MENJADI PENGIKUT YESUS YANG TEGUH DI TENGAH “DUNIA”

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mat 10:16)

I. Pendahuluan

Kopi dan kentang adalah dua benda yang seringkali digunakan dalam perumpamaan mengenai reaksi seseorang terhadap sebuah situasi. Ketika kentang dan kopi diberikan lingkungan berupa air panas, tentunya keduanya akan memberikan reaksi yang berbeda. Kentang akan menjadi lunak, sedangkan kopi akan mengubah warna air panas tersebut menjadi hitam. Demikian pula dengan manusia, situasi yang sama bagi, dapat ditanggapi dengan cara yang berbeda oleh masing-masing pribadi.

II. Refleksi

Jika berkaitan dengan konteks spiritual atau rohani, kata “dunia”, “daging”, “ular”, seringkali diidentikan dengan sifat yang kurang baik, suram, bahkan jahat. Namun, jika dikatikan dengan konteks lain, misalnya ilmu pengetahuan, kata-kata tersebut bisa saja memiliki makna netral atau bahkan positif. Hal ini menunjukkan bahwa terkadang tidak mudah bagi kita untuk menilai sesuatu, apakah hal/situasi tersebut adalah baik atau buruk.

Hitam, Putih, atau Abu-abu

Ketika sedang marak pembahasan mengenai hukuman mati yang diberikan kepada para pengedar narkoba, penghilangan nyawa seseorang yang pada dasarnya dipandang sebagai sesuatu yang negatif, menjadi diragukan kenegatifannya. Ada yang berpendapat bahwa hukuman mati pantas diberikan karena akan memberikan efek jera bagi para pengedar narkoba lainnya. Ada pula yang tetap menentang hukuman tersebut dengan berbagai alasan.

Contoh tersebut adalah contoh yang ekstrim. Namun sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, terkadang tidak mudah bagi kita untuk memandang apakah kita sedang berada di lingkungan yang putih (baik) atau hitam (buruk). Terkadang kita berada dalam situasi yang abu-abu yang juga membuat kita bersikap abu-abu. Warna abu-abu digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak mutlak, terkadang baik, terkadang buruk, atau bahkan keduanya seperti sudah bercampur begitu saja.

Jika dikatikan dengan Mat 10:16, terkadang sulit dibedakan apakah kita sebagai pengikut Kristus, yang digambarkan sebagai domba, sedang berada dalam kawanan domba juga, dalam kawanan serigala, atau serigala berbulu domba. Jika kita sadar sedang berada dalam lingkungan yang jelas kurang baik, mungkin memang menakutkan, tetapi juga dimungkinkan kita dapat mengambil sikap dengan lebih teguh dan pasti. Misalkan kita berada dalam lingkungan pengedar atau pecandu narkoba, sikap yang harus kita ambil sudah jelas, yaitu mengatakan tidak terhadap obat-obatan terlarang tersebut.

Kita dapat menjadi lengah ketika berada di lingkungan yang abu-abu. Misalnya kita sedang berbincang-bincang dengan teman-teman kita dalam suasana santai, namun tiba-tiba ada seorang teman yang membuka topik untuk membicarakan kekurangan orang lain, atau bergosip. Dalam situasi tersebut, terkadang tidak mudah untuk mengambil sikap. Jika kita ikut membicarakan keburukan orang tersebut tanpa bermaksud memberikan masukan positif bagi orang tersebut, maka kita terlibat dalam gossip. Jika kita tiba-tiba menghindar dari kelompok yang sedang berkumpul tersebut, bisa saja kita dianggap sombong. Jika kita menghentikan pembicaraan tersebut, bisa saja dianggap sok suci atau sok menjadi pahlawan.

Tentunya, masih sangat banyak situasi yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagi yang masih sekolah atau kuliah, mungkin mengalami situasi ketika teman-teman sepakat untuk mencontek dalam ujian. Bagi yang sudah bekerja, mungkin saja ada godaan dari lingkungan untuk medapatkan uang lebih dengan cara yang tidak jujur (korupsi).

Reaksi terhadap “Dunia”

Sejak Kristus berada di dunia ini, IA telah memperingatkan kita bahwa kita tidak selamanya bisa memilih untuk berada di lingkungan yang ideal seperti apa yang kita harapkan. Ia telah mengatakan, bahwa kita dapat berada pada situasi seperti domba yang diutus ke tengah-tengah kawanan serigala. Ia pun berpesan, bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Ada hal yang menarik dalam perumpamaan tersebut. Ular yang dalam Perjanjian Lama beberapa kali digambarkan sebagai sosok yang buruk, namun kali ini Yesus menjadikannya sebagai contoh, yaitu mengenai kecerdikannya. Selain itu, Yesus ingin kita tetap mengolah batin/hati kita dengan ketulusan. Yesus tidak berpesan agar domba tersebut kabur, juga tidak berpesan agar domba tersebut melawan serigala-serigala tersebut secara frontal. Pun Yesus tidak pernah berpesan agar domba tersebut ikut-ikutan menjadi serigala agar dapat diterima di lingkungan serigala tersebut dan tidak dimangsa.

