Suatu hari di sebuah kampus, terjadi percakapan berikut ini:

A:  Eh, kalian tahu kan kalau papanya X sedang dirawat di rumah sakit? Katanya kemarin sudah terima Sakramen Pengurapan Orang Sakit lho… kasihan ya…
B:  Oh ya? Wah, kasihan ya… nanti pulang kuliah, kita jenguk yuk ke rumah sakit…

Menurut anda, apakah ada hal yang ‘aneh’ dari percakapan tersebut? Mengapa seseorang yang menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit (SPOS) seperti ‘perlu’ dikasihani? Ada beberapa kalangan yang menganggap bila seseorang sudah menerima Sakramen tersebut, maka sudah berada dalam kondisi yang sangat kritis dan mendekati ajal. Atau bahkan, mungkin ada yang berpikir bahwa SPOS itu menghantarkan si sakit agar ‘segera’ menemukan ajalnya? Sebenarnya, bagaimana ajaran Gereja tentang Sakramen ini?

 Pra Konsili Vatikan II

Perkembangan perayaan pengurapan orang sakit dari Gereja pada abad-abad pertama kurang begitu jelas. Ajaran mengenai SPOS ini mulai cukup jelas sejak jaman Bapa-Bapa Gereja (Patristik). Pada masa ini, ciri dari SPOS adalah:

  1. Dapat diterima oleh semua orang sakit, entah sakit ringan maupun berat, baik psikis maupun fisik. Tujuan SPOS adalah agar orang sakit mendaptakan pertolongan dan peringanan dari deritanya. Rahmat pengampunan dosa tidak disebut.

  2. Pelayan sakramen adalah uskup, imam, orang awam, dan bahkan si orang sakit itu sendiri. Minyak untuk pengurapan orang sakit diberkati oleh uskup.

Perkembangan teologi SPOS berkembang lagi pada abad pertengahan (skolastik). Pada masa ini, terjadi perubahan istilah dari “pengurapan orang sakit” menjadi “perminyakan terakhir”. Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa sakramen ini hanya diberikan kepada orang yang menjelang ajal kematian saja. Kemungkinan penyebab pergeseran makna ini adalah:

  1. Tata liturgi sakramen ini dihubungkan dengan pegakuan dosa dan dengan komuni sebagai bekal bagi perjalanan ke hidup abadi. Karena dihubungkan dengan pengakuan dosa, maka orang sakit tersebut masih dibebani dengan praktek penitensi dalam hidup, misalnya tidak boleh makan daging lagi, dll. Akibatnya penerimaan sakramen ini menjadi terasa berat.

  2. Pada abad IX, muncul larangan bagi awam untuk menjadi pelayan bagi sakramen ini. Pemberkatan minyak tetap dilakukan oleh uskup.

Pasca Konsili Vatikan II hingga saat ini

 Setelah melalui proses studi teologi dan liturgi yang intensif, Konsili Vatikan II (KV II) meresmikan makna teologis baru untuk SPOS, yaitu:

“’Pengurapan terakhir’ atau lebih tepat lagi disebut ‘pengurapan orang sakit’, bukanlah sakramen bagi mereka yang berada di ambang kematian saja. Maka, saat yang baik untuk menerimanya pasti sudah tiba, bila orang beriman mulai ada dalam bahaya maut karena menderita sakit atau sudah lanjut usia” (Sacrosanctum Concillium 73)

Dengan demikian, KV II memandang istilah “Sakramen Pengurapan Orang Sakit” sebagai sebutan yang lebih tepat. Dalam dokumen Lumen Gentium no 11, KV II membahas mengenai:

“Melalui perminyakan suci orang sakit dan doa para imam, seluruh Gereja menyerahkan mereka yang sakit kepada Tuhan yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka (lih Yak 5:14-16); bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus (lih Rm 8:17; Kol 1:24; 2Tim 2:11-12; 1Ptr 4:13), dan dengan demikian memberi sumbangan bagi kesejahteraah umat Allah.”

Pada tahun 1972, Kongregasi Ibadat menyeluarkan pedoman liturgi orang sakit yang menetapkan beberapa hal:

  1. Pengurapan minyak hanya dilakukan pada dahi dan kedua tangan

  2. Pelayan sakramen adalah imam, dan penerima sakramen adalah orang yang sakit berat (entah karena usia lanjut atau karena penyakit), atau orang yang akan menjalani operasi besar, atau orang tua yang sudah surut kekuatannya meski tidak sakit. Sakramen ini pun boleh diulangi, kalau si sakit telah sembuh dan kemudian sakit lagi, atau kalau dalam penyakit yang sama timbul krisis yang baru.

