MEMAHAMI PERBEDAAN DALAM KELUARGA

“TUHAN Allah berfirman: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18)

Pendahuluan

Dalam hidup berkeluarga, banyak pasangan yang mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian terhadap kepribadian dan keluarga pasangannya. Hal ini dirasakan tidak hanya yang baru saja menikah, tetapi juga mereka yang sudah lama menikah. Konflik dapat terjadi antara suami istri, anak, keluarga besar suami atau istri tersebut. Bahkan yang merasa putus asa, sempat terpikir untuk mengakhiri kehidupan keluarganya. Mengapa hal itu terjadi? karena setiap pribadi itu berbeda-beda. Satu sama lain tidak sama. Kesulitan dalam memahami dan menyikapi perbedaan dalam keluarga ini yang akan kita bahas kali ini sehingga hubungan dalam keluarga dapat lebih harmonis, saling mengerti satu sama lain dan dapat lebih saling memahami.

Mengapa ada perbedaan dalam keluarga ?

Dalam hidup berkeluarga, kita semua pasti mengalami adanya konflik. Hal ini terjadi karena masing masing pribadi memiliki sifat yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh seorang suami memiliki sifat pendiam, tapi istrinya suka sekali berbicara. Suatu saat suami ingin bersantai tenang di ruang tengah, melihat hal tersebut istri merasa membutuhkan teman untuk bercerita. Jadi datanglah ia untuk berbicara dengan suaminya. Saat hal itu terjadi, terjadilah konflik. Dalam hati suami dapat merasa terganggu, dan jika suami menolak maka istri juga merasa terganggu karena merasa tidak dimengerti. Nah mungkin kita bertanya, mengapa manusia itu tidak diciptakan sama saja? Sehingga tidak terjadi konflik seperti contoh di atas? Dalam 1 Korintus 12: 12 dikatakan “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” Dalam surat tersebut gereja dilambangkan sebagai anggota tubuh yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang berbeda-beda. Hal tersebut diciptakan Tuhan supaya satu sama lain saling melengkapi. Supaya hal tersebut terjadi membutuhkan keharmonisan, saling memahami, dan menyadari bahwa satu sama lain saling membutuhkan dan melengkapi. Dengan keserasian tersebut terbentuklah tubuh mistik Kristus. Melalui firman tersebut kita dapat menyadari pula bahwa suami istri pun adalah anggota tubuh mistrik Kristus / bagian dari gereja. Dimana diciptakan berbeda untuk saling melengkapi jadi dibutuhkan keharmonisan, sehingga ada kebahagiaan dalam keluarga, merasa dibutuhkan, dimengerti dan berguna satu sama lain.

Jika kita telah memahami bahwa perbedaan itu justru diberikan untuk saling melengkapi lalu bagaimanakah cara supaya kita dapat saling mengerti dan memahami dalam menghadapi konflik?

