ST. GEMMA GALGANI

“Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenapjiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Markus 12 : 30

Pendahuluan
Santa Gemma Galgani adalah seorang mistikus Italia yang dilahirkan pada 12 Maret 1878. Ia dikanonisasi tanggal 2 Mei 1940 oleh Paus Pius XII dan memiliki pesta nama setiap tanggal 11 April. Pada saat berumur 21 tahun, St.Gemma Galgani menerima karunia stigmata. Ia juga sangat menderita secara fisik selama waktunya di dunia, termasuk tuberkulosis, yang akhirnya merenggut nyawanya, meningitis tulang belakang, abses, dan tuli. Namun, banyak yang tidak mengetahui dan menyadari berbagai penyakit yang ada dalam tubuh St. Gemma Galgani ini. Ia memilih untuk tetap diam dalam penderitaan dan rasa sakitnya.
St. Gemma Galgani adalah pelindung pelajar, apoteker, penerjun payung, mereka yang kehilangan orang tua, menderita cedera punggung atau sakit punggung, menderita sakit kepala / migrain, berjuang dengan godaan untuk kenajisan dan mereka yang mencari kemurnian hati.
Masa Kecil
Gemma terlahir sebagai putri pertama dann sejak kecil Gemma suka sekali berdoa. Ia memiliki kebijaksanaan dan semangat doa yang melebihi anak seusianya. Pada saat Gemma berusia 7 tahun dan menerima Sakramen Penguatan serta berdoa untuk kesembuhan ibunya yang sedang sakit, Gemma mengalami suatu pengalaman iman.
“Apakah kamu mau memberikan mama-mu kepada-Ku?”
“Ya,” jawab Gemma,
“tetapi bawalah aku serta juga.”
“Tidak,” jawab suara itu,
“berikanlah mama-mutanpa syarat kepada-Ku. Untuk sementara waktu, kamu harus menunggu bersama papamu. Aku akan membawamu ke Surga kelak.”
“Ya,” jawab Gemma segera.
“Ya”, kata-kata itu akan selalu diulangi Gemma di sepanjang hidupnya yang singkat sebagai jawaban atas undangan Kristus untuk menderita bagi-Nya.
Setelah kematian ibunya, Gemma dikirim ayahnya untuk tinggal di asrama Katolik di Lucca yang dikelola oleh para Biarawati St. Zita. Gemma sangat merindukan Komuni Kudusnya yang pertama. Seringkali ia memohon,“Berikanlah Yesus kepadaku…. Anda akan melihat betapa baiknya aku nanti. Aku sungguh akan berubah. Aku tidak akan berbuat dosa lagi. Berikanlah Yesus kepadaku. Aku sungguh sangat merindukan Dia, aku tidak akan dapat hidup tanpa-Nya.”Akhirnya pada usia 9 tahun (lebih cepat dari kebiasaan), maka Gemma diperkenankan untuk menerima Komuni pertamanya.
Kehidupan Doa Mistiknya
Pada usia 21 tahun, Gemma diangkat anak oleh sebuah keluarga Italia yang murah mati, yaitu keluarga Giannini. Keluarga tersebut telah memiliki sebelas orang putera-puteri, namun gembira menerima gadis yatim piatu yang saleh ini dalam rumah mereka. Nyonya rumah: Signora Cecilia Giannini, kelak mengenang Gemma sebagai berikut: St. Gemma dengan rajin melakukan tugas-tugas rumah tangga dalam keluarga besar Giannini. Gemma juga meluangkan waktu untuk berdoa, kegiatan yang paling disukainya. Melalui Penyelenggaraan Ilahi, Gemma mendapatkan seorang Bapa Pembimbing Rohani Passionis yang kudus, Pater Germanus, CP yang ditaatinya sepenuh hati.
Pater Germanus, seorang teolog yang ahli dalam hal doa mistik, memperhatikan bahwa Gemma memiliki kehidupan doa yang amat mendalamkarena persatuannya yang demikian erat dengan Tuhan. Pater Germanus yakin bahwa “Mutiara Kristus” ini telah melewati keseluruhan dari kesembilan tahap klasik kehidupan batin.
Gemma seringkali mengalami ekstasi. Segala perkataan yang diucapkannya selama esktasi direkam oleh Bapa Pembimbing Rohaninya dengan dibantu seorang sanak keluarga Giannini. Pada akhir ekstasi, Gemma akan kembali normal dan menjalankan kehidupannya dalam keluarga seperti biasa.
Gemma mengikuti Perayaan Misa dua kali sehari sementara ia menerima komuni satu kali saja dalam sehari. Dengan setia Gemma mendaraskan doa rosarionya, dan sore hari bersama Signora Giannini, ia mengikuti Ibadat Sore. Dalam melakukan semua kegiatan rohaninya, tidak pernah sekali pun Gemma melalaikan tugas dan kewajibannya setiap hari di rumah keluarga Giannini.
Akhir Hidupnya
Gemma kemudian didiagnosa terkena tuberkulosis parah. Ia tidak dapat menelan makanan apa pun. Walaupun untuk sementara waktu kesehatannya mulai membaik berkat Penyelenggaraan Ilahi, Gemma segera jatuh sakit kembali. Pada tanggal 21 September 1902, Gemma mulai muntah darah disertai dengan denyut jantung yang berdebar amat kencang. Sementara itu Gemma juga mengalami kemartiran rohani karena kekeringan rohani dan tidak adanya penghiburan dalam kehidupan rohaninya. Menambah beban deritanya, si iblis melipatgandakan serangannya atas “Perawan dari Lucca” ini karena iblis tahubahwa saatnya hampirtiba.
Dalam percakapannya yang terakhir, Gemma mengatakan:“Aku tidak minta apa-apa lagi; Aku telah menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan; sekarang aku siap untuk mati.” Napasnya terengah-engah,“Sekarang sungguh benar bahwa tidak ada lagi yang tersisa padaku, Yesus. Aku menyerahkan jiwaku yang malang kepada-Mu…Yesus!”
Gemma kemudian tersenyum dengan senyuman surgawi, kepalanya terkulai ke samping, dan napasnya pun terhenti.
Romo Paroki yang menemaninya di saat-saat akhir hidupnya mengatakan, “Ia meninggal dengan senyuman yang tetap menghiasi bibirnya, sehingga saya tidak dapat percaya bahwa ia sungguh-sungguh sudah meninggal.”
Santa Gemma, ia adalah Puteri Sengsara Kristus yang tersalib. Ia mencintai Yesus dan mencintai penderitaan-Nya. Ia memberikan teladan kepada kita semua untuk mencintai Yesus dan percaya secara total kepada Yesus yang telah menebus dosa kita dengan bayaran yang sangat mahal yaitu mati tersalib.
Rhema ayat minggu ini
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”(Yohanes 15:7)
Pedoman hidup KTM 68:
Walaupun dalam kenyataannya hanya sedikit yang dipanggil kepada kontemplasi ilahi ini, namun baiklah hal itu diketahui, sehingga bila ada yang dipanggil, dia akan tahu dan tidak menghalangi karya Allah.
Sharing:
  1. Bagaimana caramu untuk mencintai Yesus dalam keseharian ?
  2. Apakah pernah dalam keadaan penderitaan tetap percaya total kepada Yesus ? Ceritakan pengalamanmu

admin