MENJALIN KOMUNIKASI DALAM KELUARGA

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia
(Ef. 4:29)

I. Pendahuluan

Suatu hari, dalam kamar pengakuan dosa, seorang gadis berkata, “Pastor, seringkali saya bersikap kurang hormat kepada orang tua saya. Karena lelah dengan kuliah dan tugas-tugas, jika orang tua saya bertanya suatu hal kepada saya, seringkali saya menjawab dengan singkat saja, dan bahkan kadang dengan ketus.” Lalu, sebelum memberikan absolusi, sang Bapa Pengakuan bertanya, “Bagaimana perasaanmu jika kamu bertanya kepada seseorang, lalu ia menjawab dengan singkat dan ketus?” Lalu gadis itu tertunduk sambil menjawab, “Pastinya saya merasa tidak senang, Pastor..” Pastor itu pun tersenyum, melihat bahwa sang gadis telah menyadari dan menyesali perbuatannya.

II. Refleksi

Manusia seringkali merasa lebih nyaman jika menjalin relasi dengan rekan-rekan sebaya karena merasa menggunakan gaya basa yang cenderung sama, memiliki topik pembicaraan yang sezaman, dll. Dengan usia yang sebaya juga, pada umumnya manusia cenderung memiliki sudut pandang yang setara. Namun sayangnya, dalam keluarga yang terdiri dari bebagai macam usia, seringkali terjadi pertengkaran yang disebabkan karena komunikasi yang kurang baik. Pada bagian ini, akan dicontohkan masalah komunikasi antar anggota keluarga, yaitu antara anak dan orangtua, serta suami dan istri. Namun kedua contoh ini tidak menutup kemungkinan adanya masalah komunikasi antara anggota keluarga yang lainnya, misalnya dengan mertua, saudara ipar, sepupu, dan lain-lain.

A. Komunikasi anak-orang tua
Komunikasi antara anak dan orang tua tak jarang mengalami kendala. Anak-anak, terutama remaja, seringkali mengalami perubahan kondisi psikis, memasuki masa pencarian jati diri, merasa telah menjadi orang yang dewasa dan tidak perlu lagi mendengarkan nasihat orang tua. Sebagai anak, seringkali menganggap pikiran dan pendapat orang tuanya adalah pendapat yang kuno, tidak gaul, tidak bermutu. Orang tua juga terkadang merasa anaknya menjadi sosok yang jauh, sosok yang tidak lagi bisa didekati walau sudah mencoba berbagai cara komunikasi, baik melalui kata-kata maupun tindakan.

B. Komunikasi suami-istri
Pasangan suami-istri adalah partner dalam menjalani hidup sampai maut memisahkan. Namun terkadang, ada hal-hal yang tak disadari secara perlahan menggerogoti keharmonisan suami istri. Sebagai contoh, suami yang bekerja, enggan menceritakan permasalahan di pekerjaannya karena tidak mau membebani pikiran istrinya. Demikian juga dengan istri, menahan untuk menceritakan permasalahan dalam mendidik anak-anak karena tidak ingin menambah beban pikiran suami. Hal kecil tersebut dapat membuat kedua pihak lama-kelamaan menjadi kelelahan, menjadi merasa berjarak, merasa pasangannya tidak peduli dengan masalah yang sedang dihadapinya. Sebagai partner, sebaiknya setiap masalah dikomunikasikan secara terbuka dan bijaksana.

Cara Membangun Komunikasi dalam Keluarga

Karena merasa sudah sangat terbiasa dan akrab, seringkali kata-kata “tolong, maaf, dan terima kasih” sudah tidak mewarnai percakapan antar anggota keluarga. Ketiga kata tersebut sebenarnya dapat dikatakan sebagai kata-kata yang seharusnya terutama diucapkan dalam keluarga, karena dalam keluargalah interaksi mendalam antar pribadi terjalin.

Misalnya, ketika seorang ibu menjemput anaknya ke sekolah, bukankan sangat indah jika sesampainya di rumah sang anak mengucapkan terima kasih kepada ibunya? Bukankan indah juga jika sebelum memulai makan, semua anggota keluarga berdoa bersama dan mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang mempersiapkan makanan tersebut? Jika seorang ayah meminta anaknya mengambilkan suatu benda, bukankan menyenangkan jika diawali dengan kata tolong dan diakhiri dengan terima kasih.

