LIMA PERINTAH GEREJA

Pendahuluan

Hidup Kristiani adalah suatu panggilan suci yang menuntut dari kita suatu sikap siap sedia untuk menempatkan diri kita di bawah bayang-bayang Kristus Yang Tersalib. Ini hanya dimungkinkan bilamana kita menjalani hidup Kristiani itu secara otentik dan meyakinkan. Disinilah Iman menjadi tolak ukur yang sangat penting dan mutlak harus dimiliki, sebab “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr.11:1). Iman itu sendiri haruslah nyata dalam perbuatan, agar tidak menjadi pernyataan kosong belaka (bdk.Yak.2:17), sebagaimana sering diistilahkan sebagai seorang NATO (No Action, Talking Only). Itulah sebabnya, semua umat beriman diajak, bahkan didorong agar mengamalkan pokok-pokok imannya. Untuk membantu kita mewujud nyatakan tugas suci ini, Magisterium Gereja Katolik memberikan kepada kita beberapa pedoman hidup Kristiani, yang dapat menjadi sarana konkret untuk mengungkapkan atau menyatakan Iman itu dalam perbuatan. Salah satunya melalui “Lima Perintah Gereja”.

Apa itu Lima Perintah Gereja?

  1. Rayakan Hari Raya yang disamakan dengan Hari Minggu.
  2. Ikutlah Perayaan Ekaristi pada Hari Minggu dan pada Hari Raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.
  3. Berpuasalah dan berpantanglah pada hari yang ditentukan.
  4. Mengaku dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun.
  5. Sambutlah Tubuh Tuhan pada Masa Paskah.

Sejak kapan Lima Perintah Gereja ini ada?

Sejarah Gereja menunjukkan adanya perkembangan dari perintah-perintah Gereja. Kendati belum secara resmi disebut Perintah Gereja, sejak abad ke-4 sudah ada beberapa penekanan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat beriman. Perintah Gereja pertama kali dikenal di jaman Paus Celestine V pada abad ke-13, namun isinya tidak sama dengan yang kita kenal sekarang. Kelima Perintah Gereja yang kita kenal sekarang ini berasal dari ajaran salah satu Pujangga Gereja yaitu Santo Petrus Kanisius di abad ke-16, yang kemudian diadopsi dan ditetapkan oleh Magisterium Gereja sebagai bagian dari Pedoman Hidup Kristiani.

Lima Perintah Gereja dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK)

  • KGK 2041
    Perintah-perintah Gereja melayani kehidupan kesusilaan, yang berhubungan dengan kehidupan liturgi dan hidup darinya. Sifat wajib dari hukum positif ini, yang dikeluarkan oleh gembala-gembala, hendak menjamin satu batas minimum yang mutlak perlu bagi umat beriman dalam semangat doa dan usaha yang berkaitan dengan kesusilaan, pertumbuhan kasih kepada Allah dan sesama.
  • KGK 2042
    – Perintah pertama (“Engkau harus mengikuti misa kudus dengan khidmat pada hari Minggu dan hari raya”) menuntut umat beriman supaya mengambil bagian dalam Ekaristi, manakala persekutuan Kristen berkumpul pada hari peringatan kebangkitan Tuhan Bdk. CIC, cann. 1246-1248; CCEO, can. 881, 1.2.4..

    – Perintah kedua (“Engkau harus mengaku dosamu sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun”) menjamin persiapan untuk Ekaristi melalui penerimaan Sakramen Pengakuan, yang melanjutkan pertobatan dan pengampunan yang telah diperoleh dalam Pembaptisan Bdk. CIC, can. 989; CCEO, can. 719..

    – Perintah ketiga (“Engkau harus sekurang-kurangnya menerima komuni kudus pada waktu Paska dan dalam bahaya maut”) menjamin satu batas minimum untuk menerima tubuh dan darah Tuhan dalam hubungan dengan pesta-pesta masa Paska asal dan pusat liturgi Kristen Bdk. CIC, can. 920 CCEO, cann. 708; 881,3.. 1389, 2180, 1457, 1389

  • KGK 2043
    – Perintah keempat (“Engkau harus merayakan hari raya wajib”) melengkapi hukum hari Minggu dengan keikutsertaan dalam pesta-pesta utama liturgi, yang menghormati misteri Tuhan, Perawan Maria, dan para kudus Bdk. CIC, can. 1246; CCEO, cann. 881, 1.4; 980,3..

