KARMEL DALAM ABAD ELEKTRONIKA

Karmel adalah suatu ordo hidup bakti yang membaktikan hidup dan karya panggilan-Nya kepada doa, meditasi dan kontemplasi. Umat pun telah mengalami buah-buah rohani melalui pelayanan dan kesaksian Ordo Karmel. Apa arti Karmel dalam abad ini? Bagaimana sepak terjangnya di abad elektronika? Apa yang harus ditingkatkan? Langkah apa yang harus ditempuh? Vacare Deo kita kali ini, akan membahas mengenai karmel dalam abad elektronika.

  1. Situasi Dunia Dewasa Ini
    Karmel dipanggil Allah untuk hidup dalam suatu zaman yang menunjukkan banyak kontradiksi: dari satu pihak kemajuan teknologi yang luar biasa tetapi dari pihak lain justru kita jumpai kekusutan dan kekacauan/kekaburan makna hidup manusia sendiri. Banyak yang tidak tahu lagi, untuk apa sebenarnya mereka hidup dan apa yang sesungguhnya mampu membahagiakan manusia. Banyak manusia yang mengira telah menguasai segala sesuatu, membuang hukum Allah dan menggantikannya dengan hukum mereka sendiri. Seperti dahulu Adam di Taman Firdaus mau menentukan sendiri mana yang baik dan mana yang jahat, demikian pula banyak manusia dewasa ini mau menentukan sendiri apa yang baik dan jahat, mana yang benar dan tidak benar.

    Hukum rimba mulai berlaku lagi: yang kuat memangsa yang lemah. Semuanya itu demi harta atau kekayaan yang dikiranya dapat memberikan kebahagiaan kepada manusia. Tanpa disadari mereka telah diperbudak oleh Si Jahat yang menjadi penguasa dunia ini, bapak segala dusta dan pembunuh sejak semula.

    Materialisme dan atheisme, baik ideologis maupun praktis serta sekularisme menguasai kehidupan manusia. Pembunuhan massal yang dilegalisir (abortus dan euthanasia) merajalela serta meninggalkan trauma mendalam dan mengakibatkan kebutaan rohani yang mengerikan.

    Kebutaan itu mencapai tahap yang mengerikan seperti tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga mereka bahkan terang-terangan memuja Iblis atau Satan, khususnya di negara-negara yang menyebut dirinya maju, seperti Amerika Serikat dan negara-negara “maju” lainnya.

    Kebenaran abadi seperti yang diungkapkan Santo Agustinus, tidak mereka sadari: “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami,sebelum beristirahat dalam Dikau.

  2. Gereja dan Dunia membutuhkan Insan-Insan Allah
    Dalam situasi dunia yang demikian itu, dunia membutuhkan insan-insan Allah,nabi-nabi Allah yang hidup, lebih daripada segala sesuatu yang lain. Santo Paulus berkata,“Perjuangan kita tidak hanya melawan darah dan daging,tetapi juga melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, yaitu roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Hal itu pulalah yang pernah ditekankan oleh Paus Paulus VI dalam salah satu audiensi pada bulan Nopember tahun 1972: “Salah satu dari kebutuhan terbesar dewasa ini ialah perlindungan terhadap kejahatan yang disebut Iblis. Persoalan tentang Iblis dan bagaimana dia bisa mempengaruhi baik individu maupun kelompok-kelompok, bahkan seluruh masyarakat, atau peristiwa-peristiwa, merupakan suatu bab penting dari ajaran Katolik yang dewasa ini kurang mendapat perhatian, walaupun sebenarnya harus dipelajari kembali.” (Deliver Us From Evil, l’Osservatore Roma-no, Nov 23, 1972).

