KARUNIA PENGENDALIAN DIRI

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, seluruh indra fisik manusia sepenuhnya berada dalam harmoni dan kontrol yang sempurna. Manusia pertama tidak pernah terobsesi dengan makanan atau keinginan seksual dan mabuk-mabukan. Ia tidak pernah kecanduan terhadap sesuatu dan tidak pernah menginginkan sesuatu secara tidak sehat. Akan tetapi, setelah dosa masuk ke dalam hidup manusia, seluruh indra fisiknya, yang secara alamiah sangatlah baik dan sehat, terlepas dari kendali dan tidak lagi dikendalikan oleh akal budi yang sehat. Hilanglah kuasa pengendalian diri manusia, dan ia mulai hanyut ke dalam pengejaran kenikmatan yang tidak sehat.

Keterlepasan kendali itu membuat kita bagaikan kanak-kanak yang dilepas bebas di toko permen. Kita hanya memikirkan kepuasan sesaat, meraup dan menikmati samaunya tanpa memikirkan konsekuensinya. Itulah sebabnya kita memerlukan kebajikan pengendalian diri. Kebajikan pengendalian diri merupakan salah satu dari buah-buah Roh. Karunia ini membantu kita supaya mengendalikan keinginan-keinginan kita yang liar dan tak teratur.

Perlunya Pengendalian Diri

Pengendalian diri merupakan buah Roh yang membantu jiwa untuk menjadi tuan atas dirinya, yang menjadikan kehendak memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap tubuh dan pikiran, dan mengandalkan kekuatan dan kebijaksanaan Roh Kudus ketika menghadapi godaan. Pengendalian diri membantu kita berhadapan dengan nafsu, baik itu nafsu fisik (kedagingan), pikiran dan bahkan rohani, yang semuanya itu mesti diatur agar kita dapat terus maju di dalam Tuhan.

Pada akhirnya, buah Roh ini bukanlah lagi sekedar mengendalikan diri sendiri, melainkan lebih kepada menyerahkan kendali atas diri dan hidup kita kepada Roh Kudus, sehingga Ia dapat berkarya secara bebas dalam hidup kita. Dengan demikian, melalui kuasa Roh Kudus kita memeroleh kebebasan, di mana kita dibebaskan dari ikatan perbudakan yang disebabkan oleh nafsu-nafsu kita, sehingga kita dapat menghidupi hidup yang lebih berarti dan luhur.

Bagaimana Memeroleh Karunia Pengendalian Diri

Karunia Pengendalian diri, dapat kita peroleh dari doa dan latihan penyangkalan diri.

Cara untuk mengetahui apakah pengalaman-pengalaman yang kita peroleh dalam doa benar-benar merupakan inspirasi dari Tuhan dan bukan sekedar efek psikologis, adalah dengan melihat buah-buahnya yang terjadi dalam hidup kita. Bila pengalaman yang kita peroleh dalam kehidupan doa memang berasal dari Tuhan, maka pastilah kita menghasilkan buah-buah Roh, seperti yang disebutkan oleh Santo Paulus dalam Galatia 5:22-23, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan-hati, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan pengendalian diri.

Pengendalian diri, meskipun disebutkan terakhir, sama sekali bukanlah yang terkecil. Sebab semua buah Roh yang lain, mutlak memerlukan kebajikan pengendalian diri. Karenanya, jika doa kita sungguh efektif, kita pastilah dibimbing untuk menjalankan kehidupan yang disiplin dan menahan diri terhadap segala bentuk keinginan untuk ‘sekedar’ memuaskan diri sendiri, karena yang menjadi keinginan tertinggi kita adalah untuk dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. (Ef 3:19)

Mengajarkan Kebajikan Pengendalian Diri Kepada Anak

St Josemaria mengajarkan para orang tua untuk menjadi teladan yang teguh kepada anak-anak sambil terus mengembangkan nilai kebebasan. Ia mengatakan bahwa orang tua harus mengajarkan kepada anak-anak mereka gaya hidup yang spartan (keras/disiplin tinggi), yang merupakan gaya hidup kristiani. Meskipun tidak mudah, namun orangtua haruslah berani melakukannya.

Pertama-tama, tentunya orangtua sendiri harus berani hidup sesuai tuntutan keras kehidupan sebagai orang Kristen. Pengendalian diri merupakan kebajikan yang mengarah kepada kelepasan dari keterikatan (detachment), maka ketika orangtua memberikan teladan tentang hal ini, anak-anak perlu melihat buah-buah baiknya. Jika orangtuanya memperlihatkan keceriaan dan damai-sejahtera dengan menjalankan hidup demikian, maka anak-anak pastilah akan terdorong untuk meniru mereka.

