HIDUP SELIBAT

“Hidup adalah panggilan”, demikian kata Paus St. Yohanes Paulus II. Setiap orang dipanggil untuk mencapai kekudusan dalam hidup dan karyanya. Kebanyakan di antara kita dipanggil untuk hidup berkeluarga dan membesarkan anak-anak sebagaimana dikehendaki Allah. Akan tetapi, Tuhan juga memilih mereka yang dipanggilnya secara khusus untuk hidup selibat. Mereka yang dipanggil secara khusus untuk hidup selibat di jaman sekarang ini mungkin semakin langka, tetapi sebenarnya menggugat arogansi arus sekularisme dalam dunia dan Gereja Katolik saat ini. Di abad teknologi informasi, kebebasan seks, pornografi, redefinisi pernikahan, masih adakah orang yang mau hidup berselibat? bagaimana kita menempatkan hidup dalam penyangkalan diri, memikul salib dan secara total mengikuti Tuhan di jalan-Nya? Apakah hidup selibat sudah ketinggalan jaman dan tidak lagi manusiawi? Dalam Vacare Deo kali ini, sebagai komunitas yang dipanggil kepada persatuan cinta transforman dengan Allah, marilah kita melihat dan memahami tentang hidup selibat ini.

Apa itu Selibat?

Selibat berasal dari kata latin “caelibatus”, yang berarti hidup tidak menikah. Kendati bukanlah bagian dari pokok iman, selibat adalah suatu pilihan hidup untuk tidak menikah, yang diambil secara bebas tanpa paksaan oleh putra-putri Gereja Katolik, dengan tujuan utama yaitu membaktikan hidup mereka “seutuhnya”, agar dapat melayani Allah dan kehendak-Nya dengan hati tak terbagi. Ada yang menapaki jalan panggilan ini sebagai konsekuensi Tahbisan Imamat, ada yang hidup sebagai biarawan-biarawati atau rahib dan rubiah pertapa, ada pula yang sebagai selibater awam pria dan wanita Katolik, yang aktif berkarya di berbagai profesi dan situasi hidup.

Hidup Selibat menurut Kitab Suci

  • Matius 19: 11-12
    Hidup selibat dianjurkan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada murid-murid-Nya, sambil mengingatkan pentingnya bantuan rahmat Allah bagi mereka yang memilih untuk menerima panggilan khusus ini. “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian (tidak kawin) karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”
  • Lukas 20: 34-35
    Hidup selibat juga merupakan gambaran kehidupan surgawi, sebagaimana dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.”
  • 1 Korintus 7
    Rasul St. Paulus juga menganjurkan hidup selibat ini “…adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin” (1Kor.7:1). Menurutnya, hidup selibat membawa orang pada semangat untuk melayani Tuhan dengan hati tak terbagi. Dia mengatakan, “Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya. Semuanya itu kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalanghalangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.” (1Kor.7:32-35)

Hidup Selibat menurut Ajaran Gereja Katolik

Sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yesus dan para Rasul-Nya, sejak masa Gereja Perdana, hidup selibat demi pengabdian diri seutuhnya kepada Umat Allah, dipandang sebagai pilihan hidup yang unggul. Dekrit Sinode Elvira kanon 33 (± 350 Masehi), anjuran Paus St. Gregorius VII (1020-1085), keputusan Konsili Trente (1545-1563), serta banyak pengajaran para Paus dan para Kudus di sepanjang sejarah, juga menekankan pentingnya hidup selibat bagi mereka yang mau melayani Tuhan seutuhnya. Konsili Vatikan II (1962-1965) menyatakan bahwa semua orang beriman tanpa terkecuali harus melayani Tuhan dengan hati tak terbagi, dan ini lebih mudah bila dijalani secara selibat (bdk. Lumen Gentium 42)

Beberapa segi hidup Selibat yang perlu diketahui

Dalam pernyataannya di Tagaytay (Filipina) pada tahun 1991, Konferensi WaliGereja se-Asia (FABC) mengajak kita untuk memperhatikan beberapa segi dari pentingnya hidup selibat ini:

