Pada Yubelium Vatikan, Enrico yang ditemani oleh putra ketiganya yang bernama Francesco memberikan kesaksian hidupnya dan keluarganya. Chiara Corbella dan Enrico bertemu di Medjugorie. Pada awal pernikahannya, pasangan ini dikaruniai 2 anak yang meninggal tidak lama setelah lahir ke dunia, yaitu Maria dan Davide. “Kami selalu merasa dicintai. Tuhan mengirimkan dua orang anak spesial untuk kami temani di gerbang menuju surga. Kami melihat mereka tertidur dan menyerahkan mereka dari pelukan kami kepada Bapa. Kami berpikir, dimana nasib malang kami? Mereka telah lahir”, kisah Enrico.

Tidak lama setelah Chiara kemudian mengandung Francesco, Chiara di diagnosis memiliki kanker ganas. Chiara menolak perawatan medis apapun selama kehamilan yang dapat menyelamatkan dirinya, namun membahayakan jiwa bayi dalam kandungannya. Semakin lama, Chiara semakin tidak dapat melihat jelas dan tidak dapat berbicara. Bagi Enrico, saat di mana mereka menghabiskan waktu bersama, menerima sakramen-sakramen, dan berdoa untuk kesembuhan fisik adalah saat “paling indah” dalam hidup mereka berdua; meskipun hal tersebut tidak pernah terkabul. Namun hal yang lebih penting mereka sadari adalah untuk meminta keselamatan. Ketika menulis surat untuk Francesco, anak yang sedang dalam kandungan, Chiara teringat kutipan dari Injil: “kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”. Pada saat itu, Enrico sulit menerima kutipan dari Injil tersebut karena melihat betapa hebatnya penderitaan sakit yang dialami oleh istrinya.

“Pada suatu pagi sekitar jam 7, pagi terakhirnya sebelum ke Tabernakel, saya bertanya kepadanya: ‘Chiara, apakah salib benar-benar manis seperti yang dikatakan Tuhan?’ Ia tersenyum kepada saya, dengan suara lemah ia menjawab: ‘Ya, Enrico. Salib sangatlah manis’. Pada saat itu, Enrico menganggap bahwa salib itu manis bagi Chiara, bukan bagi dirinya. Enrico melanjutkan, “Saat itu ia yang sedang sekarat, bukan saya.  Padahal pada saat itu Tuhan memberikan anugerah pada saat yang tepat sehingga saya dapat melihatnya meninggal dengan dalam keadaan bahagia. Chiara mengetahui ke mana tujuan berikutnya.”

Pada akhir kesaksiannya, Enrico mengatakan, “Para Saudara dan Saudari, kita pun dapat meninggal dalam keadaan bahagia apabila kita menyediakan ruang untuk kasih karuniaNya. Tuhan bukanlah seorang pembohong. Salib ini sangat manis. Percayalah bahwa ini sangat berharga”.

 Salib adalah cinta

Dalam Matius tertulis bahwa pengikut Kristus harus berani untuk menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Salib seperti apakah yang harus kita pikul? Apakah Salib hanya sebagai sebuah palang besar yang terbuat dari kayu? Dalam kesaksian yang diberikan Enrico, mengapa ia masih dapat mengatakan bahwa pengalaman hidupnya (yang mungkin penderitaan di mata manusia) adalah Salib yang berharga sekalipun ia kehilangan dua orang anak dan seorang istrinya? Mengapa Chiara masih mampu mengatakan bahwa Salib itu sangat manis sekalipun saat ajal datang menjemputnya?

Bagi Santa Theresia Benedikta dari Salib (Edith Stein), seorang kudus Karmel, Salib berarti kesetiaan dalam iman, harapan, dan cinta. Salib tak lain adalah cinta. Dengan rela menjadi Anak Manusia, Yesus ingin memiliki perjalanan dengan manusia (solider) sebagai suatu teladan cinta yang luar biasa dengan penyerahan diri secara total pada kehendak Bapa yang tak lain adalah ‘salib’ itu. Sikap Chiara dan Enrico yang menerima setiap beban dan penderitaan yang ada dalam kehidupan mereka dengan hati rela dan penuh syukur, tanpa mengeluh dan memberontak juga merupakan wujud dari kesediaan mereka sebagai pengikut Kristus untuk memikul salib sebagai tanda cinta kepada Kristus.

Cinta penuh penyerahan diri

Dalam hidup Edith Stein, ia menyadari bahwa salib telah memberikan kepadanya pengertian tentang penyerahan diri kepada Tuhan, pengertian akan kekuatan doa yang penuh dengan sikap penyerahan ini. Saat salib itu datang, Edith Stein melihatnya sebagai suatu kesempatan yang sangat baik untuk menyatakan rasa cinta dan penyerahan dirinya kepada Tuhan.

Salib sebagai wujud kesetiaan

Kesetiaan Yesus kepada kehendak Bapa begitu nyata terlihat saat Ia berada dalam kegelapan Getsemani. Sebagai seorang manusia Yesus juga mengalami ketakutan dan kecemasan akan sesuatu hal buruk yang akan terjadi bahkan hingga berkeringat darah. Sebagai pengikut Kristus, kita pun ditantang untuk dapat menunjukkan kesetiaan itu. Apakah kita masih tetap mau mengikuti Dia jika mulai banyak penderitaan dan masalah-masalah datang dalam kehidupan kita? Bisakah kita mengucapkan doa seperti yang diungkapkan oleh Yesus di Taman Getsemani itu?

Pengetahuan Salib

“Kreuzeswissenschaft”, yang artinya “Pengetahuan Salib” merupakan karya Edith Stein yang terakhir sebagai seorang teolog dan mistikus Karmel. Melalui karyanya ini ia mencoba merefleksikan tulisan-tulisan St. Yohanes Salib.

Edith Stein dan Yohanes Salib memahami bahwa buah salib adalah satu dan sama, yaitu kebangkitan, persatuan dengan Allah dan pengilahian. Dengan kebangkitan-Nya Kristus telah membebaskan jalan bagi kita mempelai-Nya untuk menuju kepada Bapa. Mempelai ini adalah setiap anggota Gereja. Jalan salib bukanlah untuk dihindari, namun jalan salib ini adalah sebuah jalan yang harus kita lalui untuk sampai kepada kebangkitan dan kehidupan kekal itu.

Maka bersama dengan Edith Stein yang telah terlebih dahulu menikmati kebahagiaan itu, dalam masa yang penuh rahmat ini kita berusaha untuk tidak menghindari salib namun mau mendekati salib dan menyatu dengan salib itu.

Sharing

  1. Dalam 3 bulan ini atau lebih, apakah ada pengalaman penderitaan yang menggambarkan arti Salib untuk Anda? Apa yang Anda rasakan ketika harus memikul Salib itu? Sudahkah Anda merasakan Buah dari Salib itu?
  2. Bagaimana pengalaman Anda saat ditantang untuk dapat menyerahkan diri secara total? Kesulitan-kesulitan apa yang pernah Anda rasakan dalam penyerahan diri itu?

 

Sumber:

  1. http://www.holytrinitycarmel.com/salib-tanda-cinta-dan-kesetiaan/
  2. http://www.catholicnewsagency.com/news/the-sacrifice-of-chiara-corbella-yes-enrico-the-cross-is-very-sweet-86661/

admin