    Siapakah yang dimaksudkan dengan insan-insan Allah itu?
    Mereka adalah orang-orang Kristen, baik pria dan wanita, rohaniwan dan awam, yang secara pribadi sungguh-sungguh mengenal Allah yang hidup, yang mengalami kasih-Nyayang mengubah dan memperbarui hidup manusia. Mereka sungguh beriman dantelah mengalami, bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh telah bangkit dari antara orang mati dan kini benar-benar hidup, hadir dan berkarya di tengah-tengah umat-Nya. Mereka hidup dalam Roh dan dibimbing oleh Roh Allah. Mereka sungguh hidup dari iman dan hidup bagi Allah melulu, karena bagi mereka Allah adalah segalanya. Dengan demikian mereka dapat berkata: “Apa yang telah kami dengar, apa yang telah kami lihat dengan mata kami, apa yang telah kami saksikan dan kami raba dengan tangan kami sendiri, itulah yang kami wartakan” (bdk. 1 Yoh. 1: 1).

    Yang akan didengarkan dunia
    ialah mereka yang sungguh-sungguh dapat menghantarkan orang kepada Allah yang hidup, bukan mereka yang hanya mampu melontarkan gagasan-gagasan yang indah. Orang-orang yang terluka hatinya/putus asa tidak membutuhkan kata-kata yang indah/muluk-muluk, melainkan kuasa cinta ilahi yang dapat membalut dan mengobati luka hatinya itu, yang menghapus keputusasaan itu serta memberikan pengharapan.

    Siapakah yang dapat membawa orang-orang tersebut kepada pengalaman serupa itu?
    Mereka itulah insan-insan Allah yang telah bertemu sendiri dengan Allah yang hidup, yang menguasai hatinya sehingga mereka akan dapat berbicara dengan penuh keyakinan tentang Allah dan membawa orang kepada perjumpaan konkret dengan Allah. Dunia dewasa ini sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang dosa dan mana yang baik. Nyatanya banyak filsuf yang atheistis, ada ahli Kitab Suci yang tidak beriman, ada teolog yang tidak ber-Tuhan dan ada moralis yang tidak bermoral. Lebih daripada kebutuhan akan materi,yang memang dibutuhkan, dunia lebih membutuhkan pengalaman kasih ilahi yang menyembuhkan, yang memperbarui, yang menyelamatkan. Baik kaya maupun miskin, mereka semua membutuhkan pengalaman kasih Allah itu. Dan itulah yang dibawakan oleh para insan Allah, sungguh diharapkan juga kalau mereka sekaligus“teolog-teolog sejati”.

    Gereja sebagai keseluruhan dijiwai Roh Kudus yang hidup dalam dirinya, jelaslah, bahwa Roh Kudus sendiri yang akan membangkitkan insan-insan Allah tersebut di dalam Gereja. Dalam kenyataannya, walaupun pada umumnya Gereja dapat diumpamakan sebagai raksasa yang masih tidur, namun di sana sini Roh Kudus sudah mulai membangkitkan saksi-saksi yang hidup. Ia pula yang mendorong orang untuk mengadakan pembaruan-pembaruan, antara lain lewat kehidupan paroki yang diperbaharui, sehingga ada paroki-paroki yang telah mati menjadi hidup kembali karena kuasa Roh Kudus. Demikian pula Roh menghidupkan kelompok-kelompok awam yang bersemangat apostolis, serikat awam dipelbagai negara, serikat religius yang ada,bahkan serikat baru yang sungguh terbuka bagi karya-Nyadan yang sesuai dengan kebutuhan zaman ini.

    Paus Paulus VI pernah berkata,saat ini Gereja sedang mengalami suatu musim semi yang baru. Suster Putri Karmel dan Frater CSE juga merasa dipanggil untuk menjadi bagian dari pembaruan Gereja universal ini. Mereka merupakan salah satu serikat baru yang dibangkitkan Roh Kudus untuk zaman ini dan untuk menanggapi kebutuhan zaman ini. Mereka bersumber pada spiritualitas Karmel awali dan mengintegrasikannya dengan rahmat pembaharuan yang dibangkitkan Roh dalam Gereja dewasa ini.

