MENJADI PEWARTA YANG PENUH URAPAN

Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.“ Mat 10:27”

Pendahuluan

Sebagai seorang Kristiani, kita dipanggil oleh Tuhan untuk siap sedia mewartakan kasih Kristus kepada sesama. Panggilan ini dapat berupa sharing pengalaman pribadi, mau pun memberikan pengajaran. Pertanyaanya adalah bagaimana caranya supaya pengajaran dan sharing tersebut dapat menyentuh hati orang yang mendengarkan sehingga mereka merasakan jamahan Tuhan dan bertobat? Apa saja yang perlu kita persiapkan sebelum pewartaan dan bagaimana caranya supaya kuasa Tuhan dapat bekerja melalui kita ? melalui Vacare Deo kali ini kita akan membahas hal tersebut.

Panggilan untuk mewartakan

Suatu saat di sebuah distrik, untuk meningkatkan pengajaran yang ada di dalam pertemuan sel, maka di adakan workshop mengajar. Mulailah dikirimkan publikasi dan para pelayan sel untuk mengajak anggota mengikuti workshop tersebut. Seringkali respon yang muncul adalah : “oh itu bukan talenta saya, karunia mengajar itu hanya orang tertentu saja seperti si A atau B, tapi bukan saya”. Kemudian yang dijadikan rujukan adalah 1 kor 12:5 “dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.” Lalu apakah benar karunia ini hanya diberikan pada orang tertentu saja ? Dalam injil Matius 10:1–4 “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus,Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.” Melalui ayat ini kita dapat melihat dengan jelas bahwa semua murid Yesus diberi kuasa yang sama untuk mewartakan injil dan melakukan karya peyem buhan, pengusiran roh jahat untuk meneguhkan pewartaan mereka. Di sini Yesus tidak mengatakan bahwa rasul tertentu seperti Petrus dan Yohanes khusus melakukan penyembuhan fisik,yang lain tidak. Di sini kita disadarkan bahwa kita semua dipanggil untuk bertumbuh dalam karisma menjadi seorang pewarta. Lalu apa saja yang dapat kita persiapkan supaya pewartaan ini penuh dengan urapan kuasa Allah?

  1. Memahami kebutuhan pendengar
    Langkah pertama yang perlu diambil oleh setiap pewarta adalah mencoba memahami pokok persoalan audiens yang dihadapi. Sebelum memberikan pengajarannya, seorang pewarta mesti mengenal siapa audiens yang akan dijumpai, apa latar belakang mereka dan dinamika apa yang dihadapi pada saat itu. Memahami tantangan–tantangan yang dihadapi dapat membantu para pewarta untuk merumuskan solusi–solusi yang tepat. Misalkan, seorang anggota KTM diminta untuk mengajar di sebuah sel terkait topik WL. Dengan bijaksana, dia perlu mengkaji lebih mendalam situasi yang dihadapi sel itu. Dia menghubungi pelayan sel dan bertanya tentang kondisi sel saat itu, apa saja yang menantang terkait dengan tugas WL, bagaimana para petugasnya menjalankan kewajiban mereka dan bagaimana sikap anggota sel saat itu. Setelah meneliti lebih lanjut, dia mengetahui bahwa alasan mengapa WL menjadi masalah adalah karena persiapan yang minim dan pemilihan lagu yang kurang sesuai dengan topik–topiknya. Dari sini, sang pengajar pun menemukan apa yang harus difokuskan yakni bagaimana membuat persiapan WL yang baik dan bagaimana memilih lagu–lagu yang tepat.
  2. Merumuskan topik pembahasan
    Ketika sang pengajar / pewarta telah memahami persoalan, tibalah waktunya untuk merumuskan topik pembahasan yang dapat mengatasi persoalan yang dihadapi. Disini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk merumuskan topik pembahasan yang tepat :

    a. Mengambil sumber – sumber referensi yang sesuai
    Ada berbagai macam sumber – sumber referensi yang dapat dijadikan acuan seperti : buku – buku, artikel, kotbah, diskusi dengan para pakar dan orang yang ahli dibidangnya. Terkait dengan informasi tertulis, terutama dari buku kita harus memperhatikan yang sungguh sesuai dengan iman Katolik. Untuk buku-buku, perlu ada nihil obstat dan imprimatur. Bila kita mendengarkan hal ini dari kotbah atau  pengajaran, kita harus memastikan kebenaran info yang kita tangkap.

