HIDUP DALAM KEHENINGAN SEPERTI SANTO BENEDIKTUS

“Dengarlah anakku, kepada pedoman sang tuan dan ikuti dengan telinga hatimu”

Santo Benediktus mendirikan komunitasnya yang sederhana di abad ke enam. Dalam kekacauan runtuhnya Kerajaan Romawi, biara Benediktus adalah surga kedamaian, doa dan stabilitas. Untuk menolong saudaranya mengikuti jalan kebijaksanaan Tuhan, Benediktus menulis aturan pendek. Aturannya masih dipakai sebagai dasar dokumen dari biara-biara Benediktin diseluruh dunia. Aturan Benediktus berdasarkan pada tiga kaul yaitu ketaatan, stabilitas dan pertobatan hidup.

Pada kata-kata pembukaan aturan Benediktus ini diletakkanlah dasar untuk berjalan di jalan spiritual. Untuk berkembang secara spiritual kita harus berhenti dan mendengar tidak saja dengan telinga kita, tapi juga dengan hati kita. Bagi para rahibnya, Benediktus adalah “tuan” atau guru, tapi tiap dari kita juga perlu mencari guru untuk berpaling. Dalam kehidupan spiritual kita, kita perlu berhenti dan mendengarkan suara Kristus yang cenderung kecil. Suara-Nya datang melalui Kitab Suci, melalui ajaran Gereja dan melalui kasih dari sesama di dalam hidup kita. Jika kita mengambil waktu untuk mendengarkan dan belajar pada tahap yang paling dalam dari keberadaan diri kita, maka seperti Santo Benediktus kita dapat membangun kehidupan yang stabil dan aman di tengah dunia yang kacau.

Santo Benediktus dan para pengikutnya memiliki motto hidup yang sangat terkenal, yaitu “Ora et Labora”, artinya “Berdoa dan Bekerja”. Dalam Vacare Deo kali ini, kita hendak melihat lebih jauh salah satu bagian dari motto ini, yaitu hidup doa. Sebagai anggota KTM, hidup doa hendaknya mendapat prioritas. Doa adalah napas hidup kita, yang memungkinkan persatuan cinta yang mesra dengan Allah. Pengalaman doa yang paling dalam hanya bisa ditemukan dalam keheningan. Benediktus mengajarkan bahwa keheningan doa memampukan kita untuk mendengarkan dengan hati. Dengannya seorang beriman akan lebih peka terhadap kehendak Allah maupun gerak cinta-Nya dalam diri sesama dan alam ciptaan.

MENDENGARKAN DENGAN HATI

Untuk mendengarkan dengan hati, seorang beriman harus terlebih dahulu mencintai keheningan. Kendati “regula” atau aturan hidup Benediktus pertama-tama dimaksudkan untuk komunitas biara-biara yang ia dirikan, namun bila dibaca dan dimengerti dengan baik, seorang beriman akan mendapati bahwa sebenarnya aturan hidup ini sangat bisa dijalani oleh komunitas-komunitas bahkan keluarga-keluarga Kristiani, yang sungguh merindukan hidup yang berpusat pada Kristus. Kuncinya adalah keheningan.

KEHENINGAN DAN KERENDAHAN HATI

Mengenai keheningan, Regula Santo Benediktus Pasal VI mengatakan demikian, “Marilah kita lakukan apa yang dikatakan Nabi: “Aku berkata, aku akan memperhatikan jalanku, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku: Aku telah menempatkan penjaga pada mulutku, aku bodoh, dan dengan penuh kerendahan hati bahkan diam dalam hal-hal baik” (bdk. Mazmur 38 [39]: 2-3). Di sini nabi menunjukkan bahwa, jika sewaktu-waktu kita harus menahan diri dari pidato yang bermanfaat demi keheningan, berapa banyak lagi kita harus menjauhkan diri dari kata-kata jahat dengan memperhitungkan  hukuman karena dosa. Oleh sebab itu, karena pentingnya keheningan, biarkan izin  untuk berbicara jarang diberikan kepada murid yang sempurna, bahkan untuk perbincangan yang baik, suci dan mendidik sekalipun, karena ada tertulis: “Dalam banyak pembicaraan engkau tidak luput dari dosa” (bdk. Amsal 10:19). Dan di tempat lain: “Kematian dan hidup ada di dalam kuasa lidah” (bdk. Amsal 18:21). Karena berbicara dan mengajar adalah bagian Sang Guru; demikian pula diam dan mendengarkan adalah bagian sang murid. Jika, oleh karena itu, ada hal yang harus dimintakan dari Pembesar, biarlah itu diminta dalam segala kerendahan hati dan ketaatan yang penuh hormat. Tapi lelucon kasar, dan kata-kata kosong, atau pidato memancing tawa, dimanapun terjadi, kami mengutuknya ke dalam pengucilan abadi; dan bagi pembicaraan seperti itu, kami tidak mengizinkan murid-murid kami untuk membuka bibirnya. Dari penggalan regula ini, kita mendapati bahwa Benediktus melihat bahwa mereka yang rendah hati adalah juga mereka yang mencintai keheningan. Itulah sebabnya, dalam KTM kita selalu diajarkan bahwa hidup doa komunitas maupun pribadi, haruslah diarahkan pada kerinduan akan keheningan.