  • Segi Kristologis
    Yesus membaktikan seluruh hidup dan perbuatan-Nya kepada tugas yang diterima dari Allah Bapa kepada-Nya, sehingga tidak ada tempat bagi hidup berkeluarga bagi-Nya. Maka Yesus menyerukan, supaya orang yang ingin mengikuti-Nya bersedia meninggalkan apa saja, termasuk anak-istri mereka.
  • Segi Eklesial
    Hidup selibat membebaskan orang dari aneka kewajiban dan keterikatan hidup berkeluarga, supaya dapat mencurahkan seluruh waktu, segala tenaga dan cintakasihnya pada pelayanan umat.
  • Segi Karismatis
    Menjalani selibat dengan setia mengandaikan panggilan dan rahmat khusus. Maka, hidup selibat bukan prestasi orang yang bersangkutan, bukan pula ‘harga yang harus dibayar’ kalau mau menjadi imam. Rahmat hidup berselibat harus didoakan oleh umat yang menginginkan imam mereka berselibat.
  • Segi Profetis
    Hidup menurut 3 Nasihat Injili (kemurnian, ketaatan, kemiskinan), merupakan suatu alternatif terhadap kecenderungan kodrati mencari kebahagiaan dalam hidup ini, dan terhadap konsumerisme yang ingin menikmati apa yang dapat diperoleh sekarang ini dan sebanyak mungkin.
  • Segi Eskatologis
    Orang yang hidup selibat menaruh seluruh harapan pada Allah serta kehidupan di akhirat, waktu ‘Allah akan menjadi Segalanya’ (bdk.1Kor.15:28). Inilah harta yang tidak dapat dicuri atau dimakan karat (bdk.Mat.6:19-21).

Kesimpulan

Selibat memang bukanlah bagian dari pokok iman Kristiani, tetapi selibat adalah panggilan hidup yang didasari penyerahan diri seutuhnya untuk melayani Allah dan kehendak-Nya. Bagi dunia zaman ini, selibat adalah suatu pilihan hidup yang aneh atau malah gila. Tetapi inilah konsekuensi dari para pengikut Kristus, yaitu melayani dengan sepenuh hati kendati mungkin dianggap aneh atau gila oleh anak-anak dunia ini. Sebagaimana Allah adalah Cinta, demikian pula hidup selibat hanya dapat dipahami dan dirangkul dengan segala kebenarannya, bilamana seorang sungguh mau bertolak lebih dalam, dan dalam kegelapan malam menyusuri lorong-lorong batinnya, untuk mengalami persatuan cinta yang sempurna dengan Allah. Yang mampu mencinta, akan mampu hidup murni, dan yang mampu hidup murni, akan mampu pula hidup selibat. Hanya mereka yang diberi rahmat pengertian, akan menangkapnya (bdk. Mat.19:12).

Pedoman Hidup KTM no. 42

Mulailah dengan menyebut nama Yesus dengan penuh iman dan cintakasih. Engkau dapat meritmekannya pada irama napasmu, namun ini tidak mutlak. Waktu tarik napas: Yeee, waktu keluar napas: suuu. Atau boleh juga: Tuhannnn – — Yesuuussss. Dapat pula: Tuhan Yesus Kristus —- Putera Allah yang hidup —– Kasihanilah aku —– orang berdosa ini. Atau: Tuhan Yesus Kristus —– kasihanilah aku. Namun yang terakhir ini lebih sulit diritmekan dengan napas, lebih tepat kalau dilakukan secara lisan saja. Mungkin bagi kebanyakan yang paling mudah ialah: Yeeee – suuu atau Yeeee – suuuuss.

Sharing

Menurut Anda masih relevankah tuntutan hidup selibat di jaman sekarang ini bagi mereka yang dipanggil untuk melayani Tuhan seutuhnya?

admin