MENJADI PRIBADI YANG MENDENGARKAN DAN MENGERTI

“Hai saudara-saudara yang kukasihi ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yak 1:19)

Tujuan

a. Anggota dapat menjadi tempat untuk berbagi cerita, keluh kesah, serta dapat memberikan nasihat yang berarti bagi sesama anggota KTM, keluarga, lingkup pekerjaan, dan dalam bermasyarakat.

b. Anggota KTM tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.

c. Anggota KTM bisa semakin belajar menjadi pribadi yang dapat mendengarkan dan mengerti orang lain.

Pendahuluan

Setiap manusia tidak terlepas dari masalah dan tantangan dalam kehidupan. Terkadang, tantangan tersebut dapat kita selesaikan sendiri, namun tak jarang pula kita membutuhkan orang lain untuk berbagi pengalaman, membantu mencarikan solusi, mendengarkan apa yang kita alami tanpa memberikan banyak nasihat yang terkesan seperti menggurui. Tak jarang pula, kita sebagai lawan bicara (orang yang diajak biacara), bertendensi mau mengambil porsi berbicara yang lebih banyak daripada teman yang ingin mencurahkan isi hatinya. Sering kali, kita tidak peka terhadap apa yang diinginkan teman.

Tips-tips untuk menjadi seorang pendengar yang baik:

  1. Mengalokasikan waktu berbicara
    Memberikan waktu dan batasan bagi orang yang mau berbicara dengan kita merupakan hal yang sangat mengganggu. Jika Anda tidak memberikan waktu 100%, lebih baik berterus terang dan katakan, “Saya benar-benar ingin mendengarkan apa yang ingin Anda ceritakan, tetapi saya sedang sibuk sekarang. Bisakah kita melakukannya setelah saya selesai bekerja, jadi saya bisa konsentrasi mendengarkannya?,” Jika seseorang menceritakan persoalan pribadinya sementara Anda tengah sibuk mengejar deadline, maka Anda tidak akan mungkin memberi perhatian penuh dan tidak akan membantu orang lain juga.
  2. Biarkan mereka bicara
    Pendengar yang baik akan membiarkan orang berbagi cerita dan mendorong agar cerita itu tersampaikan dengan mengalir begitu saja. Hindari menyela orang sedang bercerita, kecuali memang ada hal-hal yang ingin Anda perjelas. Kepercayaan seseorang akan timbul, ketika Anda mau menghormati lawan bicara dan tidak sok menggurui.
  3. Jadilah orang yang ingin tahu
    Kita sering mendengarkan dengan baik ketika kita terlibat dan tertarik dengan topik yang sedang dibagi. Jadi rasa ingin tau pun, harus ada di dalam konteks pendengar, jika tidak percakapan seolah-olah akan dimanipulasi sepihak saja. Rasa ingin tau ini juga harus kontrol, jangan sampai rasa tau ini berkembang menjadi sok tau, sehingga teman Anda sudah tidak lagi memiliki rasa nyaman.
  4. Jangan menghakimi
    Seseorang biasanya akan terbuka dan berbagi pengalaman yang rentan karena dia percaya pada Anda, dan mereka tidak akan menggunakan informasi itu untuk membuat mereka merasa tersakiti. Jika hal ini terjadi, dorong mereka untuk berbagi tanpa merujuk kembali cerita itu pada Anda dan opini Anda pribadi. Berusaha membantu mengungkapkan solusi adalah hal yang sangat membantu, namun menghakimi merupakan hal yang tidak boleh dilakukan, karena membuat teman Anda merasa terintimidasi.
  5. Ajukan pertanyaan positif
    Ketika mendengarkan ajukan kalimat tanya terbuka yang akan membiarkan seseorang berbicara dengan bebas, bukan pertanyaan yang jawabannya Ya atau Tidak, Pernah atau tidak, dst. Misal, “Beritahu saya  bagaimana hal itu bisa bermanfaat bagi Anda” daripada “apakah itu baik bagi Anda?” “Satu sambutan akan mendorong percakapan dan yang lainnya akan menutupnya.
  6. Berempatilah
    Berusahalah untuk menempatkan diri Anda di posisi orang lain. Bayangkanlah situasi seperti apa yang dihadapi seseorang akan  membuat Anda lebih bersikap empati dan cepat memberi tanggapan pada apa yang mereka katakan. Bahkan tak jarang, ada kemungkinan solusi juga bisa didapatkan jika kita benar-benar menaruh empati dan membantu memikirkan solusi.
  7. Merenungkan kembali, serta dengarkan suara dari Roh Kudus
    Jangan terlalu cepat mengambil keputusan, namun renungkan kembali dan cari tahu apakah interpretasi atau pemahaman Anda benar. Kita juga bisa menanyakan kembali, apakah yang ada dibenak kita sama dengan apa yang mereka pikirkan? Orang lain tidak hanya akan merasa Anda memberikan perhatian pada mereka, tetapi juga akan dapat membantu Anda berkonsolidasi dengan apa yang mereka katakan. Meneguhkan pemahaman Anda dapat membantu Anda mengajukan pertanyaan terbuka yang akan membantu orang lain merasa dimengerti dan dihargai.
  8. Biarkan seseorang tidak sepakat
    Tidak apa-apa memberitahu seseorang apa yang Anda pikirkan tapi jangan menyerang atau menunjukan seseorang kalau Anda merasa tersinggung. Tidak sepakat akan seuatu bukanlah akhir dari segalanya, bisa saja kedua belah pihak benar namun pada sikon yang berbeda.
  9. Gunakan bahasa tubuh
    Bahasa tubuh perlu diperhatikan dalam berbicara dengan orang lain. Tatap mereka dan usahakan Anda terlihat tertarik pada mereka dan buat kontak mata (tanpa melototinya). Anggukan kepala dan lontarkan petunjuk verbal agar mereka tahu Anda memperhatikan cerita meraka. Juga biarkan mereka yang menentukan. Seseorang ada yang lebih nyaman berbicara secara tatap muka sementara yang lain mungkin akan menganggap hal itu sedikit membuatnya merasa ditantang. Anda mungkin melihat lebih baik mengubah situasi dengan menawarkan berbincang sambil berjalan kaki atau keluar dari ruangan rapat mencari cafe yang ramai.
  10. Menarik diri dari percakapan dengan sopan
    Bersikap jujurlah jika sebuah percapakan secara emosional memberatkan Anda dan juga membuat Anda tidak merasa nyaman. Orang bisa mengungkapkan hal-hal yang mungkin tidak nyaman untuk didengar atau mungkin melampaui batasan dari hubungan. Berbuat jujur dengan sopan merupakan cara terbaik untuk mengatasinya. Mereka tidak akan merasa tidak enak karena Anda menolak mereka dan itu membantu mereka mengerti dimana posisi Anda. Anda juga bisa mengatakan Anda senang membicarakan topik lain dengannya, untuk membantu agar percakapan dan hubungan Anda bisa dengan cepat keluar dari situasi yang tidak menyenangkan.