  • 1 Kor 12:21 “Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Luangkanlah waktu untuk berhenti sejenak, renungkanlah kelebihan dan kekurangan apa yang anda miliki, dan juga yang pasangan miliki? Sadarilah bahwa diri kita dan pasangan itu saling membutuhkan dan saling melengkapi. Sebagai contoh saat suami yang ingin bersantai tenang lalu tiba-tiba istri datang untuk bercerita, sadarilah bahwa tanpa istri yang bercerita, maka kehidupan rumah tangga akan terasa sepi. Justru dengan keberadaan istri tersebut terletak kebahagiaan, melengkapi suami yang tidak pandai berbicara. Melalui cerita istri mungkin ada pengalaman yang lucu yang dapat membuat kita tertawa atau mungkin terharu karena istri telah berkorban seharian untuk merawat anak dan menyiapkan makanan untuk kita. Di sana suami dapat merasakan kebaikan Tuhan yang tanpa pamrih melalui istri dan bagaimana Tuhan melengkapi kekurangan suami melalui istri.
  • Kolese 3:13 “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. “Siapakah diantara kita semua yang seumur hidupnya tidak pernah melakukan kesalahan? Saya rasa semua dari kita pernah bahkan sering melakukan kesalahan. Oleh karena itu Tuhan menghendaki kita semua saling mengampuni. Mengapa demikian? Yang pertama karena kita sendiri pernah berbuat salah, dan kita sadari bahwa kesalahan yang kita buat itu dapat merugikan orang lain. Sehingga saat orang lain menyakiti diri kita, jangan- jangan disebabkan oleh diri kita sendiri yang terlebih dahulu menyakiti. Yang kedua Dengan mengampuni maka akan memutuskan rantai kejahatan. Sebagai contoh suatu hari ada seorang pria yang memukul temannya, karena sakit hati temanya memukul pria tersebut di lain waktu, kemudian karena dendam pria tersebut memukul kembali temannya. Nah jika kekerasan ini tidak dihentikan dengan pengampunan maka tidak akan ada ujungnya. Saling menyakiti dan makin lama makin berbahaya karena bisa berujung pada pembunuhan/dosa yang lebih berat. Yang ketiga pengampunan akan menyembuhkan dan mempersatukan. Saat kita mengalami konflik, hati kita dapat terluka atau sering disebut mengalami luka batin. Salah satu syarat utama untuk dapat sembuh dari luka batin adalah kita harus mengampuni kesalahan orang yang menyakiti kita. Kita lihat kutipan doa Bapa kami “Dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Dengan pengampunan maka Tuhan akan menyembuhkan luka batin kita, sehingga saat luka tersebut sembuh maka hubungan kita dengan yang menyakiti akan menjadi baru. Tidak ada lagi rasa marah, dendam, atau merasa sakit hati. Tapi dengan hati yang damai kita dapat menjalin hubungan yang baru dengan orang tersebut.
  • Efesus 5 : 21 “Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” Di dalam hubungan dalam keluarga, pengampunan dan kesadaran akan saling melengkapi dalam keluarga tidak akan mungkin terwujud jika anggota keluarga itu tidak merendahkan dirinya. Jika dalam hati merasa paling benar sendiri, pendapatnya paling benar, keinginanya yang terbaik, tanpa sadar ia meletakkan dirinya di posisi yang tinggi dengan kata lain menjadi orang yang sombong, paling hebat, paling benar sehingga tidak dapat melihat kebaikan pada diri orang lain. Oleh karena itu kerendahan hati sangat dibutuhkan, dan kerendahan hati itu dapat tercipta dari karunia takut akan Kritus. Seseorang yang takut akan Kristus memahami siapa dirinya dan siapakah Kristus itu. Dengan menyadari diri yang sangat berdosa, dirinya adalah ciptaan, dirinya tidak mampu melakukan segala sesuatu tanpa Tuhan, dirinya satu dari sekian banyak manusia / kecil di hadapan Tuhan. Dan menyadari bahwa Tuhan itu Mahakuasa, Mahakudus. Maka diri kita akan menyadari bahwa kesombongan merupakan sebuah kebodohan karena Tuhanlah yang melakukan segala sesuatu dan kita ini hanyalah sebuah ciptaan yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Tuhan. Di sinilah timbul kerendahan hati. Jika Allah telah mengasihi sedemikian rupa, maka sudah kewajiban kitalah melakukan segala firman-Nya. Kita akan menyadari bahwa orang lain pun manusia yang sama dengan kita yang tidak sempurna, jadi kita dapat menerima orang lain dan mengampuni mereka, karena Tuhan sendiri sudah banyak mengasihi kita.

Setelah kita membaca renungan singkat di atas marilah ajak masing-masing anggota sel berdoa bersama, ajak mereka untuk membayangkan anggota keluarganya dan mendoakan anggota keluarga tersebut satu per satu. Ajaklah juga untuk menyadari bahwa diri kita tidak sempurna, oleh karena itu kita juga harus menerima keluarga kita apa adanya dengan segala kelebihan dan kekuranganya. Serta mau mengampuni segala kesalahan mereka. Kemudian ajaklah menyanyikan lagu berikut:

Kasih Pasti Lemah lembut

Kasih pasti lemah lembut, kasih pasti memaafkan.
Kasih pasti murah hati. Kasih-Mu, kasih-Mu Tuhan.

Reff:
Ajarilah kami ini saling mengasihi.
Ajarilah kami ini saling mengampuni.
Ajarilah kami ini kasih-Mu ya Tuhan.
Kasih-Mu kudus tiada batasnya.

Rhema ayat minggu ini

Efesus 5: 33, Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya..”

Pedoman hidup KTM 41

Kekuatan doa ini terdapat dalam nama Yesus yang melampaui segala pengertian itu. Dengan menyerukan nama Yesus, baik waktu doa maupun di luar waktu doa, hati kita akan ditarik kepada Yesus. Nama Yesus akan menguasai pikiran dan hati kita dan perlahan-lahan Yesus akan menjadi pusat hidup kita dan mengubah hidup kita menjadi indah.

Sharing

  1. Sharingkan bagaimana sifat dari masing-masing anggota keluargamu (termasuk dirimu)?
    Apa kelebihan dan kekurangan mereka?
  2. Sharingkan bagaimana caramu mengatasi perbedaan yang ada?
    Apakah engkau merasa dalam keluargamu saling melengkapi?
    Sharingkanlah pengalamanmu.

admin