EUTHANASIA

Euthanasia berasal dari Bahasa Yunani yakni dari kata “Eu” yang berarti ‘baik’ dan “Thanatos” yang berarti ‘mati’. Jadi arti kata Euthanasia adalah kematian yang baik atau mati secara baik. Euthanasia adalah tindakan mengakhiri hidup manusia agar lepas dari penderitaan yang dialami. Ada yang pro dan kontra terhadap euthanasia. Di negara tertentu euthanasia dilegalkan atau diperbolehkan seperti di Belanda, Luksemburg, Belgia, Swiss, Jerman, Amerika Serikat dan Jepang.

Euthanasia dibagi menjadi lima jenis:

  1. Euthanasia aktif yaitu saat dokter secara langsung dan sadar bertindak mengakhiri kematian pasien, seperti menyuntikkan obat penghilang rasa sakit hingga overdosis. Termasuk dalam kategori ini:
    • Euthanasia volunteer yang didasari permintaan pasien yang  secara sadar ingin mengakhiri hidupnya karena berbagai alasan medis yang kuat.
    • Euthanasia non-volunteer yang dilakukan ketika pasien berada dalam kondisi tidak sadar atau tidak mampu membuat pilihan mandiri antara hidup dan mati. Keputusan diambil oleh kerabat yang dianggap kompeten.
    • Euthanasia involunteer yang terjadi saat pihak lain mengakhiri nyawa pasien kendati berlawanan dengan keinginan asli mereka. Contohnya, seorang pasien ingin terus bertahan hidup meski dengan kondisi menderita, namun pihak keluarganya meminta dokter untuk mengakhiri hidupnya

  2. Euthanasia pasif berupa pembiaran petugas medis agar pasien meninggal dengan sendirinya. Contoh: sengaja mematikan mesin bantu pernafasan atau mencabut infus.

Bagaimana pandangan Gereja Katolik mengenai Euthanasia?

Hidup manusia sangat bernilai dan perlu diperjuangkan terus menerus, karena merupakan pemberian Allah yang sungguh luhur, karena Allah menciptakan manusia secitra dan segambar dengan Allah sendiri (Kej 1:26). Hidup itu ada karena Allah memberikan Roh kehidupan (bdk Rom 8:2). Manusia tidak dapat memperpanjang atau memperpendek hidupnya (bdk Mat 6:25; Luk 12:25).

Melalui dokumen “Gaudium et Spes” (GS art.27) Gereja Katolik menolak euthanasia aktif dan memandangnya sebagai ancaman yang sangat serius di masa mendatang. Keprihatinan ini semakin besar, tatkala melihat gerakan yang kuat melegalkan tindakan euthanasia denga merebaknya paham ‘the right to die without suffering’. Melalui deklarasi tentang euthanasia pada tangggal 5 mei 1980, Kongregrasi Suci Ajaran Iman mengajak umat memperhatikan hidup manusia. Hidup manusia itu sangat bernilai. Orang tidak boleh semena-mena merampas hidup manusia. Diajarkan pula mempersatukan penderitaan dengan penderitaan Kristus. Penderitaan yang dialami adalah batu uji iman dan jalan untuk semakin mengenal Kristus lebih penuh. Penderitaan yang dialami perlu disyukuri, karena boleh turut serta merasakan penderitaan bersama Kristus. Hidup manusia harus dihormati, karena hidup tidak untuk saat ini saja, melainkan untuk selama-lamanya. Hidup dan mati berada ditangan Tuhan (bdk Rom 14:8; Filipi 1:20). Dalam Hukum Gereja pun tindakan Euthanasia tidak dapat dibenarkan karena sama dengan tindakan pembunuhan/tindak pidana dan dihukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku (lih KHK 1983 kanon 1397)

Paus Yohanes Paulus II dalam Evangelium Vitae, menyatakan secara definitif bahwa pembunuhan seorang manusia yang tak bersalah selalu merupakan perbuatan tidak bermoral. Pernyataan ini bersifat infallible atau tidak dapat sesat. Dalam artikel 57 dari dokumen Evangelium Vitae, dituliskan sebagai berikut:
“Jadi, dengan otoritas yang diberikan Kristus kepada Petrus dan para penerusnya, dan di dalam persekutuan dengan para uskup Gereja Katolik, saya menegaskan bahwa tindakan pembunuhan seorang manusia tak bersalah selalu merupakan tindakan yang sungguh tidak bermoral. Pengajaran ini, berdasarkan hukum yang tidak tertulis, di mana manusia dalam terang akal budi, menemukannya dalam hatinya (lih. Rm 2:14-15), ditegaskan kembali oleh Kitab Suci, diteruskan oleh Tradisi Gereja dan diajarkan oleh Magisterium biasa dan universal” (Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium, 25).

