalah tempat ia dikuburkan. Pada masa itu dirayakan “Mengenang Maria”, yang di kemudian hari dijadikan Pesta “Maria diangkat ke Surga”.

Untuk suatu masa, pesta “Mengenang Maria” dilakukan hanya di Palestina, namun kemudian Kaisar memperluas perayaan tersebut ke semua gereja di Timur. Pada abad ke-7, pesta tersebut mulai juga dirayakan di Roma dengan nama “Tertidurnya (=dormitio) Bunda Tuhan”.  Tak lama kemudian, nama tersebut berganti menjadi “Maria diangkat ke Surga” karena perayaan tersebut menyiratkan jauh lebih dalam daripada sekedar kematian Maria, melainkan juga menyatakan bahwa Maria telah diangkat, tubuh dan jiwanya, ke Surga.

Kepercayaan tersebut sangatlah tua, bahkan telah dimulai pada masa para rasul. Hal ini diperjelas dengan tidak ditemukannya relikwi untuk menghormati Maria dan keberadaan kubur kosong di tepian Yerusalem dekat tempat wafatnya Maria. Lokasi itu juga kemudian menjadi tempat ziarah (saat ini disana berdiri Biara Benedictan, The Dormitory of Mary).

Perawan Maria memberikan kepada kita teladan iman dan kerendahan-hati. Oleh karena percayanya kepada Allah, Ia dengan rendah-hati menerima dengan taat, saat Malaikat Gabriel menyampaikan bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan seorang putera, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Kesetiaan dan ketaatan Bunda Maria kepada Allah Tritunggal Mahakudus telah membukakan baginya rahmat untuk menerima kehidupan kekal dan kebangkitan badan. Diangkatnya Maria ke Surga merupakan perayaan suka-cita bagi setiap orang beriman. Pesta ini memang nampak sebagai penghormatan terhadap Perawan Maria, namun juga sebagai penghormatan kepada Putranya. Diangkatnya Maria ke Surga  memberikan harapan bagi kita semua orang-orang percaya, untuk menantikan dengan penuh kerinduan hari dimana kitapun menerima kebangkitan badan dan menerima kehidupan kekal bersama Kristus, Sang Juruselamat.

Sumber:

  1. “The Assumption of Mary: A Belief Since Apostolic Times” by Fr Clifford Stevens, ewtn.com
  2. “Straight Answers: Understanding the Assumption” by Fr William P.Saunders, Arlington Catholic Herald. Inc

 

Sharing

  1. Renungkanlah kemuliaan yang diterima Perawan Maria. Adakah engkau hidup dengan menanti-nantikan Allah? Apakah engkau sepenuhnya mempercayakan hidupmu kepada Dia? Ataukah engkau masih sering dikuasai oleh kekwatiran duniawi?
  2. Sharingkanlah tentang tantangan yang engkau hadapi untuk taat kepada kehendak Allah.

 

admin