MENGEMBALIKAN KEPERCAYAAN TERHADAP ORANG YANG PERNAH MENYAKITI KITA

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”
(1 Yoh 4 : 16)

I. Pendahuluan

Salah satu pengalaman yang paling menyakitkan dalam hidup ini ialah mengetahui bahwa orang yang kita kasihi/percayai telah mengkhianati kita. Dalam relasi kita dengan sesama sehari-hari, kita pasti pernah mengalami kekecewaan, baik dengan pasangan, orangtua, anak-anak, rekan kerja ataupun sahabat. Hal ini tentu membuat kita merasa sakit hati, marah, dan bingung. Tampaknya mustahil untuk pulih dari peristiwa yang menyakitkan itu.

Ada 2 macam kepercayaan (trust) :

  1. Functional Trust
    Dalam functional trust, ada kesamaan antara perkataan dengan perbuatan sehingga kita tidak perlu memonitor orang yang kita percayai dalam melakukan janjinya karena kita percaya pasti akan dilakukan.
  2. Relational Trust
    Sedangkan relational trust, jauh lebih dalam, karena menyangkut perasaan dan hal-hal sensitif sehingga perlu lebih berhati-hati dalam menanganinya. Dan karena relasinya dalam maka jika kepercayaan itu disalahgunakan, rasa sakit hatipun menjadi lebih serius.

II. Mengetahui apakah diri kita sendiri siap

Kita perlu mengetahui kapan kita siap untuk mengampuni dan berdamai dengan kejadian atau orang yang telah mengkhianati kepercayaan kita, berikut langkah-langkahnya :

  1. Mengakui rasa sakit itu dan menerima dukungan (support)
    Kita tidak perlu menceritakan apa yang telah terjadi secara detail, tetapi jika relasi itu penting bagi kita, sebaiknya kita perlu bercerita tentang kekecewaan itu dengan orang-orang terdekat yang dapat kita percayai atau dengan pembimbing rohani (konselor). Mereka dapat melihat hal-hal secara obyektif yang mungkin luput dari pandangan kita karena pengaruh emosi kita yang telah disakiti. Hal ini akan sangat membantu karena kita adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa pergaulan dengan sesama, dan luka yang timbul itu tidak boleh dibiarkan, melainkan perlu disembuhkan.
  2. Menerima pilihan yang telah dibuat
    Tak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi. Namun kita dapat mengendalikan saat ini dan saat yang akan datang. Refleksi untuk relasi yang telah rusak diperlukan sebagai pembelajaran agar kita tidak jatuh dalam kesalahan yang sama. Kita perlu jujur dan seobyektif mungkin pada diri kita sendiri. Karena ketika kita sangat mengingini sesuatu, kita cenderung untuk mengabaikan realita yang ada. Kita dapat meminta pendapat obyektif dari orang lain sehingga kita makin bebas dari pola yang membuat kita terjebak dalam kekecewaan dan dapat menerima pilihan yang pernah kita buat.
  3. Belajar untuk melepaskan dan mengampuni
    Melepaskan disini sering diartikan sebagai hal-hal buruk menyangkut kekecewaan kita saja, tetapi sesungguhnya hal ini juga termasuk hal-hal baik (kenangan, sikap, ataupun harapan tentang apa yang kita inginkan untuk terjadi). Kita perlu waktu untuk menikmati masa-masa ini seperti dalam Pengkotbah 7:3 yang mengatakan: “Bersedih lebih baik daripada tertawa, karena muka muram membuat hati lega”. Setelah itu kita dapat lebih mantap dalam mengambil keputusan untuk mengampuni yang merupakan langkah pertama dari kesembuhan kita sendiri. Kita tidak mampu merasakan damai dan sukacita kalau diliputi dendam ataupun harapan tentang apa yang kita inginkan untuk terjadi termasuk harapan agar orang lain berubah. Putuskan sekarang juga bahwa kita akan mulai membuka lembaran baru dan akan memperbaiki serta meningkatkan relasi kita dengan belajar dari pengalaman tersebut. Pilihlah untuk mengabaikan pikiran negatif tentang mereka, sebaliknya berpikirlah secara positif. Walaupun ini proses yang sangat sulit, sadarilah bahwa pilihan ini yang terbaik.

