Masih ingat lagu pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru…. Tuhan menciptakan kita unik, khas dan berbeda satu sama lain. Tidak ada satupun manusia ciptaan Tuhan mempunyai karakter dan sifat sama meskipun saudara/i kandung bahkan anak kembar sekalipun mempunyai sifat dan karakter yang berbeda satu sama lain. Karena perbedaan itu tidak jarang menimbulkan konflik atau perselisihan.

Renungan

Perbedaan itu indah. Coba bayangkan, jika di suatu taman, semua bunga warnanya cuma putih saja. Tentu kurang indah jika bandingkan suatu taman yang terdapat bermacam-macam warna bunganya ada putih, kuning, merah, ungu, merah jambu/pink dst.

Begitu juga di dalam komunitas, jika kita menjumpai berbagai teman dengan latar belakang yang berbeda, jenis kelamin yang berbeda, umur berbeda, status single atau menikah, tingkat pendidikan berbeda, sudut pandang berbeda sehingga tidak jarang mengakibatkan konflik/perselisihan.

Murid-murid Yesus pun pernah berselisih yaitu Paulus dan Bernabas. “Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan Firman Tuhan. Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas,” Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, dimana kita telah memberitakan Firman Tuhan untuk melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus. Tetapi Paulus dengan tegas berkata bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Tetapi Paulus memilih Silas dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan. Berangkalah ia mengeliling Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat disitu.”(Kis 15:35-41)

Lalu bagaimana cara mengatasi perbedaan tersebut:

  1. Saling membuka diri serta mau menerima saran, kritikan atau pendapat dari orang lain. Mau melihat sudut pandang orang lan dengan menempatkan diri kita di posisi lawan bicara kita.

  2. Berpikir positif dan menyadari bahwa setiap individu itu unik, khas dan berbeda satu sama lain ciptaan Tuhan.

  3. Menyadari perbedaan bukanlah suatu hambatan atau ancaman akan tetapi sebagai wadah untuk saling melayani dan melengkapi satu sama lain. Seperti Paulus dan Silas yang melayani jemaat di Siria dan Kilikia sedangkan Barnabas dan Markus melayani jemaat di Siprus. Pelayanan dan pemberitaan Injil semakin meluas dan tersebar kemana-mana.

  4. Refleksi diri dan jangan cepat menghakimi orang lain. Karena kita tidak tahu secara tepat dan benar situasi yang ada.

 

Sharing

Marilah kita ingat kembali suatu situasi dimana kita mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain.

  1. Apakah aku mau berpikir positif, rendah hati serta mau menerima saran atau pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatku?
  2. Jika terjadi konflik/perselisihan bagaimana aku mengatasinya?
  3. Bagaimana usahaku memperbaiki hubungan yang kurang harmonis itu?

admin