KELEMAHLEMBUTAN DALAM RELASI

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat 11:29)

  1. Pendahuluan
    Masalah-masalah yang kita alami dalam hidup ini terkadang membuat kita mudah tersinggung dan lepas kendali. Namun, kita tidak dapat membenarkan perilaku buruk tersebut karena akan menyakiti orang-orang yang disekitar kita. Kita gagal menjadi berkat bagi orang lain ketika perilaku kita tidak menyenangkan bagi mereka. Perjanjian Baru memiliki istilah untuk sebuah sifat yang meluruskan sikap kita yang tidak menyenangkan, yaitu lemah lembut. Istilah tersebut menggambarkan kebaikan dan kemurahan hati dalam diri seseorang. (Efesus 4:2)
  2. Apa itu Lemah lembut?
    Dalam (Matius 11:29), dikatakan bahwa Yesus itu lemah lembut, hal itu bukan berarti bahwa Dia berhati lemah. Lemah lembut sama sekali bukan kelemahan. Dalam kenyataan, orang yang lemah lembutlah sesungguhnya memiliki wibawa yang besar. Ia akan disegani baik oleh kawan maupun lawan. Kelemahlembutan yang sejati selalu diikuti oleh kebajikan kesabaran dan penguasaan diri. Di sisi lain, orang yang lemah lembut sekaligus akan memiliki pula kebajikan kekuatan dan keberanian yang tak tergoncangkan. Ia seperti aliran air yang tenang, tetapi dapat mengikis dan menghaluskan batu sekasar apa pun. Orang yang lemah lembut juga seperti kota di atas bukit yang tampak dari jauh. Keutamaannya tidak akan dapat ditutup-tutupi. Hanya dengan kehadirannya saja ia dapat memberikan rasa sejuk, aman, dan tenang bagi orang-orang di sekitarnya.

    Lemah lembut juga berarti bersedia menerima keterbatasan dan kesulitan yang ada tanpa melampiaskan kejengkelan kita terhadap orang lain. Itu berarti menunjukkan rasa syukur atas perlakuan sesederhana apa pun yang kita terima dan menoleransi mereka yang tidak memperlakukan kita dengan baik. Itu berarti sabar terhadap orang yang menyusahkan (misalnya: anak-anak kecil yang berisik dan gaduh). Pribadi Yesus yang lemah lembut dengan mudah membuat anak-anak tertarik kepadaNya.

    Kelemahlembutan yang tampak jelas dari luar tidak mengatakan bahwa ia hanya soal lahiriah semata. Sebenarnya, ia adalah kualitas seseorang yang terpancar dari dalam. Orang dapat saja tampak lemahlembut, membuat dirinya kelihatan lemahlembut. Namun, itu bukan jaminan bahwa ia memiliki kebajikan kelemahlembutan. Mungkin, ia dapat menipu orang-orang untuk sementara waktu. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan bertahan lama.

    Seringkali sikap berpura-pura lemahlembut mencerminkan keinginan seseorang untuk diperhatikan atau suatu usaha menutupi kekurangannyaTidak jarang pula dalam kesulitan tertentu orang berpura-pura sabar dan tampak menguasai diri sepenuhnya. Namun, sebenarnya sikap tersebut keluar dari ketidakberdayaan untuk mengatasi persoalan tersebut. Untuk yang terakhir ini, sebenarnya orang tersebut hanya menumpuk perasaan-perasaan negatif di dalam hatinya. Suatu ketika perasaan-perasaan tersebut akan meledak atau muncul ke permukaan dengan berbagai perwujudannya. Misalnya, penyakit fisik, stress berkepanjangan, insomnia, dan sebagainya. Orang yang benar-benar memiliki kebajikan kelemahlembutan akan tahu dengan pasti kapan harus bersikap tegas dan kapan memang harus mengalah. Walaupun sebagian besar hidupnya tampak dipenuhi kesabaran, ia tidak akan segan untuk marah jika itu memang diperlukan untuk kebaikan.

