PENYEMBAHAN BERHALA

“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.” Kel 20 : 2-4

Pendahuluan

Di dalam kehidupan kita, terkadang kita berjumpa dengan saudara yang memiliki iman yang berbeda. Ada juga karena budaya tertentu maka memiliki kepercayaan yang berbeda. Karena perbedaan tersebut, maka terkadang timbul pertanyaan, apakah jika saya mengikuti budaya tertentu saya menyembah berhala? Lalu apakah berdoa di depan sebuah patung itu perbuatan berhala juga yang tidak sesuai perintah Tuhan ? bagaimana dengan seseorang yang tamak, terikat pada handphone, apakah itu termasuk penyembahan berhala? melalui vacare deo kali ini kita akan membahas pengertian penyembahan berhala sehingga kita dapat mengambil keputusan yang bijaksana, serta membuat kita tenang dalam keputusan kita karena memiliki pemahaman yang utuh. Dengan demikian, kita dapat membedakan mana yang sesuai dengan iman katolik mana yang tidak.

Pengertian penyembahan berhala

Untuk memahami arti kata penyembahan berhala mari kita simak apa yang tertulis dalam Katekismus Gereja Katolik no.2112: “Perintah pertama mengecam keberhalaan. Diminta dari manusia supaya hanya beriman kepada Allah, dan bukan kepada allah-allah lain, dan supaya tidak menghormati allah-allah lain di samping Allah yang Esa. Kitab Suci mendesak terus-menerus untuk menolak berhala-berhala. Berhala-berhala ini ” hanyalah emas dan perak, buatan tangan manusia. “Mereka mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berbicara, mempunyai mata tetapi tidak dapat melihat”. Berhala-berhala yang tidak bertenaga ini membuat orang menjadi tidak bertenaga: “Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya” (Mzm 115:4-5, 8) Bdk. Yes 44:9-10; Yer 10:1-16; UI 14,1-30; Bar 6; Keb 13:1-15:19.. Sebaliknya Allah adalah “Allah yang hidup” (umpamanya Yos 3: 10 dan Mzm 42:3), yang memberi hidup dan yang campur tangan di dalam sejarah. “ Melalui kutipan tersebut kita dapat belajar bahwa kita hanya beriman pada satu Allah. Jadi tidak ada Allah lain. Penyembahan di luar Allah merupakan penyembahan berhala. Jadi seperti menyembah patung Baal ,maupun dewa dewi tertentu tidak sesuai dengan iman katolik dan merupakan penyembahan berhala.

Berdoa di depan patung Bunda Maria atau Tuhan Yesus 

Terkadang kita dapat berjumpa dengan seseorang yang mengatakan bahwa umat katolik itu menyembah berhala yaitu dengan menyembah patung Bunda Maria. Apakah benar demikian ? Untuk memahami hal ini kita harus memahami dulu mengenai pengertian menyembah dan menghormati :

  1. Latria (penyembahan) yang hanya ditujukan kepada Allah Tritunggal (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)
  2. Dulia (penghormatan) yang ditujukan kepada:
    >Para orang Kudus, termasuk Bunda Maria (kadang kepada Maria, disebut hyper-dulia)
    > Penghormatan kepada benda tertentu yang melambangkan Allah ataupun Para Kudus dan Maria. Contohnya yaitu salib (crucifix), patung Bunda Maria, Patung santa-santo, dll. Penghormatan ini kadang disebut sebagai dulia-relatif.

Kata ‘latria’ dan ‘dulia’ ini memang tidak secara eksplisit tertera di dalam Kitab Suci, tetapi, kita dapat melihat penerapannya dengan jelas. Misalnya:

  1. Perintah Tuhan yang pertama pada kesepuluh Perintah Allah adalah perintah untuk menyembah Allah saja dan jangan sampai ada allah lain yang kita sembah selain Dia. Di sini maksudnya adalah ‘latria’ (Kel 20: 1-6).
  2. Penghormatan Yusuf kepada ayahnya Yakub. Yusuf sujud sampai ke tanah untuk menghormati ayahnya Yakub (Kej 48:12), itu ‘dulia’.