    – Perintah kelima (“Engkau harus menaati hari puasa wajib”) menjamin waktu penyangkalan diri dan pertobatan, yang mempersiapkan kita untuk pesta-pesta liturgi; mereka membantu agar memenangkan kekuasaan atas hawa nafsu dan memperoleh kebebasan hati Bdk. CIC, cann. 1249-1251; CCEO, can. 882..Umat beriman juga berkewajiban menyumbangkan untuk kebutuhan material Gereja sesuai dengan kemampuannya Bdk. CIC, can. 222. 2177, 1387, 1438, 1351

Kenapa Lima Perintah Gereja ini harus diberikan dan dijalankan?

Sama halnya dengan 10 Perintah Allah diberikan kepada umat-Nya sebagai amanat kasih dari Gunung Sinai, yang bilamana dihidupi dengan sungguh-sungguh dapat menghindarkan kita dari kebinasaan kekal, demikian pula 5 Perintah Gereja diberikan kepada putra-putri Gereja Katolik sebagai sarana bagi kita untuk senantiasa memelihara hidup dalam kasih Allah. Tujuan dari 5 Perintah Gereja itu adalah sebagai berikut:

  • Untuk menentukan dan menjelaskan ajaran-ajaran Iman.

  • Untuk menjalankan Hukum Ilahi perihal peribadatan dalam hari dan waktu yang ditetapkan.

  • Untuk menentukan Batasan hukum moral, terutama disaat hati nurani sulit memutuskan.

  • Untuk melestarikan dan menjaga pelaksanaan hukum yang lebih tinggi, diantaranya 10 Perintah Allah.

  • Untuk menentukan ‘batas minimum’ yang mutlak perlu dilakukan oleh umat beriman dalam perjuangannya melaksanakan norma tertinggi dalam hidup Kristiani, yaitu kehendak Allah.

Singkatnya, 5 Perintah Gereja dengan persyaratan minimalnya mengingatkan bahwa seseorang tidak dapat menjadi Katolik tanpa melakukan usaha moral, tanpa mengambil bagian secara pribadi dalam hidup sakramental Gereja, dan tanpa persekutuan dengan Gereja dalam semangat solidaritas. Santo Yakobus Rasul menekankan pentingnya kenyataan ini, bahwa kendati ‘Ada orang berkata: ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia: ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku’ (Yak.2:18).

Lima Perintah Gereja bukanlah sekadar anjuran, melainkan kewajiban bagi setiap orang Katolik. Pernyataan “Aku tahu Imanku” atau “Saya adalah seorang Katolik” hanya akan menemukan makna jika sungguh dibuktikan dalam hidup dan karya. Kalau kamu memang mengenal imanmu dan dengan bangga mengakui dirimu seorang Katolik, maka “Buktikanlah!” Jangan OMDO (Omong Doang).”Keselarasan antara kehidupan seseorang dengan kesaksian hidupnya merupakan syarat pertama untuk mewartakan Injil. Tidak mengamalkan apa yang diajarkan merupakan→KEMUNAFIKAN, pengkhianatan dari tugas orang Kristen sebagai ‘garam dunia’ dan ‘terang dunia’ “(YouCat 346). Maka, manakala seorang anggota KTM menyanyikan Theme Song Komunitas, ingatlah selalu akan kebenaran ini.

Sharing:

  1. Apakah kita sudah melakukan 5 perintah gereja dengan sungguh–sungguh dan komitmen ?
  2. Hambatan apa yang engkau rasakan saat melaksanakan ke lima perintah tersebut ?
  3. Bagaimanakah caramu untuk menanggulangi hambatan tersebut ?

Rhema ayat minggu ini

Matius 16 : 18–19 “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Pedoman hidup KTM 33 :

Bila berdoa masuklah ke dalam kamarmu, sesuai petunjuk Tuhan Yesus sendiri (Mat.6:6). Matikan semua televisi, radio, tape, internet, dan HPmu. Sedapat mungkin ambillah waktu yang sama setiap hari, entah pagi hari, entah sore atau malam hari sesuai sikonmu sendiri, supaya tidak lupa. Jadikan kebiasaan supaya sedapat mungkin berdoa pada waktu dan jam yang sama setiap hari.

admin