MENGENAL DAN MENGAKUI SISI GELAP

“Sisi gelap kita begitu jelas bagi sesama kita, tetapi begitu sulit kita kenal sendiri” ~ Jung

Pendahuluan

Dalam rangka menampilkan jati dirinya, manusia dihadapkan pada dua pilihan (yang terkadang tidak dapat dipilih sesuka hati), yaitu menampilkan diri sesuai dengan harapan (baik harapan dari diri sendiri atau dari orang lain) atau menampilkan diri dengan apa adanya. Seringkali manusia dihadapkan oleh situasi yang memaksanya untuk beradaptasi. Sebagai contoh, ketika ada seorang pemuda yang berwatak asli garang dan ceplas-ceplos dalam berbicara, ketika ia menjadi seorang biarawan, bisa saja ia memakai ‘topeng’ untuk menjadi seorang biarawan yang sabar dan bijaksana dalam berujar. Mungkin ‘topeng’ itu ia kenakan tanpa ia sadari, karena demikianlah yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya terhadap sosok seorang biarawan. Dalam Jungian Psychology topeng tersebut dapat disebut dengan persona. Persona yang kita pasang adalah gambaran diri (idaman) yang telah kita resapkan (batinkan), sesuai dengan apa yang mau kita tunjukkan, misalnya sebagai seorang penyabar, pejuang, pembicara mahir, atau penasihat unggul. Gambaran diri yang kita tunjukkan dapat saja memang selaras dengan kepribadian kita maupun tidak. Pada umumnya, kita akan memilih pola persona yang membawa pengakuan (pujian) paling banyak.

Bagaimana dengan karakter asli yang tampak tidak diharapkan? apakah akan menghilang? Dengan latihan rohani yang terus menerus atau dengan bantuan rahmat Allah, memang tidak menutup kemungkinan bahwa karakter tersebut mereda dan berganti dengan karakter yang diharapkan. Namun pada banyak pribadi, karakter tersebut tetaplah ada dalam diri seseorang, hanya saja terkubur dalam alam bawah sadar seseorang. Inilah salah satu contoh dari shadow atau “sisi gelap” manusia.

Sisi gelap adalah bagian dari kepribadian kita (kemarahan , rasa iri, ambisi, kehendak, dll) yang kita geser dan kita dorong ke bawah sadar, karena kita khawatir semua itu tidak akan diterima oleh mereka yang mencintai, mendidik, dan membesarkan kita. Perlu diingat bahwa sisi gelap tidak selalu bersifat negatif. Sebagai contoh, ada anak yang memiliki minat yang besar terhadap seni melukis, akan tetapi, tidaklah demikian yang diharapkan oleh orang tuanya. Orang tuanya mengharapkan dia menjadi seorang dokter. Jika dia terus-menerus didoktrin untuk meninggalkan hobi melukisnya dan menjadi dokter, bisa saja dia kemudian menjadi seorang dokter yang baik. Tetapi, berdasarkan teori Jung, minat pada seni lukis tersebut terus terpendam dalam dirinya, sehingga pada suatu saat nanti minat tersebut terus-menerus “memanggil-manggil” dan menarik perhatiannya dan menuntut untuk diperhatikan.

Cara Mengenali Sisi Gelap

Jung menawarkan beberapa cara untuk mengenali sisi gelap. Saat ini, kita coba gunakan satu metode saja, yaitu dengan pola pertanyaan. Renungkanlah sejenak pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  1. Sifat baik apa sajakah yang sangat dihargai pada diri kita? Sifat dan kebiasaan pokok manakah yang harus kita sembunyikan agar dapat menonjolkan sifat-sifat baik itu?
  2. Penilaian diri / kritikan manakah yang membuat kita marah atau tersinggung, atau menyakiti hati kita? Herankah kita karena reaksi keras kita sendiri? Jika demikian, itulah tanda tersentuhnya suatu bidang dalam diri kita yang belum kita kenal.
  3. Dalam situasi bagaimanakah kita merasa malu karena telah memperlihatkan kelemahann atau ketidakmampuan kita?

Persona dan Sisi Gelap

Pada bagian ini kita akan melihat kisah-kisah dalam Alkitab yang membahas mengenai sisi persona dan sisi gelap. Dalam injil Lukas 18:18-19, seorang pemuda kaya datang kepada Yesus dan bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, “Mengapa kau katakan Aku baik? tidak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja.” Dalam percakapan tersebut, Yesus menangkap bahwa Ia diukurkan dengan persona orang yang selalu baik. Dengan segera Ia mengembalikan persona tersebut.

Yesus pun menyadari bahaya menerapkan persona ke atas diri sendiri seperti orang-orang Farisi. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu ini sama dengan kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan” Mat 23:27-28. Pada kutipan ayat tersebut, Yesus mengecam kemunafikan yang disebabkan karena persona.

Dalam Luk 16:1-8, kita dapat membaca kisah mengenai bendahara yang tidak jujur. Dalam perikop tersebut, tampak bahwa Yesus sangat memahami kecenderungan sisi gelap yang ada pada manusia. Namun, Ia tidak serta-merta menolak dan mengutuk sifat-sifat negatif tersebut.

