SEBERAPA PENTINGKAH MENGIKUTI PERAYAAN EKARISTI?

“Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19)

Pendahuluan

Saya bernama Bagus, saya adalah seorang anak tunggal di keluarga saya. Pada suatu saat, saya berkesempatan untuk menikmati liburan kenaikan kelas di rumah keluarga paman. Selama liburan saya menghabiskan banyak waktu bersama Andi, sepupu saya. Mulai dari tidur bersama, bermain bersama, hingga berkelana menyusuri pantai dan hutan bersama di setiap kesempatan yang ada. Akhirnya liburan sekolah saya hampir usai,dan saya harus berpisah dengan Andi. Sebelum berpisah, Andi memberikan sebuah kerang kesayangannya, yang ia ambil saat kita menyusuri pantai bersama. Andi mengatakan, ambillah ini sebagai kenangan atas persahabatan kita. Jika dilihat dari harga sebuah kerang, kerang itu tidak memiliki nilai ekonomis. Namun jika saya mengingat kembali, betapa bahagianya liburan sekolah bersama Andi, di mana saya bisa merasakan memiliki seorang saudara, yang selalu berada di samping saya, menemani mulai dari pagi hingga malam, kerang sederhana ini menjadi barang yang bernilai tinggi bagi saya.

Apakah itu Perayaan Ekaristi?

Merayakan Ekaristi berarti merayakan ucapan syukuratas karya keselamatan Allah, yang terjadi dalam wafat dan kebangkitan Yesus, serta mengenang perjamuan akhir yang diadakan Yesus bersama para rasul. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi menjadi sumber dan puncak seluruh hidup kristiani bagi orang beriman Katolik. Dikatakan sebagai sumber, sebab dalam perayaan Ekaristi Allah berkenan untuk mengalirkan rahmatNya atas diri dan hidup orang beriman Katolik yang merayakan serta menguduskannya, sehingga mereka dimampukan untuk memuliakan Allah dalam diri Yesus. Dikatakan sebagai puncak, sebab semua sakramen yang dirayakan oleh Gereja Katolik serta semua pelayanan dan karya kerasulan berhubungan erat dengan Ekaristi dan diarahkan kepada perayaan Ekaristi.

Melalui cerita tentang pemberian sebuah kerang dari Andi untuk Bagus, kita bisa mengenakan masa-masa indah liburan sekolah bersama. Begitupula halnya dengan perayaan Ekaristi, Yesus telah mewariskan Ekaristi/perjamuan akhir yang diadakan bersama para rasul-Nya, sebagai kenangan bagi kita, umat Katolik yang beriman kepada-Nya. Yesus memerintahkan kepada kita untuk merayakan Ekaristi secara liturgis sebagai kenangan akan Kristus.

Mengapa perayaan Ekaristi itu penting?

Gereja Katolik meyakini bahwa Yesus berkenan hadir dan menyapa orang beriman Katolik dalam Ekaristi. Dia sendiri sungguh hadir dalam perayaan Ekarisi, baik dalam dua rupa (tubuh dan darah Kristus), dalam diri imam sebagai in persona Christi (imam sebagai manusia bertindak sebagai Kristus), dan juga di dalam diri orang beriman Katolik yang merayakan. Sekalipun seorang romo meragukan akan perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, dalam doa konsekrasi saat Doa Syukur Agung, Kristus tetap hadir di dalam Ekaristi tersebut. Hal ini telah dibuktikan dengan Mujizat Ekaristi di Lanciano, Italia. Pada waktu itu, seorang romo meragukan doktrin Katolik akan perubahan substansi roti dan anggur, setelah romo tersebut mendaraskan doa konsekrasi, ia melihat hosti berubah menjadi 5 gumpalan darah dan daging. Dimana selanjutnya gumpalan darah dan daging ini diteliti, dan memang merupakan jaringan ototmanusia, daging dan darah memiliki golongan darah yang sama, AB, dan selama 12 abad penyimpanan darah dan daging ini dalam keadaan alami (tanpa bahan pengawet kimia), darah dan dagingtetap tidak busuk. Santo Yohanes Krisostomus menjelaskan: “Bukan manusia yang menyebabkan bahan persembahan menjadi bubuh dan darah Kristus, melainkan Kristus sendiri yang telah disali untuk kita. Imam yang mewakili Kristus, mengucapkan kata-kata ini, tetapi daya kerja dan rahmat datang dari Allah. Inilah tubuh-Ku,demikian ia berkata. Kata-kata ini mengubah bahan persembahan itu”.

Seberapa pentingkah mengikuti perayaan Ekaristi bagi kita?

Manusia memang dilahirkan untuk mengikuti apa yang sering ia lihat, ia dengar, dan ia alami bersama dengan orang-orang terdekatnya. Marilah kita simak video singkat, “Anak mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya”, https://www.youtube.com/watch?v=HTxvmLAPE1w Bagi pembawa renungan, silahkan mendownload dahulu video di atas, jika tidak ada internet akses, silahkan membacakan ringkasan di bawah ini untuk memberikan sedikit gambaran tentang video di atas. Dalam sebuah keluarga, seorang anak sering kali meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Mulai dari cara mereka membuang sampah, jika ayah/ibunya terbiasa membuang sampah di sembarang tempat, si anak pun akan mengikutinya. Jika dalam menanggapi seroang bayi, sang ibu marah-marah atau tidak sabar untuk menenangkan bayi yang sedang meminta perhatian, si kakak dari bayi itu juga akan berteriak-teriak di saat si bayi sedang menangis. Jika sang ayah/ibu mereka adalah perokok, kebanyakan salah satu anak atau lebih akan mengikuti kebiasaan merokok tersebut. Jadi pada intinya, anak-anak melihat dan mereka akan melakukannya. Baik itu perbuatan yang baik atau buruk, anak akan menganggap apa yang dilakukan orang tuanya adalah benar dan boleh dilakukan.

