PERLUKAH PENGAKUAN DOSA KEPADA IMAM?

“Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:23)

Perlukah aku mengaku dosa kepada Imam?

Pertanyaan ini seringkali muncul ketika seorang Katolik menyadari bahwa ia telah melakukan suatu perbuatan dosa dan ingin dosanya diampuni oleh Tuhan. Ada rasa segan, malu, dan ragu-ragu ketika seseorang ingin melangkahkan kaki ke ruang pengakuan. “Masa dosa-ku diketahui orang lain, itu ‘kan aib, memalukan.” “Pastur ‘kan juga manusia biasa. Mengaku dosa itu seharusnya langsung saja kepada Tuhan.” Dan berbagai kegalauan lain sering kali muncul dalam pergumulan seseorang untuk menerima Sakramen Tobat.

Apa kata Gereja?

Di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1422, dikatakan bahwa, “Mereka yang menerima Sakramen Tobat memperoleh pengampunan dari belas kasihan Allah atas penghinaan mereka terhadap-Nya; sekaligus mereka didamaikan dengan Gereja, yang telah mereka lukai dengan berdosa, dan yang membantu pertobatan mereka dengan cinta kasih, teladan serta doa-doanya”

Dalam kutipan ini, jelas bahwa Gereja mengajarkan bahwa Sakramen Tobat adalah suatu sarana bagi umat beriman untuk mendapatkan pengampunan dari Allah atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Dosa dikatakan sebagai penghinaan terhadap Allah dan sekaligus melukai Gereja, sebagai suatu kesatuan Tubuh Kristus. Atas belas kasih Allah dan pertolongan Gereja, umat yang berdosa dibawa kembali, berdamai dengan Allah dan GerejaNya.

Yesus memanggil umatNya yang berdosa untuk bertobat dan kembali kepada Bapa. Panggilan ini diwujudkan secara sakramental dalam Sakramen Tobat. Seperti dalam kisah anak yang hilang, penyesalan sang anak bungsu membuahkan suatu niat untuk bangkit dan pergi kepada Bapa-nya untuk mengakui segala kesalahannya (Luk 15:18). Demikian pula, penyesalan atas segala dosa yang sudah kita lakukan, harus diwujud-nyatakan melalui suatu perbuatan nyata untuk bangkit dan kembali kepada Bapa melalui pengakuan dosa. Dengan cara ini, kita akan mengalami suatu pemulihan yang penuh dan pasti dari Allah, akibat segala dosa yang telah kita perbuat. (bdk. KGK 1423)

Mengapa harus melalui Imam?

Pengakuan dosa merupakan praktek yang diperintahkan oleh Yesus sendiri. Dalam Yoh 20:22-23, Yesus menghendaki agar para Rasul melaksanakan kuasa untuk menerimakan pengakuan dosa ini. Kuasa yang diterima oleh para Rasul ini selanjutnya diteruskan kepada para Imam sebagai rekan kerja Uskup, yang merupakan penerus para Rasul. Para Imam menjadi penyalur rahmat pengampunan dari Allah dan melaksanakan kuasa pengampunan atas dosa ini dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Lebih lanjut, mungkin muncul pertanyaan, mengapa tidak langsung kepada Yesus? Bukankah Yesus adalah satu-satunya perantara manusia kepada Bapa?

Di dalam perjanjian lama, seseorang yang jatuh ke dalam dosa, harus meminta kepada imam untuk mempersembahkan kurban tebusan bagi dirinya, supaya memperoleh pengampunan dari Allah (Im 19:20-22). Yesus sendiri juga memerintahkan seorang kusta yang disembuhkanNya, untuk pergi kepada imam supaya dinyatakan sudah tahir (Luk 17:12-14). Allah sendirilah yang menghendaki seorang Imam sebagai perantara untuk menyalurkan rahmatNya kepada manusia. Dalam hal dosa, seorang Imam menjadi perantara untuk menyalurkan pengampunan/kerahiman Allah. Yesus sendiri memberikan kuasa kepada St. Petrus untuk mengikat atau melepaskan segala hal/perkara di dunia, termasuk dalam hal dosa (Mat 16:19). Kuasa ini yang oleh Gereja kemudian diteruskan kepada para Imam.

Dosa-dosa apa saja yang harus diakukan saat pengakuan dosa?

