Karunia Sabda Pengetahuan dan Nubuat

“… kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.(1 Kor 12:8b)

Karunia Sabda Pengetahuan dan Nubuat

Karunia sabda pengetahuan dan nubuat adalah karunia Roh Kudus yang sangat berharga dalam pelayanan. Karunia ini akan sangat membantu dalam pelayanan konseling, terutama pelayanan penyembuhan batin, pertobatan, pembebasan, penyembuhan fisik, dan juga dalam kebangunan rohani atau KRK dll. Seperti dalam 1 Kor 12: 8b: “… kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.”

Melalui karunia ini Allah mengungkapkan suatu situasi khusus, yang sudah terjadi, atau apa yang sedang terjadi pada saat ini dalam sejarah hidup seseorang. Berkat pernyataan Allah itu, seseorang dapat menemukan akar persoalan, penyebab suatu kebekuan hati, dosa yang tersembunyi, atau pengetahuan suatu penyembuhan baik penyembuhan fisik maupun batin. Seringkali karunia ini dinyatakan lewat pikiran, berupa kata-kata, gambar/penglihatan (visiun), atau perasaan yang pasti (keyakinan). Kita memiliki kepastian tentang hal itu, walaupun kita tahu bahwa itu tidak berasal dari kita, tetapi dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Contoh: pertobatan dan penyembuhan batin Wanita Samaria, oleh sabda pengetahuan Yesus.

Kisah Wanita Samaria (Yoh 4: 1-42)

Pada waktu panas terik dan suasana di sumur sudah sepi, Wanita Samaria pergi ke sumur Yakub untuk menimba air. Mungkin ia pernah beberapa kali pergi ke sumur pagi-pagi bersama wanita-wanita lain yang menimba air, tetapi wanita-wanita yang berjumpa dengannya, selalu menatapnya dengan sikap penuh curiga dan kejijikan. Hal ini tentu menyedihkan ketika ia sering mendengar orang-orang berbicara mengenai kehidupannya yang memalukan dan dia dikenal sebagai wanita pendosa, oleh sebab itu masyarakat sangat merendahkan dan menjauhi dia.

Pada siang terik itu, Yesus yang sangat letih oleh perjalanan, duduk di pinggir sumur. Wanita ini tak menyangka sebelumnya akan bertemu dengan Yesus. Di tepi Sumur Yakub itu Yesus dan wanita Samaria bercakap-cakap dari hati ke hati. Dari pembicaraan itu, Yesus menyingkapkan seluruh rahasia kehidupannya. Ia mengenal dan mengetahui kehidupan pribadinya yang terdalam.

“Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, panggilah suamimu, dan datanglah ke sini.’ Kata perempuan itu: ‘Aku tidak punya suami.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.’ Kata perempuan itu, ‘Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.’” (Yoh 4: 16-18, Sabda pengetahuan Yesus)

Yesus sungguh Seorang Pribadi yang mengagumkan. Dia penuh kasih, lemah-lembut, dan murah hati, walaupun Ia mengetahui dosa-dosa yang telah diperbuat Wanita itu, namun Ia memancarkan kerahiman Allah yang menghangatkan hatinya yang beku. Ia menerima wanita itu apa adanya dan mengasihinya sehingga Ia tidak ingin wanita itu binasa oleh dosa-dosanya. Yesus melihat dalam diri Wanita Samaria ini suatu potensi untuk berubah, suatu potensi untuk berkembang menjadi lebih baik. Yesus memberi kesempatan kepadanya untuk bertumbuh dalam kasih. Tidak seperti masyarakat yang seringkali memberi cap-cap yang mematikan. Yesus memberikan kasihNya yang tanpa syarat, maka Wanita Samaria itu terpesona olehNya dan menanggapi kasihNya.

Perjumpaan pribadi denganNya pada hari itu menjadi awal pertobatannya,mengubah hidupnya, menyembuhkan batinnya yang terluka, perjumpaan dengan Yesus di siang hari itu memberikan kehidupan baru kepadanya.