  3. Minyak yang digunakan adalah minyak yang diberkati oleh uskup. Namun dalam keadaan darurat, minyak (harus nabati) dapat diberkati oleh imam sendiri.

Dari pemaparan tersebut, mungkin kita sudah dapat melihat bahwa hingga saat ini, masih terdapat beberapa orang yang berpegang pada pemahaman lama untuk SPOS. Bahkan terkadang ada orang sakit yang menolak menerima sakramen tersebut karena takut mempercepat kematiannya. Mereka perlu dibawa kepada kesadaran bahwa sakramen ini pertama-tama untuk membantu dan memberikan kekuatan iman pada umat beriman.

Hendaknya, umat beriman ikut menghadiri perayaan sakramen ini, agar perayaan tidak hanya diikuti oleh imam dan si sakit. Kehadiran orang lain di sekitar si sakit (paling tidak pada diri imam) dapat memberikan kesadaran kepada si sakit bahwa ia dicintai, disertai oleh Allah sendiri. Selain itu, perayaan tersebut membawa makna bahwa Gereja tidak meninggalkan orang-orang sakit.

Rumusan yang diucapkan oleh imam saat memberikan SPOS adalah “Semoga karena pengurapan suci ini Allah yang Maharahim menolong Saudara dengan rahmat Roh Kudus. Semoga Tuhan membebaskan Saudara dari dosa dan membangunkan Saudara di dalam rahmat-Nya.” (KGK 1513).

Penyembuhan Orang Sakit dalam Kitab Suci

 SPOS biasanya dikaitkan dengan tulisan Santo Yakobus yang dipandang sebagai teks klasik untuk pengurapan orang sakit:

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.” (Yak 5:14-15).

Belas kasih Kristus kepada mereka yang sakit pun dapat dilihat ketika Ia menyamakan diri-Nya dengan mereka: “Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku” (Mat 25:36). Dalam Alkitab pun kita tentu melihat bahwa Yesus menyembuhkan banyak orang, membiarkan diri-Nya didatangi oleh sakit, membiarkan diri-Nya dijamah. Yesus pun menggunakan tanda-tanda untuk menyembuhkan., misalnya penumpangan tangan, adonan dari tanah, dll. Lebih dari itu, Yesus pun menjadikan sengsara para penderita sebagai sengsara-Nya sendiri “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat 8:17) (bdk KGK 1504, 1504)

Dalam perjanjian lama, seringkali kita melihat bahwa penyakit adalah akibat dari dosa. Maka, secara lebih luas, penyembuhan-Nya adalah tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah, penyembuhan dalam arti yang lebih luas dapat diartikan sebagai kemenangan atas dosa dan kematian melalui Paska-Nya. Di atas kayu salib, Yesus menghapus dosa dunia (bdk Yoh 1:29) yang adalah penyebab penyakit. Oleh sengsara dan wafat-Nya, Yesus memberi makna baru bagi penderitaan: Ia dapat membuat kita menyerupai-Nya dan dapat menyatukan kita dengan sengsara-Nya yang menyelamatkan. (Bdk KGK 1505). Sebagaimana dikatakan dalam Lumen Gentium no 11, dengan menyerahkan penderitaannya kepada Tuhan, si sakit dapat menyadari bahwa penderitaannya mempunyai arti dan tidak sia-sia.

Renungan

 SPOS yang pada umumnya dirayakan bukan dengan suasana sukacita ternyata memiliki makna yang demikian luas. Yesus hadir bagi orang sakit, Gereja hadir bagi orang sakit, dan bahkan mengingatkan bahwa ada kesempatan untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam penderitaan-Nya yang menyelamatkan.

Terkadang ketika berada dalam keadaan sakit atau tak berdaya, kita cenderung mudah mengeluh, sedih, merasa tertekan, putus asa, atau bahkan marah. Namun, sebagai umat beriman, tentunya penderitaan yang kita alami, bukanlah tanpa sebab. Ada rahmat dalam penderitaan tersebut. Semoga melalui renungan/pengajaran hari ini, kita kembali diingatkan bahwa segala penderitaan yang mungkin dialami dapat diubah menjadi saat-saat yang penuh rahmat jika kita menyadari bahwa Yesus turut berkarya dalam segala situasi.

Sharing

  1. Bagi yang pernah menerima/menghadiri perayaan SPOS: bagaimana pengalaman Anda ketika berlangsungnya SPOS tersebut?
  2. Bagi yang belum pernah menerima/menghadiri SPOS: Bagaimana selama ini Anda memaknai penderitaan atau sakit yang pernah Anda rasakan? Apakah Anda menyatukannya dengan penderitaan Kristus dan dapat mensyukurinya?

 

Referensi:

  1. Katekismus Gereja Katolik
  2. Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, E. Martasudjita Pr. Kanisius. 2003.

admin