III. Mengetahui apakah orang lain siap

Setelah kita mengetahui apakah diri kita siap berdamai dengan orang yang telah mengecewakan kita ataupun untuk memulai relasi yang baru, kita juga perlu mengetahui apakah orang lain (baik orang yang pernah mengecewakan kita ataupun orang baru yang kita temui dalam relasi yang baru) ini siap untuk membina/memperbaiki relasi dengan kita. Hal ini penting untuk menghindari kekecewaan karena terlalu besarnya harapan dalam relasi ini. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:

  1. Apakah orang ini peduli dengan pengaruhnya terhadap anda
    Semakin besar kepedulian seseorang akan pengaruh mereka atas kita, semakin besar kita dapat mempercayai orang itu. Akan tetapi, ketika kita menangkap kesan kurang peduli bukan berarti kita langsung menyerah. Terkadang orang hanya perlu sedikit diarahkan untuk mengerti. Dan kita perlu menyampaikan hal itu kepadanya, jika ada respon dan perubahan yang baik, maka akan lebih aman untuk melanjutkannya.
  2. Apakah orang ini punya lingkungan pergaulan yang sehat
    Dalam berelasi, kita tidak harus memiliki teman yang sempurna (perfect) , tetapi kita perlu berelasi dengan orang-orang yang mempunyai dampak yang baik bagi kita untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik [1 Kor 15: 33].
  3. Apakah orang ini dapat diajak bekerjasama dengan baik
    Dalam relasi yang sehat, diperlukan adanya timbal balik. Oleh karena itu, diperlukan usaha dari kedua belah pihak. Khusus untuk relasi pada masa pacaran ataupun perkawinan, komunikasi yang mendalam untuk mengerti satu sama lain sangatlah diperlukan untuk membuat relasi dapat terus bertahan bahkan menjadi lebih baik.

  4. Apakah masalah yang ada dapat diatasi dengan baik
    Point ini penting saat kita akan memberi kesempatan kedua dalam sebuah relasi. Adanya perubahan yang otentik ditandai dengan adanya pengakuan telah berbuat salah, rasa memiliki dalam relasi tanpa adanya sikap menyalahkan ataupun mengelak, penyesalan yang sungguh-sungguh, dan perubahan sikap.

IV. Melangkah untuk relasi yang baru

Setelah membahas kesiapan antara dua belah pihak, untuk melangkah dalam relasi yang baru, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti di bawah ini. (Note: Relasi baru di sini mencakup relasi lama yang sudah diperbaiki atau relasi baru dengan orang yang berbeda).

