Hidup di Hadirat Allah Seperti Nabi Elia

“Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.(1 Raj 17:1)

Pendahuluan tentang Karmel dan Elia

Bagi para Karmelit nama Gunung Karmel khususnya dikaitkan dengan tokoh besar Perjanjian Lama, yaitu Nabi Elia yang dalam kuasa Allah seorang diri menghadapi para nabi palsu yang menyesatkan umat Allah. (1 Raj. 18:19-39) Di sana itu pula, menurut tradisi, Elia hidup di hadapan Allah. Itu sebabnya di Gunung Karmel hingga kini kita jumpai sebuah gua yang terkenal dengan nama Gua Elia. Di gunung itu pula murid besar Nabi Elia yaitu Nabi Elisa, sering tinggal di sana untuk hidup di hadirat Tuhan. (2 Raj. 2:25)

Memang, dalam tradisi para Bapa Gereja dan khususnya para pertapa, Nabi Elia bersama Santo Yohanes Pembaptis merupakan dua model besar bagi para pertapa yang dalam keheningan dan kesunyian hidup melulu bagi Allah, bersatu dengan Allah. Hingga hari ini pun, di Gereja Timur penghormatan terhadap tokoh besar dari Gunung Karmel itu masih amat populer. Maka tidaklah mengherankan bila kemudian hari banyak orang Kristen karena kenangan itu memilih Gunung Karmel menjadi tempat kediaman mereka untuk bertapa dalam keheningan dan kesunyian. Rupanya Gunung Karmel memang merupakan tempat yang disenangi oleh para pertapa, karena kecuali kesunyiannya yang penuh damai, pemandangan alamnya indah, amat membantu cara hidup tersebut serta merupakan tempat yang ideal bagi mereka yang merindukan perjumpaan yang mesra dengan Allah dalam keheningan dan kesunyian. Dalam kesunyian itulah mereka menemukan Tuhan. Tuhan berbicara dalam keheningan dan kesunyian dari hati ke hati. Keheningan membawa sukacita dan kebahagiaan bagi mereka yang bersatu dengan Allah. Allah hadir secara khusus dalam keheningan dan kesunyian itu. Dari Gunung Karmel inilah kemudian lahir para pertapa Karmel yang menjadi nenek moyang para Karmelit hingga dewasa ini. Selain dari tokoh-tokoh yang terkenal yang dihasilkan dari Karmel sendiri, nama Karmel membawa harum bagi orang yang mau berjumpa dengan Allah. Para anggota Karmel yang sudah mengalami pengalaman cintakasih Allah melalui doa dan pengalaman hidupnya, membagikan kepada banyak orang yang mau berjumpa dengan Allah dalam doa dan kontemplasi. Apa yang mereka sabit dan tuai dalam kontemplasi, itu juga yang mereka bagikan kepada siapa saja yang merindukan kehidupan rohani yang lebih baik. Seperti tertulis dalam Spiritualitas Karmel, kita harus hidup di hadirat Allah dan menyadari kelemahan kita tetapi kembali lagi hidup melulu bagi Allah yang maharahim dan dalam kesadaran bahwa saya masih tetap bertahan hingga saat ini berkat rahmat dan belaskasihan Allah. Oleh karena itu, hidup doa adalah “conditio sine qua non” atau sesuatu yang menjadi keharusan. Hidup doa menjadi sangat penting, karena dengan doa, kita selalu membangun relasi dengan Tuhan. Hidup doa oleh karenanya harus dijaga dan dipupuk terus.

Elia, Orang yang Hidup dalam Kemesraan Allah

Seluruh hidup Nabi Elia ditandai dengan kesadaran akan kehadiran Allah yang menjiwai segala kegiatannya, (1 Raj 17:1). Kesadaran akan kehadiran Allah ini mengilhaminya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki Tuhan darinya, dan segala kegiatannya dimotivasi oleh kehendak Allah. Elia adalah seorang pertapa yang hidup sendiri, seorang eremit, yang melewatkan hampir seluruh hidupnya dalam keheningan dan kesunyian di hadirat Allah. Tuhan sendirilah yang menariknya dalam keheningan ini, dimana ia boleh mengalami kemesraan dengan Allah dan menikmati kasih Ilahi-Nya yang melampaui segala pengertian. Dalam keheningan dan kesunyian ini, Allah membentuk Elia sehingga ia bertumbuh dalam iman, harapan, kasih serta mengajarkan kepadanya akan misteri hidup dan pengenalan akan Allah yang melampaui segala pengertian.

Ia hidup dalam kepercayaan dan ketergantungan penuh pada Tuhan. Ketika Tuhan memerintahkannya untuk mengungsi ke arah timur dan bersembunyi di tepi Sungai Kerit, di sebelah timur Sungai Yordan, Elia tetap dapat minum dari sungai itu dan pada waktu petang burung-burung gagak datang untuk membawa roti dan daging kepadanya (1 Raj 17:2-6). Ketika sungai menjadi kering, penyelenggaraan Tuhan membawanya bertemu dengan janda Sarfat yang memeliharanya di musim kering. Di sana, melalui ilham Allah, ia melakukan mukjizat yang mengagumkan dengan membuat tempayan tepung dan buli-buli minyak janda itu tidak pernah kosong selama musim kemarau.

