MENJAGA LIDAH

“Setiap perkataan sia-sia yang keluar dari mulut, akan dipertanggungjawabkan di hari penghakiman.” (Mat 12:36)

Pendahuluan

Ada pepatah yang mengatakan, ”Mulutmu danlidahmu adalah harimaumu yang akan menerkam dirimu sendiri.”Selain pepatah tersebut ada juga lagu sekolah minggu yang sering dinyanyikan,”Hati-hati gunakan mulutmu, hati-hati gunakan mulutmu. Kar’na Bapa disurga melihat kebawah. Hati-hati gunakan mulutmu. ”Lagu sekolah minggu diatas, ada banyak baitnya. Hati-hati gunakan tangan, kaki, dan mata…intinya supaya kita mawas diri. Penting untuk menjaga panca indera kita karena Allah Bapa di surga memperhatikan segala tingkah laku, gerak gerik, perkataan kita

Renungan

Sejak kecil, kita sudah diajari untuk menjaga panca indera kita termasuk mulut dan lidah kita karena Allah Bapa di surga tahu apa yang kita katakan/ucapkan dan apa kita perbuat/lakukan. “Setiap perkataan sia-sia yang keluar dari mulut,akan dipertanggungjawabkan di hari penghakiman.” (Mat12:36) Apa yang terjadi jika kita tidak bisa menjaga mulut dan lidah kita? Mungkin pada saat kita jengkel, marah, emosi, perasaan negative lainnya. Apa akibatnya jika mulut dan lidah kita tidak terkontrol itu? Tentu akan banyak kata-kata kotor, perbendaharaan kebun binatang, caci maki, hinaan yang keluar dan menimbulkan sakit hati, menyebabkan kepahitan, kutuk/sumpah serapah terhadap lawan bicara kita.

“Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurutukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barang siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal,walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak juru mudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, iadapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidakdapat mengeluarkan air tawar.” (Yoh 3:1-12)

Lalu bagaimana cara menjaga mulut dan lidah kita?

  • Senantiasa berpikir positif dan mengucap syukur atas segala sesuatu/hal
  • “Jangan ada perkataan kotor, perkataan bodoh, atau lelucon-leluconkasar–yang tidak pantas–sebaliknya, ucapkanlah syukur.” (Efesus5:4)
  • Kalau marah, kesal atau jengkel, coba tarik nafas 2 sampai 3 kali dan berdoa kepada Tuhan mohon kekuatan, kesabaran dan rahmat Tuhan.
  • “Namun, sekarang, buanglah semua itu: kemarahan, kemurkaan, kebencian, fitnah, dan perkataan kotor dari bibirmu. “ (Kolose 3:8)
  • Lebih banyak diam dan mendengarkan daripada berbicara
  • Mendengarkan berarti penuh perhatian atas lawan bicara kita dan tidak cepat-cepat menghakimi atau memberi penilaian.
  • Seperti surat Rasul Paulus kepada Yakobus 1: 19, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”
  • Perkataan yang dipenuhi dengan kasih dan kelemahlembutan
  • Setiap perkataan dari mulut hendaknya perkataan yang bermanfaat dan membangun. Bukan melukai namun mendorong. Bukan menghakimi namun menguatkan. Bukan memarahi namun mengasihi.
  • Ada kebenaran dan niat yang tulus dan mulia dalam perkataan
  • Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat”(Matius 5:37). Kiranya ada kebenaran dalam setiap perkataan kita. Tidak ada kebohongan didalamnya. Tidak ada perkataan perkataan yang keluar hanya berdasar asumsi tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dan tidak mengandung fitnah. Paus Fransiskus mengatakan: “Jika kita tidak mampu menjaga lidah kita terawasi, kita kalah….misalnya, yaitu Kain terhadap Habel, berulang sepanjang sejarah. Hal ini terjadi bukan karena kita jahat, melainkan karena kita lemah dan berdosa. Itulah sebabnya mengapa kita “lebih mudah” menyelesaikan situasi dengan penghinaan, dengan fitnah, dengan pencemaran nama baik, bukannya menyelesaikan dengan cara yang baik”. Paus Fransiskus juga berdoa agar Tuhan memberi kita semua rahmat untuk menjaga lidah kita, mengawasi apa yang kita katakan tentang orang lain agar kita makin mampu hidup dalam kelemah lembutan dan hukum kasih. Menurut Paus Fransiskus hal ini ibarat penebusan dosa kecil namun menghasilkan banyak buah. Kita perlu memangkas lidah kita, memangkas komentar-komentar yang kita buat tentang orang lain dan ledekan-ledekan yang menghantar kita pada kemarahan atau penghinaan.Semoga Tuhan memberikan kita semua rahmat ini..

Rhema ayat minggu ini

“Setiap perkataan sia-sia yang keluar dari mulut,akan dipertanggungjawabkan di hari penghakiman.”(Mat 12:36)

Pedoman hidup KTM 62:25.

Bila ketiga tanda itu hadir, terutama yang ketiga, engkau dapat yakin, bahwa Allah membawamu kepada kontemplasi ilahi yang gelap. Untuk sementara engkau belum dapat mengertinya dengan baik, tetapi percayalah, bahwa dalam keadaan seperti itu Allah sedang membentukmu. Dalam keadaan demikian itu tinggallah tenang dihadapan Allah, dalam kesadaran samar-samar akan Allah yang hadir, sambil memandang Dia dengan penuh kasih. Bila kemudian engkau tak mampu lagi tinggal hening di hadapan-Nya, ucapkanlah dengan perlahan-lahan nama Yesus, atau doa Bapa Kami perlahan-lahan

Sharing:

  1. Apakah aku selalu berjuang dan berusaha menjaga mulut dan lidahku?
  2. Jika aku tanpa sadar atau dengan sadar memarahi, mencaci maki, menghina dan merendahkan lawan bicara. Apakah aku langsung menyadari dan meminta maaf kepada lawan bicaraku?
  3. Apakah masih ada kemarahan, luka batin didalam diriku? Jika ada, apakah aku mau memaafkan dan mengampuni orang yang menyakitiku.

admin