Menurut KGK, ada 2 macam dosa yaitu dosa yang mendatangkan maut (dosa berat, bdk. KGK 1856) dan dosa yang tidak mendatangkan maut (dosa ringan, bdk. KGK 1863). Jika dosa berat melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih itu. Dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga Allah tidak dapat bertahta di dalamnya.

Ada 3 syarat yang harus dipenuhi untuk seseorang tergolong melakukan dosa berat, yaitu:

  1. Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan.
  2. Tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah.
  3. Walau tahu salah, secara sadar tetap melakukan dosa tersebut.

Sebagai contoh, kemarahan orang tua yang mengomel kepada seorang anak yang malas belajar, tentu berbeda dengan kemarahan seseorang yang menghilangkan nyawa orang lain karena dendam. Kemarahan orang tua dalam wujud omelan tetaplah suatu dosa, namun masih didasari kasih, demi kebaikan sang anak, supaya tidak melalaikan tugasnya untuk belajar. Ini masih tergolong dosa ringan. Akan tetapi, kemarahan seseorang yang memuncak karena dendam, sampai menghilangkan nyawa orang lain, meskipun dia tahu bahwa membunuh itu adalah perbuatan yang jahat dan dilarang Allah, tetapi tetap dia lakukan untuk memuaskan dendamnya, maka ini sudah tergolong dosa yang berat. Orang ini telah sama sekali menghilangkan kasih di dalam hatinya, serta menolak Allah untuk hadir di dalamnya.

Supaya diampuni, dosa berat membutuhkan kerahiman Allah dan pertobatan hati melalui Sakramen Pengakuan. Dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik (KKGK) artikel 304, dituliskan bahwa,

“Semua dosa berat yang belum diakukan yang disadari melalui pemeriksaan batin yang teliti HARUS dibawa ke dalam Sakramen Tobat. Pengakuan dosa-dosa berat merupakan satu-satunya cara yang biasa untuk mendapatkan pengampunan.”

Apa dampak pengakuan dosa bagi diri kita?

Melalui pengakuan dosa, Allah akan mengampuni segala dosa dan menyucikan kita dari segala dosa yang telah kita perbuat (1 Yoh 1:9). Dosa yang dilepaskan akan mendatangkan kedamaian dalam jiwa kita. Dalam Lumen Gentium (LG) artikel no.11, dikatakan, “Mereka yang menerima Sakramen Tobat memperoleh pengampunan dari belas kasihan Allah atas penghinaan mereka terhadap-Nya; sekaligus mereka didamaikan dengan Gereja, yang telah mereka lukai dengan berdosa, dan yang membantu pertobatan mereka dengan cinta kasih, teladan serta doa-doanya.”

Pengakuan dosa adalah keuntungan bagi seorang Katolik. Melalui perjumpaan dengan Allah, melalui perantaraan Imam, dalam Sakramen Tobat, kita dapat memperoleh pengampunan yang penuh atas segala dosa yang telah kita perbuat. Dengan pengakuan yang sungguh dan niat bertobat yang tulus, di dalam iman yang benar, kita sungguh memperoleh pengampunan Allah melalui pengakuan kita di hadapan Imam.

Pedoman Hidup KTM 55:

Dalam mengaku dosa jangan terlalu memandang pribadi imamnya, melainkan Yesus sendiri yang hadir dalam dirinya. Yesuslah yang memberi dia kuasa untuk mengampuni dosamu lewat Gereja-Nya. Kalau seorang imam berdosa dia tidak dapat mengampuni diri sendiri , melainkan dia harus mengaku kepada imam lain, namun ia senantiasa dapat mengampuni dosamu bila engkau mengaku kepadanya.

Referensi

http://www.katolisitas.org/masih-perlukah-sakramen-pengakuan-dosa-bagian-1/https://spesalvifactisumus.wordpress.com/2016/02/11/mengapa-mengaku-dosa-kepada-imam/

Sharing

  1. Seberapa rutin kita mengaku dosa?
  2. Apakah kita mengalami masalah saat mengaku dosa di hadapan Imam? Jika iya, ceritakanlah masalah tersebut.
  3. Apakah frekuensi pengakuan dosa yang kita lakukan, sudah dirasa cukup jika dibandingkan dengan dosa-dosa yang kita perbuat? Jika belum, apa kendalanya?

admin