Elia Insan Allah (A man of God) dan Tokoh Iman

Sebagai seorang insan Allah, Elia menjadi panutan bagi kita untuk melihat segalanya dalam terang Allah, sebab dalam iman Elia telah melihat segalanya dalam Allah. Dalam iman ini pula, Elia percaya bahwa tidak ada segala sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuan Allah. Allah adalah penguasa segala sesuatu yang ada dan tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi mereka yang percaya. Dalam iman juga, ia membangkitkan anak seorang janda di Sarfat. Kasihnya yang sepenuh hati kepada Allah, telah membuatnya rela melakukan apa saja yang diminta Tuhan darinya bahkan sampai hal-hal yang membahayakan demi Dia. Harapan yang hidup dalam dirinya yang memberikan kekuatan untuk mengatasi kesukaran-kesukaran yang dihadapinya di jalan, meskipun secara manusiawi sulit dihadapi.

Nabi Elia telah meninggalkan warisan iman yang luhur kepada kita sehingga kita dapat menghayati iman yang luhur ini. Seperti dalam Ibrani 11:1 bunyinya: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Melalui iman, kita yakin bahwa apa yang kita harapkan yaitu perjumpaan mesra dengan Tuhan, akan diberikan kepada kita. Bila kita bertumbuh dalam iman, dunia Allah yang tidak kelihatan akan dinyatakan secara bertahap pada kita dengan segala keindahan dan kemegahannya, sehingga kita dapat menghayati seolah-olah melihat yang tidak kelihatan, termasuk kemungkinan terjadinya mukjizat. Dari sinilah, semboyan Elia “Vivit Dominus in cuius conspectu sto” dapat menjadi semboyan kita. Setelah itu, kita dapat memperoleh keberanian dan kekuatan untuk menempatkan Allah sebagai yang pertama dalam segala sesuatu, mencintai-Nya di atas segala sesuatu, dan mengalami kuasa kehadiran-Nya yang mengubah yang akan memampukan kita untuk memberi kesaksian atas kasih-Nya yang menyelamatkan, bahkan bila perlu dengan menumpahkan darah.

Nabi Elia melakukan hal-hal yang sulit dan beresiko pada zaman itu yaitu harus bertemu dengan Raja Ahab yang dikenal sangat jahat dan para penyembah berhala “Baal” untuk menyampaikan firman Tuhan tentang “kekeringan yang akan menimpa Bangsa Israel dalam beberapa tahun kedepan”. Elia dengan semangat berkobar karena rahmat Tuhan tercurah padanya sehingga dia tidak takut menghadapi 400 nabi Baal. Seorang diri dengan penuh keyakinan dan keberanian tampil menantang mereka “Kalau Baal, allah mereka sembah Baal, tetapi kalau Yahwe adalah Allah mereka sembahlah Dia.” Untuk membuktikan siapa yang Allah sebenarnya, mereka mengadakan semacam pertandingan. Nabi-nabi Baal dan Elia masing-masing mempersembahkan kurban tetapi tanpa api. Allah yang menjawab kurban itu, Dialah Allah yang benar. Elia memberikan kesempatan nabi Baal untuk memulai lebih dahulu persembahan mereka. Dengan penuh keyakinan dan kepercayaan Elia berdoa kepada Allah dan api turun dari surga serta membakar kurban-kurban tersebut. Elia menghadapi semua nabi Baal tanpa gentar dan takut, suatu keberanian yang luar biasa.

Dengan penuh keyakinan karena rahmat Tuhan menyertai dia, Elia menghadapi rakyat dan semua umat Israel yang bermusuhan serta nabi Baal yang banyak jumlahnya. Setelah kemenangan yang gilang-gemilang itu Tuhan menunjukkan bahwa seluruh keberhasilan Elia berasal dari rahmat Tuhan. Ketika suatu saat ada ancaman dari Izebel “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu” (1 Raj 19:2). Elia menjadi takut dan mengeluh kepada Tuhan “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku” (1 Raj 19:4). Kita melihat sebetulnya bahwa apa yang menyebabkan ia berhasil menaklukkan nabi-nabi Baal semata-mata rahmat Tuhan. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan Izebel, Nabi Elia pun sempat “jatuh” dan sempat takut karena bersandar pada kekuatan sendiri.

Sehebat apapun kita perlu tetap bersandar pada Tuhan agar kita tidak jatuh. Beberapa ahli hidup rohani mengajarkan kepada kita “Jangan memikirkan perkara-perkara yang sulit!” Dengan sengaja memikirkan “Bagaimana seandainya suatu saat menghadapi penganiayaan? Apakah saya dapat menjadi martir atau tidak?” Dalam keadaan apapun hendaklah kita tetap rendah hati di hadapan Tuhan. Kita dapat berkata kepada-Nya: “Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Dari diriku sendiri aku begitu lemah dan rapuh. Bantulah aku ya Tuhan karena kekuatanku terbatas dan aku tidak mampu menanggungnya jika aku disiksa. Aku sangat membutuhkan kekuatan-Mu ya Tuhan.”

Kita perlu semakin rendah hati dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. “Tanpa rahmat-Mu ya Tuhan aku tidak akan tahan.” Kita senantiasa perlu berharap kepada Allah dan menyadari kelemahan dan kerapuhan kita. Jikalau kita sadar kita ini orang yang lemah maka kita akan berjaga-jaga dan berhati-hati, maka biasanya tidak akan jatuh.

(Sumber: Indrakusuma O.Carm, Yohanes. Bagai Memandang yang Tidak Kelihatan, Desember 2007, Penerbit Karmelindo; http://carmelia.net/index.php/artikel/tulisan-rm-yohanes-indrakusuma/179-bertumbuh-dalam-kerendahan-hati)

Sharing

Apa reaksi pertama kita ketika menghadapi permasalahan yang datang? Dalam keseharian kita, sudahkah kita meluangkan waktu untuk hening atau merefleksikan hidup kita bersama Tuhan? Maukah kita meneladani Nabi Elia dalam mengembangkan hidup doa (kontemplasi) minimal 15 menit per hari? Sharingkanlah pengalamanmu!

admin