Bagaimana dalam kehidupan beriman?

Manusia diciptakan sesuai dengan citra Allah. Pada akhir hidup kita, saya yakin sebagai umat Katolik kita akan mendambakan untuk hidup kembali bersama Allah di dalam surga. Sebagai umat Katolik, kita memang dipanggil untuk menjadi kudus, karena memang menjadi kudus adalah satu-satunya jalan agar kita dilayakkan untuk kembali hidup bersama Sang Pencipta di dalam kehidupan kekal.

Dengan demikian, seberapa pentingkah kita mengikuti perayaan Ekaristi?

Semakin sering kita mengikuti perayaan Ekaristi, semakin sering kita menyantap sabda Allah, menerima Tubuh Kristus dalam rupa Hosti, semakin besar pula kemungkinan kita untuk hidup menyerupai Allah. Karena rahmatNya yang mengalir di dalam perayaan Ekaristi akan memampukan setiap umat yang kurang beriman, kurang percaya.

Konon, menurut penelitian yang telah dilakukan beberapa tahun yang silam, menunjukkan bahwa sepasang suami istri akan menjadi lebih mirip dengan berjalannya waktu pernikahan mereka. Singkat kata, baik secara emosional ataupun secara fisik, apa yang mereka lalui bersama, akan membentuk diri mereka menjadi orang yang serupa/mirip. Semua berasal dari kebiasaan sehari-hari yang mereka lalui bersama, dari berbagi jenis makanan yang sama, melakukan banyak kegiatan bersama, hingga pola pikir yang satu akan mempengaruhi pola pikir pasangan yang lain. Lambat laun, hal-hal kecil ini akan membangun sebuah kebiasaan baru di dalam keluarga, dan di antara kedua pasangan tersebut. Sehingga mereka tumbuh menjadi lebih serupa satu sama lain. Bagaimana dengan kita, inginkah kita menjadi serupa dengan Allah?

Tips jika kita mengalami kejenuhan dalam mengikuti perayaan Ekaristi

  1. Tanggalkan segala pikiran-pikiran negatif yang terlintas, kosong kanhati kita, dan biarlah Allah yang memenuhi hati dan pikiran kita melalui Ekaristi.
  2. Berdoalah untuk meminta rahmat yang anda butuhkan. Biarlah rahmat Allah mengubahkan setiap kejenuhan kita melalui Ekaristi
  3. Renungkan ayat ini, “Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yangakan datang.” (1 Tim 4:7b-8)
  4. Tetaplah setia mengikuti Ekarsiti
    Ingatlah bahwa kita mencari Yesus di dalam Ekaristi, bukan mencari hiburan rohani ataupun mencari sosok romo yang kita sukai.

Sumber:

  • KGK 1324, hal 336
  • KGK 1314, hal 341
  • KGK 1375, hal 349
  • L. Prasetya, PR,Sakramen yang menyelamatkan, edisi revisi, Dioma Malang 2016, hal 48-50
  • L. Prasetya, PR,Sakramen yang menyelamatkan, edisi revisi, Dioma Malang 2016, hal 52-53.3
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Mukjizat_Lanciano
  • Daniel ColemanLong-Married Couples Do Look Alike, Study Finds, TheNew York Times Archives, 11 Agustus 1987, hal 00001

Pedoman Hidup no. 67:

Bagi yang melakukan doa Yesus, perkembangannya dapat menuju dua arah:

  1. Nama Yesus semakin menggema dalam hati dan akhirnya menyatu dengan detak jantung, sehingga nama itu terus menggema seturut irama detak jantung dan orang tidak lagi mengucapkannya, melainkan hanya mendengarkannya saja. Dengan demikian, apapun yang dilakukan, nama Yesus terus menggema dalam hatinya.
  2. Bagi yang lain suatu ketika malahan tidak mampu lagi mengucapkan nama Yesus itu secara ritmis, karena ditarik ke dalam keheningan. Waktu itu ada kecenderungan untuk diam di hadapan Allah, hanya memandang Dia saja, seperti dalam kontemplasi. Bila engkau dapat tinggal diam di hadirat Allah seperti itu dengan kesadaran samar-samarakan kehadiranNya, tinggallah tenang secara demikian. Bila tarikan kepada keheningan itu berhenti, ucapkanlah lagi nama Yesus perlahan-lahan. Namun di luar waktu doa itu biasanya nama Yesus akan mudah menggema dalam hati

Bahan Sharing:

  1. Pernahkan anda merasa bosan mengikuti Ekaristi? Apa yang andalakukan sehingga bisa kembali bersemangat untuk setia dalam Ekarsiti? Sharingkanlah!
  2. Bagi anda yang sering mengikuti misa harian, adakah perubahan-perubahan positif yang terjadi? Sharingkanlah!

admin