 Contoh: bila anak-anak melihat di dalam keluarga, orangtua mereka (rela) mengorbankan waktu tidur dan istirahat untuk membantu anak mengerjakan pekerjaan rumah, atau merawat orang tua dan orang sakit dengan penuh kasih, maka anak-anak akan dapat menangkap arti dari perbuatan kasih itu dan pentingnya hal tersebut dalam lingkungan keluarga.

Kedua, diperlukan keberanian untuk mempertahankan kebajikan pengendalian diri dan menjadikannya sebagai gaya hidup. Sudah pasti, jika orangtuanya melakukan kebajikan ini dalam hidup mereka, menjadi jauh lebihmudah untuk menurunkannya kepada anak-anak. Kadangkala orangtua merasa ragu apakah yang mereka lakukan itu melanggar kebebasan anak-anak mereka atau seolah memaksakan gaya hidup keras ini kepada anak-anak, dengan tidak menghargai hak mereka untuk menjalankan gaya hidup seturut keinginan mereka. Bahkan seringkali pertanyaan timbul apakah efektif untuk meminta anak-anak mereka menahan diri/berpantang terhadap sesuatu padahal anak-anak tidak ingin melakukan pantang tersebut. Saat orangtua tidak memenuhi keinginan si anak, apakah akan membuat keinginan mereka itu terpendam atau bahkan menjadi semakin kuat, lebih-lebih jika teman-teman mereka memiliki apa yang diinginkannya itu? Mereka barangkali akan merasa terasing (oleh karena “beda sendiri”) dari teman-teman mereka. Atau lebih buruk lagi, bisa-bisa anak-anak menjauh dari orangtuanya.

Tapi kalau kita mau realistis, sesungguhnya tidak ada satupun “kekhawatiran” tersebut yang meyakinkan. Dengan menghidupi gaya hidup yang disiplin dan terkendali, orang akan menemukan bahwa pengendalian diri itu baik adanya, dan sama sekali tidak berarti bahwa orangtua memaksakan beban tertentu kepada anak-anaknya, melainkan justru memberikan persiapan hidup.

Kebebasan dan Pengendalian Diri

Mungkinkah membesarkan anak dengan mengajarkan sekaligus disiplin pengendalian diri dan kebebasan (freedom)? Kedua hal tersebut tidak pernah dapat dipisahkan, karena kebebasan menjiwai keseluruhan keberadaan seseorang dan merupakan dasar dari segala pendidikan. Pendidikan (semestinya) diarahkan untuk membantu setiap orang secara bebas membuat keputusan yang tepat yang kelak akan menjadi arah/bentukan hidupnya.

Proses ini tidak akan dapat dilakukan melalui sikap yang terlalu melindungi, dimana untuk segala tujuan praktikal, orang tua pada akhirnya yang seolah “menggantikan” kehendak anaknya dan mengontrol segala gerakan mereka; juga tidak dapat dilakukan dengan sikap otoriter yang tidak memberikan ruang bertumbuh bagi kepribadian si anak dan kemampuannya untuk menilai dan mengambil keputusan. Pendekatan-pendekatan demikian akan menghasilan “pengganti” diri kita atau orang yang tidak memiliki karakter.

Pendekatan yang tepat adalah dengan membiarkan anak-anak untuk mengambil keputusannya sendiri, dengan cara dimana sesuai dengan usia anak tersebut, mereka d iajar untuk mengambil keputusan dengan membuat mereka melihat konsekwensi dari setiap tindakan. Secara bersamaan, mereka perlu dapat merasa adanya dukungan dari orangtua dan dari orang-orang yang terlibat dalam pendidikan mereka, dalam mengambil keputusan dengan benar, atau ketika diperlukan, untuk mengkoreksi keputusan yang salah.

Rhema:

Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (1 Kor 9:26-27)

Pedoman Hidup KTM no. 48:

Devosi-devosi tertentu amat perlu, khususnya kepada Bunda Maria, karena dia adalah Ibu Kita seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dari atas salib: “Ibu, inilah, anakmu!” dan lagi “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26.27). Dengan demikian Yesus menjadikan Maria ibu kita dan kita anaknya. Karena itu sejak semula Gereja menganjurkan devosi kepada Bunda Maria. Ungkapan devosi yang terbaik ialah doa Rosario.

Sharing (Pilih salah satu):

  1. Ada orang-orang yang sulit melepaskan diri dari kebiasaan merokok, nonton tv, menggunakan handphone dan lain sebagainya. Renungkanlah adakah engkau juga mengalami hal yang serupa dan sharingkanlah tentang hal itu. Sharingkanlah usaha yang engkau lakukan untuk dapat mengendalikan/melepaskan diri dari kebiasaan itu.
  2. Untuk orang tua (parents): sharingkanlah upayamu sebagai org tua dalam memberikan teladan pengendalian diri demi pertumbuhan imanmu dan anak2.
  3. Sharingkanlah bagaimana disiplin yang engkau terima dari orang tuamu membentuk iman, karakter dan. kepribadianmu

admin