Keluarga yang Berdoa dan Keluarga yang Mencinta
”Aku sungguh-sungguh yakin bahwa dengan kodratku yang seperti itu, aku bisa menjadi jahat sekali bila aku dibesarkan oleh keluarga yang tidak berkebajikan, bahkan mungkin aku bisa kehilangan jiwaku”.
(Theresia Lisieux)

I. PENDAHULUAN

Bila keluarga berdoa bersama, Allah Sang sumber kasih akan menjiwai setiap anggota keluarga sehingga dapat saling mengasihi satu sama lain. Anak-anak perlu belajar berdoa bersama orangtua. Bila keluarga tidak berdoa maka sulitlah menjadi suci. Dalam keluargalah anak-anak mendapat pembentukan hidup rohani, maka kehidupan doa dalam keluarga harus ditumbuhkan dan dipelihara.

Pada zaman ini banyak keluarga-keluarga tidak berdoa bersama, atau bahkan
melupakan doa. Akibatnya mereka kehilangan rasa ketergantungan kepada Allah. Kehilangan kebijaksanaan dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Akibatnya anak-anak menjadi sulit diatur dan tumbuh sebagai anak-anak yang mudah mengikuti kehendak sendiri dan tidak jarang terbawa kepada jalan yang sesat.

Pada zaman ini ada begitu banyak penderitaan di dalam keluarga-keluarga di seluruh dunia, maka doa dan sikap mengampuni semakin dibutuhkan. Banyak keluarga mengalami konflik, keretakan, relasi yang tidak harmonis bahkan perceraian, masing-masing anggota keluarga terluka karena dosa-dosa. Maka dibutuhkan sikap saling mendoakan dan mengampuni agar terciptalah damai di dalam keluarga. Berdoa dan mengampuni merupakan sarana menuju keluarga yang saling mencintai satu sama lain. Penghayatan sakramen-sakramen, merenungkan sabda Tuhan, berbagi suka dan duka melalui sharing iman dan semangat melayani sesama, masyarakat, dan Gereja dapat menjadikan keluarga-keluarga Kristiani bersinar di tengah-tengah kegelapan dunia ini. Keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini, menjadi garam dan terang dunia.

II. PEMBAHASAN

A. ALLAH DAPAT MEMULIHKAN KELUARGA-KELUARGA YANG BERMASALAH MELALUI DOA
Allah dapat memulihkan keluarga-keluarga yang bermasalah. Allah Sang seniman dapat memperbaiki apa yang telah rusak dalam keluarga-keluarga pada zaman ini. Bejana-bejana yang sudah rusak atau pecah karena dosa dapat diperbaiki lagi menjadi bejana-bejana yang indah menurut pandangan-Nya (Yer 18:1-3).

Sebagai teladan dalam Gereja kita dapat melihat keluarga St. Monika. Doa dan airmata St. Monika telah mempertobatkan anaknya St. Agustinus dan suaminya Patrisius dari kehidupan duniawi yang tidak berkenan kepada Allah. Ketekunan St. Monika sebagai seorang ibu yang rajin berdoa dan beriman telah mengubah Agustinus menjadi orang suci dan membawa Patrisius suaminya yang kafir untuk semakin mengenal dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus Sang Juruselamat. Doa yang dipanjatkan St. Monika berpuluh-puluh tahun membuahkan pertobatan bagi suami dan anaknya tercinta. Bahkan Agustinus menjadi orang kudus besar dalam Gereja.

B. MELATIH ANAK-ANAK BERDOA SEJAK DINI (TINJAUAN PSIKO-SPIRITUAL)
Marah, benci, kecewa, dapat menimbulkan tindakan-tindakan agresif yang dapat merusak keluarga-keluarga. Maka perlu latihan-latihan rohani untuk mengubah emosi yang negatif menjadi positif atau dapat disebut dengan meningkatkan kecerdasan emosi.