Berdamai dengan Sisi Gelap

Jung mengatakan bahwa sisi gelap adalah harta terpendam, sumber potensi yang tidak akan dapat dikembangkan jika terus terpendam. Sebenarnya, Jung juga membahas mengenai bagaimana manusia memproyeksikan sisi gelapnya kepada sesama. Namun untuk tahap ini, marilah kita berfokus dulu untuk mengenali sisi gelap dalam diri kita terlebih dahulu.

Salah satu perintah Yesus adalah “kasihilah musuhmu!” Perintah ini dapat kita kaitkan dengan sisi gelap. Sisi gelap seringkali dipandang sebagai musuh dalam diri kita. Mengasihi diri kita bukanlah masalah ringan justru karena hal itu berarti mengasihi segala sesuatu dalam diri kita, termasuk sisi gelap yang rendah dan tidak diterima masyarakat. Jika kita tidak dapat menerimanya, maka kita tidak mengakui diri kita secara utuh, karena sisi gelap adalah bagian asli dari diri kita.

Barang siapa tidak mengenal sisi gelap, ia tidak mungkin mengenal diri secara penuh. Agar sisi gelap dapat menjadi sesuatu yang positif, seseorang harus mau menyadari, mengakui, dan menerima sisi gelapnya terlebih dahulu. Mengabaikan sisi gelap karena kita tidak menyukai apa yang kita termukan dalam diri kita membuat kita semakin tidak dapat berdamai dengannya. Hanya hal-hal (sifat, bakat, ambisi, dll) yang disadari, diakui, dan diterimalah yang dapat diolah.

Sisi gelap yang sulit untuk diterima adalah sisi gelap yang bersifat negatif, misalnya sifat pemarah. Jika seseorang yang selama ini dipandang sebagai seorang yang sabar menemukan bahwa di dalam dirinya ternyata terdapat sifat pemarah, ia dapat mengolah sifat pemarah tersebut ke arah yang lebih positif, misalnya dengan berkonsultasi dengan seorang psikolog jika diperlukan. Pada contoh kasus di atas,di mana seorang anak yang memiliki bakat/minat terpendam mengenai seni pun tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan dunia kedokteran. Jika bakat tersebut terus dikembangkan, mungkin ia dapat memberikan penjelasan mengenai penyakit-penyakit pasiennya melalui visualisasi gambar agar lebih mudah ditangkap oleh pasien dan keluarganya.

Mengakui bahwa kita memiliki sisi gelap sama dengan meraih sampai ke tempat kudus pada pusat diri kita. Hanya melalui ruang gelap itu kita bisa meraih sampai ke tempat kudus, karena bagaimanapun, tidak ada satu hal pun yang dapat kita sembunyikan dari Allah.

Sharing:

  1. Ceritakanlah mengenai sisi gelap yang ada dalam diri Anda. Apakah selama ini Anda telah menyadarinya? Apakah Anda dapat menerima sisi gelap tersebut?
  2. Jika Anda telah mengenali sisi gelap Anda, sikap apa yang akan Anda ambil agar sisi gelap tersebut dapat diproses menjadi sesuatu yang lebih positif?

Rhema ayat minggu ini

Sisi terang dan sisi gelap merupakan dua bagian pada satu kenyataan hidup yang sama-sama disapa manis oleh Allah Bapa dan Pencipta: ‘Engkau berharga di mataku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau’ (bdk Yes 43:4)

Pedoman hidup KTM:

Kalau engkau lebih tertarik pada lectio divina, jangan ragu-ragu melakukannya, seperti yang diajarkan kepadamu. Ambillah suatu teks Kitab Suci yang sudah kau kenal dan kaupersiapkan sebelumnya. lectio divina dalam 4 langkah:

Pertama : lectio atau bacaan : bacalah penuh perhatian, perlahan-lahan. Bertanyalah: Apakah arti teks itu dalam konteksnya dan menurut konteks kebudayaan waktu itu ? Apa pesan teks itu kepada saya ?

Kedua : meditatio atau peresapan : resap-resapkan teks atau kalimat tersebut, khususnya yang menyentuh hatimu. Engkau dapat bertanya: Apa yang dikatakan Tuhan kepadaku secara pribadi melalui teks ini ? Apa jawabanku pribadi ? Kemudian teks atau kalimat yang menyentuh hatimu itu dapat kauulang-ulangi, kaukunyah-kunyah seperti orang mengunyah tebu atau permen karet, sampai puas hatimu.

Ketiga : oratio atau doa : berdasarkan teks tersebut berbicaralah dengan Tuhan dari hati ke hati dan ungkapkan isi hatimu kepada-Nya. Ingatlah, dalam doa yang terpenting bukanlah banyak berpikir tentang Tuhan, melainkan banyak mencintai. Itulah pesan Santa Teresa Avila.

Keempat : contemplatio atau kontemplasi : sesudah berbicara sejenak, belajarlah diam, mendengarkan Tuhan, sambil memandang dengan iman Dia yang hadir dalam lubuk hatimu atau di hadapanmu. Bila perhatianmu tidak dapat terpusat lagi pada Tuhan yang hadir, kembalilah ke langkah pertama dan mulai dengan teks atau ayat berikutnya. Proses itu diu langi seperti di atas sampai waktu yang ditentukan untuk doa telah selesai.

Referensi:

  1. “Sisi Gelap – Sisi Terang”, Wolfgang Bock, SJ, Obor, 2009
  2. Tulisan-tulisan mengenai Sisi Gelap (Shadow) – Carl Jung pada berbagai artikel dan website.

admin