KERENDAHAN HATI SEBAGAI DASAR KEHIDUPAN ROHANI

“Maka, rendahkan diri kalian di bawah tangan Allah yang kuat, supaya Dia meninggikan kalian pada waktunya” (1 Ptr 5:6)

Cerita Singkat

Ada seroang raja yang mengadakan sebuah perjamuan besar dan dia mengundang banyak orang penting dan terhormat untuk berpesta di rumahnya. Kebanyakan orang yang datang berkereta kuda yang sangat mewah, sangat khusus dan indah. Malangnya pada hari itu, ketika ia mengadakan pesta, hujan deras mengguyur luar biasa deras, sampai pintu utama untuk tamu tergenang dan di situ terbentuk sebuah kolam air bercampur lumpur. Sial sekali bagi seorang tamu luar biasa, yang datang dengan kereta kudanya, pada saat dia keluar turun dari keretanya, kakinya tersandung batu dan jatuh tertelungkup, persis di dalam kubangan air bercampur lumpur itu. Seluruh tubuhnya termasuk kepalanya terbenam dalam air belumpur itu. Seluruh jubah indah dan sepatunya kini basah dan berlumuran tanah coklat. Semua orang yang melihatnya tersenyum, bahkan ada yang tertawa karena dia terlihat lucu sekali. Tamu ini merasa malu sekali dan tidak pantas untuk ikut di dalam pesta perjamuan itu, maka ia memutuskan untuk pulang saja. Pelayan yang melihat peristiwa tersebut segera memberitahukan kepada raja, dan raja segera keluar dan menemui tamu serta membujuk dia agar jangan pulang. Tapi tamu tetap saja tidak mau masuk dan tetap mau pulang meskipun raja berulang kali membujuk dia. Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba raja melakukan sebuah tindakan luar biasa, ia menjatuhkan diri ke dalam kubangan lumpur itu, sehingga ia menjadi kotor seperti tamu yang jatuh tersebut. Lalu raja itu berkata kepada tamunya, “Sekarang, apa kamu masih merasa tidak layak kalau berjalan bersama aku dan masuk ke rumahku?”

Renungan

Dari kisah di atas, kita bisa melihat bagaimana sang raja benar-benar menempatkan kepentingan orang lain di atas kenyamanan dirinya (bdk. Fil 2:3) “Jangan suka bertengkar atau merasa diri penting. Sebaliknya dengan rendah hati, anggaplah orang lebih tinggi daripada kalian.” Sang raja sangat menghargai tamu-tamunya yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri pesta, sehingga dengan cara apapun ia lakukan supaya para tamu juga bisa menikmati jamuan pesta yang telah disediakan.

Siapakah teladan kita dalam hal kerendahan hati?

  1. Yesus sang teladan hidup
    Selama hidupnya Yesus menjalankan kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Maka dari itu setiap pelayanan yang Ia lakukan membawa pengaruh yang sangat besar dan tidak pernah ditandingi oleh manusia manapun. Sejak lahir, Ia telah merelakan diriNya untuk dilahirkan di kandang domba, padahal Ia adalah seorang Raja di atas segala raja. Hingga akhit hayatNya, Ia juga rela disalibkan menanggung kehinaan yang tidak seharusnya Ia terima. Hanya karena kerendahaan hati dan ketaatannya kepada Bapa, pada akhirnya Ia menerima kemuliaan dari Bapa. Ia ditinggikan dan dimuliakan, setelah pada hari ketiga Ia bangkit dari kubur.
  2. Bunda Maria
    Bunda Maria adalah manusia yang patut untuk diteladani dari kerendahan hatinya. Coba kita ingat kembali bebrapa peristiwa di mana Maria bersedia menerima setiap rencana Allah yang secara manusiawi sulit untuk diterima, mulai dari menerima dirinya dikandung dari Roh Kudus, padahal dirinya masih belum menikah dengan Yusuf, kehilangan Yesus di bait Allah pada saat Yesus berumur 12 tahun, mendampingi perjalanan Yesus ke Golgota untuk disalib, melihat Putranya yang tunggal didera dan disalibkan hingga wafat. Tetapi karena kerendahan hatinya, Bunda Maria mau menerima semua ini sebagai pernyataan iman dan ketaatannya kepada Allah.
  3. Anak Kecil
    Yesus bersabda, barangsiapa meredahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga “(Mat 18:4). Anak kecil selalu mengutamakan kejujuran, ia tidak merasa takut salah, ia juga belum memiliki rasa malu atau gengsi yang harus dipertahankan. Sehingga dalam banyak hal, jika ia tidak paham, ia akan bertanya; jika ia tidak bisa, ia akan meminta tolong; jika ia merasa takut, ia akan meminta perlindungan. Seperti itu pulalah Allah menghendaki kita untuk bersikap, supaya kita selalu menempatkan Allah sebagai Sang Kuasa dan selalu bergantung sepenuhnya kepada penyelenggaraan Ilahi.