Kecerdasan emosi dapat dilatih, misalnya:

  • Ketika masih kecil, kita sering diajari untuk mengatakan terima kasih ketika diberi sesuatu, menghormati orang lain, tidak cepat marah ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
  • Kecerdasan emosi dapat dimulai dengan selalu berpikiran positif, otomatis dalam merasakan, berbicara, bertindak pun akan positif juga. (Sebagai manusia tidak luput dari frustasi dan kekecewaan, namun dalam situasi seperti itu, yang dilakukan adalah dengan mengenali perasaan negatif itu dan kemudian mengubahnya menjadi positif)

Meditasi atau doa batin akan memberikan manfaat untuk meningkatkan kesadaran, konsentrasi, dan kemampuan kognitif, meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual. Siapa bilang anak tidak dapat bermeditasi? Kemampuan bermeditasi mereka bahkan jauh melebihi orang dewasa. Latihan teratur akan memberikan
manfaat bagi mereka.

Hampir semua penemuan menggunakan bentuk meditasi. Salah satu yang
terkenal adalah Archimedes, penemu dan ahli matematika terkenal yang hidup abad ke-3 SM. Konon konsep volume benda yang membuatnya terkenal ditemukan saat ia sedang relaks di bak mandinya. Leonardo da Vinci, Thomas Edison, dan Albert Einstein termasuk deretan penemu yang menemukan idenya dalam kondisi meditasi.

Dari segi fisik, meditasi adalah teknik relaksasi mental yang mengubah frekuensi gelombang otak dari Beta, yaitu 14-20 putaran tiap detik (Hz) menjadi Alfa 7-14 Hz. Dr. Tag Powell, peneliti dan pelatih metafísika, dalam buku ESP for Kids (Extra Sensory Perception untuk anak-anak) membedakan berdoa sebagai “berbicara dengan Tuhan” dan meditasi sebagai “mendengarkan Tuhan”. Mendengarkan tidak hanya dengan telinga, atau pada level sadar, melainkan juga dengan perasaan atau pada level bawah sadar. Dengan meditasi, mereka mempunyai kemampuan mengelola stres serta menghadapi pancaroba sejak dini. Dari pengalaman para penemu, kita juga dapat melihat bahwa meditasi adalah cara fokus dan mengembangkan pola berpikir untuk pemecahan masalah dan meningkatkan kreativitas.

Adalah suatu kenyataan yang menarik bahwa ternyata anak-anak lebih mudah belajar meditasi dengan menahan kesadaran pada level Alfa. Hal ini karena gelombang otak anak hingga usia puber sebagian besar berada dalam kondisi Alfa. Berbeda dengan gelombang otak orang dewasa yang dalam keadaan jaga berada pada kondisi Beta. Oleh karena itu, apabila dilatih secara baik dan terarah, anak akan mempunyai bekal untuk menghadapi masa-masa sulit pada usia remaja dan dewasa.

Di Jepang, Korea, dan Amerika Serikat, kemampuan anak ini sudah dimanfaatkan dengan memberikan latihan meditasi pada anak-anak sekolah dasar. Dilaporkan bahwa meditasi banyak membantu anak-anak  meningkatkan kesehatan dan konsentrasi. Anak-anak mudah terlarut dalam pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga keadaan kelas menjadi mudah terkendali. Herzog (1982) menjumpai, kelas yang dilatih meditasi ternyata siswa-siswanya lebih merasa senang, gembira, dan disiplin. Hal ini juga dijelaskan dari hasil penelitian dr. Tag Powell yang menunjukkan meditasi tidak hanya meningkatkan kreativitas saja, tetapi proses belajar itu sendiri menjadi lebih mudah dan tidak menekan.

Anak-anak hingga usia 10 tahun, secara psikologis berada pada masa perkembangan cakra jantung, status pusat energi yang mempunyai peran penting menghubungkan energi vital dengan kesadaran yang terletak di tengah dada.

Oleh karena itu, meditasi anak dikonsentrasikan pada pelatihan cakra jantung, yaitu tempat di mana kita merasakan kedamaian, kesenangan, kasih sayang, serta kegembiraan. Jantung menurut penelitian institute of Hearth-Narth, organisasi penelitian yang berkedudukan di Boulder Creek, California, memegang peran sentral dalam mengefektifkan fungsi otak, pikiran, emosi, dan sistem kekebalan tubuh. Jantung yang kuat membuat anak mampu menghilangkan emosi negatif dengan cepat, mendengarkan nuraninya, menghargai serta peduli akan diri sendiri. Selanjutnya akan terbangun rasa aman, membuka potensi, meningkatkan daya belajar, serta membuat keputusan yang bertanggungjawab.