Kata maaf pun menjadi kata yang tidak boleh dihindari dalam keluarga. Mengakui kesalahan, baik kecil maupun besar kepada orang yang terdekat terkadang memang tidaklah mudah. Rasa gengsi terkadang menguasai perasaan seseorang. Seorang suami merasa gengsi jika harus meminta maaf kepada istrinya. Orang tua merasa dirinya direndahkan jika harus meminta maaf kepada anak-anaknya. Anak merasa takut untuk mengakui kesalahan yang diperbuatnya kepada kedua orang tuanya. Namun di balik semua itu, kata maaf seringkali dengan ajaib dapat mencairkan hati yang beku karena luka yang telah lama dipendam.

Komunikasi tidak harus selalu dilakukan dengan kata-kata, melainkan bisa juga melalui tindakan. Tidakan bisa berupa tindakan yang cukup besar, misalnya memberikan hadiah kepada anggota keluarga yang merayakan ulang tahun. Contoh tindakan lain adalah tindakan sederhana, misalnya dengan tersenyum, melakukan pekerjaan rumah tangga bersama-sama, makan bersama.

Bersama-sama Menjalin Komunikasi dengan Tuhan.

Keluarga Katolik seharusnya selalu didasari oleh iman, harapan, dan kasih. Alangkah indahnya jika dalam keluarga, selalu ada waktu untuk doa bersama. Dalam doa inilah setiap bentuk komunikasi yang kita lakukan, baik secara verbal maupun tindakan, kita gabungkan dan persembahkan kepada Tuhan.

Bukankah indah jika seluruh keluarga berkumpul dalam doa, untuk mendoakan kelancaran pekerjaan orang tua, kelancaran ujian anak-anak, mendoakan sanak saudara yang sakit. Dalam doa inilah keluarga selalu disadarkan bahwa hidupnya selalu berasal dan berpusat dari Kristus, karena keluarga adalah Gereja kecil.

IV. Pengendapan

Saudara/i terkasih, dalam pertemuan sel ini, berdoalah agar Kristus selalu merajai keluarga kita masing-masing. Ingatlah sebentar setiap anggota keluarga kita. Ingatlah mereka yang saat ini atau pernah berkonflik dengan kita. Mohonlah rahmat Allah, agar konflik yang terjadi dapat diatasi melalui komunikasi yang baik. Jika komunikasi itu belum terbangun, mohonlah rahmat agar kita berani memulai komunikasi tersebut.

Saat ini, renungkanlah juga, apakah ada cara yang tepat untuk membangun komunikasi yang lebih baik lagi dalam keluarga? Bagaimana langkah kongkritnya? Sebagai contoh, misalnya ada anggota keluarga yang kecanduan gadget, maka dapat membuat komitmen bahwa sepanjang acara makan bersama di rumah, tidak ada satu orang pun yang diperkenankan memegang gadgetnya.

Sharing

  1. Bagaimana kelancaran komunikasi dalam keluarga Anda?
  2. Apakah ada satu sosok (atau boleh lebih) anggota keluarga yang sampai saat ini Anda rasa sulit untuk berkomunikasi? Jika ada, siapa dan kendala apa yang Anda hadapi.
  3. Siapakah Anggota keluarga yang Anda rasa dapat menjadi teman berbicara yang terbaik? Mengapa demikian?
  4. Jika Anda merasa masih ada masalah dalam komunikasi keluarga Anda, langkah kongkrit apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaikinya?

Rhema ayat minggu ini

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia (Ef 4:29)

Pedoman hidup KTM 13 :

Kita semua dipanggil menjadi kudus, termasuk engkau sendiri. Panggilan menjadi kudus ini sudah menggema sejak Perjanjian Lama: “Kuduslah kamu bagiKu, sebab Aku ini, Tuhan, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milikKu.” (Im. 20:26) Dalam Perjanjian Baru pun seluruh pengajaran Tuhan Yesus mengarah kepada kekudusan hidup dan kesempurnaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mt. 5:48) St. Petrus pun mengajak umat supaya menjadi kudus, karena Allah adalah kudus: “Tetapi hendaklah kamu kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.” (1Ptr. 1:15) Sebab sesungguhnya “kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri…” (1Ptr.2:9) Himbauan yang sama dapat kita jumpai dalam surat-surat Santo Paulus yang berkalikali menekankan bahwa kita harus menjadi kudus, supaya kita memersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus kepada Allah (Rm.12:1), supaya kita menjadi kudus dan tak bercacat dihadapan Allah (Ef.1:4) dan kita menjadi bait-Nya yang kudus (Ef. 2:21).

admin