    Dalam prakteknya, kita mungkin saja belum dapat melakukan tips-tips di atas dengan sempurna. Jika hal-hal di bawah ini terjadi, bisa jadi teman Anda sudah mulai merasa bosan mendengarkan Anda.

Beberapa tanda yang menunjukkan teman sudah mulai bosan mendengarkan kita, adalah:

  1. Gelisah dan menggerakkan anggota tubuhnya dengan berlebihan
  2. Sudah tidak teralu bersemangat bercerita
  3. Hilang fokus

Bila beberapa tanda di atas mulai terlihat, coba lemparkan kembali beberapa pertanyaan yang bisa mengembalikan fokus pembicara dan kembalikan fungsi Anda sebagai pendengar yang baik.

Latihan membuat kita akan menjadi lebih berpengalaman, dan pengalaman baik akan membuahkan buah-buah yang positif bagi sesama kita. Janganlah takut berbuat salah, akuilah kesalahan yang Anda sadari, dan perbaikilah di kemudian hari.

Role Play
  1. Bagilah seluruh anggota sel Anda yang hadir menjadi dua kelompok dengan jumlah yang sama, jika anggota sel yang ada berjumlah ganjil, Anda tidak perlu ikut serta dalam role play ini.
  2. Kelompok pertama akan menjadi pendengar, sedangkan kelompok kedua akan menjadi orang yang memiliki sebuah masalah.
  3. Persilahkan kelompok kedua untuk keluar dari ruangan, dan berikan waktu sekitar 3-5menit untuk memikirkan topik apa yang ingin dibahas.
  4. Sedangkan kelompok pertama, Anda berikan tugas, sebagian diminta menjadi pendengar yang baik sesuai tips-tips di atas, dan yang lain menjadi pendengar yang kurang baik.
  5. Setelah 5 menit, persilahkan kembali anggota kelompok kedua untuk masuk dan mencari pasangan.
  6. Perkenankan semua untuk melakukan role play untuk mulai berbicara, di mana kelompok kedua akan mulai bercerita perihal topik apapun yang akan dibahas.
  7. Berilah waktu 3-5 menit untuk melakukan role play.
  8. Jika masih ada waktu tersisa, bisa dilakukan tukar posisi dalam role play.
  9. Setelah role play selesai, sharingkanlah pengalaman-pengalaman dan perasaan yang dialami anggota.

Penutup

Ingatlah bahwa setiap ucapan yang terlontar dari mulut kita merupakan sebuah doa. Jika ucapan itu bersifat positif maka doa yang kita lambungkan adalah doa yang membangun. Jika ucapan kita sering kali bersifat negatif, hingga melukai orang lain, maka doa kita bukanlah doa yang terbaik untuk dilambungkan.

Semoga melalui role play di atas, kita selalu siap untuk menjadi pendengar yang lebih baik dari sebelumnya. Alangkah baiknya jika kita bisa belajar untuk lebih peka dan memberikan telinga bagi teman yang membutuhkan.

Sumber:

http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2015-10-09/10-cara-ini-bisa-memperbaiki-kemampuan-Anda-mendengarkan-orang-lain/1501648

Pedoman Hidup KTM no 49 :

Bila tertarik pada devosi-devosi lain boleh juga, namun janganlah menumpuk pelbagai macam devosi, sehingga menjadi beban. Dalam hal ini devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Hati Maria yang tidak bernoda perlu mendapat perhatian, misalnya dengan mengikuti Misa pada hari Jumat pertama untuk Hati Kudus Yesus dan Sabtu pertama untuk Hati Maria yang tidak bernoda. Betapapun baiknya devosi-devosi itu, namun tidak dapat menggantikan nilai Sakramen, khususnya Ekaristi, yang merupakan puncak dan sumber kehidupan kita yang sejati.

admin