Karena sukacitanya, Wanita Samaria ini menceritakan kepada orang-orang sekampungnya bahwa ia telah bertemu dengan Mesias dan banyak orang menjadi percaya kepadaNya Yoh 4: 29: “Mari, lihat. Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat…”

Yesus mengetahui masa lalu dan seluruh kehidupan wanita Samaria itu. Yesus membuka seluruh rahasia hidupnya melalui sabda pengetahuan. Yesus menunjukkan dosa-dosa, kebobrokan moral dan kehancuran yang dialami dalam hidupnya. Yesus menerangi hatinya, bahwa wanita itu membutuhkan pertobatan, pengampunan dan penyembuhan. Kasih dan rahmat selalu ada tetapi kadang-kadang kehancuran dalam diri seseorang terlalu berat, sehingga menghambat masuknya kasih Tuhan secara penuh. Sabda pengetahuan adalah karunia Allah yang dapat membawa keluar luka-luka batin, trauma-trauma yang tersembunyi dan perasaan-perasaan negatif kepada terang Kristus, untuk disembuhkan dan dipulihkan. Buah karunia sabda pengetahuan:

Wanita Samaria ini menanggapi kasih Yesus, sehingga ia mengalami kesembuhan, iman yang lebih mendalam, damai dan sukacita, pengalaman kasih Allah yang memperbaharui hidupnya, kekuatan dan penghiburan Roh Kudus yang melampaui segala sesuatu, memaklumkan Yesus sebagai Tuhan, memuji dan menyembah Allah.

Hal-hal umum tentang karunia sabda pengetahuan:

  • Karunia sabda pengetahuan membantu kita dalam pelayanan untuk membebaskan umat dari belenggu dosa, dan luka-luka batinnya
  • Menemukan akar masalah yang tersembunyi di hati umatNya
  • Merupakan diagnosa Tuhan, manusia melihat bagian luar tetapi Tuhan melihat hati, keberadaan manusia diketahui Tuhan lahir batin.
  • Sabda pengetahuan penting untuk pelayanan penyembuhan batin: manusia 90% terdiri dari alam bawah sadar, tidak diketahui apa yang terjadi di sana, terkubur di bawah sadar, tetapi Tuhan tahu dan dapat melacak serta memberitahu kepada kita apa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan oleh orang itu, kita dibimbing untuk menemukan akar penyebab luka batin.
  • Karunia sabda pengetahuan erat kaitannya dengan karunia penyembuhan, amat mendukung untuk pelayanan penyembuhan, baik penyembuhan fisik maupun batin.
  • Sabda pengetahuan menyanggupkan pelayanan Yesus Kristus tersalur melalui kita, kita menjadi alat untuk menyalurkan kasih Tuhan.
  • Sabda pengetahuan mempunyai efek penginjilan: membawa banyak orang percaya kepada Yesus, Sang Juruselamat dunia.

Berbicara tentang sabda pengetahuan dan nubuat, mengingatkan pengalaman saya sewaktu mengikuti Retret Karunia Roh Kudus di Lembah Karmel setahun lalu. Dulunya saya sering mempunyai feeling (insting) yang kuat tentang sesuatu dan dengan selang waktu yang singkat sering terbukti kebenaran insting saya itu, tetapi saya sering bingung tentang arti dari insting tersebut. Saya disadarkan memiliki karunia sabda pengetahuan saat saya mengikuti pengarahan dari Suster sewaktu workshop karunia dalam retret. Pada waktu itu, peserta retret dibagi dalam kelompok dan diajak untuk membentuk satu lingkaran lalu kami saling mendoakan berdua-dua dengan meletakkan tangan pada orang di sebelah kanan saya. Orang yang saya doakan adalah seorang ibu yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, dimana ibu itu terlihat muram dan menangis tersedu-sedu tanpa saya tahu penyebabnya. Kemudian, saya berdoa dalam hati dengan penuh kerinduan mau dipakai sebagai alat kecil Tuhan untuk menyampaikan sabdaNya dan saya bertanya apa yang ingin Tuhan katakan pada ibu ini. Sewaktu saya masuk dalam keheningan dan mengarahkan diri pada Yesus, saya melihat dalam imaginasi iman bahwa ibu itu sedang marah-marah sambil menangis. Setelah itu, kami diajak untuk mensharingkan apa yang saya lihat tadi dengan orang yang saya doakan untuk menguji kebenarannya. Namun perlu diingat, bahwa cara penyampaian kita perlu bijaksana dan hati-hati dalam mengungkapkannya. Kemudian saya bertanya pada ibu itu: “Ibu, apakah ibu sedang marah dengan seseorang?” Lalu ibu itu menjawab: “Benar”. Kemudian saya berkata: “Tolong ampuni orang itu ya, Bu”. Lalu seketika ibu it u terlihat lebih tenang dan berhenti menangis, dia pelan-pelan menjawab: ”Iya, memang saya masih belum bisa mengampuninya”.

