MISTERI WAFAT DAN KEBANGKITAN KRISTUS

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah..”(Yoh 12 : 24)

Pengantar

Dalam ajaran Iman Kristiani ditekankan bahwa Yesus wafat dan Dia sungguh bangkit dari antara orang mati. Ajaran iman ini mempunyai makna yang sangat mendalam bagi kita. Karena seandainya Yesus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita. Tidak ada gunanya kita percaya kepada Kristus. Tapi, karena Yesus sungguh bangkit dari antara orang mati, maka iman kita mempunyai dasar yang sangat kuat. Yesus sungguh-sungguh wafat di kayu salib, dimakamkan dan Dia bangkit kembali. Inilah pokok iman yang kita ulang-ulangi setiap kali kita mendoakan kredo atau syahadat para rasul, ketika kita mendaraskan doa rosario, dan latihan-latihan rohani lainnya.

Misteri Paskah: Sengsara dan Kebangkitan Kristus

Dalam Injil ditekankan bahwa Yesus sungguh-sungguh mengalami penderitaan, wafat dan bangkit kembali. Melalui kebenaran iman ini, Tuhan mau menyadarkan kita bahwa hidup kita di dunia ini tidak kekal. Pemazmur mengatakan bahwa umur manusia tujuh puluh tahun dan kalau kuat delapan puluh tahun (bdk. Mzm 90:10). Bahkan ada banyak orang yang tidak mencapai umur 70 tahun. Jadi, kita tidak hidup di dunia untuk selama-lamanya. Pertanyaannya ialah kita akan pergi ke mana setelah kita meninggal? Seandainya hidup kita terbatas pada dunia ini saja, Yesus pasti tidak mau mati pada umur 33 tahun. Namun, Ia rela mati. Walaupun Ia berkuasa untuk membinasakan musuh-musuh-Nya, Ia tidak mau melakukannya. Ia memilih untuk mati di kayu salib. Karena melalui ini dinyatakan bahwa hidup manusia tidak terbatas hanya pada hidup di dunia ini. Kita hidup di dunia hanya sebentar saja walaupun ada orang yang bisa hidup sampai seratus tahun. Hidup di dunia seratus tahun bila dibandingkan dengan keabadian tidak akan ada artinya. Maka, hidup kita di dunia merupakan suatu persiapan kepada hidup yang akan datang yaitu hidup yang lebih baik. Itulah yang menjadi pegangan keyakinan kita. Oleh karena itu, kebahagiaan manusia bukan hanya terdapat di dunia ini. Di dunia ini kita dapat bahagia, bukan dengan memiliki barang-barang dunia sebanyak-banyaknya, juga bukan dengan menikmati segala kesenangan yang disediakan dunia ini, karena semuanya itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang disediakan Tuhan bagi kita (bdk. 1Kor 2:9). Bagi kita yang telah mengalami kasih Allah secara nyata, maka kita juga tahu bahwa segala kenikmatan, kebahagiaan di dunia ini tidak ada artinya. Oleh karena itu, sebagai orang kristen dan pengikut Kristus, kita disadarkan bahwa hidup kita tidak hanya terarah di dalam dunia ini, tetapi hidup kita sesungguhnya terarah kepada dunia yang akan datang. Tetapi di dunia kita harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan perintah-perintah-Nya. Dengan melakukan kehendak dan perintah Tuhan, kita akan berbahagia di dunia ini dan di dunia yang akan datang. Kenyataannya, hidup di dunia ini penuh dengan berbagai kesulitan, tantangan, perjuangan, penderitaan dan pencobaan. Banyak orang menghendaki agar selama dia hidup di dunia ini, dia tidak mau menderita, kemudian dia mau langsung masuk surga. Kemungkinan ini tidak salah, namun kebahagiaan yang kita pikirkan berbeda dengan kebahagiaan yang dikehendaki Allah bagi kita..

Penghayatan Konkret Misteri Paskah dalam Hidup Orang Beriman

Dalam pengalaman hidup para kudus di zaman ini, ada orang-orang kudus tertentu yang mengalami pencobaan yang amat besar. Misalnya, dalam hidup Santo Piodari Pietrelcina yang dikenal dengan nama Padre Pio. Dia seorang kudus besar pada zaman ini, namun dia mengalami fitnah dan lain sebagainya, bahkan dia pernah pernah dilarang memersembahkan misa, seperti layaknya seorang pendosa besar. Namun, sanksi tersebut dicabut kembali, sebab terbukti bahwa Padre Pio tidak bersalah samasekali. Padre Pio menerima semua pencobaan itu bukan dengan mengeluh, mengancam ataupun memberontak, tetapi Padre Pio menanggungnya dengan penuh iman, ketabahan dan sukacita. Begitu juga dalam hidup Beata Teresia dari Kalkuta, selama puluhan tahun dia memikul beban yang sangat berat tapi dia menanggungnya dengan wajah yang tersenyum. Tidak ada seorang pun yang mengetahui penderitaannya kecuali pembimbing rohaninya. Dari teladan dan kesaksian hidup kedua orang kudus besar tersebut, ada beberapa cara konkret supaya kita bisa memanggul salib dan menjadi sumber berkat.:

  • Pertama, kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak pernah mencobai kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Karena itu, bila kita mengalami pencobaan, Tuhan akan memberikan rahmat kekuatan supaya kita dapat menanggungnya.
  • Kedua, setia dalam melatih faal-faal iman atau kurban cinta kasih. Artinya, bila kita bertekun memersembahkan beban-beban dan penderitaan kita ke dalam cinta dan kerahiman Allah, demi untuk menyenangkan hati-Nya, demi untuk keselamatan kita dan demi pertobatan orang berdosa bahkan demi rahmat-rahmat yang dibutuhkan Gereja, khususnya untuk para uskup, maka kita akan mendapatkan keuntungan ganda. Pertama, kita dapat menanggung salib dengan hati penuh sukacita, seperti yang dialami Padre Pio dan Muder Teresia dari Kalkuta, yang dapat menanggung penderitaan yang amat berat seolah-olah mereka tidak pernah memanggulnya. Kedua, kurban-kurban tersebut akan mendatangkan rahmat bagi keselamatan orang-orang berdosa dan rahmat-rahmat yang dibutuhkan oleh Gereja.

Sungguh alangkah indah dan bahagianya, bila kita memersembahkan penderitaan dan salib kepada Tuhan Yesus demi cinta kepada-Nya, demi keselamatan kitadan keselamatan jiwa-jiwa. Tidak mengherankan, bila kita sudah berada di surga kelak,maka akan ada orang atau banyak orang yang tidak kita kenal mengucapkan banyak terima kasih kepada kita karena telah memersembahkan kurban kecil bagi keselamatan hidup mereka. Dengan demikian, bersama para malaikat dan orang kudus, kita akan memuji dan mengagungkan Allah, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan di tempat yang mahatinggi” (bdk. Why 4:8). Jadi, salib bukan lagi beban atau kesia-siaan belaka, melainkan salib merupakan sumber rahmat Allah dan keselamatan kita (bdk. 1Kor 1:18). Seperti yang diajarkan Santo Paulus kepada kita, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan” (bdk. 1Kor 10:31). Pernah ada seorang suster berumur 80 tahun yang meminta bimbingan rohani kepada saya. Dia selalu mengeluh terus. Kemudian saya katakan kepadanya, “Suster, tidak ada gunanya mengeluh terus. Persoalanmu tidak akan berubah. Tapi, mulai sekarang hiduplah di hadirat Allah dan bersyukurlah kepada Tuhan untuk segala sesuatu yang suster terima dari Tuhan”. Kemudian kami bertemu lagi, tapidia mengeluh lagi. Kemudian saya mengingatkan dia akan janjinya. Akhirnya dia sungguh-sungguh melaksanakan janjinya. Ia tidak mengeluh lagi. Setahun kemudian saya bertemu lagi dengan dia dengan wajah yang berseri-seri dan bersinar-sinar. Ia mengatakan kepadasaya, “Saya sungguh bahagia romo”. Saya bertanya kepadanya bagaimana caranya. Ia mengatakan, “Apapun yang tidak menyenangkan, saya persembahkan kepada Tuhan. Saya berusaha melakukan apapun demi kemuliaan Tuhan.” Akhirnya, hidup suster inipun berubah. Dia tidak lagi sedih, tetapi dia dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan.

Penutup

Sungguh betapa indah dan bahagianya, bila kita hidup di hadirat Allah. Sebab, kita bersyukur kepada Allah kita boleh memilih di antara: “hidup mengeluh terus” atau“hidup dalam kemuliaan Allah”. Semakin kita mengeluh, maka semakin terasa berat bebannya. Sebaliknya, bila kita melakukan segala sesuatu demi cinta kepada Allah,maka semua beban semakin ringan dan seolah-olah menjadi hilang. Kalau kita memersembahkan kepada Tuhan, apa yang dulu dirasakan beban, kini kita semakin bersyukur kepada-Nya. Sungguh benar apa yang dikatakan Santo Paulus berkata,“Aku melengkapi dalam tubuhku apa yang masih kurang dalam penderitaan Kristus” (bdk. Kol1:24). Paulus juga pernah mengeluh tapi Yesus mengatakan, “Rahmat-Ku cukup bagimu. Justru di dalam kelemahanlah rahmat Tuhan bekerja” (bdk. 2Kor 12:9-10). Silakan mencoba!

Rhema ayat minggu ini

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah..”( Yoh 12 : 24 )

Pedoman hidup KTM 66:

Kekeringan atau malam gelap itu berbeda-beda intensitas dan lamanya bagi tiap-tiap orang. Ada yang dibawa masuk secara mendalam dan lama, ada yang sebentar ditenggelamkan dan sebentar ditarik keluar lagi. Ada yang keringnya lama dan hebat, ada yang hanya sebentar dan tidak terlalu hebat, sesuai dengan rencana Allah dan panggilan serta jawaban masing-masing.

Sharing:

  1. Apakah makna dari wafat dan kebangkitan Kristus menurutmu sendiri ?
  2. Teladan apakah yang bisa engkau pelajari dan pengorbanan Kristus di Salib ? Sharingkanlah pengalamanmu

admin