DOSA DENGAN PIKIRAN

Ada salah seorang umat kristiani bertanya kepada Romo, ”Romo, pikiran saya seringkali melantur dan berpikir yang tidak-tidak atau negatif. Bagaimana aku dapat mengontrolnya atau mencegahnya?”

Renungan

Pertanyaan diatas seringkali menjadi pertanyaan kita juga. Kita mengalami godaan setan setiap hari dan setiap saat entah melalui apa yang kita lihat, kita dengar atau bahkan timbul sendiri dalam pikiran. Tak seorangpun dari kita luput dari pergumulan ini. Para Santo dan Santa pun, ternyata mengalami pergumulan ini maka kita tidak perlu malu mengakui jika kitapun bergumul dalam perjuangan kita untuk hidup lebih baik dari hari ke hari. “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8) Godaan tidak melulu berkaitan dengan dosa yang ekstrim seperti membunuh, memperkosa dsb. Justru melalui hal-hal yang kecil dan biasa dalam kehidupan sehari-hari seperti berpikir negatif atau curiga kepada orang lain, membicarakan kekurangan orang lain atau memuji kelebihan diri sendiri, kesenangan diberi pujian oleh orang lain, cenderung egois dan kurang peka terhadap kebutuhan sesama, kurang bijaksana dalam berkata-kata, cepat marah, cepat mengeluh, kurang sabar, kurang bersyukur, suam-suam kuku, terlalu terpikat kepada hal-hal duniawi, kurang setia dalam berdoa dan masih banyak lagi. Karena itu kita sungguh membutuhkan rahmat Tuhan dan pertolongan-Nya agar kita dapat menang dalam pergumulan ini.

Dalam bukunya, Confessions, St Agustinus mengungkapkan keinginannya untuk memperbaiki diri. Hal ini mungkin direalisasikan dengan bantuan rahmat Tuhan dan usaha dari diri kita sendiri antara lain dengan:

  • Mengikuti retret atau rekoleksi setiap tahun (jika memungkinkan)
  • Menerima Sakramen Ekaristi dan Tobat secara teratur
  • Meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa dan membaca Kitab Suci
  • Bergabung dalam komunitas
  • Menghindari kesempatan yang mendorong kita untuk berbuat dosa

Mengikuti retret atau rekoleksi

Kalau kondisi memungkinkan, sudah seharusnya kita mengikuti retret atau rekoleksi setahun sekali sebagai langkah awal yang efektif. Ada cukup banyak retret atau rekoleksi yang diadakan di dalam komunitas Gereja Katolik termasuk dalam KTM. Ibaratnya kalau kita sakit, kita harus pergi ke dokter .Apalagi kalau sakit rohani. Retret ibaratnya adalah dokter rohani untuk mencari penyebab dan menyembuhkan penyakit kita.

Menerima Sakramen Ekaristi dan Tobat secara teratur

Rahmat Allah mengalir dalam sakramen termasuk Sakramen Ekaristi dan Tobat. Dengan menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi secara teratur, rahmat Tuhan memberi kekuatan kepada kita untuk melawan godaan setan.
“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal didalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6:56)

Meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa dan membaca Kitab Suci

Doa memberikan kekuatan kepada kita sehingga kita mampu menghadapi godaan-godaan yang ada dalam kehidupan kita.

Dengan mendalami Firman Tuhan, kita semakin mengetahui apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Firman Tuhan dapat menegur dan memberi kekuatan kepada kita untuk terus bertumbuh dalam kekudusan. Kita dapat mengikuti bacaan Kitab Suci berdasarkan kalender liturgi Gereja Katolik seperti dalam buku Ziarah Batin, Ruah, dll.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16)

Bergabung dalam komunitas

Salah satu cara untuk terus bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih adalah bergabung dalam komunitas katolik misalnya KTM. Dengan bertumbuh bersama dengan anggota lain yang juga rindu untuk bertumbuh dalam kekudusan maka kita akan semakin dikuatkan. Pada saat kita lemah atau jatuh anggota lain dapat menasihati, menyemangati dan menguatkan kita.

Menghindari segala kesempatan yang mendorong kita berbuat dosa

Selain mengikuti retret dan rekoleksi setahun sekali, menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi secara teratur, meluangkan waktu berdoa dan membaca Kitab Suci serta bergabung dalam komunitas kita juga harus menghindari segala kesempatan yang mendorong kita berbuat dosa.

Misalnya seorang pemabuk yang ingin memperbaiki diri dari kecanduan alkohol harus membuang seluruh minuman beralkohol di rumah, di kantor serta menghindari tempat yang menyediakan alkohol, menjauhkan diri dari teman-teman yang mempunyai potensi mengajaknya mengkonsumsi alkohol.

Kita perlu menjaga panca indera kita dari segala hal yang dapat membawa pada dosa. St Agustinus mengatakan,” Jangan mengatakan bahwa engkau mempunyai kemurnian pikiran, jika engkau mempunyai mata yang tidak murni, karena mata yang tidak murni adalah pembawa berita dari hati yang tidak murni.” (St Agustine, Letter 211. His Rule).

Pedoman Hidup 42:

Hendaknya engkau mengaku dosa secara teratur, misalnya sebulan sekali, supaya hubungan-mu dengan Yesus tetap terjaga baik. Dalam pengakuan hendaknya engkau menyadari, bahwa imam hanya mewakili Yesus untuk memberikan pengampunan kepadamu, sehingga hubunganmu dengan Yesus semakin mesra. Dengan mengaku dosa secara jujur, engkau juga akan mendapat rahmat untuk mengatasi kelemahan-kelemahanmu.

Sharing :

  1. Apakah aku selalu berjuang untuk hidup kudus, menolak dosa dan segala keinginan untuk berbuat dosa?
  2. Setiap kali aku jatuh dalam dosa dan kelalaian, apakah aku mengakui dan lekas-lekas datang kepada Tuhan mohon ampun kepada-Nya lewat Sakramen Tobat?

Referensi:

  1. Website: Katolisitas.org–Bagaimana melepaskan diri dari kebisaaan dosa ketidakmurnian?
    http://www.katolisitas.org/bagaimana-melepaskan-diri-dari-dosa-ketidakmurnian-yang-telah-menjadi-kebiasaan/
  2. Website: Katolisitas–Tuhan, bebaskanlah aku dari belenggu dosa
    http://www.katolisitas.org/tuhan-bebaskanlah-aku-dari-belenggu-dosa/

admin