MENYALIBKAN KEAKUAN KITA

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya danmengikut Aku. (Markus 8:34)

Pendahuluan

Setiap orang memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri, dan menimbulkan kerugian bagi dirinya sendiri. Tidak jarang kita menjumpai dalam hidup berkeluarga, bekerja, maupun dalam komunitas adanya konflik Karena antar kepentingan diri sendiri bertemu satu sama lain yang membuat timbulnya konflik. Sering kali sebagai manusia, kita sulit melepaskan diri dari cinta diri tersebut. Melalui VD kali ini, kita belajar meneladani Yesus yang memberikan diriNya untuk kita manusia yang berdosa, sehingga kita dapat memberikan diri untuk orang lain dan menjadi berkat bagi sesama.

Keakuan

Keakuan adalah sifat yang mementingkan diri sendiri ( sumber : KBBI ). Contoh dari keakuan adalah : marah saat pendapat kita tidak diterima, iri hati saat orang lain mendapatkan berkat, dengki dan dendam saat orang lain melakukan kesalahan pada dirikita, sombong, menganggap diri sendiri paling hebat dan selalu ingin dihargai. Keakuan ini berkaitan dengan segala sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya.

Akibat dari keakuan

Pada suatu hari di sebuah biara ada sebuah retret hidup baru dalam Roh Kudus. Peserta yang hadir ada 300 orang. Pada saat makan siang semua peserta hadir diruang makan. Saat itu ditempat makan, peserta dapat mengambil makan dengan bebas, sehingga peserta yang awal datang mengambil makanan sebanyak-banyaknya. Akibatnya peserta yang terakhir datang tidak mendapatkan makanan, sehingga panitia retret harus mengeluarkan dana lebih untuk membeli makanan tambahan. Di sini kita dapat melihat contoh bahwa keakuan atau mementingkan diri sendiri dapat merugikan orang lain. Kita melihat demi kepentingan pribadi, kita tidak peduli bahkan mengorbankan milik orang lain. Selain berakibat buruk bagi orang lain, keakuan dapat berakibat buruk bagi diri sendiri, sebagai contoh : suatu hari ada seorang pemuda yang datang ke pertemuan sel, saat itu pemuda tersebut sebagai anggota sel, ingin bertugas sebagai workship leader, padahal sudah ada petugas yang bertugas. Akan tetapi, karena pemuda tersebut diberi nasehat oleh pelayan sel bahwa sudah ada petugas, tetapi tidak dapat menerima, tetap mau bertugas, maka pelayan sel memutuskan untuk memberinya kesempatan, lalu karena kurang dipersiapkan dengan baik maka tentu saja pemuda tersebut tidak dapat bertugas dengan baik, bahkan sel pada malam hari itu tidak dapat berjalandengan baik, banyak kesalahan yang terjadi.

Keakuan membuat kita fokus pada diri sendiri sehingga tidak dapat menerima nasehat orang lain. Hal ini menghambat pertumbuhan rohani kita. Sama seperti pemuda yang sudah dinasehati bahwa sudah ada petugas yang mempersiapkan, tetapitidak mendengarkan sehingga banyak terjadi kesalahan. Nah kalau kita bayangkan jika pemuda tadi memiliki sifat seperti itu maka selain pertemuan sel tidak berjalan baik,maka teman-teman yang lain akan merasa tidak nyaman bergaul dengan pemuda tersebut, sehingga ia tidak memiliki banyak teman. Hal tersebut tentu saja berpengaruh pada pekerjaan dan hidup berkeluarganya. Akan banyak konflik,dan tentu saja membuat ia tidak bahagia. Merasa tidak diterima, dijauhi, sedih, dan sendirian. Oleh karena itu penting sekali kita belajar untuk menyalibkan keakuan kita.“Sama sepertiaku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku,tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.“1 Kor 10 : 33

