Pantang dan Puasa
(Mat. 17:14 – 21)

“What are you going to give up this Lent?”

Di Amerika, dalam perbincangan dalam masa Prapaskah, pertanyaan yang sering timbul adalah, “What are you going to give up this Lent?” (“Kamu mau pantang apa dalam Masa Prapaskah ini?”). Inilah kesempatan untuk dapat ‘mengorbankan’ hal apa yang paling kita sukai demi menyatakan kasih kepada Tuhan, yang lebih dahulu mengasihi kita.

Kita sendiri yang tahu apa mati raga yang paling tepat untuk dilakukan. Misalnya tidak nonton TV kalau memang senangnya nonton TV, tidak browsing internet (kecuali untuk pekerjaan/ sekolah), tidak main game, tidak shopping, tidak jajan di restoran, tidak jalan-jalan ke mall ataupun nonton bioskop, tidak gosip/membicarakan orang lain, tidak makan camilan/ngemil, tidak marah, tidak berprasangka negatif, tidak mengkritik, tidak komplain, dan seterusnya. Waktu yang tadinya dipakai untuk nonton TV, browsing internet, Facebook, WA, main game, dipergunakan untuk berkumpul dan berdoa bersama. Uang yang biasa digunakan untuk makan di restoran, shopping, nonton, beli pulsa, dapat disumbangkan ke panti asuhan atau karya sosial lainnya.

Apa gunanya berpantang dan berpuasa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mati raga artinya: “memperteguh hati dengan menolak segala macam kesenangan diri; menahan hawa nafsu”.

Orang melatih tubuhnya supaya sehat dengan olahraga. Orang melatih batinnya supaya kuat dengan melakukan mati raga. Penyangkalan diri menghasilkan penguasaan diri. Orang dapat terlepas dari keinginan-keinginan yang tidak teratur. “Aku mau mati terhadap diri sendiri dan hidup bagi Tuhan” (lih. Rom. 6:8). Pantang dan puasa bukan sekedar tidak makan daging atau tidak jajan. Kita diundang untuk introspeksi, melihat kebiasaan apakah yang selama ini menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Mati raga adalah usaha nyata untuk membuang ‘penghalang’ tersebut. Bagi orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jika pantang dan puasa dilakukan dengan hati tulus maka keduanya dapat menghantar kita bertumbuh dalam kekudusan.

Masa puasa selama 40 hari ini mengikuti teladan Yesus, yang juga berpuasa selama 40 hari, sebelum mulai tugas karya penyelamatan-Nya (lih. Mat. 4: 1-11; Luk. 4:1-13). Saat berpuasa itu Ia digoda oleh Iblis. Tapi Yesus tidak tergoda, karena walaupun fisik-Nya lemah akibat berpuasa, tetapi roh-Nya kuat hasil dari latihan rohani dalam bentuk mati raga panjang itu. Yesus mematahkan godaan Iblis dengan Firman Allah.

Puasa sejatinya melatih orang Kristen memiliki pendengaran rohani yang lebih peka kepada kebenaran Firman Tuhan. Iman menjadi lebih kuat dengan berpuasa sehingga menghasilkan kuasa rohani yang bersumber dari Tuhan dan firman-Nya. Dalam Mat. 17:14-21 Yesus mengajarkan bahwa ada roh jahat yang hanya dapat diusir dengan doa DAN puasa.

Puasa dan pantang tak terlepas dari doa dan amal kasih

Dalam masa Prapaskah, puasa, pantang, dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti semata-mata ‘menyiksa badan’, diet/supaya kurus, menghemat, dll.

Dengan puasa kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah

Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, yaitu dengan berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita pun dapat mulai mendoakan keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam dan pemimpin Gereja. Kemudian kita dapat pula berdoa bagi para pemimpin negara, para umat beriman, ataupun mereka yang belum mengenal Kristus

Puasa dan Pantang menurut Ketentuan Gereja Katolik

Ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

  1. Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.
  2. Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

  3. Kan. 1251 – Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan kita Yesus Kristus.

  4. Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enam puluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

  5. Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat menggantikan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.

Penerapan konkritnya adalah sebagai berikut:

  • Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok, dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Jika dikehendaki, dapat berpantang setiap hari selama Masa Prapaskah.
  • Jika kita berpantang, pilihlah makanan/minuman yang paling kita sukai. Misalnya pantang daging, atau pantang garam, pantang minum kopi, pantang jajan bagi yang suka jajan. Jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.
  • Pantang tidak terbatas hanya makanan saja. Dapat juga pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang shopping, pantang ke bioskop, pantang gosip, pantang main gadget, main game, dll.
  • Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaskah, atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaskah.
  • Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Makan kenyang berbeda dengan makan sekenyang-kenyangnya. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan camilan berkali-kali sehari.
  • Pada saat berpuasa, kita dapat berdoa untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah….” (sebutkan nama orang yang kita kasihi).
  • Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Tetapi, jika kita terlalu banyak ‘excuse’(alasan yang dibuat-buat), kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.

Tidak terbatas Pantang dan Puasa dan beramal

Dalam masa Prapaskah ini, dapat pula kita melakukan sesuatu yang baik yang belum secara konsisten kita lakukan. Misal, bangun lebih pagi setiap hari untuk berdoa dan membaca Firman, menghadiri Misa harian, lebih rajin berdoa Rosario, dll.

Banyak sekali sesungguhnya yang dapat kita lakukan, jika kita sungguh ingin bertumbuh di dalam iman. Dapat dimulai dengan hal-hal yang sederhana. St. Theresia dari Lisieux pernah mengatakan, “Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang kecil dan sederhana, namun dengan kasih yang besar.”

Renungan

Melalui Rabu Abu, kita diingatkan bahwa hidup kita di dunia ini hanyalah sementara, maka mari mempersiapkan diri bagi kehidupan kita yang sesungguhnya di surga kelak. Masa pertobatan adalah masa rahmat yang Tuhan berikan pada kita, untuk mengatur kembali fokus kehidupan kita. Apakah yang menjadi pusat kegiatanku sehari-hari: aku atau Tuhan? Jika kita masih banyak menemukan ‘aku’ sebagai pusatnya, mungkin sudah saatnya kita mulai mengubahnya…..

com

SHARING

Sharingkanlah pengalamanmu dalam berpantang dan berpuasa. Apa motivasimu?

Apa yang menghalangimu? Apa yang kau rasakan sebagai hasil pantang dan puasa yang kau lakukan?

Rhema ayat minggu ini:

Mat. 17:21 : Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.

Pedoman Hidup KTM 08:

Sebagian besar dari kamu dipanggil untuk mengasihi Allah bersama dan lewat pasan gan hidup, sedangkan sebagian kecil mungkin dipanggil untuk mengasihi Dia secara langsung dalam hidup selibat, entah sebagai imam, biarawan, biarawati, atau selibat awam yang hidup di tengah-tengah dunia. Entah apapun bentuk hidupmu, kalau dihayati dalam iman dan kasih, akan menjadi bernilai di mata Tuhan.

Sumber:
http://www.katolisitas.org/mengapa-kita-berpantang-dan-berpuasa/

admin