Orangtua mendampingi anaknya untuk mengajar berdoa
Idealnya latihan meditasi anak dilakukan bersama orangtua atau paling tidak,
didampingi orangtuanya. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengatur posisi anak, bisa duduk bersila di lantai atau duduk di kursi. Meditasi dimulai dengan mengatur nafas, setelah masuk dalam meditasi bisa menyebutkan Nama Tuhan (misalnya Nama Yesus, menurut ritme pernafasan).

Setelah 10-15 menit meditasi, anak bisa diajak break (istirahat) dengan mengajak anak-anak berjalan-jalan ke taman. Anak diminta untuk memperhatikan taman. Dengan kegiatan itu ternyata mereka tidak bosan duduk meditasi. Saat memperhatikan taman, sebenarnya anak juga masuk dalam keadaan meditasi. Dengan memperhatikan daun dan seratnya, bunga, kupu-kupu, proses permenungan ini membuat anak lebih menyayangi makhluk lain.

Jadi pada dasarnya keluarga-keluarga Kristiani dapat melatih anaknya untuk
melakukan doa batin atau meditasi sejak dini, untuk membantu perkembangan kepribadian si anak sehingga anak-anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang mampu mencintai, kreatif, sabar, kuat, utuh, bertanggungjawab, gembira, dapat menghargai nilai-nilai luhur dalam kehidupannya seperti yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Yesus sangat mencintai anak-anak, Yesus memanggil anak-anak untuk berada dekat dengan- Nya, Yesus menjamah mereka dan memberkati mereka semua.

C. KELUARGA-KELUARGA KRISTIANI YANG BERDOA, MENCETAK INSAN-INSAN ALLAH
Keluarga-keluarga yang berdoa membantu setiap anggotanya untuk menjadi manusia yang utuh, manusia-manusia yang takut akan Tuhan. Keluarga-keluarga yang berdoa dan saling mencintai akan membentuk insan-insan Allah yang menghargai nilai-nilai:

  • Kebenaran bukan kepalsuan.
  • Kebaikan, bukan kejahatan
  • Keindahan bukan sesuatu yang jelek atau vulgar.
  • Kesatuan, kerukunan, semangat pengorbanan dan bukan pilihan-pilihan sekehendak hati.
  • Kehidupan yang hidup, bukan kematian, bukan pula kehidupan bagai mesin.
  • Keunikan, yang menghargai seorang pribadi sebagai ciptaan Allah atau gambar Allah yang berharga dan berbeda satu dengan yang lain, dan bukan keseragaman.
  • Kesempurnaan dan kepastian, bukan hal yang asal-asalan, ketidakkonsistenan atau kebetulan.
  • Penyelesaian, bukan keterbengkalaian.
  • Keadilan dan keteraturan, bukan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.
  • Kesederhanaan, bukan kerumitan-kerumitan yang tidak perlu.
  • Keriangan dan kegembiraan, bukan sesuatu yang kasar dan melukai.
  • Ketergantungan kepada Allah dan bukan mengandalkan diri sendiri.
  • Kebermaknaan hidup bagi Tuhan dan sesama, bukan kehampaan dan kehancuran.

Keluarga-keluarga yang berdoa dan saling mengasihi diharapkan dapat ikut
membangun bangsa dan negara yang lebih baik, masyarakat yang beriman, dan menjadi kader-kader Gereja yang dapat menjadi saksi-saksi Kristus yang handal pada zaman ini.

Sharing
Apakah selama ini Anda dan keluarga Anda melakukan doa bersama?
Jika ya, siapakah yang berperan untuk mengajarkan dan mengajak berdoa bersama dan manfaat apakah yang Anda rasakan dari kegiatan doa bersama tersebut?
Jika tidak, kendala apakah yang menyebabkan tidak ada kegiatan doa bersama dalam keluarga Anda? Apakah Anda berniat untuk menggagas doa bersama dalam keluarga?

Pedoman hidup KTM 04 :
Tuhan telah memperkenalkan engkau dengan saudara dan saudari baru dalam Tuhan. Tuhanlah yang menyatukan kamu dalam Keluarga ini. Engkau harus belajar mengenalnya secara lebih mendalam dan mencintainya. Hanya kalau engkau mencintainya, engkau akan dapat mengenal kekayaan rahmatnya serta meresapi semangatnya dan dengan demikian engkau akan diperkaya olehnya.

admin