  3. Suatu Oasis di Tengah Padang Gurun Dunia Dewasa Ini
    Dalam dunia yang menyerupai padang gurun tandus dan gersang ini, Putri Karmel dan CSE ingin menjadi oasis untuk memberikan tempat istirahat dan penyegaran kepada manusia yang kelelaha ndan kehausan serta kehilangan arah tujuannya, bahkan seringkali sudah terluka parah. Banyak manusia dewasa ini yang karena situasi hidupnya mengalami pelbagai macam trauma, luka-luka batin karena penolakan, pengalaman traumatis, pengalaman dosa yang melumpuhkan dan menggelapkan, yang menimbulkan keputusasaan. Bagi mereka ini, Suster Putri Karmel dan Frater CSE (semua anggota CSE disebut dengan istilah frater) mau membawakan pengalaman kasih Allah yang mampu mempertobatkan, menyembuhkan, memperbarui, dan memberikan harapan hidup baru.

    Lewat karya retret, penyegaran rohani, konseling, doa penyembuhan (baik batin maupun fisik), mereka telah membawa banyak orang kembali kepada Tuhan.Pertapaan karmel selalu dibanjiri orang, karena mereka tahu, bahwa di sana mereka akan menemukan orang-orang yang percaya dan yakin akan kehadiran, kuasa, dan kasih Allah yang hidup. Sungguh mengharukan melihat begitu banyak orang yang datang ke pertapaan mereka dalam keadaan sering kali terluka oleh pelbagai macam hal. Akan tetapi, setelah meninggalkan tempat itu, mereka menjadi manusia baru, dengan wajah yang berseri-seri, karena mereka boleh mengalami kasih Allah secara nyata.

    Pengalaman kasih Allah yang dialami membuat mereka menemukan kembali arti hidup dan memeroleh gairah hidup yang baru, serta kekuatan untuk menanggung segala beban hidup. Mereka boleh mengalami kasih Allah, merasa tidak lagi sendirian, melainkan bahwa Allah sungguh menyertai mereka. Pengalaman kasih ini, dialami semua golongan baik oleh orang kaya maupun yang miskin, mereka yang terpelajar maupun orang sederhana. Di sana mereka juga mengalami persaudaraan kristiani yang tidak membedakan kaya dan miskin dan status sosial, sehingga merupakan pemandangan sehari-hari, bahwa orang kaya dan miskin duduk berdampingan menyantap hidangan yang sama, yang biasanya amatsederhana.Karena mereka merasa diterima dan dicintai Allah, mereka juga dengan mudah dapat pula menerima dan mencintai sesamanya .Melalui penyembuhan batin, banyak orang yang untuk pertama kalinya mengalami bahwa Allah itu sungguh hidup. Melihat fakta-fakta itu dapat dimengerti, bahwa orang sering-kali “menyerbu” Pertapaan Karmel contohnya saat ada retret di Pertapaan Karmel Ngadireso, Tumpang, Malang, sering kali peserta yang datang jauh lebih banyak daripada fasilitas yang tersedia bahkan mereka harus tidur di mana saja (di garasi, ruang makan, aula, bahkan di kamar cuci ataupun dalam kendaraan) karena memang sungguh tidak ada tempat lagi. Mereka menerima semuanya itu dengan rela, asal mereka dapat ikut dalam retret tersebut. Mereka datang dari tempat-tempat yang jauh, tidak jarang yang datang pula dari luar Jawa. Kabar tentang hal itu tersebar dari mulut ke mulut.

    Karena membanjirnya orang-orang itu, pihak pertapaan seringkali kewalahan dalam melayani mereka itu. Dengan bertambahnya anggota, bertambah pula yang harus mereka layani,sehingga hampir selalu dirasakan kurangnya tenaga.

  4. Kerinduan untuk Perjumpaan Lebih Mendalam dengan Allah
    Setelah orang-orang itu menemukan Allah yang hidup lewat retret, doa penyembuhan dan sebagainya, biasanya mereka menyadari adanya suatu kehausan untuk lebih mengenal dan mengalami Allah yang telah mengubah hidup mereka itu. Sehingga mereka mulai mendalami firman Allah yang sebelumnya sama sekali tidak berbicara bagi mereka; ingin mendalami lorong-lorong doa lebih lanjut. Putri Karmel dan CSE menyediakan diri untuk membimbing mereka ke dalam pengalaman doa batin yang lebih dalam lewat semacam retret dimana teori dan praktek tentang doa diajarkan dan diperdalam. Mereka yang telah menerima pencurahan Roh Kudus dapat masuk ke dalam doa,jauh lebih mudah daripada yang belum.