Apa guna memiliki kerendahan hati?

  1. Kerendahan hati adalah kekuatan
    Ibarat pohon kelapa yang menjulang tinggi, bagian manakah yang paling kokoh? Bagian batang terendahlah yang paling kokoh, dan di sanalah letak kekuatan sebuah pohon kelapa. Sekalipun ia diterpa angin yang kencang, batangnya meliak — liuk dengan gemulai, namun batang dan akar pohon itu tetap menopang keseluruhan pohon supaya tidak tumbang.
    Orang rendah hati, bersedia menerima nasihat, sehingga ia akan menjadi lebih baik, lebih baik dan akan selalu menjadi lebih baik. Sebaliknya orang yang tinggi hati/sombong sering kali menahan diri untuk bertanya, karena ia malu jika ketidaktahuannya diketahui orang lain. Maka orang yang tinggi hati, akan menemukan kesusahan untuk berkembang, atau belajar menjadi lebih baik lagi. Bandingkan pula dengan kisah sida-sida dari Etipoia (Kis 6:28-38). Sida-sida itu adalah seorang pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia. ia sedang dalam perjalan pualng dan membaca kitab Yesaya. Filipus datang dan bertanya, “Mengertikah tuan apa yang tuan baca?” Jawabnya, “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku” Lalu ia meminta Filipus naik dan menjelaskan isi kitab itu. Karena kerendahan hatinya, sida-sida itu akhirnya memperoleh pemahaman akan isi kitab itu, bahkan ia memberikan dirinya dibaptis oleh Filipus.
    Jadi memiliki kerendahan hati adalah sebuah kekuatan.
  2. Kerendahan hati akan membuat diri kita menjadi tanah liat yang mudah dibentuk oleh Allah
    Jika kita mau merendahkan hati kita di hadapan Allah, maka kita pun akan dengan mudah bisa mendengarkan kehendak Allah, baik melalui doa maupun melalui sapaan sesama kita dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki kerendahan hati adalah sebuah rahmat dari Allah, maka dari itu, layaklah kita untuk selalu meminta rahmatNya agar kita dimampukan untuk selalu memiliki sikap rendah hati. Supaya kita dapat mencapai tujuan hidup kita untuk mencapai kekudusan, menjadi serupa dengan Allah.
  3. Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Allah adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan (Ams 22:4)
    Orang yang rendah hati pasti akan disegani oleh orang lain, dan tak jarang mereka akan menjadi panutan. Salah satu contoh santa yang hidup di mana kini, yaitu Bunda Teresa dari Kalkuta, ia adalah mentor dan pelaku kerendahan hati. Bunda Teresa selalu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri, maka ia banyak memenangkan banyak jiwa, ia memiliki harta kekayaan surgawi yang tak terhingga, kehormatan dari banyak orang, serta kehidupan yang sangat damai. Jadi kerendahan hati dapat dikatakan sebagai kunci untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian sejati.

Cara-cara (tips) untuk mencapai kerendahan hati menurut Bunda Teresa dari Kalkuta:

  1. Berbicara sesedikit mungkin tentang diri sendiri.
  2. Uruslah diri persoalan-persoalan pribadi.
  3. Hindari rasa ingin tahu.
  4. Janganlah mencampuri urusan orang lain.
  5. Terimalah pertentangan dengan kegembiraan.
  6. Janganlah memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain.
  7. Terimalah hinaan dan caci maki.
  8. Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah.
  9. Mengalah terhadap kehendak orang lain.
  10. Terimalah celaan walaupun anda tidak layak menerimanya.
  11. Bersikap sopan dan peka, sekalipun seseorang memancing amarah anda.
  12. Jangan mencoba agar dikagumi dan dicintai
  13. Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun anda yang benar.
  14. Pilihlah selalu yang tersulit.

Pedoman Hidup KTM no. 40

Ambillah sikap duduk yang baik, entah dengan bersila ataupun dengan dingklik. Yang penting punggung harus tegak. Kalau bersila, usahakan agar supaya kedua lutut menempel pada lantai. Mata dapat dipejamkan atau dibuka. Kalau dibuka arahkan kira-kira satu meter ke depan di lantai. Mata yang terbuka dapat mengurangi pelanturan.

Sharing:

  1. Apakah ada seorang tokoh yang berada di sekeliling Anda (dalam lingkungan sekolah, kuliah, kerja, atau keluarga) yang dapat Anda jadikan teladan mengenai kerendahan hati? Jika ada, siapa dan mengapa?
  2. Berdasarkan cara-cara untuk mencapai kerendahan hati menurut Bunda Teresa, bagian manakah yang tersulit bagi Anda, mengapa?
  3. Sikap apakah yang saat ini ingin Anda perjuangkan agar dapat mencapai kerendahan hati?

admin