  3. Pentingnya Kelemahlembutan dalam Pelayanan / Komunitas
    Dalam pelayanan, kita pasti menjumpai orang-orang dengan bermacam karakter. Ada yang dengan senang hati mendengarkan sharing yang kita bawakan. Tetapi ada pula, untuk alasan yang berbeda-beda, mungkin memberikan reaksi kurang menyenangkan. Pada saat itulah kelemahlembutan sangat membantu kita menjadi berkat bagi sesama, khususnya terhadap teman dalam Komunitas (Kisah 1:8; 2 Timotius 4:5) bahkan dalam keluarga sekalipun.

    Rasul Petrus menulis : “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan  jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15). Hendaknya kita menjadikan Yesus sebagai teladan kita dan dengan sungguh-sungguh mempraktekkan kelemahlembutan dan sikap hormat sewaktu memberikan kesaksian kepada orang-orang yang berbicara dengan kasar. Sikap seperti ini dapat mendatangkan hasil yang menakjubkan dan dapat memadamkan kemarahan.

    Pada abad pertama, Paulus dan rekannya Timotius menghadapi kesulitan-kesulitan dari beberapa orang dalam jemaat. Paulus menasehati Timotius sebagai seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang, cakap mengajar, menahan diri menghadapi apa yang jahat, dengan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan (2 Timotius 2:24-25a). Apabila kita tetap berwatak lemah lembut sekalipun diprovokasi, orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita seringkali tergerak untuk mengevaluasi kembali kritikan mereka. Sebab mungkin sikap Tuhan akan seperti yang tertulis dalam Surat Paulus kepada Timotius selanjutnya, “memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” (2 Timotius 2:25b).

    Paulus menghubungkan sikap pengendalian diri dengan kelemahlembutan. Paulus mempraktekkan apa yang ia ajar kan sewaktu menghadapi jemaat di Korintus: “Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah. Tetapi menurut pendapatku aku tidak kurang daripada rasul-rasul yang tak ada taranya itu” (2 Korintus 10:1; 11:5). Paulus seorang yang berani dan pandai namun ia dapat mengendalikan diri, menghindari sikap seperti diktaktor dan memilih bersikap lembut.

    Rasul Paulus banyak mengajarkan tentang kelemahlembutan. Ia merintis jemaat di Korintus dan mengajar di sana selama 18 bulan (Kisah Para Rasul 18:1-11), tetapi segera setelah ia meninggalkan kota itu, mereka tidak lagi mengakuinya sebagai seorang rasul. Paulus memiliki segala alasan dan hak untuk marah dan mencela mereka, tetapi ia tidak melakukannyaSebaliknya, ia memperingatkan mereka “demi Kristus yang lemah lembut dan ramah” (2 Korintus 10:1). Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menasehati dua saudari yang sedang berselisih agar bisa berdamai. Paulus meminta agar “kebaikan hati [mereka] diketahui semua orang” (Filipi 4: 5)Dalam berurusan dengan orang-orang yang tidak bersimpati dan bahkan menentang iman Kristen, Petrus mendorong kita selalu siap sedia “memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggunganjawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu”. Namun, kita harus melakukannya dengan lemah lembut dan hormat (1 Petrus 3:15).

SHARING

  1. Mengapa penting untuk menunjukkan kelemahlembutan dalam interaksi kita dengan orang lain jika kita mau meneladani Kristus ?
  2. Sharingkanlah tantangan-tantangan ketika perlu bersikap lemahlembut dalam relasi kita dengan sesama! (dalam keluarga / pekerjaan / pelayanan)

Referensi:

https://www.carmelia.net/index.php/artikel/spiritualitas/143-lemah-lembut-dan-rendah-hati; https://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/2003245 ; https://santapanrohani.org/2017/12/17/lemah-lembut/

Pedoman Hidup no. 31:

Bila berdoa masuklah ke dalam kamarmu, sesuai petunjuk Tuhan Yesus sendiri (Mat 6:6). Matikan semua televisi, radio, tape, internet dan hpmu. Sedapat mungkin ambillah waktu yang sama setiap hari, entah pagi hari, entah sore atau malam hari sesuai sikonmu sendiri, supaya tidak lupa. Jadikan kebiasaan supaya sedapat mungkin berdoa pada waktu dan jam yang sama setiap hari.

admin