KEHENINGAN DAN DOA

Puncak hidup doa tidak ditemukan pada banyaknya kata-kata, melainkan pada ketiadaan kata-kata. Itulah kontemplasi, yaitu memandang Allah dalam kuasa cinta. Seturut teladan Benediktus, kita bisa melatih hidup rohani kita untuk mencintai keheningan melalui beberapa hal berikut ini:

  1. Jam Doa
    Statuta KTM mewajibkan setiap anggota untuk meluangkan waktu dalam doa. Pelaksanaannya dapat dilakukan bertahap, tetapi seorang perlu menyadari bahwa dirinya dipanggil untuk selalu melangkah maju, untuk bertolak lebih dalam. Hindarilah kekenduran dalam doa. Salah satu bentuk doa yang paling ampuh dan sering kita lakukan, yang menghantar pada keheningan, adalah Meditasi Doa Yesus.
  2. Lectio Divina
    Berawal dari tradisi doa Benediktus, kita pun bisa menemukan keheningan melalui permenungan akan Sabda Allah. Itulah Lectio Divina. Melalui 4 tahapnya (Lectio, Meditatio, Oratio, Contemplatio), kita bisa menemukan keheningan mistik bersama Allah, yang memberi kita kekuatan untuk melayani sesama (actio).
  3. Keheningan Kecil
    Sebagai Karmelit Eliana, kita tentu tidak dituntut untuk selalu memiliki waktu melakukan “silentium magnum” (keheningan besar), sebagaimana dilakukan oleh para rahib benediktin, tetapi kita semua dapat mempraktekkan keheningan-keheningan kecil, di sepanjang hari. Sebagai seorang ibu rumah tangga saat membersihkan rumah, seorang ayah saat berkendara ke kantor, seorang anak saat membaca buku bergambar kesukaannya, kita semua dipanggil untuk mempraktekkan keheningan-keheningan kecil, tanpa bicara atau tanpa kata-kata. Ini bukan keheningan semu tanpa arti, melainkan kita belajar untuk mengekang lidah kita, yang pada akhirnya dapat menghasilkan buah-buah roh dari ketaatan untuk diam.

KEHENINGAN DAN KEKUDUSAN

Pada akhirnya, berbeda dengan pemahaman agama timur lainnya yang mengaitkan keheningan dengan pencerahan budi dan usaha mengejar kesempurnaan diri, yang tak jarang berujung pada kejatuhan dosa kesombongan; keheningan doa menurut Santo Benediktus justru menghantar kita kepada kerendahan hati. Maka, mereka yang mencintai keheningan, akan pula mendapati dirinya di jalan kekudusan, bukan karena kehebatan pribadi dalam mendiamkan diri, melainkan pada kepasrahan akan panggilan cinta mesra dari Allah, yang berbicara dalam keheningan.

Sumber: Regula Santo Benediktus, Statuta KTM, Lux Veritatis

Pedoman Hidup KTM no. 46

Bila Tuhan menarikmu ke dalam kontemplasi, itu sungguh merupakan suatu anugerah istimewa dari Tuhan. Kontemplasi ini merupakan bentuk doa yang paling luhur dan paling efektif dalam pengudusan. Dalam kontemplasi semacam itu Tuhan mencurahkan kasih dan kebijaksanaan ke dalam jiwa secara langsung, dari Roh kepada roh, tanpa perantaraan pancaindera ataupun gagasan ataupun ide-ide. Karenanya kontemplasi ini juga merupakan aktivitas tertinggi dan paling luhur dari manusia. Namun walaupun demikian, tanpa tarikan Tuhan, janganlah engkau memasuki kontemplasi itu, sebab bila demikian, itu bukan kontemplasi illahi, melainkan suatu kekosongan yang steril. Untuk mengetahui, apakah engkau dipanggil kepada kontemplasi, lihat no 57-68.

 Sharing

  1. Bagaimana caramu menjalani keheningan hidup, di tengah kesibukan sebagai seorang Awam Katolik?
  2. Sharingkan pengalamanmu mendengar suara Tuhan dalam keheningan

admin