MENDOAKAN ARWAH KELUARGA YANG SUDAH MENINGGAL

Gereja Katolik mendedikasikan sepanjang bulan November sebagai bulan khusus untuk mendoakan jiwa orang-orang yang telah meninggal dunia. Gereja merayakan misa arwah setiap tanggal 2 November.

Apakah memang perlu dan berguna mendoakan orang yang telah meninggal dunia? Bukankah ketika seseorang meninggal dunia, saat itu “takdir” nya telah ditentukan apakah ia masuk neraka atau surga? Gereja Katolik percaya, selain adanya surga dan neraka, juga adanya Api Penyucian.

Gereja mengajarkan bahwa mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia – terutama arwah anggota keluarga, orang-orang yang kita kasihi, dan arwah-arwah tidak ada yang mendoakan atau terlupakan – merupakan karya rohani yang penuh belas-kasih dan mulia.

Kita mendoakan para arwah dengan iman, karena kita tidak mengetahui keadaan jiwa-jiwa yang kita kasihi itu setelah kematian. Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak menghakimi, bahwa seseorang itu masuk neraka oleh karena kita pikir orang tersebut adalah orang yang jahat, atau “menempatkan” seseorang di surga semata-mata karena kita pikir ia adalah seorang yang baik – sebab hanya Tuhan yang mengenal hati setiap orang. Maka dari itu, di Pesta Para Arwah dan sepanjang bulan November, kita mendoakan jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia. Bukan hanya kita berdoa bagi jiwa yang kita tahu sepanjang masa hidupnya adalah seorang yang baik dan hidup kudus, yang mencintai Kristus dan melayani Kristus di dalam orang-orang yang miskin dan hina, dan yang meninggal di dalam Sakramen; namun juga jiwa-jiwa yang di dalam pandangan manusia, dianggap hidup jauh dari Allah, dari sakramen-sakramen-Nya, dan perintah-perintah-Nya, dan yang meninggal dunia dalam keadaan berdosa. Kita mendoakan mereka semua, mempercayakan mereka ke dalam kerahiman Allah, karena kita percaya bahwa dalam persatuan dengan para kudus, doa dan perbuatan kebajikan yang kita lakukan sungguh dapat menolong mereka.

Dasar Alkitabiah

  1. Yesus mengatakan dalam Matius 12:32: “Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jia ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.“Dari kalimat ini kita memahami bahwa ada dosa yang bisa diampuni di dunia ini (masa ini) dan ada yang bisa diam puni di dunia (masa) yang akan datang.
  2. Kitab Perjanjian Lama, 2 Makabe menceritakan tentang Yudas Makabe, yang meminta doa bagi jiwa prajurit-prajuritnya yang gugur dalam perang. “Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.” (Bdk 2 Makabe 12: 42-45)
  3. Dalam 1 Kor 3:15, Rasul Paulus mengajarkan bahwa pada akhirnya segala pekerjaan kita akan diuji oleh Tuhan. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Api ini tidak mungkin merupakan api neraka, sebab dari api neraka tidak ada yang dapat diselamatkan. Api ini juga bukan surga, sebab di surga tidak ada yang “menderita kerugian”. Maka “api” di sini menunjukkan adanya kondisi tengah-tengah, di mana jiwa-jiwa mengalami kerugian sementara untuk mencapai surga.
  4. Rasul Petrus mengajarkan bahwa pada akhir hidup kita, iman kita akan diuji, “…untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api, sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan… pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya (1 Pet 1:7). Rasul Petrus juga mengajarkan, “Kristus telah mati untuk kita… Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan oleh Roh, dan di dalam Roh itu pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara, yaitu roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah…” (1 Pet 3: 18-20). Roh-roh yang ada di dalam penjara ini adalah jiwa-jiwa yang masih terbelenggu di dalam ‘tempat’ sementara, yang juga dikenal dengan nama “limbo of the fathers” (limbo of the just). Selanjutnya Rasul Petrus juga mengatakan bahwa “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati supaya oleh roh, mereka dapat hidup menurut kehendak Allah” (1 Ptr 4:6). Di sini Rasul Petrus mengajarkan adanya tempat ketiga selain surga dan neraka.
  5. Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus mendoakan sahabatnya, Onesiforus yang rajin mengunjunginya sewaktu ia dipenjara, agar Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada sahabatnya itu pada hari penghakiman” (lihat 2 Tim 1:16-18). Rasul Paulus mengharapkan (mendoakan) belas kasihan Tuhan terhadap jiwa sahabatnya itu pada saat kematiannya. Hal ini tentu tidak masuk akal jika doa (pengharapan) yang dipanjatkan untuk orang yang meninggal tidak ada gunanya.