Hal serupa juga terjadi saat saya memperoleh karisma Nubuat. Dalam pertemuan sel khususnya saat sesudah senandung Bahasa Roh (saat hening), saya sering merasa terkagum sekaligus heran dengan teman-teman satu sel saya yang memiliki karunia bernubuat. Mereka dapat menyampaikan suatu pesan dengan kalimat yang cukup panjang terkadang berupa cuplikan ayat Kitab Suci yang membawa efek menenangkan ataupun menampar saya karena yang mereka sampaikan sesuai dengan kondisi saya saat itu. Awalnya saya menutup diri dengan berkata dalam hati bahwa saya tidak mungkin bisa seperti mereka. Suatu ketika, saya berada dalam pertemuan sel yang anggotanya cukup pasif dalam penyampaian nubuat ataupun sabda pengetahuan. Hal ini mendorong saya untuk berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mau memakai saya jika Dia ingin menyampaikan Sabda-Nya. Dalam keheningan doa dalam sel, suatu kali saya melihat sebuah kata “Serahkanlah” dan seketika itu saya melihat kata-kata itu ditujukan untuk salah satu teman sel saya yang terlihat murung. Meskipun ada rasa ragu dan takut yang sering menggangu, saya merasa ada dorongan kuat untuk menyampaikan hal itu. Kemudian dengan iman, saya berani melangkah untuk berkata-kata dengan tegas: “Serahkanlah kekuatiranmu kepadaNya, sebab Dialah yang memelihara kamu”. Setelah menyampaikan nubuat itu, barulah saya merasa sedikit lega. Saya menyadari bahwa hal itu sungguh berasal dari Tuhan ketika sesi sharing, teman saya yang ada dalam penglihatan saya tadi berkata: “Sewaktu kamu menyampaikan kalimat Serahkanlah kekuatiranmu pada Tuhan, saya merasakan ada kedamaian dalam hati karena memang sebelumnya saya sedang mengalami banyak kekuatiran dan ketakutan, Terima kasih ya”. Dan sharing dari teman saya tentang apa yang dia rasakan ini yang meneguhkan saya untuk menyadari karunia ini dan mau merindukannya untuk dipakai dalam membangun jemaat (dalam hal ini teman satu sel).

Bagaimana kita bisa mempersiapkan diri untuk menerima karunia ini?

  1. Memupuk hubungan pribadi dengan Tuhan agar kita menjadi lebih peka.
  2. Membaca dan mempelajari buku mengenai karunia-karunia Roh Kudus, mendambakannya, juga mendengarkan sharing-sharing dari orang-orang yang sudah berpengalaman dalam karunia ini
  3. Berdoa mohon kepada Tuhan agar diberi karunia ini, serta berani bertindak atau melangkah dalam iman.

(Sumber: http://carmelia.net/index.php/artikel/karismatik/252-yesus-dan-karunia-sabda-pengetahuan)

Sharing

Apakah kita sering memiliki insting yang kuat akan sesuatu? Jika ya, apakah kita menyadari hal itu sebagai sarana Tuhan berbicara kepada kita ataupun untuk menyampaikan sesuatu pada sesama? Sudahkah kita menggunakan karunia Sabda Pengetahuan/Nubuat sebagai sarana dalam pelayanan? Sharingkanlah pengalamanmu!

admin