Namun surat ensiklik Evangelium Vitae tersebut juga menjelaskan bahwa euthanasia berbeda artinya dengan keputusan untuk tidak melakukan perawatan medis yang agresif (aggressive medical treatment):

“[Perawatan ini adalah] prosedur- prosedur medis yang sebenarnya sudah tidak lagi cocok dengan keadaan riil pasien, karena prosedur tersebut sudah tidak proporsional dengan hasil yang diharapkan, atau prosedur tersebut memaksakan beban yang terlalu berlebihan kepada pasien dan keluarganya. Dalam keadaan- keadaan seperti ini, ketika kematian sudah jelas tidak terhindari, seseorang dengan hati nuraninya dapat “menolak bentuk- bentuk perawatan yang hanya menjamin perpanjangan hidup yang tak menentu dan sangat membebani, sepanjang perawatan normal yang layak bagi pasien pada kasus-kasus serupa tidak dihentikan.” (CDF, Ibid., IV: loc. cit, 551). Sudah pasti ada keharusan moral untuk merawat diri sendiri dan membiarkan diri dirawat orang lain, tetapi tugas ini harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi-kondisi konkret. Harus ditentukan apakah perawatan yang ada secara obyektif proporsional dengan kemungkinan penyembuhan. Menolak cara yang berlebihan dan tidak proporsional tidak sama dengan bunuh diri atau euthanasia; melainkan itu mencerminkan penerimaan kondisi manusia menghadapi maut.” (Ibid., seperti dikutip dalam Evangelium Vitae 65)

Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa walaupun dalam kondisi ‘vegetatif’ sekalipun, manusia tetap mempunyai martabat yang utuh, dan karenanya harus diperlakukan sebagai manusia. Bahkan ketika kematian sudah di ambang pintu, para pasien, tetap harus diperlakukan sesuai dengan martabatnya, dengan terus diberikan perlakuan yang umum dan layak. Dokumen untuk Para Petugas Kesehatan, The Charter for Health Care Workers (yang dikeluarkan oleh Pontifical Council for Pastoral Assistance for Health Care Workers, 1995) mengatakan bahwa perlakuan yang layak tersebut termasuk perawatan, kebersihan, pengurangan rasa sakit, pemberian makanan dan air, baik melalui mulut atau dengan infus, jika ini dapat mendukung kehidupan pasien tanpa menimbulkan beban yang serius kepada pasien. Maka persyaratan umum adalah menghindari kematian pasien yang disebabkan oleh kelaparan dan kehausan. Namun, jika terjadi kasus sebaliknya, yaitu jika pasien telah menjelang ajal, di mana pemberian makanan dan air malah menimbulkan kesulitan yang lebih besar daripada manfaatnya, maka mereka yang bertugas merawat pasien tersebut, dapat memberhentikan pemberian tersebut.

Kesimpulan

Dalam kondisi yang sulit kadang orang tersudutkan untuk mengambil keputusan yang tampaknya ‘benar menurut manusia’ walau tidak sesuai dengan hukum Allah. Tapi seperti Yesus dan para Rasul yang tidak menyayangkan bahkan nyawa mereka demi sebuah kebenaran, semoga kita dapat tetap bertekun untuk selalu mencari dan melakukan ‘kebenaran Tuhan’.

Referensi:

1. PPAT (Program Pembinaan Anggota) Tahap III

2. http://www.katolisitas.org/apa-pandangan-gereja-katolik-tentang-euthanasia/

Pedoman Hidup KTM no. 30:

Janganlah kaupikirkan dan kauingat masa lampaumu, kecuali untuk mengenangkan kasih Allah yang telah kauterima dan untuk bersyukur kepadaNya. Juga untuk penyembuhan batinmu bila masih ada luka-luka batin yang belum sembuh, tetapi hal itu hanya sejauh diperlukan untuk penyembuhan saja. Sesudah itu segeralah kembali hidup pada saat ini di hadapan Allah, penuh iman dan cintakasih, hidup hanya bagi Tuhan saja.

Sharing

1. Seberapa teguh aku menjunjung tinggi martabat hidup manusia?

2. Jika aku sakit parah, apakah aku mensyukuri dan mempersembahkan penderitaan dan sakitku bersama dengan penderitaan Kristus?

admin