Dasar Ajaran Gereja

Gereja Katolik mengajarkan adanya tiga status Gereja yaitu: 1) yang masih mengembara di dunia; 2) yang sudah jaya di surga; 3) yang masih dimurnikan di Api Penyucian.

Katekismus Gereja Katolik art. 1475 mengajarkan bahwa mereka yang meninggal dalam keadaan berahmat dan dalam persahabatan dengan Allah (memiliki relasi yang baik dengan Allah), memang akan memperoleh keselamatan abadi, namun setelah kematian ia akan mengalami pemurnian terlebih dahulu, untuk mencapai (tingkat) kekudusan yang diperlukan untuk dapat (layak) masuk kepada sukacita surgawi. Gereja menamakan pemurnian akhir bagi orang-orang yang terpilih itu Api Penyucian, yang sepenuhnya berbeda dengan penghukuman (kekal) bagi jiwa-jiwa yang celaka (binasa).

Menolong Jiwa Jiwa di Api Penyucian

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan, sebagai Gereja yang masih mengembara di dunia, dapat membantu Gereja yang masih di Api Penyucian untuk mendapatkan pengampunan dan menerima sukacita surgawi:

  1. Memperolehkan indulgensi penuh atau indulgensi sebagian (khususnya di bulan November) bagi jiwa-jiwa di api Penyucian
  2. Mempersembahkan misa, berdoa, berpuasa, mempersembahkan kurban (melakukan silih), berdoa di hadapan Sakramen Maha Kudus, mendaraskan Rosario.

Mendoakan arwah keluarga dan jiwa-jiwa di Api Penyucian merupakan tindakan iman yang mulia, di mana kita menjawab panggilan terdalam Gereja, seperti doa dari St Teresa Lisieux “untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang akan mencintai Allah selamanya.” Bagi jiwa-jiwa di api Penyucian, menunggu kebahagiaan abadi dan menunggu untuk bersatu dengan Yang Terkasih merupakan sumber penderitaan yang terjadi sebagai konsekwensi dari dosa yang memisahkannya dari Tuhan, namun juga merupakan kepastian bahwa pada saat pemurnian tersebut berakhir, mereka akan segera berjumpa dengan Sang Dambaan Jiwa.

Sumber:

Cathecism of Catholic Church; “The Importance of Praying for the Dead”, Homily of Pope Benedict, All Soul Day 2013; Prayer for the Dead, Answered by Fr John Echert, www.ewtn.com; “Bersyukurlah Ada Api Penyucian” www.katolisitas.org

Rhema:

“Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku. Tiliklah sengsaraku dan kesukaranku, dan ampunilah segala dosaku.” (Mazmur 25:17-18)

Pedoman Hidup KTM no. 43:

Bila engkau meritmekannya dengan napas, jangan dipaksa, tetapi biarlah terjadi secara alami saja. Bila suatu saat engkau ditarik untuk hening saja, duduk di hadapan Tuhan, heninglah saja, tak usah perhatikan pengucapan nama itu, asal perhatianmu benar-benar terarah kepada Tuhan. Bila tidak, serukan terus nama Yesus itu tanpa henti.

Sharing (Pilih salah satu):

  1. Apakah engkau pernah kehilangan orang yang engkau kasihi? Sharingkanlah bagaimana engkau mendapat penghiburan lewat doa bagi orang terkasih yang telah berpulang kepada Bapa.
  2. Sharingkanlah pengalamanmu bila engkau pernah merasa tertolong/mendapatkan kelegaan keluar dari kesesakan yang menghimpitmu, oleh karena perantaraan doa orang lain atau komunitasmu?

admin