Penghormatan ‘dulia’ ini tidak dapat dikatakan sebagai menyembah berhala, sebab prinsip penghormatan ini tidak untuk menjadikan obyeknya sebagai saingan Allah. Prinsip penghornatan “dulia” hanya seperti menghormati seorang juara kelas di sekolah, atlet yang menang olimpiade, ataupun seorang pahlawan negara, yang dihormati karena kesempurnaan yang dicapai oleh mereka. Dalam hal rohani, kita menghormati Bunda Maria dan para santo/ santa atas kesempurnaan kerjasama mereka dengan rahmat Allah dalam kehidupan mereka. Jadi mereka bukan “saingan” Allah seperti Baal dan Asyerah, tetapi mereka adalah rekan sekerja Allah, sehingga penghormatan kepada mereka merupakan juga penghormatan kepada Allah yang telah menciptakan mereka. Hal ini sesuai dengan perintah Tuhan dalam Matius 15: 4 “Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu “.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang mencintai uang, kekuasaan, nafsu sexualitas apakah mereka menyembah berhala ?

Gereja Katolik, berdasarkan pengajaran Kitab Suci, tidak membatasi “penyembahan berhala” hanya kepada penyembahan kepada patung-patung tuangan dan dewa dewi. Tetapi juga kenyataan bahwa manusia dapat menempatkan sesuatu/seseorang di tempat Allah dan ini adalah bentuk ‘berhala’ untuk masa kini.. Seperti yang dikatakan dalam KGK 2113 “Pemujaan berhala tidak hanya ditemukan dalam upacara palsu di dunia kafir. Ia juga merupakan satu godaan yang terus-menerus bagi umat beriman. Pemujaan berhala itu ada, apabila manusia menghormati dan menyembah suatu hal tercipta sebagai pengganti Allah, apakah itu dewa-dewa atau setan-setan (umpamanya satanisme) atau kekuasaan kenikmatan, bangsa, nenek moyang, negara, uang, atau hal-hal semacam itu. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” demikian kata Yesus (Mat 6:34). Banyak martir yang meninggal karena mereka tidak mau menyembah “binatang” (Bdk Why l3-l4).; malahan mereka juga menolak menyembahnya, walaupun hanya dengan berpura-pura saja. Pemujaan berhala tidak menghargai Allah sebagai Tuhan yang satu-satunya; dengan demikian ia mengeluarkan orang dari persekutuan dengan Allah (Bdk Gal 5:20; Ef 5:5).“

Kata berhala dalam kamus inggris point 3: “adoring reverence or regard: excessive worship of business success.” pengertian yang demikian, mempunyai sinonim “idolatry“/ berhala, seperti juga tertulis demikian di sana :honor, homage, adoration, idolatry. Maka jika seseorang mengisi pikiran dan hati hanya untuk mencari uang saja, dari bangun tidur sampai malam, sepanjang hari yang dipikir hanya bagaimana supaya mendapat uang banyak; ia mengarahkan segenap tenaga, pikiran dan hati hanya kepada uang. Di sini, sebenarnya ia bukan saja “lalai” dalam mengingat/ menyembah Allah, tetapi ia telah menempatkan uang di tempat utama dalam kehidupannya, dan menggeserkan tempat Tuhan. Maka, ia “mengabdi kepada Mamon”/ dewa uang, walaupun tidak melakukan korban bakaran. Maka Rasul Paulus mengajarkan, “Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.” (Ef 5:5) Di sini jelas dikatakan bahwa orang yang menomorsatukan uang/ serakah dan kecemaran/kenikmatan seksual di atas segala-galanya, adalah penyembah berhala, yang tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Melalui pembahasan ini semoga kita dapat bijaksana menentukan mana yang sesuai iman katolik dan tidak, sehingga tidak ragu ragu dalam menghayati ajaran iman kita dan dapat memberikan penjelasan yang baik bagi teman kita yang tidak memahami iman katolik.

admin