Cerdik dapat diterjemahkan menjadi bijaksana untuk bersikap. Hal pertama adalah dengan menyadari dan menerima bahwa kita sedang berada dalam sebuah situasi yang tidak ideal. Dengan penerimaan tersebut, kita dapat mengolah hati dan pikiran kita agar dapat memberikan reaksi yang tepat dengan cara dan waktu yang tepat pula. Sekalipun reaksi tersebut tepat, terkadang lingkungan sekitar kita dapat menjadikan reaksi kita sebagai bumerang bagi diri kita.

Ketulusan dapat menjadi langkah berikutnya untuk menghadapi reaksi yang diberikan oleh lingkungan kita terhadap sikap yang kita ambil. Jika kita sudah meyakini bahwa sikap yang kita ambil adalah sikap yang tepat, namun ternyata mendapat perlawanan dari lingkungan, biarlah sikap hati yang tulus dapat menjadi kekuatan bagi kita. Tulus menerima celaan, perlawanan, dan menyerahkan penyangkalan diri tersebut kepada Yesus.

IV. Pengendapan

Saudara/i terkasih, dalam bahasa Inggris, dikenal sebuah istilah “What would Jesus Do” atau dapat disingkat menjadi WWJD, yang dapat diartikan menjadi “Apa yang akan Yesus lakukan”. Istilah tersebut dapat kita jadikan bahan permenungan terus menerus dalam hidup kita. Apa yang akan Yesus lakukan jika IA sedang berada dalam situasi yang kita alami saat ini? Apakah sikap kita sudah sesuai dengan apa yang akan Yesus lakukan? Atau kita bisa menanyakan dalam hati “Yesus apa yang Engkau ingin untuk aku lakukan?” atau “Yesus kalau aku melakukan ini, apakah Engkau akan senang atau sedih?”

Kembali pada perumpamaan tentang kopi dan kentang. Sebagai pengikut Kristus, semoga kita tidak mudah terbawa oleh suasana lingkungan kita jika ternyata lingkungan tersebut kurang baik. Terlebih, jika lingkungan tersebut memberi pengaruh negatif, semoga diri kita tidak terbawa dan menjadi lunak seperti kentang. Sebaliknya, semoga melalui tindakan dan perkataan kita, kita dapat membawa dan memberi pengaruh kebaikan kepada lingkungan kita, seperti kopi yang memberi warna pada air panas.

Kristus adalah sosok utama yang dapat kita jadikan teladan dalam keteguhan melaksanakan kebenaran dalam kebijaksanaan. Ia tidak pernah gentar dan terbawa pada arus “dunia” yang seringkali menantang-Nya. Ia tetap tenang, membaurkan Diri-Nya pada masyarakat sekitarnya, dan memberikan teladan dalam berbagai hal.

Pada kudus dapat menjadi teladan kita dalam menjalani hidup ini. Sikap yang mereka ambil dalam kehidupannya seringkali melawan arus kehidupan pada masanya. Mereka berani berdiri teguh demi kasihnya kepada Yesus. Saat ini pun masih dapat kita lihat jelas contoh nyata dari orang-orang yang berani mengambil sikap seperti yang Yesus perintahkan. Beberapa waktu yang lalu, ketika terjadi peledakan bom di sebuah kota di Jawa Timur, seorang ibu yang kehilangan dua orang puteranya menyatakan bahwa ia telah mengampuni sang pelaku peledakan. Ia meneladani sikap Bunda Maria yang rela kehilangan Puteranya.

Semoga kita dapat terus memberikan kesaksian tentang kasih Kristus dalam kehidupan kita, terlebih dalam lingkungan terdekat kita. Marilah kita mohon kepada Kristus agar setiap hari dapat terus memperbarui hati kita agar kita memperoleh kekuatan dan keberanian untuk terus hidup ssesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa rahmat-Nya, akan sulit bagi kita untuk berdiri teguh di tengah “dunia” ini.

Sharing

  1. Pernahkan Anda berada dalam suatu situasi yang sulit, dimana Anda merasa bingung harus bersikap seperti apa? Sikap apa yang akhirnya Anda ambil, bagaimana disposisi batin Anda saat itu, dan efek apa yang terjadi dalam lingkungan tersebut?
  2. Apakah Anda memiliki sosok teladan dalam kehidupan ini, tentang bagaimana menjadi pengikut Yesus di tengah dunia? Siapakah dan mengapa Anda menjadikannya sebagai teladan.

Rhema ayat minggu ini

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (Mat 5: 13-15)

Pedoman hidup KTM no. 32:

Hidup di hadirat Allah ini memerlukan suasana khusus, yang membantu kita untuk memusatkan perhatian dan pikiran kepada Allah yang hadir dalam lubuk hati kita. Suasana khusus itu diciptakan oleh adanya kesunyian (solitude), keheningan (silence) yang harus kita ciptakan. Tuhan Yesus sendiri memberi teladan. Pagi-pagi Ia pergi ke tempat sunyi untuk berdoa (Mrk 1:35). Sisihkan waktu yang khusus bagi Tuhan, kalau memang Tuhan itu berharga bagimu. Tanpa menyisihkan waktu yang khusus bagi Tuhan, tak mungkin bisa terjalin relasi yang mesra dengan Allah.

admin