  1. Komunikasi
    Setelah kedua belah pihak siap, komunikasi dari hati ke hati perlu dilakukan. Kedua belah pihak perlu dengan jujur dan terbuka menyatakan apa yang dirasakan / menjadi concern dari masing-masing pihak. Sedangkan untuk sebuah relasi yang baru, kesepakatan awal sebelum memulai relasi perlu diterapkan untuk menjaga relasi yang sehat. Kesepakatan dasar ini menyangkut hal berikut:
    – Berbicara mengenai “kita” perlu dijadikan kebiasaan untuk berdiskusi tentang bagaimana relasi berjalan (sebaiknya dilakukan secara teratur sebagai evaluasi dan pada akhirnya dapat menjadi sebuah kebiasaan).
    – Keterbukaan dan Kejujuran
    – Kebebasan untuk bertanya jika ada hal yang memerlukan klarifikasi
  2. Berani mengambil resiko
    Resiko di sini tidak sama dengan penyembuhan tetapi bertujuan untuk membuat relasi menjadi lebih erat. Hal ini dimulai dengan lebih fokus pada “saat ini” daripada masa lalu, dan didukung dengan keterbukaan dalam menyampaikan hal yang dirasakan, misalnya: saat merasakan tidak didengarkan / dihakimi oleh orang lain, kita berani menyata kan hal itu kepada orang itu dengan cara yang baik.
  3. Mengatasi penyebab rusaknya relasi
    Ada beberapa penyebab rusaknya relasi seperti miskomunikasi, spontanitas dari lawan bicara kita serta perbedaan karakter. Misalnya: Orang yang extrovert (terbuka) lebih suka menyatakan semua hal yang mengganggunya secara spontan karena dapat meringankanbebannya, tetapi sebaliknya orang yang introvert (tertutup) lebih suka menyimpan hal yang mengganggunya dalam hati atau hanya dengan orang terdekatnya saja.
  4. Seberapa jauh kita dapat melangkah dalam relasi tersebut
    Semua orang pasti pernah mengalami kekecewaan atau ketidaknyamanan dalam relasi. Secara manusiawi, kita cenderung membuat batasan dan tidak mudah percaya pada orang lain/orang yang pernah menyakiti kita untuk menghindari tersakiti/kecewa lagi. Tetapi kita tidak perlu terus menerus hidup dalam kepahitan, menghindari relasi yang akrab /dekat dengan sesama, bahkan ketakutan untuk membina relasi yang baru. Kita diajak untuk menghadapi kesulitan dalam relasi dan mengatasinya karena hal ini dapat digunakan Tuhan untuk membentuk masing-masing dari kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik (menuju kekudusan) [Efesus 4:16].

Ada beberapa hal yang perlu kita sadari dalam membina relasi dengan sesama:

  • Apa yang mebuat kita merasa bahagia, damai, sukacita, dihargai, marah, sedih, khawatir, merasa bersalah, takut, dll.
  • Apa yang kita hargai dalam sebuah relasi (Contoh: Tuhan, kasih, kejujuran, kebebasan).
  • Karakter, bakat, hobby, cita-cita
  • Latar belakang keluarga, budaya, kehidupan rohani, ataupun masa-masa kehilangan keluarga atau orang yang
  • kita kasihi juga memperngaruhi kita dalam berelasi.

Mengatasi semua yang telah dijabarkan di sini, kita sendiri perlu berkomitmen untuk mau dibentuk untuk menjadi pribadi yang berkenan dihadapan-Nya dari hari ke hari lewat hal-hal kecil dalam keseharian kita [1 Yoh 4: 16].

(Sumber: https://keluarga.com/853/5-cara-untuk-memupuk-kembali-kepercayaan-sesudah-penyelewengan; Townsend, John, “Beyond Boundaries: Learning to trust again in relationships”, Zondervan, 2011)

Pedoman hidup KTM 14 :

Hal itu ditegaskan kembali oleh Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium 40: “Para pengikut Kristus yang dipanggil oleh Allah bukan karena jasa mereka , tetapi menurut rencana dan rahmat-Nya, dan dibenarkan dalam Tuhan Yesus, telah dijadikan anak-anak Allah dalam pembaptisan karena iman dan mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan karenanya sungguh-sungguh dikuduskan. Karena itu mereka harus mengejar kesempurnaan dan menyempurnakan dalam hidup mereka pengudusan yang telah mereka terima dari Allah …. Karena itu jelaslah pula, bahwa semua orang kristen dalam setiap keadaan atau status hidup, dipanggil kepada kepenuhan hidup kristiani dan kepada kesempurnaan kasih”.

Sharing

  1. Setiap kita pasti pernah mengalami kekecewaan, Sharingkanlah pengalaman anda ketika mengalami kekecewaan?
  2. Apa yang anda lakukan untuk mengatasi hal itu?
  3. Apakah anda sudah menemukan kehadiran Tuhan dalam kekecewaan itu untuk membentuk diri anda menjadi lebih baik atau anda merasa Tuhan tidak adil?

admin