    Awalnya, retret doa dibuka untuk setiap orang yang mau. Namun, dari beberapa pengalaman, bahwa orang-orang yang belum sungguh-sungguh mengalami pertobatan, sukar sekali masuk ke dalam doa. Maka diambil kebijaksanaan, bagi mereka yang mau mengikuti Retret Doa, harus lebih dahulu ikut Retret Awal di mana orang dipersiapkan untuk menerima pencurahan Roh Kudus. Pencurahan Roh Kudus ini bagi kebanyakan merupakan pengalaman Allah yang pertama, suatu pengalaman yang sungguh nyata bagi mereka, yang sungguh-sungguh mereka “alami” secara konkrit. Karena adanya pengalaman Allah tersebut, maka terjadilah suatu hubungan pribadi yang baru dengan Allah sehingga mereka dengan mudah dapat masuk ke dalam doa.

    Pendalaman doa merupakan sarana konkret untuk membawa orang kepada perjumpaan yang lebih mendalam dengan Allah. Dalam pendalaman doa, mereka banyak menimba dari kekayaan Gereja yang ada, lebih-lebih seperti yang mereka jumpai dalam tradisi Karmel(karya-karya Yohanes Salib dan Teresa Avila). Dalam Retret Doa itulah mereka secara khusus mengajarkan cara-cara doa batin dan membimbing orang-orang kepada pengalaman doa yang nyata. Para suster dan frater harus lebih dahulu menghayati doa-doa itu dalam kehidupan sehari-hari supaya dapat membimbing orang lain dalam pengalaman doa tersebut.

    Oleh karena itu, pertapaan didirikan di tempat-tempat sunyi, serta meluangkan banyak waktu untuk doa dalam acara hariannya. Untuk menunjang kehidupan doa, mereka juga tetap melakukan dan menghayati puasa dan pantang serta bentuk-bentuk penyangkalan diri lainnya. Inilah sesungguhnya rahmat indah yang ditawarkan Allah kepada Karmel, namun sekaligus juga menuntut suatu jawaban iman yang total dan radikal. Dengan demikian Karmel akan mampu menanggapi kebutuhan manusia zaman elektronika ini, yang sudah bosan dengan kata-kata kosong, namun yang sesungguhnya merindukan perjumpaan dengan Allah yang hidup. Bila Karmel terbuka dan mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada Gereja, ini akan merupakan suatu kesempatan baru bagi Karmel yang memiliki masa lampau yang demikian kayanya. Dibutuhkan keterbukaan yang kreatif, keberanian yang sejati untuk melangkah dalam jalan-jalan yang baru, yang mungkin belum dikenal, sesuai dengan dorongan Roh Allah sendiri. Putri Karmel dan CSE merasakan, bahwa itulah panggilan mereka dan sekaligus juga suatu tantangan yang besar untuk menanggapinya.

Referensi:

http://carmelia.net/index.php/artikel/tulisan-rm-yohanes-indrakusuma/921-karmel-dalam-abad-elektronika

Pedoman Hidup 60:

Bila Tuhan melihat bahwa engkau setia dan mulai berkembang, Dia akan mulai memurnikan engkau dari banyak cacat cela serta kelekatan-kelekatan yang masih bercokol dalam dirimu, yang tidak mungkin dapat kaulakukan sendiri. Pemurnian itu bertujuan agar supaya engkau dapat menerima anugerah dan karunia-karunia rohani yang lebih besar serta hiburan-hiburan rohani yang lebih murni, lebih dalam. Pemurnian itu dapat terjadi lewat pelbagai macam pencobaan yang dibiarkan Tuhan menimpa dirimu, seperti umpamanya kesukaran-kesukaran, tidak dimengerti, penganiayaan, dan sebagainya. Juga dapat melalui kekeringan dalam hidup doa dan kegiatan rohani.

SHARING

  1. Pernahkah anda mengalami kehadiran Allah yang hidup?Sharingkanlah pengalamanmu!
  2. Sudahkah anda berperan dalam menjadi Insan Allah yang sejati khususnya dalam Komunitas ataupun dalam keseharian? Sharingkanlah pengalamanmu!

admin