    b. Menggali dari pengalaman pribadi
    Hal kedua setelah kita menemukan sumber-sumber referensi itu adalah mengendapkannya dan mencoba melihat kaitan itu dengan pengalaman pribadi kita. Terkadang, dengan pengalaman pribadi kita, kita akan mudah menyampaikan informasi dengan baik karena tidak didasarkan pada teori belaka tetapi juga praktik nyata. Lalu, bagaimana jika kita tidak memiliki pengalaman pribadi? Kita bisa mencari pengalaman orang lain yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai bahan untuk meyakinkan audiens. Misalkan, seorang pewarta pria bisa menceritakan tentang kesulitan menjadi pelayan sel melalui sharing seorang pelayan sel yang telah teruji dapat melayani dengan baik.

    c. Membahasakan kembali dengan ilustrasi dan cerita
    Terkadang, salah satu hal yang menantang adalah bagaimana kita membahasakan sumber-sumber referensi yang umumnya bersifat teoritis. Disamping menceritakan pengalaman pribadi, kita perlu juga menerapkan ilustrasi dan cerita untuk mendukung poin–poin yang mau kita sampaikan. Sebagai contoh, kita bisa belajar dari model pewartaan Tuhan Yesus yang dalam menyampaikan kotbahNya, banyak menggunakan perumpamaan, misalkan tentang anak yang hilang untuk menggambarkan kasih Allah, orang Samaria yang baik hati untuk menggambarkan sikap berbelas kasih, dsb.

    d. Mengajak audiens untuk mengambil tindakan
    Seorang pewarta yang diurapi juga perlu mengajak audiens untuk mengambil tindakan sebagai konsekuensi dari pengajaran yang mereka terima. Dengan mengajak audiens untuk melakukan sesuatu, kita sebenarnya mengajak mereka untuk bergerak ke arah pertumbuhan rohani dan hidup yang nyata. Kita mengajak audiens untuk merenungkan, dan berpikir apa saja langkah yang cocok untuk diambil kemudian. Di dalam KTM, bila bentuk pengajaran bersifat workshop, maka seorang pewarta bisa mengajak mereka untuk mempraktikkan apa yang mereka pelajari, misalkan praktik membawakan WL, Renungan, dll.

  3. Berlatih untuk menyampaikan topik pewartaan
    Setelah menyusun persiapan yang akan dibawakan, maka langkah selanjutnya yang penting diperhatikan adalah latihan untuk menyampaikan dengan baik. Bila kita bekerja dalam tim untuk membawakan sebuah retret / event dalam tema yang sama, maka kita bisa saling bertukar pikiran dan mencoba mempraktikkan topik kita untuk dikoreksi dan ditanggapi sesama pengajar / pewarta. Latihan – latihan ini akan menambah rasa percaya diri kita dan membuka pikiran kita untuk menguji apakah bahan yang kita bawakan sudah tepat sasaran. Indikasi yang dapat kita perhatikan adalah durasi membawakan, apakah terlalu panjang atau justru terlalu singkat, apakah kita terlalu banyak berteori atau kita sudah cukup memaparkan dengan ilustrasi dan contoh yang tepat.

  4. Berdoa dan memohon bimbingan Roh Kudus
    Berdoa dan memohon bimbingan Roh Kudus adalah salah satu bentuk persiapan yang paling penting. Memohon bimbingan Roh Kudus, akan membantu kita untuk mengerti kebutuhan pendengar yang tidak mereka sadari. Roh Kudus akan membantu kita di dalam persiapan dan pada saat mewartakan. Kuasa Allah mampu membuka hati para audiens yang mendengarnya. Dengan berdoa kita membuka diri pada bimbinganya, serta terbuka akan kuasa Allah yang akan memakai kita. Saya pernah mendengarkan kisah bagaimana seorang pengajar yang sudah mempersiapkan bahannya merasa diurapi dan diberkati oleh Tuhan ketika dia sudah tampil di depan, dan ternyata audiens yang mendengarkan, merasa tersentuh hatinya dan mau mengikuti apa yang diajarkan.

SHARING

  1. Apakah engkau pernah diajak untuk menjadi seorang pewarta?
  2. Dari pembahasan di atas persiapan apa saja yang dapat engkau tingkatkan?
  3. Apakah ada pengalaman terjamah oleh urapan seorang pewarta yang membuatmu mau bertumbuh? sharingkanlah pengalamanmu

Rhema ayat minggu ini

Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. “ Matius 10:27

Pedoman hidup KTM 58 :

Bila engkau dengan setia menjalankan segala latihan rohani dengan dikuatkan oleh segala penghiburan itu, engkau akan berkembang dalam iman, harapan dan kasih. Bila engkau sungguh – sungguh setia kepada Tuhan yang telah memanggilmu dan terhadap komunitas yang telah dipakai Tuhan untuk membentukmu, engkau akan menjadi lebih kuat secara rohani, karena Tuhan akan menjadi kekuatanmu. Dengan demikian engkau menjadi siap untuk dibawa masuk lebih dalam lagi ke dalam pengenalan dan misteri Allah.

admin