Cara menyalibkan keakuan

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Matius 16 : 24

  • Menyangkal diri: menyangkal diri berarti mengutamakan Firman Tuhan di atas kehendak kita sendiri. Pada suatu hari ada seorang pemuda yang hendak pergi ke sebuah mall di hari minggu. Pada saat ini mempersiapkan diri untuk pergi kemudian ia teringat bahwa ia belum pergi ke gereja. Dalam 10 perintah Allah ia teringat sebuah perintah yaitu kuduskanlah hari Tuhan, dan dalam salah satu perintah gereja yaitu“ Ikutilah perayaan Ekaristi pada hari Minggu “Saat teringat hal tersebut ia memutuskan untuk pergi ke gereja mengikuti perayaan ekaristi. Ini adalah contoh dari penyangkalan diri dimana mengutamakan kehendak Allah daripada diri sendiri
  • Memanggul salib : Sebagai pengikut Kristus, Yesus menghendaki kita hidup sesuai dengan perintahNya. Perintah tersebut kita dapat mengenal dengan membaca dan merenungkan kitab suci, tradisi suci dan magisterium gereja katolik. Oleh karena itu kita dituntut untuk hidup sesuai firman Tuhan. Dalam pelaksanaanya kita seringkali bergumul antara keinginan daging kita atau hidup sesuai keinginan Tuhan. Saat kita memilih mengikuti Tuhan maka ada pengorbanan dan perjuangan. Ini adalah salib yang kita harus pikul dengan tekun dan setia sepanjang hidup kita. Sebagai contoh saat pemuda di atas yang hendak pergi ke mall, sebenarnya ia sudah merencanakan untuk makan di suatu tempat yang ia sukai. Ia sudah membayangkan makanan yang ia sukai. Saat menyadari ia belum ke gereja dan hari sudah malam, tidak bisa ditunda lagi karena misa terahkir adalah minggu malam. Maka ia tidak dapat pergi ke mall. Dalam hati ada perasaan kecewa karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Beban atau pengorbanan ini adalah salib yang kita pikul.
  • Mengikuti Yesus : Saat kita berada di jalan raya di sana ada petunjuk belok ke kanan dan ke kiri. Kita harus memutuskan akan belok ke kanan atau kiri sehingga kita sampai ke tempat yang kita tuju. Mengikuti Yesus berarti kita memilih mengarahkan hidup kita kepada Yesus. Jika kita seorang yang pemarah, lalu beberapa tahun selanjutnya masih pemarah yang sama, sebenarnya kita belum memutuskan mengikuti Yesus. Jika mengarahkan diri kepada Yesus maka adatujuan yaitu menjadi semakin serupa dengan Kristus, Kita akan berusaha untuk bertumbuh.

Dari ketiga syarat mengikuti Yesus, Kita dapat merangkumnya menjadi menyalibkan keakuan kita. Mengapa demikian? karena keakuan kita bersumber pada cinta diri dan memalingkan kita dari kehendak Allah yang merupakan puncak kebahagiaan kita. Seringkali yang menjadi masalah adalah kita sendiri belum tentu sudah menyadari bahwa Allah sungguh sungguh sumber kebahagiaan hidup kita. Kita merasa bahwa keinginan kita yang duniawi lebih enak, menyenangkan dan berharga. Mungkin sibuk dengan handphone, film, pergi travelling, mencapai cita-cita di negeri asing, mendapatkan kekayaan, memiliki mobil, memiliki bisnis dan posisi lebih tinggi. Saat kita membaca tulisan orang kudus seperti santo Yohanes Salib yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah kosong /nada. Kita sering tidak memahaminya. Oleh karena itu,marilah kita coba merenungkan dan berdoa. Saat kita mengejar semua keinginan kita, bukankah kita hanya merasa haus, ingin lagi setelah kita mencapainya ? bukankah semuanya itu tidak dapat memuaskan kita ? marilah kita menyadari kesia siaan tersebut, sehingga kita dapat memahami mana yang lebih berharga. Berdoalah supaya Allah Roh Kudus menerangi kita sehingga kita dapat menyadari sungguh sungguh dalam hati dan berpaling pada Kristus sepenuhnya dan menjadi kudus seperti panggilanya.

Rhema ayat minggu ini

Setiap orangyang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnyadan mengikut Aku.”(Markus 8:34)

Pedoman hidup KTM 61:

Tanda-tanda itu ialah sebagai berikut:

  1. Tak mampu bermeditasi atau merenung dan berdoa seperti biasanya lagi. Tidak mampu lagi memakai fantasi, gambaran, penalaran seperti semula. Semuanya menjadi kering, menjadi hambar. Namun hal itu dapat disebabkan oleh hal lain. Karena itu perlu adanya tanda yang lain.
  2. Tidak dapat menemukan kesenangan dan penghiburan yang dapat dirasakan dalam perkara-perkara Allah, dalam devosi-devosi, dalam latihan-latihan rohani lainnya. Juga tidak ada kesenangan dan hiburan dalam perkara-perkara lain. Sebab bila engkau tidak lagi tertarik pada perkara-perkara Allah, namun tertarik pada perkara-perkara lain,perkara-perkara duniawi, misalnya tidak suka berdoa namun senang sekali menonton tv, video, bermain internet, video game, dll, itu bukan kemajuan, melainkan kemunduran.
  3. Ingatan dan pikiran pada umumnya terarah kepada Allah, dengan disertai semacam kekuatiran dan ketakutan, bahwa engkau tidak mengabdi Allah dengan benar, bahwa engkau telah mundur, karena tidak lagi mengalami penghiburan yang dirasakan sebelumnya. Orangyang sungguh-sungguh mundur tidak berpikir secara demikian itu,melainkan tenggelam dalam hal-hal lain tanpa memikirkan Allah. Kecuali itu biasanya orang juga tertarik tinggal dalam kesunyian dan keheningan dan tetap berdoa. Tanda ketiga inilah yang paling penting, sebab bila ada kemunduran, orang tidak peduli lagi pada hidup atau latihan rohani, melainkan akan mencari kesibukan atau hiburan lain. Karena itu penting sekali, bahwa walaupun engkau merasa kering,engkau terus saja berdoa. Ketekunan dan kesetiaan inilah yang penting.

Sharing:

  1. Menurutmu mana yang lebih engkau sukai saat ini? kehendak Tuhan atau keinginan daging / keakuanmu ?
  2. Bagaimana caramu supaya engkau dapat bertumbuh dalam kedewasaan rohani dengan menyalibkan keakuanmu? sharingkanlah pengalamanmu

admin